Part 17

"kapan kamu akan pulang?"

"Secepatnya kak. "

"Mana suamimu?"

"Seperti biasa "

"Apakah dia sudah menerima semuanya?"

"Tentu, termasuk aku. "

"Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya. "

Panggilan berakhir, Damon kini berada di ruangannya. Ia baru saja menyelesaikan operasinya dan dia mendapat kabar bahwa acara pesta yang diadakan keluarga Alexander akan di laksanakan hari Sabtu, maka dari itu Damon segera menghubungi kembarannya yang berada di US.

Namun sayangnya adik kembarnya itu tidak ingin berbicara dengan dirinya bahkan dengan keluarga besar pun tidak. Hanya akan berbicara kepada istri dan anaknya. Ia akan berbicara saat keadaan sedang mendesak seperti pekerjaan.

Tapi itupun ia lebih banyak menyerahkan kepada tangan kanannya.

"Gak papa lah, semua akan segera berakhir!"

Sementara di sekolah cakrawala, Jason hari ini ada jadwal ekskul musik. Ia mengisi daftar hadir dan segera bergabung dengan yang lainnya.

Satu jam berlalu Jason menyelesaikan ekskulnya, niat hati hari ini ia ingin pergi ke mall namun moodnya benar-benar hancur kala ingatannya mengingat kata sandi angka di box belum terpecahkan.

Di tambah lagi saat dirinya melewati lapangan, netra indahnya menangkap sosok yang selama ini ia benci sedang bermain basket!!

Jason tadi sempat mendengar pembicaraan para siswi, katanya ada murid baru tampan yang masuk hari ini dan di tempatkan di kelas unggulan yaitu di kelas X IPA 1, satu kelas dengan Revan.

Dan sekarang ia tahu siapa murid baru itu. Dengan senyuman misterius Jason pergi ke tengah lapangan dan merebut bola basket dari genggaman orang itu.

Lantas dengan cekatan Jason berhasil memasukkan bola basket itu ke dalam ring.

"Anak sialan mau jadi sok jagoan ternyata. " Orang itu mendekat ke arah Jason.

"Lo Jason kan? Yang mengambil jatah Revan buat olimpiade. "

Jason terkekeh, "Jatah? Lo kikha lagi bagi sembako pake jatah-jatahan segala! "

Jason melempar bola basket yang ada di genggamannya ke wajah orang itu, namun dengan cepat ia berhasil menangkapnya.

Tidak memperdulikan tatapan marahnya, Jason pergi ke parkiran. Hari ini ia tidak jadi pergi ke mall, lebih baik langsung pulang saja.

Moodnya benar-benar buruk sekaligus senang?

"Dua mangsa gue kini ada di hadapan gue. Gak pekhlu lagi gue hakhus melakukan segala hal dua kali untuk menjatuhkan mereka. " Gumam Jason dengan tatapan yang fokus ke depan karena dirinya sedang menyetir.

"Ibakhat sekali dayung dua tiga pulau tekhlampaui. " Lanjutnya.

Karena jenuh, Jason menyalakan radio yang ada di mobilnya.

"Keluarga Wilson begitu terpandang di dunia yang sekarang berada di kota B. Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu dimana salah satu cucu tuan Wilson di bunuh oleh bodyguardnya sendiri kini kembarannya yaitu Aras memilih untuk pindah sekolah ke kota A. "

"Demi keselamatannya maka keluarga Wilson memutuskan untuk pindah ke kota A, ia mengatakan tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Sangat di sayangkan saat sang cucu terbunuh tidak ada satu pun keluarga yang berada di rumah. "

"Di hari Sabtu ini kel--"

Jason langsung mematikan radio itu.

Brak!!!

Ia memukul stir mobil berkali-kali, "Bangsat!!! Sialan!!! AKKHHHH!!!"

"GUE BENCI LO SEMUA ANJING!!!"

Yang Jason temui di lapangan tadi adalah Aras-kembaran Ares ia pindah sekolah hari ini. Dan sungguh saat pertama melihatnya langsung mood Jason hancur berkeping-keping, di tambah lagi barusan mendengar berita.

Sungguh orang-orang yang percaya dengan berita itu adalah orang yang paling bodoh di dunia ini!!!!

Raut wajah Jason berubah seketika, dari yang tadi menampilkan wajah marah kini yang ada seringai mengerikan di wajahnya.

"Keluakhga Wilson tekhnyata di undang ke acakha pesta?"

Itu adalah momen yang bagus dan sayang untuk di lewatkan.

__________

Dentuman musik begitu menggetarkan hati, namun menenangkan pikiran yang stres. Lampu kelap-kelip membuat semua orang menari di bawah cahayanya.

Seorang pemuda sedang duduk bersantai di kursi yang tersedia disana, tatapan mengarah ke arah kerumunan orang yang sedang berjoget ria.

Begitu menikmati dentuman musik terlihat dari badan dan kepala yang ikut bergerak ke kanan-kiri.

"Setelah sekian lama, akhikkhnya gue bisa ke tempat ini lagi. " Ucapnya sambil memejamkan mata.

Sudah di bilang bukan Ares ini pembangkang, berandalan dulu ia sering mengunjungi tempat ini sekedar melepaskan penat jika ia bosan dengan balapan.

Dan kini pertama kalinya setelah ia menempati raga Jason bisa berkunjung kembali ke tempat seperti ini.

Hari ini Jason di benar-benar di buat pusing, di tambah moodnya yang begitu campur aduk menjadi nyatu. Setelah bertemu Aras, ternyata di rumah mereka sudah kembali dari liburannya.

"Wahh, lihatlah yang bakhu pulang dakhi libukhan. " Jason bertepuk tangan seraya berjalan masuk ke dalam.

Semua orang yang berada di ruang keluarga menatap ke arah dirinya.

"Tidak ada kah yang membekhikan ucapan selamat sama gue gitu? Yang udah bekhhasil menang olimpiade?"

"...."

"Baiklah, lupakan saja lagi pula gue gak butuh ucapan dari lo semua. Yang gue butuhkan itu.. " Jason mendekat ke arah Robert yang kini sedang menatapnya nyalang.

"Pekhjanjian, ingat pekhjanjian itu!!! Gue bakal tagih besok!!" Jason berlalu dari sana.

Namun sebelum benar-benar pergi Jason mendengar pembicaraan mereka yang semakin membuat dirinya marah.

"Ayah, apa ayah akan menepati perjanjian itu? Apa ayah akan memberikan semua yang aku dapatkan? Apa hiks.. hiks.. hiks.. " Revan menangis tersedu-sedu.

"Tentu tidak sayang, bagaimana pun kamu kesayangan kita tidak akan ada yang bisa menyamai apa yang kamu miliki. " Robert merentangkan tangan tanda agar Revan memeluknya.

Tentu dengan senang hati Revan menerima itu, ia memeluk erat Robert dengan penuh senyuman. Semua orang yang ada di sana tersenyum hangat tanpa memikirkan bagaimana perasaan Jason.

"Cih, anjing!!!"

Dan berakhir Jason berada di tempat seperti ini.

"Ehh!!! Apa sih!!" Tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya ke lantai dua.

"Kenapa kamu disini?"

"Suka-suka Jason lah, kenapa emang masalah?"

"Usia kamu belum mencukupi untuk masuk ke tempat ini Jason!!" Geram Damon.

"Ck, lepas! " Jason menyentak tangan Damon, namun baru satu langkah pergi ia merasakan seperti ada semut yang menggigit pundaknya.

Hingga beberapa menit kemudian pandangannya buram, dan Jason jatuh ke pangkuan Damon.

"Kenapa cepat sekali?"

"Dosisnya tinggi. "

"Berhenti berbicara Evan! Lebih baik kita bawa Jason ke apartemen om. " geram Damon membungkam Evan yang barusan membuka mulut.

Evan mengangguk dan segera pergi ke luar.

Sementara itu di kediaman Alexander begitu heboh oleh tangisan Angel dan amarah Robert kala melihat Revan terluka yang baru saja pulang dari luar.

"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ucap Dimitri, ia segera menggendong Revan di wajahnya terdapat banyak sayatan dan juga lebam, bukan hanya di wajah di lengan dan kaki pun banyak luka sayatan.

Setengah jam berlalu, mereka sampai di rumah sakit milik Damon Agryos. Segera Revan di bawa ke UGD.

Semuanya menunggu dokter keluar dengan harapan tidak ada yang parah pada tubuhnya. Mereka takut ada luka dalam atau luka tusuk di bagian tubuh lainnya.

Bugh!!

Dimitri memukul tembok yang ada di hadapannya, pandangannya beralih ke seseorang yang tadi bersama Revan.

"Kau Aras? Cucu tuan Wilson?"

"I-iya kak. "

"Siapa yang berani melukai Revan!" Tanyanya dengan suara yang rendah.

"Kita ta-di, ber-temu Jas-Jason di jalan dan dia meng-hampiri kami de-ngan membawa pi-sau.. " jelas Aras terbata-bata dengan kepala yang menunduk.

Bugh!!

"Jason!!"

_________

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!