Jason Vier Alexander, remaja yang baru saja berulang tahun yang ke-16 tahun kemarin namun dengan tidak berperasaannya ayah Jason menyiksa dirinya di hari ulangtahunnya.
Memang setiap tahun tidak ada satu orang pun yang pernah merayakan hari kelahiran Jason, tapi tidak salah bukan jika Jason selalu berharap? Bahkan di setiap doa nya Ia hanya meminta kepada Tuhan untuk meluluhkan hati keluarganya.
Sungguh simpel tapi begitu susah terkabul, entah dosa apa yang Jason perbuat sehingga doa doa nya susah terkabul.
Sesabar apapun orang itu pasti mempunyai batas untuk kesabarannya, begitu juga dengan Jason bertahun-tahun Ia begitu sabar menghadapi keluarganya yang toxic ini hingga satu hari sebelum kejadian Jason meminta kepada Tuhan untuk membawa dirinya pergi jauh meninggalkan dunia yang kejam ini.
Dan ternyata doa itu terkabul kini, Tuhan benar-benar mengabulkan doanya itu.
Selama di dunia ini tidak ada satu orang pun yang ingin berteman dengan Jason, apakah semenjijikan itu dirinya?
Hanya ada satu orang maid yang benar-benar menyayangi Jason, dia sudah merawat Jason sejak bayi sampai sekarang.
"Bibi yakin Tuan muda anak yang kuat. " genggamannya begitu erat, seakan tuan mudanya ini akan pergi jauh darinya.
Tita itu lah namanya, Ia begitu menyayangi Jason ia yang lebih banyak tahu bagaimana keadaan Jason dari pada keluarganya sendiri.
Ia teringat bagaimana ucapan dokter tadi, "Benturannya di kepalanya begitu keras mengakibatkan keretakan yang cukup parah. Dan ini kenapa seluruh badannya penuh dengan luka?"
"I-itu dok-"
"Saya pernah berjanji jika Jason terluka maka saya tidak akan tinggal diam!" ucap tegas dokter itu.
"Jason koma, dan saya tidak tahu pasti akan berapa lama. Saya permisi. "
Hah..
"Dunia ini memang kejam tuan muda, kamu harus bertahan pasti kebahagiaan itu akan datang tepat pada waktunya. "
Pintu ruangan terbuka, terlihat seorang pria dengan jas kebanggaannya menghampiri Jason dan memeriksa keadaannya.
Terlihat dari tatapannya begitu sendu, Ia mengenal Jason bahkan sudah beberapa kali bertemu dengan tidak sengaja di mana pun itu. Dan kini pertemuan ke lima kalinya dengan kondisi Jason yang mengenaskan.
Damon, lelaki itu pernah berjanji pada dirinya sendiri jika pertemuan berikutnya Jason kenapa-kenapa, maka Ia tidak akan tinggal diam. Namun sialnya maid yang menemani Jason tidak pernah memberi tahu siapa keluarga anak itu.
Bahkan Damon sudah memerintahkan tangan kanannya untuk mencari tahu indentitas Jason, tapi gagal. Maka dapat Damon simpulkan Jason bukan dari keluarga yang biasa, keluarga seperti sengaja menyembunyikan indentitas anaknya.
Bukan Damon namanya jika menyerah begitu saja, Ia akan terus mencari tahu.
"Saya permisi dulu. "
Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya, tidak terasa malam sudah kembali. Kini di kediaman Alexander tengah mengadakan pesta kecil untuk sekedar merayakan putra bungsu mereka yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya.
"Selamat sayang, bunda bangga sama kamu. " ucap Angel Alexander. Ibu dari 5 orang putra. Lebih tepatnya 4 orang putra sebab satu lagi bukan bagian dari keluarga itu.
"Makasih Bun, "
Seluruh keluarga menatap hangat interaksi keduanya. Dengan keberadaan Revan di keluarga mereka membawa keharmonisan di dalamnya.
Tiga tahun yang lalu, Angel membawa Revan ke dalam keluarga Alexander sebab kedua orang tua Revan di penjara dengan alasan yang tidak pasti.
Dimitri Alexander putra pertama dari pasangan Angel dan Robert, kini sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu dan sudah semester empat.
Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa, saking luar biasa kecerdasan itu menyerempet bodoh. Dia lebih memilih menyayangi Revan dari pada Jason yang jelas-jelas adiknya sendiri bahkan sudah bertahun-tahun hidup dengannya.
Sama halnya dengan Rexi dan Rezy Alexander keduanya begitu menyayangi Revan bahkan senantiasa melindungi. Entah kenapa mereka saat melihat wajah Jason ingin rasanya membunuh anak itu.
Nampak raut wajah bahagia dari mereka, seperti tidak ada beban ataupun rasa khawatir di wajahnya. Seperti tidak merasa kehilangan salah satu anggota keluarganya.
Hidup Jason sungguh menyedihkan.
__________
"Keknya bentar lagi gue ketemu Tuhan deh. " gumam Ares sembari menyusuri tempat indah ini, begitu enak di pandang mata ada sungai yang begitu jernih airnya banyak pepohonan, burung berterbangan.
Nyaman rasanya, membuat Ares betah. Tapi sedari tadi Ares belum bertemu Tuhan.
Ia lebih memilih duduk di tepi sungai, nampak menikmati pemandangan indah di depannya. Dan tak lama ada tepukan di pundaknya.
"Boleh aku duduk di sini?"
Ares mengangkat satu alisnya, tanpa menjawab pertanyaan orang itu Ia kembali menatap air sungai. Memang pada dasarnya sifat dia yang bodo amat dan cuek terhadap orang yang tidak di kenalnya, jadi ya seperti itu.
Orang itu duduk di sebelah Ares, "Kenalin nama aku Jason. " ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk berkenalan.
Namun lagi-lagi sifat Ares cuek, Ia tidak menerima jabatan tangan itu bahkan melirik pun tidak membuat Jason menghela napas.
"Ares. "
Jason tersenyum simpul, "aku mau cekhita mau dengekhin gak?"
"Aku bisa ada di sini kakhena aku di tusuk oleh ayah aku sendikhi. Kamu tau bahkan okhang okhang di dunia tidak ada yang mau bekhteman dengan aku, mekheka benci aku tekhmasuk keluakhga aku sendikhi. Aku gak tau alasan mekheka benci aku itu apa. "
Walaupun Ares tidak menatap Jason tapi telinganya Ia fokuskan untuk mendengarkan ocehan anak itu, Ia dalam hati terkekeh mendengar dia cadel.
"Kalau kamu bisa ada di sini kenapa?"
"Sama. "
"Hah? Maksudnya?" Jason memiringkan kepalanya, membuat Ares meliriknya dan berdecak sebal. Anak ini gemas sekali.
"Nasib gue sama lo sama, lo mati di tusuk gue mati di tembak sama papa gue. "
"Oh"
"Kalau begitu, kamu hakhus kembali. "
Kini Ares merubah posisi duduknya jadi menghadap Jason dengan kedua alisnya menukik tajam.
"Maksud lo?"
"Kamu masih punya kesempatan untuk hidup kembali, "
"Hah.. heh lo pikir gue percaya, mana ada orang yang udah mati bisa hidup lagi. Tolol lo!" sarkas Ares.
"Tapi aku benekhan gak bohong. Tapi kamu hidup di khaga aku. "
"Ngomong apa sih lo, udah jelas gue mati mana ada orang mati hidup lagi, mana lagi di tubuh orang lain gak mungkin!"
Jason menghela napasnya, capek juga menjelaskannya begitu keras kepala dan selalu ngegas tidak mau mendengarkan lebih jelas dari Jason.
"Gini aja, kamu ikuti cahaya itu. Sana pekhgi. " Jason menarik kuat pergelangan Ares agar dia berdiri dan mengikuti perintahnya.
"Apa sih gue gak mau! Gue udah betah di sini. Lo aja sana pergi ngapain harus gue. "
"Tapi hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalahnya Akhes! "
"Masalah apa! Gue udah capek masa dunia yang toxic itu. "
"Masalah kamu, aku tau kamu juga di benci keluakhga kamu sendikhi, apa kamu tidak ada niatan balas dendam?"
"Gak!" Namun beberapa saat Ares nampak terdiam mencerna perkataan Jason barusan. Dan Jason yang melihat itu merasa senang semoga berhasil membujuk.
"Dan aku punya pekhmintaan sama kamu, tolong ubah kebencian keluakhga aku tekhhadap dikhi aku menjadi khasa sayang. "
"Ribet banget sih lo, lepas! " Ares menyentak tangan Jason yang memegang tangannya. Tak ayal Ia pun berjalan menuju cahaya putih itu.
"AKU YAKIN KAMU BISA AKHES! "
___________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments