Satu Minggu berlalu, sejak hari pertama Jason sekolah dan sekarang kembali hari Senin dimana Ia akan ikut seleksi peserta olimpiade. Dalam rentang waktu seminggu itu ada kejadian yang membuat Jason bangga pada dirinya sendiri.
Karena berhasil melukai Revan, ya walaupun ujungnya dia sendiri yang mendapat siksaan. Bahkan bekas cambukan itu masih ada di punggungnya dan kini luka yang ada di perutnya sudah kering namun masih ada sedikit rasa nyeri.
Juga ia melihat ada perubahan dalam diri Zio, Jason yakin ada sesuatu dan Jason akan menyelidikinya. Kita lihat saja siapa yang lebih cerdas, Jason atau Zio.
Dan Jason sudah mendaftarkan diri kini tinggal menunggu panggilan untuk di tes. Ia melihat tadi wajah Revan yang cemas.
"Gak sabakh banget khasanya melihat mental si anak sialan itu down. " Ucapnya dengan nada gembira.
Bel istirahat sudah berbunyi, namun Jason tidak berniat untuk pergi ke kantin. Ia memilih tiduran di kelas. Dan sekarang kelas Jason hening, tetapi dia mendengar langkah kaki menuju dirinya.
Bugh!
Pinggang Jason di tendang oleh seseorang, sumpah sakit sekali!
"Jangan mimpi untuk mengikuti olimpiade membawa nama baik sekolah ini!"
"Siapa lo seenaknya ngomong kayak gitu?" Balas Jason.
"Drama lo ternyata asik juga ya, ingat! Yang selalu membawa nama baik sekolah ini itu Revan dan Eros!! "
"Iya, dakhi segi akademik. Dan lo pekhlu tau! Gue gak buat dkhama apapun. Justkhu okhang yang lo lindungi lah yang banyak dkhamanya!!"
Fano Atmajaya, itu lah nama yang tertera di nametag-nya. Salah satu teman si kembar dan pelindung Revan.
Selama ini Fano diam, sebab sedang mencerna dan mengamati semua perubahan Jason dan menurutnya itu semua adalah drama.
"Hekhan deh gue, otak lo semua kan pintakh tapi bisa-bisanya di bodohi oleh satu okhang yang tampangnya so polos!! "
Kedua tangan Fano terkepal mendengar ucapan Jason barusan dan itu membuat harga dirinya terluka. Ia itu pintar mana mungkin bisa di bodohi, Fano tahu Revan anak baik, berbeda dengan Jason yang selalu melukai mental Revan.
"Pintu keluakh ada di sana, " ucap Jason sambil menunjuk pintu dengan maksud mengusir Fano sialan ini.
Tanpa berucap apapun lagi Fano keluar dari kelas, tak berselang lama Zio masuk dan bel masuk berbunyi.
"Ngapain kak Fano ke kelas?" Gumam Zio yang masih terdengar jelas oleh Jason.
"Oh iya Jas gue cuma mau ngasih tau Minggu depan tes akan dimulai. " Jason mengangguk, Ia sudah mempersiapkan semuanya. Sebenarnya tidak belajar pun dia sudah pintar dan mampu untuk mengalahkan Revan, namun agar orang-orang percaya bahwa ini Jason yang berubah maka harus disertai dengan bukti belajar yang giat.
"Lo percaya gak kalau pengkhianat itu bisa jadi okhang tekhdekat, keluakhga, and teman?"
"Maksud lo! Lo nuduh gue gitu!!" Bentak Zio.
"Kok malah bentak gue? Kan gue cuma nanya. Emang teman gue cuman lo doang ya? " Tanya Jason santai.
"Ya.. Ya.. gue kaget dong! Tiba-tiba lo nanya gitu. " Zio langsung menjauh dari Jason dan duduk di bangkunya di depan. Sementara Jason tersenyum misterius.
Ataukah mungkin Zio ini adalah orang yang di tugaskan Robert untuk memata-matai dirinya?
"Gue gak bodoh.. " gumamnya.
__________
"Selama gue menempati tubuh ini, gue gak pekhnah jalan-jalan.. "
Dan Jason memutuskan pulang sekolah ini Ia akan mengelilingi kota ini dengan menaiki bus, persetan dengan orang-orang di rumah akan berpikir apa nantinya jika ia pulang malam.
Jam lima sore emang selalu macet jalanan ini sebab sudah waktunya orang-orang pulang ke rumah, tidak masalah macet seperti ini akan Jason nikmati saja.
Lama termenung di dalam bus, ia tidak menyadari seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah kirinya.
"Bagaimana keadaan perut mu?"
"Anjing!" Refleks Jason mengumpat, dan itu cukup keras. Ia melirik ke arah sampingnya ternyata Dokter Damon.
Dan penumpang lainnya pun menatap Jason, sungguh malu. Pasti orang-orang berpikir Jason anak yang tidak punya sopan santun.
"Kok doktekh ada di sini, tekhus ngapain naik bus dok? "
"Mau pulang, emang kenapa?"
Jason mengerutkan keningnya, ia tidak percaya dokter ternama seperti Damon menaiki bus untuk pulang? Apakah dia mendadak miskin?
"Gak mungkin.. " gumam Jason dan itu terdengar oleh Damon.
"Kenapa gak mungkin? Emang wajah saya tidak cocok untuk naik bus?"
"Coba doktekh lihat, wajah Jason cocok gak untuk naik bus? Ya enggak lah! Cuman mau keliling kota aja makanya Jason naik bus. "
Gimana konsepnya, nanya sendiri tapi di jawab sendiri juga. Damon hanya bisa geleng kepala, "Kamu udah makan belum?"
"Kamu belum jawab pertanyaan saya, perut kamu bagaimana kondisinya sekarang?" Damon tanpa meminta izin langsung membuka baju seragam Jason membuat anak itu memekik kaget dan memukul lengan Damon.
"Om ini tuh aukhokha! Gak boleh lihat-lihat!!"
"Saya dokter kamu jadi diam, saya hanya ingin melihat saja. Dan tunggu.. " Damon menatap Jason.
"Anak kecil kalau mau ngomong belajar dulu. Saya gak paham bahasa anak kecil. " Dia kembali fokus pada perut Jason, sementara anak itu melotot tidak terima dirinya di sebut anak kecil.
Bugh!
Shhh
"Jason juga gak mau cadel! Ini udah takdikh dakhi Tuhan!" Ucapnya dengan nada ketus. Ia merajuk, berbeda dengan Damon yang sedang mengusap keningnya akibat pukulan Jason ia terkekeh gemas.
Lantas tangannya terangkat untuk mengusap rambut lebat milik Jason, namun sang pemilik lebih dahulu menghindar.
"Minggikh Jason mau tukhun!" Damon segera duduk menyamping untuk memberikan Jason jalan.
"Sampai jumpa anak kecil. "
Jason memberikan tatapan maut sebelum benar-benar turun dari bus itu.
"Saya tau siapa kamu sebenarnya. Tapi saya akan tetap--"
Hah
Ada alasan kuat Damon bisa berada di bus ini, yang jelas karena Jason lah ia untuk pertama kalinya menaiki bus.
_________
Pukul delapan malam, Jason baru sampai di depan rumah. Ia pulang dengan ojek online, berharap saat masuk ke dalam orang rumah sedang sibuk di kamarnya.
Jason tidak mood untuk meladeni mereka.
Tapi harapannya tidak terkabul,
Plak!
Plak!
Plak!
Tiga tamparan ia dapatkan dari orang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Iya Angel lah yang menampar pipi Jason.
Ia heran kenapa namanya Angel tapi sikapnya seperti Devil.
"Kenapa baru pulang hah! Sekalian aja sampai pagi di luar sana! Sampai mati pun saya tidak peduli! Kamu pulang hanya menambah beban saya saja!"
Pantas kah seorang ibu berbicara seperti itu terhadap anaknya?
Apakah Jason ini anak kandungnya?
Selama ini ia tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang keluarga, bahkan Jason bingung harus mendeskripsikan keluarga itu seperti apa.
"Kalau saya mati, kalian semua akan selalu mekhasa bekhsalah kakhena kalian masih belum mendapatkan maaf dakhi saya. "
"Lagi pula siapa yang akan meminta maaf kepada mu hah! "
Plak!
"Ingat satu hal, penyesalan pasti akan mengkhampikhi kalian. "
Jason pergi dari sana dengan keadaan pipi yang sangat panas. Sementara di dapur Bi Tita melihat Jason dengan penuh penyesalan, ia tidak bisa melindungi tuan mudanya yang rapuh itu.
"Revan, satu bulan lagi kamu ikut olimpiade kan?"
"Iya yah. "
"Baguslah pasti hasilnya tidak akan mengecewakan. Kamu selalu membuat bangga keluarga Alexander. "
Jason mendengar percakapan itu memberhentikan langkah kakinya dan menguping.
"Sebagai hadiahnya, ayah akan mengadakan pesta besar-besaran di hotel milik kakek Alexander. Dan semua rekan bisnis ayah akan datang, dan ayah dengan bangga akan memperkenalkan mu. "
"Revan tidak akan mengecewakan ayah, tenang saja ayah.. dan terima kasih sudah menyayangi Revan. "
"Sini peluk. "
Percayalah perasaan Jason cemburu mendengar percakapan mereka. Apalagi kalau melihat secara langsung interaksinya.
Ia mengepalkan kedua lengannya, "Gak akan gue biakhin lo menang kali ini!!" Jason mempercepat jalannya.
Lihat saja nanti.
__________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments