Ares Xavier Wilson, remaja yang kini berusia 16 tahun mempunyai kembaran bernama Aras-ah tidak lebih tepatnya Setan! Dan itu adalah nama panggilan kesayangan Ares untuk kembarannya.
Paling benci di banding bandingkan dalam segala hal dengan Aras, selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda dari seluruh keluarga besarnya dan itulah penyebab Ia menjadi seseorang yang pembangkang.
Dan kini, Ares harus menjalani kembali kehidupannya dengan di raga orang lain. Sebenarnya itu hal mustahil, namun setelah Ares benar-benar mengikuti cahaya yang di tunjukkan Jason tadi. Dia sungguh tercengang, bagaimana bisa?
"Eugh.. "
"Tuan muda, syukur lah anda sudah sadar. Bibi khawatir tuan kenapa-kenapa, ada yang sakit tuan? Apa saya harus memanggil dokter? "
Baru sadar Ares berdecak sebal di buat pusing oleh banyak pertanyaan dari orang yang ada di depannya belum lagi ini kepala sangat pusing, membuat susah untuk membuka mata.
"Shh.. "
"Sial! " Batin Ares.
Tak lama kesadarannya kembali hilang.
"Loh Tuan muda? Anda kenapa? " Bi Tita mengguncang tubuh Tuan mudanya itu sebab tidak ada pergerakan kembali. Ia langsung berlari ke luar untuk memanggil dokter.
Tak lama, Damon dokter yang selalu menangani Jason sayang segera memeriksa keadaannya.
"Dia sudah sadar? "
"Iya dok, tadi sudah sadar tapi tidur lagi. "
"Dia pingsan, tunggu beberapa jam dia akan sadar kembali. Langsung kabari saya!" Tegasnya pandangannya tidak luput dari Jason.
"Saya permisi. " Damon keluar dari ruangan itu.
"Lo kenapa sih kalau ngasih ingetan tuh bertahap jangan langsung semuanya, gue pusing mencernanya!" Sembur Ares saat kembali bertemu dengan Jason.
Bukannya minta maaf Jason justru tertawa menampilkan deretan gigi yang begitu rapih. Sungguh manis sekali.
"Tekhnyata kamu lemah juga ya.. "
"Lebih lemah lo dari pada gue!" Enak saja dirinya di sebut lemah, Ares tuh kuat.
"Aku sudah terlanjukh membekhikan semua ingatan aku, jadi kamu harus menekhima. Dan satu lagi aku tinggal di kota A, kamu dulu tinggal di kota B kan?"
"Bacot lo. " lantas Ares melihat Jason sudah hilang dari pandangannya dan pandangan Ares memburam.
"Eugh.. "
"Tuan muda kembali sadar, Tuhan terima kasih. " Bi Tita langsung berlari dan berteriak di ambang pintu memanggil dokter Damon, kebetulan dokter itu baru saja melewati ruangan yang di tempati tuan mudanya.
Kini Jason sedang di periksa oleh Damon setelah di beri air, "Ada yang sakit?"
Tangan kirinya menunjuk perut, sakit sekali bahkan untuk duduk pun susah. Setelah Ares mendapatkan ingatan dari Jason bagaimana Ayahnya menusuk putranya sendiri sungguh begitu kejam!
"Lukanya memang belum kering, jadi harus lebih banyak istirahat dan jangan banyak pergerakan. "
Ruangan itu hening, Damon berharap Jason mengeluarkan suaranya namun harapan itu tidak terkabul.
"Yasudah saya permisi dulu. "
Ares mendapatkan ingatan juga mengenai Damon, bagaimana pertemuan Jason dengan Damon dan sikap baik dokter itu terhadap Jason.
Ah, rasa pusing di kepala dan rasa sakit di perutnya membuat Ia ingin kembali tidur.
"Bibi pulang aja, Jason mau sendikhi. " Sontak saja mata itu membola, bagaimana bisa cadel anak itu terbawa? Sial sekali!
"Baiklah, bibi pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa Tuan bisa menelpon bibi ya ini hp tuan " Bi Tita menyerahkan hp Jason dan langsung di terima oleh sang empu.
Dia sudah penasaran apa ini ponselnya ini.
"Iya bi. "
Setelah kepergian Bi Tita kini Ia sendiri di ruangan dan dengan gesit memeriksa semua isi ponsel itu. Tidak ada yang aneh ataupun spesial.
"Tekhnyata benakh, dia nomokh teman pun tidak punya. Hanya ada nomokh semua keluakhga and doktekh Damon?"
Ares menyimpan ponsel itu di dekat dirinya, Ingin tidur aja rasanya dari pada memikirkan segala hal yang membuat dirinya depresi nanti.
___________ ( sekarang Ares kita panggil Jason) ____________
"Dok saya mau pulang. " Sungguh bosan rasanya terbaring di ranjang rumah sakit ini.
"Lukanya masih belum kering, tapi yang lainnya tidak ada rasa sakit kan?" Damon sungguh tidak rela jika Jason pergi, pasalnya Ia tidak akan lagi bisa melihat dengan sering wajah anak itu.
Jason menggeleng, saat melirik jam ternyata sudah jam sebelas siang tapi Bi Tita belum juga menampakkan hidungnya sejak kemarin Jason suruh pulang.
"Baiklah, hari ini kamu boleh pulang. Nanti sore saya yang akan mengan-"
"Tidak usah dok, sudah ada pak supir yang menjemput Tuan muda. " sela Bi Tita yang baru saja sampai dengan napas yang terengah-engah.
"****!" Umpat dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. " Damon menatap Bi Tita tajam bagai pedang yang menusuk hati.
Jason yang melihat itu bingung, ada apa dengan dokter itu saat berbicara dengan dirinya begitu lembut namun berbicara dengan Bi tita begitu dingin dan tatapannya pun begitu menusuk.
"Bibi kenapa bakhu datang? Ada masalah bi?"
"Ah, eng-gak Tuan. Ta-tadi itu macet. " Jason memicingkan matanya pasti ada masalah di rumah.
Tapi dia tidak sabar ingin segera pulang ke rumah, bagaimana reaksi mereka melihat anak ini masih hidup dan bagaimana reaksinya perubahan anak ini begitu kentara.
Di jadwalkan pulang sore, tapi Jason merengek kepada Damon dan berhasil meluluhkan hati dokter keras itu alhasil Jason pulang sekarang.
"Sudah Bi, yu pulang. " Jason di tuntun oleh supir yang menjemputnya untuk masuk ke dalam mobil, sebab masih terasa nyeri di bagian perutnya untuk sekedar menunduk pun begitu nyeri.
Namun Ia tahan karena sudah tidak sabar ingin menyapa orang-orang rumah. Ia tersenyum smirk, tidak ada yang mengetahuinya.
Ia masih memakai sifat Jason yang dulu, belum saatnya untuk memperlihatkan jiwa bar-bar Ares. Mungkin nanti saat sampai di rumah adalah waktu yang sangat tepat.
"Bi sekakhang jam bekhapa?"
"Jam satu siang Tuan. "
Jason mengangguk, Ia tahu jarak dari rumah sakit menuju rumahnya membutuhkan waktu satu jam berarti jam dua siang Ia akan sampai di sana.
"Apakah semua okhang ada di khumah bi?"
"A-da tuan sedang berkumpul. " Bi Tita melirik sekilas tuan mudanya melalui kaca mobil yang ada di depan. Pasti tuan mudanya itu sakit hati terhadap keluarga.
Jason menatap jalanan, namun pikirannya menerka-nerka kejadian yang sudah berlalu bagaimana perlakuan semua keluarga terhadap diri Jason, tangannya terkepal Ares berjanji akan membalas semua perlakuan mereka terhadap Jason.
Bahkan Ares dan Jason memiliki nasib yang sama, hanya saja Jason yang selalu pasrah sedangan Ares yang selalu membantah.
Satu jam berlalu mobil yang di tumpangi Jason sudah memasuki pekarangan rumah yang begitu luas.
Rumah ini tak kalah besar dengan rumah Ares dulu, hanya saja para penghuninya yang berjiwa iblis.
"Shh.. " tangannya menekan perut, Jason di bantu pak supir untuk keluar dari mobil.
"Jason masuk sendikhi aja pak, tekhima kasih. "
Pak supir lantas membuka pintu rumah itu, dengan perlahan Jason masuk di belakang ada Bi Tita. Masih sepi Jason yakin keluarganya itu sedang berada di taman belakang.
"Jason kamu udah sembuh?" Revan langsung berlari kala netranya melihat Jason yang baru saja masuk, anggota keluarga lainnya pun mengikuti Revan. Dan kini semua sudah berdiri berhadapan dengan Jason.
Anak itu tersenyum sinis, "i-ya.. "
"Maaf ya Jas aku gak bisa jenguk, aku sibuk sama kegiatan sekolah. " Ucap Revan di wajahnya penuh penyesalan.
Cih- batin Jason.
"Iya gak papa, " Jason mendekati Revan dan..
Plak!
"Gak usah sok baik sama gue sialan!"
_________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Mưa buồn
Terharu...
2023-08-04
1