Dua hari setelahnya Hedrick dan Veeno bersiap untuk liburan di kapal pesiar selama dua minggu. Pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju pelabuhan. Kapal putih bertitikkan jendela-jendela hitam yang berbentuk bulat terlihat begitu menawan tetap berdiri tegak walau ombak menerpa. Mereka menenteng barang bawaan mereka naik ke kapal tersebut. Mereka tidak segera pergi menuju kamar. Mereka ingin memandang pelabuhan sejenak sambil melihat sejumlah kruh kapal berkerja menaikan sejumlah barang ke kapal. Itu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.
Setelah muatan terangkut, kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. 15 menit setelah keberangkatan, Hedrick dan Veeno pergi menuju kamar mereka. Kamar yang luas dengan dua tempat tidur terpisah dan perabotan lengkap layaknya hotel. Hedrick membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Waktu saat ini mereka habiskan untuk istirahat sebentar sebelum makan siang tiba pada jam 12.30.
Pada waktu makan siang Hedrick dan Veeno sedikit terlambat karna ketiduran. Hampir jam satu mereka baru sampai di ruang makan. Terlihat meja-meja telah kosong dan hanya menyisahkan beberapa orang saja yang masih berbicang santai antara satu sama lain. Hedrick dan Veeno memilih meja yang ada di sudut ruangan. Seorang pelayan menghampiri mereka dan menyerahkan daftar menu. Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu berlalu pergi. Selang beberapa menit kemudian dia kembali dengan nampan berisi makanan yang mereka pesan. Tak lupa pelayan itu memberi kartu undangan masing-masing pada mereka untuk menghadiri pertemuan minum-minum yang diadakan komandan kapal.
"Belum lama kita naik ke kapal kita sudah mendapat undangan ke pesta," ujar Veeno setelah membaca sekilas kartu udangan tersebut.
"Cuman pertemuan minum-minum biasa."
"Walaupun begitu kita tetap harus datang. Mungkin kita bisa berkenalan dengan wanita cantik."
"Isi kepalamu itu cuman wanita saja. Apa tidak ada yang lain?"
"Tidak seru kalau tidak berkenalan dengan wanita. Aku mau cari wanita dari bangsa timur."
"Wanita dari benua timur berbeda dengan wanita dari bangsa kita. Mereka sangat menjunjung tinggi kesucian. Kau tidak akan bisa bermain dengan mereka."
"Ini baru sehari. Tidak perlu tergesa-gesa. Aku juga cuman mau mengajak mereka berdansa."
"Bersenang-senanglah."
"Kau tidak ikut?"
"Mungkin aku akan mampir sebentar."
"Ayoklah, tinggalah lebih lama."
"Tidak mau."
...⚛⚛⚛⚛...
Malam harinya sekitar pukul 19.15 Hedrick dan Veeno pergi ke tempat pertemuan. Petugas penerima tamu segera menyambut mereka dan menuntun mereka menuju meja yang masih kosong. Bersamaan dengan kepergian penerima tamu itu datang seorang pelayan membawa dua gelas dan meletakkannya dihadapan Hedrick dan Veeno. Ia lalu membuka botol anggur kemudian menuangkannya di masing-masing gelas setelah itu berlalu pergi. Hedrick meraih gelas tersebut, menggoyangkan sekali isinya sambil menghirup aroma anggur itu, kemudian mencicipinya setegukan.
"Aku kira kita terlambat tapi ternyata masih banyak yang baru datang dari kita," ujar Veeno memulai pembicaraan.
"Acara baru dimulai jam 20.00 wajar saja masih banyak yang belum berdatangan."
"Hai, apa boleh kami bergabung?" sapa seorang wanita menghampiri meja mereka. Dia tidak sendirian, ada seorang wanita lain disebelahnya.
"Oh, tentu saja. Silakan duduk," kata Veeno mempersilakan duduk.
"Terima kasih."
Wanita berambut pirang itu mengambil tempat duduk di sebelah Hedrick dan temannya duduk di sebelahnya.
"Perkenalkan namaku Hazel dan ini temanku Lily," kata wanita berambut pirang itu memperkenalkan diri dan juga temannya.
"Hedrick."
"Veeno."
Mereka berempat saling bergantian berjabat tangan. Setelah berkenalan dan menanyakan asal masing-masing, mereka cepat akrab dan menemukan bahan perbincangan yang mengasikan. Contohnya memiliki kegemaran yang sama seperti memancing atau berenang. Tak berapa lama tiba-tiba datang seorang pria menghampiri meja mereka. Pria itu sepertinya telah lama mengenal kedua wanita ini.
"Hazel, Lily, rupanya kalian disini. Aku sudah mencari kalian kemana-mana."
"Ted, akhirnya kau datang juga. Ayok duduklah. Em... Tidak apakan kalau dia juga ikut bergabung?" tanya Lily pada Hedrick dan Veeno.
"Tidak apa-apa. Lebih ramai lebih baik," jawab Hedrick.
"Terima kasih. Namaku Teddy. Kalian bisa memanggilku Ted," kata Ted memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya pada Hedri dan Veeno sebelum akhirnya mengambil tempat duduk disebelah Veeno.
Perbincangan mereka berlanjut. Sejauh ini aman-aman saja. Baik dari Hazel, Lily maupun Ted. Mereka orang yang ramah dan memiliki watak masing-masing yang tidak menjemukan. Suasana di meja makan tersebut terbilang lumayan bersahabat. Setelah makan malam acara dilanjukan dengan pesta dansa. Musik di putar. Beberapa pasangan telah turun ke lantai dansa. Veeno mengulurkan tangannya pada Hazel untuk mengundangnya turun. Awalnya Hazel tampak ragu menerima ajakan tersebut dengan alasan tidak pandai berdansa tapi Veeno memaksanya. Mereka berdua turun dan mulai bergabung menari diantara orang-orang.
Jam 22.30 ombak laut semakin mengguncang kapal namun tidak menggangu jalannya pesta. Yang sedikit terganggu karnanya hanyalah Hedrick. Tidak tahu mengapa tiba-tiba perutnya terasa mual. Mungkin karna tubuhnya belum membiasakan diri dengan guncangan ombak membuat kepalanya dilanda rasa pusing. Ia pamit pada Ted dan Lily kembali ke kamarnya. Sebelum mendengar jawaban Hedrick telah beranjak dari kursinya lalu berlalu pergi.
Kepalanya semakin pusing bahkan harus berpegangan pada dinding agar tetap bisa melangkah menuju kamarnya. Di lorong yang sepi disaat semua orang masih menikmati pesta, tangan Hedrick tiba-tiba tergelincir begitu kapal tiba-tiba berguncang hebat. Karna hal itu membuat pegangannya terlepas dan membuat ia terjatuh ke lantai. Kebetulan ada seorang wanita baru keluar dari salah satu kamar yang tidak jauh dari tempat Hedrick terjatuh. Wanita itu bergegas menghampiri Hedrick dan membantunya berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu.
"Aku baik. Kepalaku cuman sedikit pusing," Hedrick sedikit malu mengakui kalau dirinya mabuk laut di hadapan seorang wanita.
"Sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu dan minum obat," saran wanita itu. "Dimana kamarmu? Biar saya antar."
"Tidak perlu repot-repot aku bisa sendiri," tolak Hedrick.
"Jangan sungkan. Ayok ku antar kau kembali ke kamarmu dan sambilan meminta seseorang membawakan obat untukmu."
"Terima kasih."
Wanita itu membimbing Hedrick ke kamarnya yang berjarak lima pintu kamar dari tempat mereka semula. Wanita itu tidak lekas pergi. Ia menunggu seseorang yang dipanggilnya untuk membawakan obat pereda rasa pusing dan mual. Setelah memastikan Hedrick meminum obatnya barulah wanita itu pergi. Hedrick diselimuti perasaan aneh dalam benaknya setelah mendapatkan perlakuan tersebut. Ada semacam kerinduan yang muncul namun terlalu samar-samar dalam ingatannya. Ia hanya memandang punggung wanita itu sampai menghilang di balik pintu sebelum akhirnya ia memejamkan mata lalu mulai tertidur.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
mengingat sesuatu kah Hedrick?
2024-01-22
0