"Ini rancangan iklan yang saya kirim padanya dua hari setelahnya."
Dua polisi itu melihat rancangan iklan tersebut.
"Bisa ceritakan dimana dan apa yang anda lakukan kemarin malam?"
"Setelah pulang kerja tepatnya pukul 20.00, saya tidak ada rencana untuk pergi kemana-mana. Malam itu saya habiskan untuk menonton film horor bersama anjing saya. Karna terlalu keasikkan, saya sampai bergadang dan tertidur di sofa tanpa mematikan tv. Tetangga kami, Mr. Cavill sempat menegur saya karna anjing saya terlalu berisik. Ia melaung di tengah malam akibat mengikuti suara lolongan manusia serigala dari film yang kami tonton."
"Menonton film memang sangat menyenangkan jika sambil menikmati popcorn. Masih ada sisa popcorn Disini padahal kau menonton film itu kemarin malam. Apa kau selalu membiarkan sisa makananmu berserekan dan membusuk di lantai?" tanya polisi itu mencurigai.
"Sejujurnya pagi kemarin saya kesiangan dan tidak sempat membereskan semuanya. Rencananya hari ini saya mau bersih-bersih rumah."
"Anda tidak berkerja?"
"Saya libur hari ini."
"Baiklah Mr. Gardner. Terima kasih atas kerja sama nya."
"Sama-sama petugas. Apapun yang bisa saya bantu, saya akan melaksanakannya."
"Kami permisi."
"Iya."
Para polisi itu berlalu pergi. Hedrick mengantar mereka sampai ke depan pintu. Di perhatikan nya terus dua polisi itu begitu mereka masuk ke mobil yang tepat terpakir di depan rumahnya, namun mereka tidak kunjung berangkat. Salah satu dari mereka terlihat sedang menghubungi rekannya yang lain.
"Bagaimana hasil penyelidikannya?" tanyanya melalui walkie talkie.
"Kami tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan. Mr. Cavill, tetangannya memberi keterangan bahwa kemarin malam ia sempat menegur Mr. Gardner karna suara anjingnya yang berisik. Ia bahkan datang langsung ke rumahnya dan memang benar Mr. Gardner ada di kediaman pada malam itu."
"Alibinya cukup meyakinkan. Kembali ke kantor," perintahnya.
"Baik."
Mobil polisi perlahan melaju meninggalkan halaman rumah Hedrick setelah tidak mendapatkan petunjuk apapun. Hedrick hanya tersenyum kecil lalu bergumang.
"Dasar para polisi bodoh."
"Selama pagi petugas," sapa seseorang pria begitu melihat mobil polisi yang berjalan melaluinya. Ia adalah teman Hedrick yang bernama Veeno. "Apa kabar Hedrick."
"Baik. Ayok masuk. Aku sudah lama menunggumu," Hedrick mempersilakan temanya itu masuk.
"Ada perlu apa para polisi itu mampir ke rumahmu?"
"Cuman menanyakan beberapa pertanyaan tentang korban yang ditemukan termutilasi di semak-semak."
"Hei, mereka tidak mencurigaimu, 'kan?"
"Aku yakin mereka tidak akan memasukan aku ke daftar tersangka. Pak tua disebelah rumah merupakan saksi kuat untuk melindugiku."
"Bagus," Veeno tiba-tiba merangkul bahu temannya itu. "Bagaimana? Apa kita jadi pergi hari ini?"
"Aku mau beres-beres sebentar. Aku tak suka rumahku berantakan seperti ini."
Hedrick mengemasi barang-barangnya yang berhamburan dan melegakannya kembali ketempat semula. Veeno juga ikut membantu karna sebagian kekacauan ini juga akibat ulah nya sendiri. Selesai membereskan rumah dan sarapan, mereka berangkat sesuai rencana Veeno. Dengan menggunakan mobil milik Hedrick, Veeno mulai menancap gas memasuki jalan raya yang mengarah ke pusat kota. Hedrick sama sekali tidak tahu kemana sebenarnya Veeno mau mengajaknya.
"Kita mau kemana? Kau belum memberitahu ku," tanya Hedrick.
Veeno mengeluarkan selembar foto dan meyodorkannya pada Hedrick. "Aku menemukan target baru."
"Oh... Menarik. Apa alasannya kau memilih dia sebagai gadismu?"
Hedrick memperhatikan foto wanita yang ia terima itu. Seorang wanita berambut pirang sebahu dengan mata biru yang indah tampak sedang berbincang dengan seseorang di telpon. Foto tersebut diambil secara diam-diam oleh Veeno.
"Dia cantik, bertubuh tinggi dengan kakinya yang panjang dan mulus. Ia begitu menggoda dan juga suaranya juga sangat indah. Aku sudah tidak sabar mendengar jeritannya. Uuu... Pasti akan membuatku jatuh cinta," pikiran Veeno sudah melayang kemana-mana.
"Cuman satu. Melihat raut wajahmu itu aku pasti tidak kebagian. Carikan lah satu lagi untukku agar aku juga bisa bermain."
"Tipemu itu sulit di cari."
"Aku 'kan sudah perna bilang kalau aku itu suka dengan gadis yang glamor, suka berfoya-foya dan sombong. Bukankah gadis seperti itu banyak di kota ini?"
"Aku benar-benar bingung denganmu. Kenapa kau suka dengan gadis-gadis seperti itu? Padahal 'kan yang lebih enak itu gadis-gadis yang memiliki bantalan lemak yang indah dan berisi."
"Ada alasan tersendiri untukku. Kau tidak perlu tahu."
"Terserah kau saja. Oh, iya. Aku baru ingat kalau ia juga mengajak salah satu temannya hari ini. Kau bisa memilih dia."
"Kita akan bertemu dengannya secara langsung? Aku pikir kita akan memata-matai dia saja seperti biasa."
"Tidak. Aku sudah berencana berkencan dengannya hari ini tapi dia terlalu pemalu. Sebab itu kami sepakat untuk mengajak masing-masing seorang teman."
"Kebiasaan mu selalu menjebakku. Kalau seperti ini aku tidak mau pergi denganmu."
"Inilah alasannya aku tidak mau memberitahu mu dari awal."
Satu jam perjalanan kemudian, akhirnya mereka sampai di tempat pertemuan dengan dua wanita yang kemungkinan menjadi target mereka selanjutnya. Mobil behenti tepat di depan sebuah kafe. Mereka berdua keluar dari mobil dan melangkah masuk ke kafe tersebut. Mereka memilih tempat duduk yang cukup tersembunyi dari kamera pengawas. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menanyakan apa mereka mau memesan sesuatu. Mereka berdua kompak memesan kopi hitam yang menjadi menu favorit di kafe tersebut. 15 menit menunggu, dua wanita yang mereka tunggu datang juga. Hedrick sudah hampir mau pulang karna kelamaan menunggu. Ia paling benci hal itu.
"Hai, maaf membuat kalian lama menunggu. Terjadi kemacetan tadi," ujar wanita itu sambil mengambil tempat duduk dihadapan Veeno.
"Tidak lama. Kami juga baru sampai," kata Veeno. Ia sedikit memirikan tubuhnya ke Hedrick lalu berbisik. "Apa aku bilang. Dia cantik, bukan?"
"Cantik saja cukup untukmu tapi tidak untukku," balas Hedrick berbisik.
"Ah, kau ini."
"Jadi mereka dua pria yang kau maksud itu, Viona? Penampilanan mereka berdua tampak biasa-biasa saja," kata wanita yang satunya dengan sombongnya setelah melirik Hedrick dan Veeno dari ujung rambut sampai kaki.
"Ini baru yang aku mau," gumang Hedrick sambil tersenyum melihat mangsa yang sesuai dengan keinginannya.
"Sara, jangan berbicara seperti itu," Viona menarik tangan temannya itu dan memintanya duduk. "Maafkan atas ketidak sopanan temanku ini."
"Ah, tidak apa-apa. Kami sama sekali tidak tersinggung. Penampilan kami memang sederhana karna kami memang tidak suka terlalu mencolok," kata Hedrick. Ia yang tadinya tidak menyukai pertemuan ini, sekarang mulai bersemangat.
"Oh, apa itu benar?" tanya Sara meragukan perkataan Hedrick.
"Aku tahu kalau bicara saja tidak cukup menyakinkan seorang wanita. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall hari ini sebagai tanda perkenalan kita?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
penasaran
2024-01-20
1
英
2 sahabat psyco
2024-01-19
1
Clara Safitri
apa hendrik pembunuh berantai mutilasi atau veeno..teka teki lagi nich🤭
2023-11-18
4