"Kenapa kau mengunci pintu?" tanya Sara yang melirik itu.
"Menurutmu kenapa? Sepasang pria dan wanita di dalam satu kamar dan sedang dalam keadaan mabuk pula. Apa yang terlitas di pikiranmu pertama kali?"
Hedrick berjalan mendekati Sara. Ia merangkak naik ke tempat tidur dengan keadaan tubuh Sara ada dibawahnya. Ditatapnya wajah seorang wanita yang telah tidak berdaya itu dengan tangannya mulai perlahan menyelinap ke balik baju Sara. Tindakan Hedrick ini membuat Sara tersentak.
"Hei, tu-tunggu. Apa yang kau lakukan?"
"Kau bilang tadi merasa kepanasan, bukan? Aku cuman hendak membantumu meredakannya."
"Ahh!" teriak Sara begitu tangan Hedrick menyentuh apa yang ada di balik bajunya. Ia seketika menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.
"Tidak aku sangka kau memiliki suara yang indah. Jangan takut, kamar ini kedap suara. Kau bisa berteriak sepuasmu," bisik Hedrick di telinga Sara.
Karna pengaruh obat, Sara tidak bisa berbuat apa-apa begitu Hedrick melepaskan pakaiannya. Tubuhnya tidak dapat dikontrol namun kesadarannya masih tetap terjaga. Hedrick menjatuhkan seluruh berat tubuhnya di atas tubuh Sara setelah pakaian mereka terlepas. Tubuh Sara seketika begetar begitu sesuatu menyentuh area sensitifnya. Hedrick memberi kecupan pada leher Sara sampai ke kuping dengan tangan terus bermain di gupalan lemak itu. Ia ingin membuat Sara tersiksa dulu hingga memohon dengan sendirinya.
"Ah... Panas sekali. Aku tidak kuat lagi."
"Memohonlah."
"Kumohon. Emmph.... Lakukanlah," racau Sara sembarangan berbicara.
Hedrick tersenyum jahat. "Kau yang meminta. Jangan buat aku kecewa."
Hedrick mulai mengarahkan miliknya dan perlahan memasukannya ke tubuh Sara. Segel yang dijaga sara selama ini akhirnya rusak juga. Cairan merah keluar sebagai pertanda. Hedrick cukup kaget mengetahuinya, karna mengingat kebanyakan tipe wanita seperti Sara yang ia temui biasanya tidak terlalu peduli dengan kesuciannya ini. Selagi mereka mendapatkan semua apa yang mereka inginkan, mereka bisa memerikan apapun.
"Oohh.... Sakit!" teriak Sara begitu merasakannya untuk pertama kali.
"Rupanya kau masih perawan. Sungguh mengejutkan untuk wanita sepertimu," Hedrick melanjutkan permainannya. Ia juga belum perna mencoba yang masih baru.
"Sakit...!"
"Bersabarlah, nanti tidak sakit lagi. Ini akan sangat menyenangkan. Aku jamin kau akan menyukainya dan malah memohon ingin lebih."
"Ah!"
Dengan nafas panas dari keduanya, malam itu mereka lalui dalam kenikmatan duniawi. Persis dugaan Hedrick, Sara begitu menikmati setiap sentuhan dan permainan yang Hedrick lakukan. Obat yang Veeno berikan benar-benar kuat. Dalam racauannya, Sara terus memohon ingin lagi dan lagi. Dengan senang hati Hedrick menuruti kemauan itu. Sudah saat nya ia mendapat balasan dari semua biaya yang ia keluarkan untuk Sara. Namun malam ini saja belum cukup untuk menebus semua hutang tersebut. Ini baru permulaan dari permainan mereka.
...⚛⚛⚛⚛...
Di pagi hari. Suara kicauan burung membangunkan Sara dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing akibat mabuk semalam dan juga karna pengaruh obat itu.
"Aw... Kepada ku sakit. Apa yang terjadi?"
Sara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam sambil memijit dahinya untuk meredakan rasa pusingnya. Sepotong-sepotong ingatan tentang kejadian semalam muncul di kepala Sara. Ia tersentak kaget dan seketika menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mendapati kalau dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun dan terdapat noda di seprei. Ia semakin yakin kalau apa yang telah terjadi bukanlah sebuah mimpi belakang.
"AAAH!!! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Hiks... Hiks..."
Tangis Sara terisak-isak. Ia tidak percaya sesuatu yang ia jaga selama ini hilang sudah dalam sebuah kecerobohan. Ia melemparkan semua barang-barang yang bisa ia gapai untuk meluapkan semua kekesalannya. Hampir sejam menangis, Sara beranjak pergi ke kamar mandi lalu mengenakan pakaiannya. Dengan amarah serta kebencian yang meluap-luap, ia keluar dari kamar dan bergegas mencari Hedrick. Ia mendapati Hedrick di dapur yang sedang menyiapkan sarapan.
"Hedrick!" panggil Sara dengan nada tinggi.
"Oh, kau sudah bangun Sara. Selamat pagi. Mau sarapan? Kau pasti lelah semalam," Hedrick meletakan sarapan yang ia buat di atas meja makan dengan sikap seperti tidak merasa bersalah.
"Apa yang kau lakukan padaku?! Tidak aku sangka kau melakukan hal bejat seperti itu!!" bentak Sara.
"Apa yang aku lakukan? Kau sendiri yang memintanya. Apa kau lupa?"
"Itu karna kalian menaruh obat di minuman kami! Tunggu... Viona!"
Sara baru teringat akan temannya. Ia berlari keluar dari dapur meninggalkan Hedrick sendirian. Di tangga Sara berpapasan dengan Veeno dan sampai saling bersenggolan.
"Santai saja. Temanmu itu masih hidup."
"Kalian berdua para pria bajingan! Aku akan membawa Viona pergi dari sini!"
"Silakan saja. Kalau kalian bisa."
Sara tidak mendengar kalimat terakhir yang meluncur keluar dari mulut Veeno. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar dimana Viona berada. Tanpa mengetuk pintu lagi, Sara menerobos masuk begitu saja. Di dalam ia mendapati Viona telah terbangun dengan pipi yang basa oleh air mata.
"Viona!" panggil Sara sambil menghampiri temannya itu.
"Sara," Viona memeluk temannya dan menangis kembali dengan keras. "Huaaaah............aah........ Sara, tidak aku sangka Veeno akan berbuat seperti ini padaku. Apa yang harus aku katakan pada ibu. Hiks... Hiks..."
"Sudah, berhenti menangis," Sara melepaskan pelukan mereka lalu mengusap air mata Viona. "Mereka berdua memang pria bajingan! Yang terpenting kita pergi dulu dari sini dan laporkan mereka pada polisi!"
"Mereka? Apa Hedrick juga melakukan itu padamu?" tanya Viona memastikan.
Sara mengangguk sebagai jawaban. Viona menutup mulutnya dengan ekspresi kaget.
"Kita harus pergi dari sini."
"Iya."
Sara membantu Viona turun dari tempat tidur. Tidak seperti Hedrick, jika Veeno sudah dalam mode bernafsunya, ia bisa bertindak dengan sangat kasar sampai ia mencapai puncak kepuasannya. Saat ini sekujur tubuh Viona terasa sakit, apa lagi di bagian bawahnya yang membuat ia kesulitan berjalan. Sara tidak bisa membayangkan apa yang telah Veeno lakukan sampai temannya berakhir seperti ini.
Setelah membantu Viona berpakaian, dengan hati-hati Sara menuntun Viona turun ke bawah. Tidak terlihat Hedrick dan Veeno di ruang utama. Mereka mengambil kesempatan ini bergegas menuju pintu. Sampai di depan pintu dan begitu memutar knop pintu, ternyata pintu tersebut terkunci.
"Sial! Mereka mengunci pintunya," kata Sara.
"Kita gunakan pintu belakang saja."
"Iya."
Sara dan Viona pergi menuju pintu belakang namun pintu itu juga sama terkuncinya. Tidak menyerah mereka mencoba membuka setiap pintu dan jendela yang ada asalkan mereka dapat keluar dari vila tersebut. Tapi percuma saja. Semuanya terkunci rapat.
"Bagaimana ini? Mereka mengunci semua pintu dan jendela. Kita tidak bisa keluar dari vila ini," ketakutan tampak jelas di wajah Viona. Ia takut mereka berdua tidak bisa keluar untuk selamanya.
"Mereka tidak akan bisa menahan kita disini."
Sara meraih sebuah kursi kayu dan hendak memecahkan jendela kaca bertepatan disaat Hedrick dan Veeno datang.
"Jangan coba-coba merusak barang-barang ku atau kalian akan menerima hukuman yang mengerikan," ancam Hedrick.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
nasi sdh jadi bubur... apa masih bisa dikreasikan bubur nya?
2024-01-20
1