Dengan mudah tertipunya, Dassy masuk ke dalam mobil Hedrick. Untuk lebih menyakinkan Dassy, Hedrick menepati janjinya mengajak Dassy ke sebuah kafe. Kafe tersebut terletak di pinggir kota yang jauh dari kamera lalu lintas. Itu memungkinkan Hedrick terlepas dari pemyelidikan polisi nanti. Di kafe tersebut mereka berbicang banyak hal tentang diri masing-masing. Dari percakapan itu Hedrick menyimpulkan kalau Dassy hanyalah seorang wanita penganguran yang mengandalkan kecantikannya semata untuk merayu para pria kaya. Sangat jelas dari caranya merayu Hedrick seperti seorang kupu-kupu malam yang berpengalan. Entah sudah berapa banyak pria yang menjadi korban dari kelicikan Dassy.
Serasa telah mengenal diri Hedrick sepenuhnya, Dassy perlahan mulai mempercayai kalau pria di depannya ini dapat dimanfaatkan. Tapi dia tidak tahu kalau sebenarnya ia lah yang telah ditipu secara nyata. Merasa telah mendapat mangsa yang bodoh, rupa-rupanya dia sendiri yang menjadi mangsa dari predator yang lebih besar. Dalam hati Hedrick lah yang menebar senyum kemenangan.
"Em... Kapan kita ke mall?" tanya Dassy mengingatkan.
"Oh, iya. Sekarang saja."
"Asik!" teriak Dassy kegirangan.
Setelah membayar semua pesanan mereka, Hedrick menggadeng tangan Dassy keluar dari kafe tersebut. Seperti sepasang ke kekasih, dengan perhatiannya Hedrick membukakan pintu mobil dan mempersikan Dassy masuk. Hedrick menacap gas mobilnya meninggalkan area kafe. Tujuan mereka sekarang mall yang ada di pusat kota. Setidaknya itu menurut Dassy. Diperjalanan Hedrick menyodorkan sebotol air mineral pada Dassy.
"Mau minum?" tawarnya.
"Tidak. Terima kasih. Aku tidak haus," tolak Dassy.
"Minumlah. Jika kau menolak, itu berarti kau menolak kejutan yang sudah aku siapkan untukmu."
"Kejutan?! Kau mau memberikan kejutan untukku?"
"Iya, tadinya. Tapi karna kau sudah menolak, ya lain kali saja," Hedrick menyimpan kembali botol air mineral tersebut.
"Tidak, tidak. Aku mau minum airnya. Kebetulan aku haus sekali," Dassy seketika merebut botol tersebut dan langsung meminumnya.
"Bagaimana?"
"Uuhh.... Kepalaku sedikit terasa pusing," entah mengapa tiba-tiba Dassy merasa pusing disertai dengan rasa kantuk yang berat. Ia mencengkram kuat kepalanya.
"Itu berarti obatnya sudah mulai berkerja."
"Apa?! Obat? Obat apa yang kau maksud?" tanya Dassy ditengah kesadaranya yang semakin menipis dan akhirnya menghilang.
"Tidurlah yang nyeyak, manis. Saatnya kita pergi ke pesta. Aku sungguh beruntung hari ini mendapatkan wanita yang begitu bodoh seperti dia."
Hedrick melajukan mobilnya menuju tempat yang seharusnya ia pergi, vila. Sampai disana, ia segera membopong Dassy masuk. Ia membawanya ke kamar dimana biasanya ia bermain. Ruangan khusus yang dibangun diruang bawah tanah. Disana telah tersedia lengkap berbagai jenis alat penyiksaan, peralatan tukan dan alat-alat berkebun. Selain senjata tumpul dan tajam, Hedrick juga memiliki koleksi senjata api dan laras panjang. Semuanya terpajang di dalam lemari kaca.
Begitu memasuki ruangan, bau ayir darah yang membusuk seketika tercium menusuk hidung. Tidak mengherankan juga karna setiap kali Hedrick dan Veeno bermain, darah dari para korban-korban mereka yang mengenang di lantai hanya di siram sekali menggunakan seember air. Ada lubang selokan khusus yang digunakan untuk mengalirkan darah-darah tersebut langsung ke dalam tanah. Terkadang saat musim dingin Veeno malah menampung darah itu dan membiarkanya sampai membeku di dalam tumpukan salju.
Hedrick membaringkan tubuh Dassy di atas meja kayu yang cukup lebar membuatnya terlentang dengan kedua tangan dan kaki digembok pada tempat yang telah tersedia. Meja kayu itu memang telah dibuat sedemikian rupa sebagan tempat eksekusi korban mereka. Warna kayu tanpak menghitam akibat seringnya dialiri darah. Setelah semuanya selesai, tinggal menunggu Dassy bangun. Karna Hedrick memberi dosis obat bius yang lumayan besar, kemungkinan Dassy akan sadar keesokan harinya. Hedrick melangkah keluar dari pintu meninggalkan Dassy sendirian di dalam sana. Malam ini sepertinya Hedrick terpaksa menginap di vila.
...⚛⚛⚛⚛...
"Aduh... Kepalaku pusing sekali."
Dassy terbangun dari tidurnya. Disaat ia hendak mengerakan tubuhnya, ia baru sadar kalau saat ini tangan serta kakinya terkunci. Ia mencoba melepaskan diri tapi itu hal yang sia-sia. Dassy melirik kesana kemari. Tempat yang begitu asing dan bau. Hanya ada satu penerangan redup yang tepat berada di atas kepalanya.
"Apa yang terjadi? Dimana aku? Bagaimana bisa aku ada disni?" pikirnya.
"Oh... Kau sudah bangun rupanya, manis," ujar Hedrick begitu melangkah masuk.
"Kau.... Hedrick, apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan aku!" bentak Dassy saat melihat Hedrick berjalan mendekatinya.
"Kenapa aku harus melepaskanmu? Pesta sudah mau dimulai loh."
"Kau gila! Kau menipuku ternyata. Lepaskan aku atau aku akan laporkan kau pada polisi atas dasar penculikan!" ancam Dassy dengan nada tinggi.
"Bagaimana caranya kau mau menelpon mereka?" Hedrick meraih tas Dassy dan mengeluarkan hpnya. "Kau memerlukan alat ini untuk menghubungi para polisi itu, bukan?"
Klatar!
Hedrick melemparkan hp tersebut ke tembok sampai hancur berantakan. Dassy hanya terdiam menyaksikan benda kesayangannya menjadi remah.
"Sekarang kau tidak memiliki alat komunikasi lagi. Tidak akan ada yang bisa menolongmu. Sebaiknya kau diam saja dan biarkan aku berkerja."
Hedrick menghampiri salah satu lemari kayu yang ada disebelah mereka. Ia membuka lemari tersebut dan memperlihatkan semua isinya yang berupa pealatan bermainnya. Dari semua yang ada, Hedrick memilih palu dan sejumlah paku seukuran pena. Senyum menyeringai yang terukir di wajah Hedrick membuat Dassy bergidik ngeri.
"A-apa yang mau kau lakukan dengan paku dan palu itu?" tanya Dassy dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Menurutmu?"
Hedrick meletakan satu buah paku di atas perut Dassy dengan tangan kanan mengambil ancang-ancang mengayunkan palu tersebut.
"Tidak! Hentikan ini! Kau mau apa? Aku mohon jangan lakukan itu."
Tidak mendengar Dassy sama sekali, Hedrick mengayunkan palunya memukul paku itu. Dalam sekali pukulan paku tersebut menembus perut Dassy.
"ARGH!" teriak Dassy bersamaan darah muncrat dari mulutnya.
"Itu akan menahanmu agar tidak banyak bergerak."
Dengan tangan kirinya telah bermandikan darah, Hedrick mengambil paku yang lainnya. Hedrick mengitari tubuh Dassy sambil melihat-lihat dibagian mana lagi ia harus menancakan pakunya. Setelah mengitari sekali, ia menemukan tempat yang cocok yaitu di kedua bahu Dassy. Belum hilang rasa sakit di perutnya Dassy dibuat merasakan lagi paku-paku tersebut menembut daging serta tulangnya.
"AAAHH.......!!!"
Teriakan kesakitan mengisi setiap sudut ruangan. Hedrick semakin bersemangat bermain dengan Dassy sambil menunggu Veeno kembali. Beberapa menit yang lalu Veeno sempat telpon kalau dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Mungkin dua setenga jam ia akan sampai di vila, tergantung lalu lintas.
"Hiks... Hiks... Hedrick, aku mohon hentikan ini. Sakit...." tangis Dassy sambil memohon.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments