"Tidak! Menjauh lah dariku!" Viona meronta-ronta begitu melihat ujung pisau semakin mendekati matanya.
"Tenanglah sebentar, nanti matamu yang indah bisa rusak."
Secara perlahan Hedrick mencongkel mata kiri Viona dengan hati-hati agar mata tersebut dapat dikeluarkan dengan utuh.
"AAAH ! ! ! Hentikan itu!! Sakit....!!!"
Suara lengkingan kesakitan mengisi setiap sudut kamar. Dikarenakan ruangan tersebut kedap suara, jadi Sara sama sekali tidak mengetahui bahwa temannya sedang disiksa. Viona tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak dan menangis. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa mata kirinya sungguh dikeluarkan. Darah telah memenuhi sebelah wajahnya dan begitu juga dengan kedua tangan Hedrick.
"Bagaimana? Apa cukup bagus jika dipajang di dalam toples untuk menambah koleksi kita?" Hedrick menunjukan bola mata tersebut pada Veeno.
"Lumayan. Tapi aku ingin memajang satu jari manis yang berhiaskan cincin tunangan ini," tunjuk Veeno pada jari Viona.
"Cincin tunangan?" Hedrick melirik ke jari manis tangan kiri Viona, memang ada sebuah cincin tersemat disana.
"Iya. Dia telah bertunangan tapi masih mencari pria lain. Benar-benar wanita tidak tahu di untung. Sudah menghabiskan uangku, ternyata menghianatiku pula."
Dengan sedikit berjingkat Veeno memotong jari manis Viona menggunakan gunting besar sampai putus. Darah dari jarinya menetes ke kepala Viona sendiri.
"Argr!!!" teriakan Viona kembali mengisi ruangan. "Hiks... Hiks... Sakit."
"Ini adalah hukuman karna telah menipuku," Veeno memungut jari yang jatuh ke lantai tersebut.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menipumu. Aku dijodohkan oleh keluargaku. Sebenarnya aku juga tidak mau dengannya. Hiks... Hiks..." jelas Viona dalam isak tangisnya.
"Mungkin yang ia katakan benar, Veeno. Ia tidak bermaksud mengkhianatimu," ujar Hedrick membela Viona.
"Jika dia memang tidak suka, lantas kenapa dia mau berhubungan dengannya?"
"Benar juga," dalam sekejap Hedrick berpindah pihak ke temannya.
"A-aku..."
Viona tidak dapat menyangkalnya karna itu benar. Ia memang telah menjalin hubungan yang lebih dalam dengan tunangannya itu, sedangkan Veeno hanya dimanfaatkan saja untuk kesenangan pribadi. Melihat reaksi Viona dan ketidak sanggupanya menjawab membuat Hedrick menyadari akal busuk Viona.
"Wah... Rupanya kau lebih buruk dari temanmu itu. Berwajah sok polos ternyata berkelakuan busuk. Memang tidak pantas wanita seperti mu untuk berada di masyarakat lagi. Seharusnya aku memilihmu."
Hedrick melemparkan pisau yang ada di tangannya dan tepat menancap di perut Viona.
"ARGH ! ! !"
"Sebaiknya kita apa 'kan dia?" tanya Veeno pada Hedrick.
"Kita masih punya papa dan peralatan dari bekas renovasi vila, bukan?"
"Iya. Semuanya masih tersimpan di ruang bawah tanah dan sisa potongan balok kayu dihalaman. Kita gunakan itu sebagai kayu bakar saat pesta BBQ semalam."
"Bagus. Kau bermainlah dengannya sepuasnya. Aku akan turun ke bawah untuk membuat sesuatu yang spesial untuknya. Aku punya ide hebat untuk seni kita berikutnya."
"Suatu kehormatan untukku. Aku akan sangat bersenang-senang."
"Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Viona merasakan firasat buruk.
"Rahasia. Kau tenang saja. Kami akan membuatmu menjadi seni yang paling cantik."
Hedrick berlalu pergi. Sebelum turun ke rung bawah tanah, terlebih dahulu ia menyimpan bola mata Viona. Dibersikanya dulu bola mata tersebut dari darah yang menempel sebelum di masukan ke dalam toples yang telah diisi cairan pengawet.
Selagi Veeno bermain dengan Viona, Hedrick menyiapkan semua peralatan yang diperlukannya untuk membuat sebuah kotak kayu seperti peti mati tanpa tutup. Kotak tersebut dibuat sedemikian rupa cantiknya dengan bagian dalam berhiaskan beludru merah. Butuh waktu berjam-jam Hedrick membuat kotak tersebut. Tepat jam 7 malam ia baru menyelesaikannya. Hedrick kembali ke kamar dimana Veeno dan Viona berada. Sampai disana Hedrick mendapati tubuh Viona telah termutilasi menjadi 13 potongan dengan seluruh organnya keluar dari perutnya.
"Kau memotongnya?"
"Ah, iya. Aku melakukannya semasa ia masih bernafas dan dia mati setelah aku memenggal kepalanya," jelas Veeno.
"Ya sudah. Kita jahit saja kembali, terus kita dandani secantik mungkin."
"Okey. Ini akan menjadi seni tercantik yang perna kita buat."
Hedrick dan Veeno menyatukan kembali tubuh Viona dengan cara dijahit menggunakan senar pancing. Setelah bagian tubuhnya disatukan dan organ tubuhnya kembali pada tempatnya, tubuh Viona kini dibersihkan dari sisa darah yang menempel. Kemudian mereka mendandani mayat Viona secantik mungkin. Sebuah gaun merah muda berbahan sutra dengan hiasan brokat dan manik-manik mutiara. Tak lupa mereka juga mengenakan beberapa perhiasan di tubuh Viona. Selesai mendandani mayat Viona, mereka lalu meletakannya di dalam kotak yang telah dibuat Hedrick sebelumnya. Sebagai hiasan terakhir, di dalam kotak tersebut disusun rangkaian bunga lily putih mengelilingi seluruh tubuh Viona. Sekarang Viona tampak seperti boneka yang sedang tertidur di dalam kotak tersebut.
"Akhirnya selesai juga. Kemana kita mempersembahkan pertunjukan ini?" tanya Veeno.
"Di tengah kota saja. Bukankah itu akan menjadi suatu yang menghebohkan?"
"Ide yang bagus. Seni yang begitu cantik ini harus cepat-cepat dipamerkan ke semua orang," Veeno menyelipkan secarik kertas di tangan Viona.
"Apa yang kau letakan itu? Pasti teka-teki untuk polisi lagi," tabak Hedrick.
"Cuman permainan kecil untuk membuat para polisi punya pekerjaan."
"Kau yang kurang kerjaan. Bisa-bisa kita tertangkap karna permainan kecil mu itu."
"Biarpun mereka bisa menebaknya juga tidak semudah itu menangkap kita."
"Terserah kau saja. Kita bersihkan dulu vila ini sebelum berangkat ke kota."
"Kenapa harus repot-repot kita yang membersihkannya? Panggil saja pengurus vila ini untuk membereskan semuanya. Aku sudah lelah. Aku mau mandi dulu," Veeno berlalu pergi ke kamar mandi.
"Dasar pemalas."
Selagi menunggu Veeno mandi, Hedrick sedikit membersihkan darah yang menggenang di lantai dan membakar seluruh barang-barang Viona untuk menghilangkan bukti. Jam 23.43 mereka berangkat menuju kota. Mereka menggunakan jalan pintas untuk sampai lebih cepat. Cuman dibutuhkan waktu sekitar dua jam lebih sedikit bagi mereka sampai di pusat kota. Walaupun di tengah malam, masih terlihat beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Agar tidak ketahuan mereka menurunkan kotak tersebut dengan kain hitam yang menutupinya.
Setelah kotak itu di letakan pada tempat yang menurut mereka bisa dilihat semua orang, Hedrick segera menancap gas pergi dari tempat tersebut. Begitu mobil menjauhi kotak tersebut, kain hitam yang menutupinya seketika ikut terbawa pergi karena ujung kain tersebut telah diikat dan terhubung ke mobil. Hedrick dan Veeno tidak segera kembali ke vila. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Besok pagi Hedrick masih harus pergi berkerja.
Seperti yang diperkirakan, esok paginya semua orang dikagetkan dengan kemunculan kotak kayu yang berisi mayat seorang perempuan di trotoar kota. Awalnya orang-orang berpikir kalau itu hanya sekedar boneka tapi begitu di dekati mereka baru sadar kalau sebenarnya itu adalah mayat. Polisi seketika mengamankan TKP dan segera menyelidiki kasus tersebut. Garis polisi dipasang disekelilingan kotak itu untuk mencegah masyarakat mendekat. Setelah penyelidikan dan pengambilan gambar selesai, kotak berisi mayat tersebut segera diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut seperti melakukan otopsi pada mayat dan mengidentifikasi identitasnya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
🍁mahes❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
gila ini mah tp kereeen
2024-01-21
1
Cinta Rodriques
thou kejiiiiii.....biadabbbbbb.
2024-01-20
2