Ding dong.
Bell rumah berbunyi. Seorang pria berkacamata keluar dari pintu rumah tersebut.
"Iya."
"Dengan Mr. Paul?"
"Iya. Saya sendiri."
"Ini ada kiriman untuk anda," kata kurir pos itu sambil menyerakan sebuah kotak besar berwarna coklat.
"Em... Dari siapa?" tanya Mr. Paul begitu menerima kotak tersebut.
"Tidak tahu. Tidak ada nama pemilik di kotak itu. Mohon tanda tangan disini."
Tanpa menaru curiga, Mr. Paul menandatangani kertas tanda terima barang tersebut. Kurir pos itu lalu berlalu pergi. Mr. Paul masuk kembali ke apartemennya. Ia meletakan kotak itu di atas meja lalu membukannya. Betapa terkejutnya ia begitu mendapati isi dari kotak tersebut adalah sebuah kepala manusia. Sangking terkejutnya, ia sampai terduduk di lantai dan kotak tersebut jatuh dengan isinya terkeluar. Mr. Paul mencoba mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya yang shock.
"Si-siapa yang membuat lelucon ini? Sungguh tidak lucu!"
Setelah agak tenang, Mr. Paul memberanikan dirinya melihat kepala siapakah itu. Secara sekilas ia merasa mengenalnya. Lagi-lagi ia kembali dibuat kaget. Ternyata kepala tersebut adalah kepala dari mantan pacarnya yang ia temui kemarin. Ada selembar kertas tergeletak di samping kepala Dassy. Dengan tangan gemetar Mr. Paul meraih kertas tersebut lalu membaca pesan yang tertulis disana.
..."Kami telah membantu membalaskan dendam pada mantan pacarmu. Tidak perlu berterima kasih."...
...Catatan : Bagian tubuhnya yang lain ada di dalam sebuah koper yang telah kami hanyutkan di sungai....
Setelah membaca pesan tersebut, Mr. Paul segera mengghubungi polisi. Akibat masih shock, ia menceritakan semuanya dengan bibir gemetar dan keringat bercucur deras di pelipisnya. Ia tidak berani mendekati kotak serta kepala mantan kekasihnya itu, apa lagi menyetuhnya. Walau dalam benaknya ia sangat membenci Dassy karna telah memanfaatkan dirinya namun tetap saja Dassy perna menjadi wanita yang ia cintai. Mr. Paul merasa tidak tega melihat raut wajah cantik yang perna ia belai dengan mesra kini berubah mengerikan. Selang beberapa menit kemudian polisi sampai di apartemennya. Begitu masuk, dua polisi itu mendapati Mr. Paul tengah duduk di atas sofa sambil memeluk lututnya. Pandangannya kosong dan tubuhnya masih terlihat gemetar ketakutan. Ia tampak shock berat atas kejadian ini.
"Mr. Paul," panggil salah satu polisi itu. "Anda baik-baik saja?"
"Iya. Terima kasih telah datang secepatnya," Mr. Paul beranjak dari sofa. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Bisa ceritakan apa yang terjadi secara mendetail?" kata polisi itu sambil mengeluarkan buku catatan kecil.
Mr. Paul menceritakan semua kejadian sampai yang kecil sekalipun. Termasuk pertengkarannya dengan Dassy kemarin. Polisi itu juga menanyakan beberapa pertanyaan yang dijawab jujur oleh Mr. Paul. Sedangkan polisi yang lain memeriksa kotak berserta kepala korban untuk mencari petunjuk dari kasus ini. Ia juga memeriksa isi surat yang ditinggalkan si pelaku. Mengetahui pesan soal keberadaan bagian tubuh korban ada di dalam koper yang dihannyukan ke sungai, polisi itu segera melaporkan hal ini pada atasannya. Mendapat kabar tersebut kepala polisi itu langsung bertindak. Ia memerintahkan sebagian besar bawahannya untuk menyelusuri aliran sugai untuk mencari koper yang di maksud.
Hampir menjelang sore akhirnya koper di temukan. Koper tersebut tersangkut di ranting pohon tumbang akibat tanah dipinggiran sungai yang ambas. Begitu koper dibuka untuk memastikan bahwa itu merupakan koper yang benar, mereka di kejutkan dengan potongan tubuh manusia yang telah membusuk di dalam koper berukuran cukup kecil tersebut. Tapi bukan itu saja yang membuat mereka tersentak kaget. Mereka juga menemukan selembar kertas terselip di koper itu dengan sebuah kode di atasnya. Mereka seketikan menyimpulkan kalau kasus ini di lakukan oleh orang yang sama dengan dua kasus pembunuhan tempo hari yang sampai sekarang belum terpecahkan. Koper berisi potongan tubuh itu segera diamankan untuk pengedetifikasian lebih lanjut dan pencocokan apa benar potongan tubuh tersebut milik dari Dassy yang kepalannya dikirimkan pada mantan kekasinya.
"Bagaimana hasil penyelidikannya?" tanya kepala polisi itu pada anak buahnya yang ditugaskan. Dari raut wajahnya ia tampak kesal. Sekali lagi ia kecolongan.
"Menurut keterangan dari Mr. Paul, korban bernama Dassy, umur 25 tahun. Dia adalah mantan kekasi Mr. Paul. Sempat terjadi perselisian antara Mr. Paul dengan korban di depan sebuah supermarket. Saat ini salah satu petugas sedang memeriksa rekaman cctv di supermaket tersebut."
"Dia bisa saja memjadi tersangka karna memiliki motif untuk melakukan tindak pembunuhan. Tapi yang menjadi masalah disini adalah secarik kertas berisi kode tersebut."
Dengan geram kepala polisi itu memukul meja untuk melampiaskan kekesalannya. Selembar foto dari kode kasus ketiga jatuh ke lantai.
Bawahannya itu memungutnya lalu meletakan kembali foto tersebut di atas meja.
"Kami sempat mempertanyakan tentang kedua kasus sebelumnya pada Mr. Paul, namun dia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan kedua korban maupun salah satu wanita yang hilang itu. Dan juga tidak ada motif yang kuat baginya untuk melakukan pembunuh pada mereka."
"Pak, hasil otopsi dari rumah sakit telah dikirimkan," kata salah seorang polisi lainnya sambil menyerahkan data dari rumah sakit.
"Terima kasih," kepala polisi itu menerima data tersebut lalu membacanya. "Menurut hasil pemeriksaan, terdapat tiga tusukan benda rucing seperti paku di tubuh korban dan satu luka akibat pisau yang menembus rahimnya. Dari keseluruhan potongan tubuh yang ada dalam koper tersebut hanya gumpalan lemak di dada dan jantung korban yang hilang. Selain di wajah, ditemukan juga bekas luka akibar Asam Sulfat di betis sampai pahanya."
"Hmm... Setiap korbannya dari tidak kejahatan mereka pasti ada saja organ atau bagian dari tubuh korban mereka yang hilang. Apa mungkin motif dari pembunuhan ini adalah penjualan organ tubuh manusia?" ujar polisi tersebut menebak-nebak.
"Mungkin saja. Korban pertama kehilangan satu ginjalnya, korban kedua kehilangan satu mata dan satu jari manisnya dan korban ketiga ini kehilangan jantungnya. Penjualan organ tubuh ilegal memang sedang marak terjadi di kota ini. Tapi sepertinya mereka cuman memenuhi pesanan yang mereka terima. Ini terbukti dari organ yang mereka ambil berbeda-beda dari setiap korban. Lakukan penyelidikan tentang penjualan organ tubuh manusia, terutama yang dilakukan di media sosial," perintah kepala polisi itu.
"Baik, pak," bawahannya itu berlalu pergi menjalankan perintah.
Disatu sisi saat para polisi sedang dibuat pusing dengan kasus pembunuhan itu, Hedrick dan Veeno malah tertawa riang diantara tumpukan uang yang mereka peroleh dari hasil penjualan organ jantung milik Dassy. Uang tersebut senilai 75.000,00 dolar yang dikirim langsung ke rekening platinum Hedrick. Dan Veeno baru saja melakukan penarikkan tunai sebesar 20.000,00 dolar dengan pecahan ratusan. Masing-masing dari mereka saat ini memegang 10.000,00 dolar untuk dihabiskan bersenang-senang.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments