Deo, Vino, Roni, dan keponakan yang lainnya berdiri di depan Ervin, menghalangi jalannya dan bertanya mengenai mereka akan pergi ke mana di hari ini.
Di pagi hari ini, Ervin sama sekali belum memikirkan apakah akan pergi jalan-jalan atau bersantai di rumah.
Pasalnya, sudah dua hari ini mereka semua jalan-jalan. Tubuh mereka pasti kelelahan karena terlalu sering bepergian jauh.
Melihat Paman mereka yang diam seperti orang bodoh, Roni memukul dengan keras Titanoboa milik Ervin tanpa izin.
Buk!
Perasaan nyeri mengejutkan seluruh Ervin, membuat mata Ervin hampir keluar karena kejutan yang menyakitkan.
"Aduh, sakit!!"
Kedua tangan Ervin menutupi Titanoboa sambil menahan rasa sakit yang melanda tubuhnya.
Jeritan Ervin terdengar sangat menjiwai, membuat keponakan perempuannya merasa kasihan.
"Paman, mau aku elus burungnya supaya tidak sakit?" tanya Lili dengan polos.
Mendengar ini, Ervin berhenti kesakitan sejenak, menatap Lili dengan wajah yang tercengang.
Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Ervin berkata, "Ti–tidak, Paman baik-baik saja."
Butiran keringat muncul di dahi Ervin, keponakannya benar-benar mengerikan.
Tak mungkin Ervin membiarkan anak perempuan sekecil Lili untuk memegang Titanoboa miliknya yang besar, sangat tidak pantas dan vulgar.
Lili kira burung Ervin kecil seperti milik keponakan laki-lakinya, yaitu Geno, itu jauh berbeda.
Burung Ervin adalah burung purba yang besar, bukan burung pipit yang kecil.
Setelah menahan rasa sakit sekitar 2 menit, perlahan Ervin pergi ke ruang makan bersama keponakannya.
Di ruang makan, semua anggota keluarga Ervin melirik dengan tatapan yang aneh kepada Ervin.
Mama Ervin penuh rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi kepada Ervin, dan dia bertanya, "Ada apa denganmu, Ervin? Mengapa jalanmu seperti pinguin?"
"Benar, aku lihat cara jalanmu seperti anak kecil yang baru saja disunat," ucap Kak Narissa yang juga ingin tahu.
Semua kakak dan Abang Ervin memfokuskan perhatiannya ke sosok Ervin.
Melihat semua mata memandang ke arahnya, mau tak mau Ervin menjawab pertanyaan mereka semua, "Anu, Roni—"
"Roni memukul burung paman! Lantaran Paman tidak menjawab pertanyaan Roni," sela Deo dengan wajah yang serius.
Ekspresi Roni menganggu bangga mengonfirmasikan ucapan Deo.
Semua keluarga Ervin mengubah ekspresinya, menatap Roni dengan tidak ramah.
Senyum terbentuk di bibir Ervin, Deo sangat pintar.
"Roni!!"
Kak Narissa dan Suaminya menyebut nama Roni dengan ekspresi wajah yang murka.
Mendengar panggilan marah kedua orang tuanya, wajah bangga Roni berubah menjadi ketakutan dan dia baru sadar bahwa perbuatannya salah.
Di dalam sarapan pagi ini, Roni diberi nasihat dengan lembut juga hati-hati oleh nenek dan ibunya sendiri.
Roni mengangguk mengerti dengan ekspresi wajah yang bersalah.
Tidak lama setelahnya, Roni pergi ke Ervin yang sedang duduk di sofa untuk mencari tempat wisata yang akan mereka kunjungi hari ini.
"Paman, Roni minta maaf lagi. Roni berjanji tidak akan memukul burung Paman lagi. Ini, Roni memberikan baju renang bekas Roni yang sudah tidak muat lagi karena kekecilan sebagai permintaan maaf Roni."
Tangan kecil Roni menyerahkan pakaian renangnya kepada Ervin, wajahnya masih menampilkan ekspresi bersalah.
Ervin tanpa sadar menerima hadiah barang dari permintaan maaf Roni, di dalam otaknya masih memikirkan tentang tempat wisata yang tepat untuk dikunjungi olehnya dan keponakan-keponakan.
Ting!
Sebuah ide terlintas ketika Roni menyebutkan pakaian renang.
Senyum simpul tercipta di bibir Ervin, kemudian dia mengembalikan renang Roni dan berdiri tegak.
"Paman akan membawa kalian ke suatu tempat hari ini. Apa kalian mau ikut?!" tanya Ervin kepada semua keponakannya yang memenuhi sofa, bagai anak kucing yang tak bisa diam bermain di sofa.
Pertanyaan Ervin langsung menarik perhatian semua keponakannya.
Roni yang paling dekat dengan Ervin segera berseru kegirangan sembari melempar pakaian renang di tangannya.
Dengan begitu, Ervin meminta semua orang tua mereka untuk menyiapkan baju ganti karena diharuskan dibawa.
Kali ini, bukan Kak Narissa dan Kak Rasha yang ikut ke dalam mobil mengawasi mereka semua bersama Ervin.
Ada kakak perempuan Ervin yang akan ikut bersama suaminya.
Mereka berdua ingin ikut karena takut kedua anaknya celaka jika tidak ada pengawasan penuh dari mereka, terlebih tempat wisata ini ramai dan cukup berbahaya.
"Kak Flora dan Bang Adam, aku minta pertolongan kalian untuk jalan-jalan hari ini," ujar Ervin kepada mereka berdua dengan sopan.
Bang Adam tersenyum lebar dan memegang tangan Ervin dengan tegas, "Adikku, sebagai abang ipar kamu yang paling tampan, tentu saja aku akan membantu kamu."
"Benar, kakak juga pasti membantu kamu dalam liburan kali ini," tambah Kak Flora dengan senyuman manisnya.
Ervin tersenyum lega mendengar jawaban keduanya. Mengawasi mereka semua cukup sulit, selama 3 perjalanan ini Ervin melatih dirinya sendiri untuk mengurus mereka sepanjang perjalanan, diawasi oleh kakak dan abangnya.
Tanpa mereka, ditakutkan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan.
Semua baju-baju keponakan Ervin diletakkan di dalam bagasi mobil. Sebelum berangkat, Ervin harus memeriksa kelengkapan terlebih dahulu, takut ada yang tertinggal.
Setelah itu, Ervin dan Bang Adam masuk ke kursi sopir dan penumpang di depan.
Tak lama kemudian, mobil besar keluarga melaju meninggalkan rumah mama dan papa Ervin.
Semua keluarga Ervin menatap bagian belakang mobil dengan wajah yang sedikit sedih.
Namun, saat mobil itu menghilang dari pandangan, wajah mereka hampir bersamaan tersenyum, dan mereka semua tertawa.
"Akhirnya, anak-anak dibawa Ervin jalan-jalan, kita semua bisa beraktivitas tanpa diganggu," kata Kak Narissa dengan raut muka yang senang.
Mendengar ucapan Kak Narissa, semuanya mengangguk setuju.
Papa dan mama Ervin pun mengangguk, memiliki banyak cucu membuat mereka pusing, terlebih di masa-masa anak kecil ini, mereka sangat rewel dan tidak bisa diam.
Dengan tubuh keduanya yang sudah tua, kedua orang tua Ervin tidak sanggup merawat dan menjaga mereka semuanya sekaligus.
Keluarga Ervin percaya dengan Ervin yang bisa menjaga anak-anak kecil selama di tempat wisata.
Tidak sampai 1 jam berlalu, Ervin dan semua keponakannya tiba di tempat wisata yang dituju.
Tempat wisata tersebut adalah Pantai Ancol, dekat Dunia Fantasi.
Pantai paling dekat dari rumah mereka tidak lain ialah Pantai Ancol. Jadi, Ervin memilih tempat ini untuk destinasi wisata hari ini.
Kebetulan, mereka sudah lama tidak berenang, membawa mereka ke sini merupakan pilihan tepat.
Setelah membayar tiket untuk 12 orang, mereka semua masuk ke dalam Pantai Ancol dan bergegas ke tempat di mana pantai berada.
Semua keponakan Ervin tidak sabar ingin melihat pantai.
Dengan demikian, Ervin yang belum memakai pakaian atasnya ditarik oleh semua keponakannya yang sudah mengenakan pakaian renang.
"Ayo cepat kita renang bersama, Paman!! Pasti di sana ada wanita cantik yang menunggu Paman!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
kang Deden
linu
2023-09-01
3
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-16
3
the Amay one
FBI open the door
2023-08-16
5