Bab 15: Roni Menangis

Wanita itu sedikit bimbang, kemudian dia memutuskan untuk keluar dari ruang IGD meninggalkan keluarganya yang menjenguk kakeknya.

"Nindya, kamu mau ke mana?" tanya Wanita yang sedikit tua kepada wanita itu. Wajahnya tampak begitu cemas.

Wanita yang bernama Nindya menoleh dan menjawab dengan cepat, "Aku ingin mengetahui pria yang menolong kakek. Mama tunggu di sini dahulu dengan yang lainnya."

Setelah mengatakan kalimat itu kepada ibunya, Nindya berlari keluar ruangan untuk mencari petugas ambulans yang membawa kakek ke rumah sakit.

Nindya berlari menuju ke tempat di mana ambulans diparkir, kemudian dia bertanya kepada beberapa pria sedikit tua mengenai peristiwa yang menimpa kakeknya.

"Kalau tidak salah melihat, pria itu masih muda, tubuhnya tinggi semampai, terlihat tampan sepertiku, dan tidak sombong. Aku tidak tahu ke mana dia setelah membawa tubuh kakek kamu ke dalam ambulans. Pada intinya, dia tampan dan pemberani. Tanpa dia bertindak lebih dahulu, kakek kamu mungkin akan tidak terselamatkan."

Pria sedikit tua itu menjelaskan dengan sedikit narsis pemuda yang memecahkan kaca.

Mendengar penjelasan ini, Nindya mengangguk dan berterima kasih kepada petugas ambulans.

Meskipun tidak jelas penjelasannya karena tidak menunjukkan secara langsung melalui gambar wujud pria tersebut, tetapi Nindya bisa membayangkan sosok dari pria yang menolong kakeknya.

Dari beberapa pernyataan yang diberikan para petugas, semuanya menekankan bahwa pria yang menolong itu tampan.

Rasa penasaran timbul di dalam hati Nindya, seperti apa sosok pria muda yang menolong kakeknya.

Kembali ke ruang IGD, Nindya meminta anggota keluarganya untuk menemukan pria yang menolong kakek karena mereka berutang budi kepadanya.

Sementara itu di sisi Ervin, mobil yang dinaiki telah sampai di rumah dengan selamat.

Tidak lama mereka tiba, ibu Ervin dan beberapa kakaknya membawa makanan makan malam. Waktu makan malam sudah tiba.

Malam hari ini disuguhkan banyak sekali makanan mewah, seperti lobster, kepiting, pizza, dan yang lainnya.

Ervin yang melihat ini langsung tahu dan mengerti mengapa mereka memasak makanan yang mahal dan mewah.

Uang yang Ervin berikan kemarin langsung digunakan sedikit untuk pesta keluarga, makan malam termewah yang pernah mereka buat sendiri.

Sama sekali Ervin tidak mempermasalahkan hal ini. Lagi pula, mereka tak sering melakukan makan mewah tersebut, mungkin cuma satu kali dalam setahun.

Setelah itu, mereka semua makan malam bersama dengan hati yang bahagia karena makan makanan yang lezat.

Semua keponakan Ervin juga puas dengan makanan di makan malam sekarang ini. Mereka memegang perutnya masing-masing dengan wajah yang penuh kepuasan.

Tak lama usai makan malam bersama dilakukan, keponakan-keponakan Ervin menceritakan apa yang dilihat di dalam museum Monas.

Apa yang mereka ingat diceritakan kepada nenek dan kakeknya, tidak lupa juga ke kedua orang tuanya.

"Kakek, Nenek, paman ketika di Monas sempat menggoda seorang wanita cantik, tetapi wanita itu kabur karena melihat paman seperti orang gila," kata Roni dengan wajah yang serius dan antusias.

Perkataan Roni dikonfirmasi oleh Deo, Vino, dan Farid, sedangkan keponakan perempuan hanya diam dan tidak ikut campur.

Bang Eric hanya memberikan isyarat kepada papa dan mama istrinya, menandakan bahwa ucapan Roni tidak benar.

Mengetahui tentang kebenaran ini, mama Ervin menasihati cucunya dengan lembut dan penuh sayang.

Dengan demikian, Roni terdiam dan langsung memikirkan kesalahannya atas ucapan yang tadi ia keluarkan.

Di sisi lain, Ervin tidak mengetahui tentang Roni, dia sedang fokus bermain gim karena masih membuka jasa menjoki akun gim orang lain.

Meski ada Sistem yang membantu kehidupannya, Ervin masih bertanggung jawab atas pekerjaannya sekarang, dia belum memutuskan untuk berhenti.

Fisik Ervin yang ditingkatkan menambah performa kerja Ervin menjadi lebih baik.

Pinggang dan beberapa tubuhnya tidak terasa sakit lagi, seolah dia bisa duduk selama ratusan jam tanpa sakit hanya untuk menjoki akun gim.

Ervin juga makin baik dalam refleks dan kelincahan jari-jemarinya saat mengendalikan karakter dalam gim. Pada intinya, Ervin sangat baik dalam kemampuan bermain gim.

Tok! Tok!

Ketukan pintu terdengar di dalam telinga Ervin, mengetahui gaya ketukan ini, dahi Ervin sedikit berkeringat.

"Sial, mereka tidak membiarkan aku menghabiskan waktu sendiri."

Wajah Ervin sedikit pucat dengan tangan gemetar makin kuat.

"Paman! Buka pintunya atau aku bom pintunya!"

Suara Roni yang keras dan nyaring muncul dari luar kamar, terdengar sangat mengancam.

Glup!

Ervin memutuskan untuk membuka pintu dan membiarkan mereka masuk ke dalam kamar.

Namun, sebelum hal itu dilakukan, Ervin harus menyimpan mainan dan pajangan kesayangannya di tempat yang aman.

"Tunggu, paman sedang buang air besar!" sahut Ervin dengan lantang dari dalam kamar.

Roni dan yang lainnya di depan pintu kamar Ervin langsung mencubit hidungnya. Mereka merasa jijik dengan pamannya sendiri.

Beberapa menit berselang, mereka semua dipersilakan masuk ke dalam kamar dan bertemu Ervin.

"Paman, aku meminta maaf."

Ervin terkejut melihat Roni dan beberapa keponakan laki-laki yang nakal ini memeluk dirinya sambil meminta maaf.

Setelah mereka semua menceritakan apa yang telah terjadi di bawah, Ervin menggelengkan kepalanya tanpa daya, kemudian melemparkan senyuman kepada mereka semua.

"Lain kali, kalian tidak boleh berbohong atau memfitnah orang. Pasalnya, apa yang kamu lakukan tersebut sangat berbahaya. Polisi kalau tahu kalian memfitnah orang dan menjelekkannya, kalian akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara bertahun-tahun. Mama dan papa tidak akan mau menganggap kalian sebagai anaknya kalau kalian masuk penjara," ucap Ervin yang menasihati keponakan laki-lakinya.

Mata mereka mulai basah dan berlinang air mata, kemudian mereka berempat memeluk Ervin sambil menangis keras.

"Hua!! Maafkan aku, Paman!!!"

Roni menangis dengan suara yang paling kencang, tangisannya terdengar begitu sedih dan menggores hati yang mendengarnya.

Namun, di dalam telinga Ervin, tangisan ini sangat menyakiti gendang telinganya.

Pasalnya, Roni menangis tepat di depan daun telinga sambil mencekik leher Ervin.

Ervin segera memeluk Roni dengan hati-hati dan menenangkannya.

Beruntung, Roni dan keponakan laki-laki yang lain Judah untuk dibujuk sehingga tangisan bising mereka hilang dalam beberapa menit.

Akan tetapi, Ervin menyesal membuat mereka tenang, Roni dan keponakannya yang lain menemuka mainan figurnya di dalam lemari dan mereka menghancurkannya lagi.

"Sial."

Keesokan harinya, Ervin bangun tidur dengan wajah yang berseri-seri.

Bangun dari tempat tidur, Ervin menatap cermin di dalam kamar mandi dengan gaya yang begitu narsis.

"Wajahku makin tampan rasanya," gumam Ervin dengan tingkat percaya diri yang tinggi.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian rapi, Ervin turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama.

Begitu Ervin menuruni tangga, semua keponakan lainnya sudah mencegat dirinya di bawah.

"Paman! Apakah kita akan pergi jalan-jalan lagi hari ini?!"

Terpopuler

Comments

Kang Comen

Kang Comen

emng sie roni bocil pling SAVAGE

2023-11-05

4

the Amay one

the Amay one

nggak sia sia nabung, next thor 👍🏿👍🏿👍🏿

2023-08-15

3

the Amay one

the Amay one

sering olahraga raga lima jari

2023-08-15

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!