Wanita itu sedikit bimbang, kemudian dia memutuskan untuk keluar dari ruang IGD meninggalkan keluarganya yang menjenguk kakeknya.
"Nindya, kamu mau ke mana?" tanya Wanita yang sedikit tua kepada wanita itu. Wajahnya tampak begitu cemas.
Wanita yang bernama Nindya menoleh dan menjawab dengan cepat, "Aku ingin mengetahui pria yang menolong kakek. Mama tunggu di sini dahulu dengan yang lainnya."
Setelah mengatakan kalimat itu kepada ibunya, Nindya berlari keluar ruangan untuk mencari petugas ambulans yang membawa kakek ke rumah sakit.
Nindya berlari menuju ke tempat di mana ambulans diparkir, kemudian dia bertanya kepada beberapa pria sedikit tua mengenai peristiwa yang menimpa kakeknya.
"Kalau tidak salah melihat, pria itu masih muda, tubuhnya tinggi semampai, terlihat tampan sepertiku, dan tidak sombong. Aku tidak tahu ke mana dia setelah membawa tubuh kakek kamu ke dalam ambulans. Pada intinya, dia tampan dan pemberani. Tanpa dia bertindak lebih dahulu, kakek kamu mungkin akan tidak terselamatkan."
Pria sedikit tua itu menjelaskan dengan sedikit narsis pemuda yang memecahkan kaca.
Mendengar penjelasan ini, Nindya mengangguk dan berterima kasih kepada petugas ambulans.
Meskipun tidak jelas penjelasannya karena tidak menunjukkan secara langsung melalui gambar wujud pria tersebut, tetapi Nindya bisa membayangkan sosok dari pria yang menolong kakeknya.
Dari beberapa pernyataan yang diberikan para petugas, semuanya menekankan bahwa pria yang menolong itu tampan.
Rasa penasaran timbul di dalam hati Nindya, seperti apa sosok pria muda yang menolong kakeknya.
Kembali ke ruang IGD, Nindya meminta anggota keluarganya untuk menemukan pria yang menolong kakek karena mereka berutang budi kepadanya.
Sementara itu di sisi Ervin, mobil yang dinaiki telah sampai di rumah dengan selamat.
Tidak lama mereka tiba, ibu Ervin dan beberapa kakaknya membawa makanan makan malam. Waktu makan malam sudah tiba.
Malam hari ini disuguhkan banyak sekali makanan mewah, seperti lobster, kepiting, pizza, dan yang lainnya.
Ervin yang melihat ini langsung tahu dan mengerti mengapa mereka memasak makanan yang mahal dan mewah.
Uang yang Ervin berikan kemarin langsung digunakan sedikit untuk pesta keluarga, makan malam termewah yang pernah mereka buat sendiri.
Sama sekali Ervin tidak mempermasalahkan hal ini. Lagi pula, mereka tak sering melakukan makan mewah tersebut, mungkin cuma satu kali dalam setahun.
Setelah itu, mereka semua makan malam bersama dengan hati yang bahagia karena makan makanan yang lezat.
Semua keponakan Ervin juga puas dengan makanan di makan malam sekarang ini. Mereka memegang perutnya masing-masing dengan wajah yang penuh kepuasan.
Tak lama usai makan malam bersama dilakukan, keponakan-keponakan Ervin menceritakan apa yang dilihat di dalam museum Monas.
Apa yang mereka ingat diceritakan kepada nenek dan kakeknya, tidak lupa juga ke kedua orang tuanya.
"Kakek, Nenek, paman ketika di Monas sempat menggoda seorang wanita cantik, tetapi wanita itu kabur karena melihat paman seperti orang gila," kata Roni dengan wajah yang serius dan antusias.
Perkataan Roni dikonfirmasi oleh Deo, Vino, dan Farid, sedangkan keponakan perempuan hanya diam dan tidak ikut campur.
Bang Eric hanya memberikan isyarat kepada papa dan mama istrinya, menandakan bahwa ucapan Roni tidak benar.
Mengetahui tentang kebenaran ini, mama Ervin menasihati cucunya dengan lembut dan penuh sayang.
Dengan demikian, Roni terdiam dan langsung memikirkan kesalahannya atas ucapan yang tadi ia keluarkan.
Di sisi lain, Ervin tidak mengetahui tentang Roni, dia sedang fokus bermain gim karena masih membuka jasa menjoki akun gim orang lain.
Meski ada Sistem yang membantu kehidupannya, Ervin masih bertanggung jawab atas pekerjaannya sekarang, dia belum memutuskan untuk berhenti.
Fisik Ervin yang ditingkatkan menambah performa kerja Ervin menjadi lebih baik.
Pinggang dan beberapa tubuhnya tidak terasa sakit lagi, seolah dia bisa duduk selama ratusan jam tanpa sakit hanya untuk menjoki akun gim.
Ervin juga makin baik dalam refleks dan kelincahan jari-jemarinya saat mengendalikan karakter dalam gim. Pada intinya, Ervin sangat baik dalam kemampuan bermain gim.
Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar di dalam telinga Ervin, mengetahui gaya ketukan ini, dahi Ervin sedikit berkeringat.
"Sial, mereka tidak membiarkan aku menghabiskan waktu sendiri."
Wajah Ervin sedikit pucat dengan tangan gemetar makin kuat.
"Paman! Buka pintunya atau aku bom pintunya!"
Suara Roni yang keras dan nyaring muncul dari luar kamar, terdengar sangat mengancam.
Glup!
Ervin memutuskan untuk membuka pintu dan membiarkan mereka masuk ke dalam kamar.
Namun, sebelum hal itu dilakukan, Ervin harus menyimpan mainan dan pajangan kesayangannya di tempat yang aman.
"Tunggu, paman sedang buang air besar!" sahut Ervin dengan lantang dari dalam kamar.
Roni dan yang lainnya di depan pintu kamar Ervin langsung mencubit hidungnya. Mereka merasa jijik dengan pamannya sendiri.
Beberapa menit berselang, mereka semua dipersilakan masuk ke dalam kamar dan bertemu Ervin.
"Paman, aku meminta maaf."
Ervin terkejut melihat Roni dan beberapa keponakan laki-laki yang nakal ini memeluk dirinya sambil meminta maaf.
Setelah mereka semua menceritakan apa yang telah terjadi di bawah, Ervin menggelengkan kepalanya tanpa daya, kemudian melemparkan senyuman kepada mereka semua.
"Lain kali, kalian tidak boleh berbohong atau memfitnah orang. Pasalnya, apa yang kamu lakukan tersebut sangat berbahaya. Polisi kalau tahu kalian memfitnah orang dan menjelekkannya, kalian akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara bertahun-tahun. Mama dan papa tidak akan mau menganggap kalian sebagai anaknya kalau kalian masuk penjara," ucap Ervin yang menasihati keponakan laki-lakinya.
Mata mereka mulai basah dan berlinang air mata, kemudian mereka berempat memeluk Ervin sambil menangis keras.
"Hua!! Maafkan aku, Paman!!!"
Roni menangis dengan suara yang paling kencang, tangisannya terdengar begitu sedih dan menggores hati yang mendengarnya.
Namun, di dalam telinga Ervin, tangisan ini sangat menyakiti gendang telinganya.
Pasalnya, Roni menangis tepat di depan daun telinga sambil mencekik leher Ervin.
Ervin segera memeluk Roni dengan hati-hati dan menenangkannya.
Beruntung, Roni dan keponakan laki-laki yang lain Judah untuk dibujuk sehingga tangisan bising mereka hilang dalam beberapa menit.
Akan tetapi, Ervin menyesal membuat mereka tenang, Roni dan keponakannya yang lain menemuka mainan figurnya di dalam lemari dan mereka menghancurkannya lagi.
"Sial."
Keesokan harinya, Ervin bangun tidur dengan wajah yang berseri-seri.
Bangun dari tempat tidur, Ervin menatap cermin di dalam kamar mandi dengan gaya yang begitu narsis.
"Wajahku makin tampan rasanya," gumam Ervin dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian rapi, Ervin turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama.
Begitu Ervin menuruni tangga, semua keponakan lainnya sudah mencegat dirinya di bawah.
"Paman! Apakah kita akan pergi jalan-jalan lagi hari ini?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Kang Comen
emng sie roni bocil pling SAVAGE
2023-11-05
4
the Amay one
nggak sia sia nabung, next thor 👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-15
3
the Amay one
sering olahraga raga lima jari
2023-08-15
3