Bab 7: Menonton Film

Alis kiri Ervin tersentak mendengar pemberitahuan dari Sistem, mulutnya melengkung ke atas, menampilkan senyuman yang senang.

Keterangan Memasak level master yang setingkat dengan keahlian para koki profesional dalam bidang masak-memasak yang bekerja di restoran mewah bintang 5 Michelin, tim yang memberikan ulasan makanan terenak.

Bisa disandingkan dengan koki terbaik di dunia yang memiliki 17 bintang Michelin.

Pengetahuan baru terus-menerus muncul di otak Ervin seiring dirinya berjalan sambil menggendong kedua keponakan perempuannya.

Mereka semua sedang pergi menuju tempat selanjutnya yang ingin sekali mereka kunjungi, yakni bioskop.

Tepat di dalam bioskop, kepala Ervin tidak lagi menerima pengetahuan tentang masak-memasak, semuanya sudah selesai dan Ervin bisa mengingat dengan jelas ilmu tentang memasak ini.

Brian, suami Narissa yang pergi untuk membeli tiket.

Mereka semua sepakat untuk menonton film yang bulan Juni dirilis, hari ini 26 Desember, sudah beberapa bulan yang lalu dirilis, tetapi masih ada di bioskop ini.

Film tersebut adalah film makhluk berwarna kuning yang memiliki sifat lucu dengan tingkah konyolnya

Di lobi bioskop, Ervin yang sedang berdiri bersama 9 keponakannya menjadi pusat perhatian banyak orang yang datang ke bioskop juga.

Sosok Ervin yang tampan dikelilingi oleh banyak anak kecil yang lucu dan imut, membuat pemandangan mereka tampak begitu menarik.

Orang-orang yang baru datang ke bioskop langsung memandang Ervin yang berdiri bersama bersama keponakannya.

"Paman, aku ingin gendong!" Zara dengan sikap yang manja meminta digendong oleh Ervin.

Ervin tidak bisa menolak, salah besar jika dia menolak permintaan Zara. Tangan Ervin mengangkat tubuh Zara dan dia menggendongnya dengan lembut.

"Aku juga ingin digendong!"

"Paman, gendong aku atau aku musnahkan manusia di dunia ini?!"

"Aku juga mau! Tolong gendong aku, Paman."

Keponakan Ervin yang lain satu per satu meminta digendong oleh Ervin. Mereka semua menjadi rewel seketika.

Wajah Ervin menjadi bingung dan panik, kemudian dia mencoba untuk menenangkan mereka.

"Tangan paman hanya ada dua, jika kalian ingin digendong, berarti harus bergantian," kata Ervin kepada mereka semua. "Um, masing-masing hanya sepuluh detik."

Mendengar ucapan Ervin, semua keponakannya terdiam dan merenung beberapa saat, mereka memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Ervin.

Roni yang punya pemikiran cerdas dan berani, membalas ucapan Ervin untuk yang pertama, "Oke, aku setuju!"

"Aku juga setuju, Paman!"

"Terdengar adil."

"..."

Semuanya keponakan Ervin setuju dengan ajuan Ervin. Mereka berpikir itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dengan begitu, Ervin menggendong dua dari mereka selama 10 detik lamanya, kemudian menggendong dua keponakan yang lain.

Keponakan yang terakhir Ervin gendong adalah Luna, dia paling besar dan berat.

Kakak Narissa melirik mereka semua sambil menggelengkan kepalanya. Setelah perubahan adiknya yang menjadi tampan dan sedikit tinggi, anaknya dan anak-anak saudara yang lain makin akrab dengan pamannya.

Kejahilan mereka terasa lebih baik daripada sebelumnya yang benar-benar nakal, murni nakal.

Pemandangan Ervin yang menggendong keponakannya satu demi satu ini difoto orang-orang yang merasa terkesan.

Tak lama setelah Ervin menggendong semua keponakannya, Brian datang dengan 12 tiket bioskop.

Tanpa menunggu lagi, semuanya pergi ke auditorium bioskop yang tercantum di tiket.

Semua orang segera bertanya ke kasur dengan tiket apa yang dibeli oleh Ervin dan keponakannya, mereka ingin menonton film yang sama demi melihat Ervin yang tampan.

Fitur wajah Ervin berbeda dengan wajah tampan yang ada di Indonesia. Ketampanannya memang tidak terikat dengan ciri tampan orang Indonesia, bahkan tidak merepresentasikan ketampanan dari negara mana pun.

Pada intinya, wajah Ervin adalah wajah dengan ketampanan yang paling murni, tidak terikat selera ketampanan semua negara di dunia ini.

Semua keponakan Ervin duduk di kursi bioskopnya masing-masing.

Meski sulit untuk merapikan dan mendisiplinkan mereka, Ervin berhasil membuat mereka duduk dengan tenang. Caranya adalah memberikan iming-iming yang menyenangkan.

Dengan begitu, mereka akan menuruti ucapannya.

"Paman sudah berjanji, jangan ingkar, wanita tidak suka dengan pria yang ingkar janji!" Roni berkata pada Ervin yang sedang berjalan untuk duduk ke kursinya.

Ucapan yang keluar dari mulut Roni membuat Ervin berhenti, kemudian menganggukkan kepalanya.

'Sial, bocah-bocah ini punya mulut yang berbahaya,' kata Ervin dalam hati.

Inilah yang Ervin takutkan jika hidup terlalu lama bersama keponakannya.

Semua orang yang bisa mendengar kata-kata Roni menanggapi dengan senyuman di wajah mereka, Roni sudah dicap oleh mereka semua sebagai bocah kecil yang pintar.

Wanita-wanita yang ada di dalam bioskop menjadi suka dan merasa sedikit kasihan dengan paman yang punya banyak keponakan ini.

Omong-omong, di ruangan bioskop ini lebih banyak anak kecil dan orang tua.

Mereka tahu bahwa memiliki keponakan bukan hal yang begitu menyenangkan, di rumah pasti akan berantakan karena banyak barang-barang yang mereka pegang dan bongkar pasang.

Meskipun mereka suka dengan Ervin, mereka masih belum bisa dan tahan untuk mengurus sepuluh keponakan ini

Pasalnya, bukan hanya memperlakukan semua keponakan dengan baik, mereka harus membutuhkan uang untuk membelikan anak-anak kecil ini jajanan atau mainan yang mereka senangi.

Maka dari itu, butuh pemikiran berkali-kali untuk menjadi pasangan Ervin.

Mental yang kuat saja belum cukup. Apalagi melihat anak-anak kecil yang agak sulit diarahkan.

Di dalam bioskop, mereka semua sangat menikmati film yang mereka tonton.

Beberapa keponakan Ervin tertawa bahagia lantaran merasa geli dengan tingkah laku acak para makhluk berwarna kuning ini.

Ada yang tidak tertawa, yaitu Putri. Keponakan perempuan Ervin ini cuma diam sambil menyaksikan adegan film dengan wajah tanpa ekspresi.

Setelah film selesai dan layar lebar menjadi gelap, Ervin mengajak semua keponakannya keluar dari auditorium bioskop.

Namun, sebuah peristiwa yang tidak mengenakan terjadi.

"Anak siapa ini?!"

Sebuah suara terdengar di telinga Ervin, kemudian dia melihat ke belakang dan menemukan Putri yang tertinggal bersama Kak Narissa juga Zara tengah berdiri di hadapan sepasang suami istri dan anaknya.

Mereka seperti sedang berbicara dengan wajah yang sedang berseteru.

Ervin yang mendengar ucapan sebelumnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Memanggil Abang Brian dengan keponakan yang lain yang sudah jalan lebih dahulu untuk kembali ke dalam bioskop.

"Ada apa ini?" tanya Ervin melihat kedua wanita dan pria yang berdiri dengan wajah gusar.

"Apakah ini kakakmu?!" Wanita yang berdiri di sebelah suaminya menunjuk ke Kakak Narissa dengan eskpresi tidak enak dilihat.

"Ya, ada apa sebenarnya?"

"Ajarkan kakakmu sopan santun dan cara meminta maaf! Lihat anakku! Bajunya basah karena disenggol oleh keponakanmu!"

Wanita yang memiliki riasan tebal menunjuk ke arah Putri yang diam dengan wajah yang menunduk.

Mata Ervin fokus pada gaya tubuh wanita ini, kemudian dia berkata, "Tolong singkirkan jarimu, Anda tidak sopan menunjuk orang secara langsung. Ya sudah, kami semua meminta maaf jika Putri sudah membuat anak Anda menjadi kotor karena minumannya sendiri."

"Hei, Bu! Aku sudah meminta maaf dengan baik, mengapa kamu meminta adikku untuk mengajarkan aku meminta maaf?! Apa maksudnya seperti itu?!"

Kakak Narissa terbawa emosi, dengan lekas ditenangkan oleh Brian.

"Apa yang membuat Anda rugi? Aku akan membayarnya." Brian berdiri di depan istri dan anak-anaknya bersama Ervin di sampingnya.

"Aku tidak butuh uang kalian! Aku hanya ingin anak ini dikotori juga oleh anakku!"

Terpopuler

Comments

Stephen (Phoenix dalam celana)

Stephen (Phoenix dalam celana)

ini ponakan apa mao sih, serem amat.

2023-11-10

7

the Amay one

the Amay one

👍🏿👍🏿👍🏿

2023-08-15

3

the Amay one

the Amay one

Simson

2023-08-15

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!