Bab 6: Bocah Lugu

Salah satu wanita yang memiliki tubuh yang cukup seksi dengan rambut panjang sebahu terkejut dengan ucapan Roni, dan dia membungkuk untuk melihat Roni, dan bertanya, "Apa yang kamu bilang, Pria Kecil?"

Kedua teman wanita ini tersenyum dan tertawa kecil setelah mendengar apa yang diucapkan Roni.

Namun, wanita yang ingin berinteraksi dengan Roni pura-pura tidak mendengar.

Roni tiba-tiba menunjuk ke arah Ervin yang sedang menggendong kedua keponakan perempuannya dan terlihat ingin berjalan menghampiri mereka.

"Pamanku di sana belum pernah memiliki wanita, apakah kakak mau menjadi pacarnya dan menjadi bibi kami semua?"

Setelah mendengar pertanyaan Roni, wanita itu tidak langsung menjawab, dia melirik ke pria yang ditunjuk Roni, dan dia melihat seorang pria yang begitu tampan sampai menembak hatinya.

Saat kedua teman itu ikut melihat, mereka berdua menutup mulutnya dengan pipi yang merona.

Salah satu teman wanita itu menepuk bahu wanita tersebut seperti orang yang tak sabaran.

"Sangat tampan!" seru mereka berdua yang tak bisa menahan rasa terkejutnya.

Ervin yang melihat mereka bertiga menemukannya dan memandang lama pada sosok dirinya, langka kakinya berakselerasi cepat dengan wajah yang malu.

'Bocah-bocah kecil ini lagi!'

Dalam hatinya, Ervin sangat kesal dengan kejahilan yang dilakukan keponakan laki-lakinya.

"Kalian semua tidak bercanda, kan?!" tanya wanita tersebut dengan wajah yang kegirangan.

Roni dan yang lain mengangguk kejam sambil menatap belahan yang ada di dada wanita itu.

"Kurasa paman suka dengan wanita yang memiliki sudut besar. Seharusnya, dia menyukai itu," jawab Deo dengan wajah yang polos.

"Benar, kami semua juga susu! Pria kecil dan besar semuanya suka susu!" Roni menambahkan dengan suara yang keras.

Ketiga wanita itu membeku sesaat, pipi mereka semua makin merah dan itu memanas.

"Anu, maafkan keponakan kecilku, dia memang sulit dipegang. Jangan dimasukkan ke dalam hati ucapannya, mereka mengada-ada," kata Ervin yang baru saja tiba di sisi mereka.

Ervin meminta maaf kepada ketiga wanita itu dengan wajah yang bersalah sambil mengangguk beberapa kali.

Keponakan laki-laki Ervin kaget melihat pamannya mendadak berdiri di depan, mereka kira Ervin tidak secepat itu datangnya.

"I–iya, tidak apa-apa," balas wanita itu dengan wajah yang memanas.

Dua teman wanita itu mengipasi wajah mereka karena terlalu panas di sekitar mereka.

'Pria ini terlalu tampan untuk dipandang,' ucap wanita yang memiliki tubuh paling seksi dari kedua temannya.

Dua temannya memiliki pikiran yang sama di dalam hati mereka.

"Baiklah, kalau begitu aku masuk dahulu, keponakan sudah rewel. Selamat tinggal!"

Setelah mengatakan itu, Ervin menyuruh keponakannya ke dalam restoran.

Roni mengikuti Ervin di belakang yang berjalan masuk ke restoran sambil protes keras, "Paman, bukannya nenek dan kakek meminta kamu mencari pacar? Kakak itu sangat besar dan punya susu berlimpah, memangnya kamu tidak suka?"

Ketiga wanita itu masih mendengar ucapan Roni dari kejauhan dan pipi mereka benar-benar matang.

Deo dan Vino masih berdiri di depan ketiga wanita cantik itu hendak mengatakan sesuatu.

"Kakak, kalian bertiga harus berjuang dan semangat untuk menjadi pacar paman! Aku yakin paman akan suka dengan kecantikan kakak," ucap Deo dengan ceria. "Paman juga pasti suka dengan su—"

"Selamat tinggal, Kakak!" Vino menarik tangan Deo membawanya ke dalam restoran sembari mengucapkan perpisahan.

"Kalian semua, jangan tinggalkan aku, Farid takut!" Keponakan laki-laki Ervin yang keempat itu hendak menangis.

Tiba-tiba Vino kembali dan menarik Farid yang menangis kecil. "Halo, kakak! Kami masuk dahulu, dadah!"

Melihat tingkah Vino, mereka bertiga menjadi tersenyum. Salah satu keponakan pria tampan itu ada yang normal.

Tak lama kemudian, keponakan wanita lain, Kakak Narissa, dan Suaminya masuk ke dalam restoran tanpa mengetahui apa yang terjadi kepada Ervin.

Namun, mereka tersenyum ke ketiga wanita itu dan mengangguk sebagai sapaan halus.

"Kurasa mereka juga masih keluarga dari pria tampan itu."

"Aku juga berpikir seperti itu."

"Mereka keluarga yang tampan dan cantik, lihat anak-anak perempuan kecil itu, sangat menggemaskan."

"..."

Di dalam restoran yang cukup ramai, Ervin memesan meja besar untuk mereka semua bisa duduk bersama-sama.

Ada 9 keponakan yang Ervin bawa, ditambah Kakak Narissa dan suaminya. Satu keponakan Ervin yang satunya tidak dibawa karena sedang rewel dan mudah menangis, umurnya baru 2 tahun.

"Kak, Roni nakal, dia mengucapkan sesuatu yang tidak-tidak ke ketiga wanita di depan restoran," lapor Ervin kepada Narissa, kakak sekaligus ibu dari Roni.

"Tidak! Roni tidak mengatakan yang aneh," sanggah Roni cepat dengan wajah yang tidak bersalah.

Mendengar laporan dari Ervin, Narissa dan suaminya yang bernama Brian menunjukkan wajah marah ke Roni.

Melihat wajah orang tuanya yang sudah tidak enak dilihat, Roni menjadi panik dan dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

"Apa yang kamu katakan, Roni? Beri tahu ayah sekarang," kata Brian dengan ekspresi yang gelap.

Roni menahan rasa takutnya, dan dia membalas, "Roni hanya membantu paman dalam mencari pacar, nenek dan kakek ingin paman memiliki pasangan, kan?"

"Benar, Roni hanya mengatakan itu, dan juga dia berbicara kalau ketiga kakak itu punya susu yang besar, semua laki-laki suka dengan susu," tambah Deo dengan wajah lugu.

Kepala Roni mengangguk membenarkan dengan wajah yang bangga. "Dengar itu, Ayah. Aku hanya berbicara seperti itu. Ayah juga pernah bilang bahwa semua anak laki-laki suka dengan susu."

Deg!

Brian tertegun, kemudian dia menoleh dengan kaku ke arah Narissa.

Benar saja, Narissa sedang melihatnya dengan tatapan yang tajam. "Sayang!"

Suara Narissa terdengar geram, seolah ingin menginjak bola milik Brian yang ada di bawah.

"I–itu, ak–aku bisa jelaskan, Sayang. Ucapanku tidak bermaksud ke arah itu," ujar Brian dengan wajah yang panik.

Tepat ketika Narissa ingin mengeluarkan cubitan mautnya, pelayan restoran datang ke meja mereka dan menurunkan semua pesanan mereka semua di atas meja.

Dengan begitu, Brian selamat dari kematiannya.

"Roni, kamu tidak boleh berbicara seperti itu ke wanita yang sudah besar, oke? Ayah bilang laki-laki suka susu itu bukan susu yang ada di ibu kamu atau wanita lain. Maksud ayah, susu itu adalah susu kotak yang dijual di warung dan supermarket, kamu mengerti?" jelas Brian yang menasihati anak laki-lakinya.

Roni mengangguk kejam dan paham dengan ucapan ayahnya. "Namun, mengapa ayah masih suka mengisap susu milik ibu?"

Apa yang dikatakan Roni sekarang membuat Ervin terkejut dan diam berpura-pura tidak mendengar.

Sementara itu, Narissa dan Brian saling memandang dengan wajah yang memerah.

"Ayah hanya memeriksa saja. Roni lihat di mana?" tanya Brian sambil menahan rasa malunya.

"Roni melihat ketika terbangun di malam hari beberapa hari kemarin," jawab Roni sambil mengambil ayam goreng di atas piring.

Dengan jawaban Roni, Narissa dan Brian saling mengangguk, terlihat membuat kesepakatan satu sama lain.

"Ingat, jangan seperti itu lagi. Kasihan dengan paman kamu. Biarkan paman mencari pasangannya sendiri."

"Baik, Ayah."

Setelah makan di restoran, Ervin keluar dari restoran bersama semua keponakannya dan yang lain, dengan di tangannya terdapat Tiara yang sebelumnya digendong oleh Kakak Narissa, juga Luna yang sudah berjanji akan digendong.

Mereka semua selesai makan siang, dan mereka akan pergi ke tempat berikutnya.

[Mengajak keponakan makan di restoran tradisional dan dapatkan Kemampuan Memasak Master!]

Terpopuler

Comments

Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

anjay...bocil strong

2025-02-06

0

Diah Susanti

Diah Susanti

nah lho, ketahuan ama bocil

2023-11-29

3

Bisma

Bisma

asli ngakak sendiri bacanya ampe ketahuan inspeksi milk

2023-11-07

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!