"Bermain? Um ....."
Ervin mengusap dagunya merenung untuk memikirkan tentang kegiatan hari ini.
Seharusnya, selama ia bersama Sistem diwajibkan untuk lebih sering berinteraksi dan bersama dengan keponakannya.
Selagi mereka libur, Ervin harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungannya.
Menatap sembilan keponakannya yang mengumpul di depannya, pikiran Ervin berjalan untuk mencari kegiatan yang tepat.
Kemarin sudah ke mall, hari ini akan dibedakan dan tidak akan ke mall lagi.
Berpikir lebih dari 2 menit lamanya, sebuah ide tumbuh di kepala Ervin.
Berjongkok agar bisa lebih dekat dengan keponakannya, Ervin bertanya, "Apa kalian pernah ke Monas?"
"Monas? Aku belum pernah, Paman!"
"Aku juga belum pernah."
"Tempat apa itu? Apakah seru dan menyenangkan?"
"Monas, aku pernah mendengar namanya dari ayahku! Katanya di sana ada emas!"
"Emas?! Aku sangat suka emas!"
"..."
Sekejap mereka semua berdiskusi dan bertanya kembali ke Ervin untuk menanyakan tentang apa itu Monas.
Mendengar semua jawaban keponakannya, rencana Ervin saat ini akan dilaksanakan meski mendadak.
"Kalau begitu, Paman akan mengajak kalian untuk ke sana sekarang! Ayo kalian bersiap-siap untuk jalan-jalan lagi!"
Setelah Ervin mengatakan kalimat tersebut dengan semangat.
Semua keponakannya menjadi antusias sampai melompat-lompat di tempat kegirangan.
Kali ini, yang ikut tidak hanya Ervin saja, melainkan ada kakak ketiga Ervin yang bernama Rasha Karl dan suaminya yang bekerja sebagai pengacara, bernama Eric Homan.
Identitas mereka berdua begitu berbeda, Rasha Karl bekerja sebagai dokter hewan dan Eric menjadi pengacara.
Meskipun terlihat spesial dan berbeda, gaji mereka tidaklah besar tidak berbeda jauh dengan gaji kakak dan abang yang lain.
Namun, Bang Eric ini bisa Ervin jadikan pengacara pribadi kalau ada masalah. Berjaga-jaga takut ada orang yang ingin menyenggol dirinya dan membuat masalah.
Mereka masih menaiki mobil kemarin, Kak Rasha kini membawa anaknya yang masih kecil, atau keponakan Ervin yang masih kecil dengan nama Geno berusia 2 tahun.
Sangat lucu, tetapi terlalu kecil untuk Ervin bawa sebebasnya karena Geno saja masih tidak bagus dalam berjalan, perlu dituntun selalu dan tak bisa jalan terlalu lama.
Maka dari itu, butuh Kak Rasha selaku ibu kandungnya untuk bisa membawa Geno, sekaligus juga suaminya agar lebih aman.
Kemarin bersama Kak Narissa dan Bang Brian jalan-jalan menuju ke Monumen Nasional.
Monumen Nasional tidak terlalu jauh dari rumah orang tua Ervin, tidak memakan waktu yang banyak.
Jalanan cukup banyak, tidak sampai membuat macet hingga tak bisa jalan, memang tidak selancarnya di malam hari.
Dengan begitu, mereka tiba di Monumen Nasional di bagian sampingnya sebelum masuk lebih dalam.
Di sana ada banyak tempat makan dan kulineran. Makan siang sangat cocok makan di sini karena banyak sekali toko yang menjual banyak aneka ragam makanan Nusantara.
Mereka datang tidak untuk ke sini terlebih dahulu. Jadi, Ervin membawa keponakannya yang berwajah penasaran ke dalam kawasan Monas yang sesungguhnya.
Begitu mereka tiba di dalam kawasan Monas yang terdapat jalan yang besar dan luas dengan pepohonan asri dan lebat di kedua sisi jalan, keponakan Ervin berseru dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Di dalam kawasan Monas banyak orang yang lalu-lalang, ada yang berlari untuk olahraga, jalan santai bersama teman dan kerabat masing-masing, bahkan terlihat anak kecil yang bermain bersama di tepi trotoar yang sejuk karena ada pohon tinggi, juga orang tua yang berdiri tak jauh dari anak-anak mereka.
Udara pagi yang begitu segar sangat bisa mereka rasakan di pagi hari ini.
Cuaca yang cerah dengan suasana sekeliling yang tenang menandakan alam mendukung untuk mereka berkunjung ke Monas.
Sebelum langsung masuk ke tugunya, Ervin berniat untuk mengajak mereka ke berkeliling taman sekaligus olahraga jalan.
Jam masih menunjukkan pukul jam 8 pagi dan itu masih pagi untuk masuk ke dalam.
Memanfaatkan hari yang segar ini untuk berolahraga bersama.
Pemandangan mereka semua yang sedang berjalan bersama, membuat semua orang yang sempat berpapasan dan lewat menjadi salah fokus.
Dengan banyak sekali anak-anak kecil lucu berjalan bersama tiga orang dewasa cantik dan tampan, orang-orang tidak bisa mengabaikan pemandangan ini.
Selama mereka menelusuri taman Monas, keponakan-keponakan Ervin sibuk berbincang tidak jelas, terdengar mereka mengomentari tentang hal apa saja yang mereka lihat di dalam taman ini.
"Luna, lihat itu kamu saat besar nanti! Menjadi gemuk karena jarang berolahraga, hahaha!" Roni menunjuk ke seorang wanita yang sedikit berisi di kejauhan, puluhan meter dari mereka berjalan.
Luna menjadi marah, dan dia ingin mencubit pinggang Roni.
Sayangnya, Roni sempat menghindari serangan cubitan maut Luna.
Brak!
Tubuh Roni yang ingin menghindari cubitan Luna lagi, tiba-tiba terpentok tubuh Ervin di belakangnya.
"Roni, kamu berbicara apa tadi?"
Ervin mendengar semua apa yang keponakannya bicarakan, termasuk ucapan Roni.
Saat Ervin dalam mode serius, semua keponakan Ervin tak ada yang berani lagi sekarang karena takut dengan tubuhnya yang besar dan tinggi, ditambah berotot.
Berikutnya, Ervin menyeret Roni ke wanita yang menjadi objek tertawaan Roni untuk meminta maaf.
Setelah itu, peringatan Sistem berbunyi di telinganya.
[Memberikan moralitas tentang penghinaan kepada keponakan dan dapatkan Temperamen Berwibawa!]
[Temperamen Berwibawa: Membuat lawan bicara mengormati Anda di awal pertemuan.]
Kejadian ini membuat Kak Rasha dan Bang Eric tersenyum, Ervin melakukan sesuatu yang tepat.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, mereka tidak sadar sudah 1 jam lebih mereka mengelilingi taman Monas.
Segera, Ervin mengarahkan ke tempat membeli tiket yang ada di bawah tanah. Tempatnya bukan di permukaan tanah, melainkan ada di bawah tanah.
Ini membuat keponakan Ervin menjadi heboh dan bersenang-senang dengan tangga yang menurun.
Tiket masuk untuk pergi ke puncak tugu masih tersedia, sebab masih sangat pagi, orang-orang belum banyak yang berdatangan ke dalam sini.
Untuk tiket ke puncak tugu dan ke museum yang ada di bawah itu memiliki perbedaan harga, tiket ke puncak harganya 15 ribu rupiah dan museum serta cawan 5 ribu rupiah untuk dewasa, anak kecil hanya cukup membayar 2 ribu rupiah agar bisa masuk ke museum dan 4 ribu rupiah sampai ke puncak tugu.
Sehabis membayar tiket menggunakan kartu atm Ervin, mereka diperiksa lebih dahulu barang-barang yang mereka bawa di tangan dan tubuh mereka, kemudian berjalan melewati lorong yang tidak gelap, terakhir diperiksa kembali oleh penjaga wanita.
Selama proses mereka semua menuju ke pelataran Tugu Monas, banyak sekali wanita muda dan ibu-ibu yang melirik Ervin karena paras wajahnya yang tampan. Ervin pura-pura tidak melihat.
Setibanya di atas permukaan pelataran halaman sekitar Tugu Monas, mereka dapat melihat tembok berjajar yang memiliki relief bergambar timbul.
Sebagai orang dewasa yang pernah belajar sejarah, Ervin dan kakak serta abangnya tahu tembok ini ada penggambaran sejarah pada masa penjajahan Belanda.
"Paman, siapa yang menggambar ini? Pasti bukan paman, ya? Paman tidak bisa menggambar setahuku, bahkan gambar kaki bebek saja masih jelek."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ven
butuh visual entah mc sama NPC or something
2023-08-18
5
the Amay one
👍🏿👍🏿👍🏿
2023-08-15
3
FANS NOVEL
mantap
2023-08-11
3