Bab 11: Pergi Mendadak

"Bermain? Um ....."

Ervin mengusap dagunya merenung untuk memikirkan tentang kegiatan hari ini.

Seharusnya, selama ia bersama Sistem diwajibkan untuk lebih sering berinteraksi dan bersama dengan keponakannya.

Selagi mereka libur, Ervin harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungannya.

Menatap sembilan keponakannya yang mengumpul di depannya, pikiran Ervin berjalan untuk mencari kegiatan yang tepat.

Kemarin sudah ke mall, hari ini akan dibedakan dan tidak akan ke mall lagi.

Berpikir lebih dari 2 menit lamanya, sebuah ide tumbuh di kepala Ervin.

Berjongkok agar bisa lebih dekat dengan keponakannya, Ervin bertanya, "Apa kalian pernah ke Monas?"

"Monas? Aku belum pernah, Paman!"

"Aku juga belum pernah."

"Tempat apa itu? Apakah seru dan menyenangkan?"

"Monas, aku pernah mendengar namanya dari ayahku! Katanya di sana ada emas!"

"Emas?! Aku sangat suka emas!"

"..."

Sekejap mereka semua berdiskusi dan bertanya kembali ke Ervin untuk menanyakan tentang apa itu Monas.

Mendengar semua jawaban keponakannya, rencana Ervin saat ini akan dilaksanakan meski mendadak.

"Kalau begitu, Paman akan mengajak kalian untuk ke sana sekarang! Ayo kalian bersiap-siap untuk jalan-jalan lagi!"

Setelah Ervin mengatakan kalimat tersebut dengan semangat.

Semua keponakannya menjadi antusias sampai melompat-lompat di tempat kegirangan.

Kali ini, yang ikut tidak hanya Ervin saja, melainkan ada kakak ketiga Ervin yang bernama Rasha Karl dan suaminya yang bekerja sebagai pengacara, bernama Eric Homan.

Identitas mereka berdua begitu berbeda, Rasha Karl bekerja sebagai dokter hewan dan Eric menjadi pengacara.

Meskipun terlihat spesial dan berbeda, gaji mereka tidaklah besar tidak berbeda jauh dengan gaji kakak dan abang yang lain.

Namun, Bang Eric ini bisa Ervin jadikan pengacara pribadi kalau ada masalah. Berjaga-jaga takut ada orang yang ingin menyenggol dirinya dan membuat masalah.

Mereka masih menaiki mobil kemarin, Kak Rasha kini membawa anaknya yang masih kecil, atau keponakan Ervin yang masih kecil dengan nama Geno berusia 2 tahun.

Sangat lucu, tetapi terlalu kecil untuk Ervin bawa sebebasnya karena Geno saja masih tidak bagus dalam berjalan, perlu dituntun selalu dan tak bisa jalan terlalu lama.

Maka dari itu, butuh Kak Rasha selaku ibu kandungnya untuk bisa membawa Geno, sekaligus juga suaminya agar lebih aman.

Kemarin bersama Kak Narissa dan Bang Brian jalan-jalan menuju ke Monumen Nasional.

Monumen Nasional tidak terlalu jauh dari rumah orang tua Ervin, tidak memakan waktu yang banyak.

Jalanan cukup banyak, tidak sampai membuat macet hingga tak bisa jalan, memang tidak selancarnya di malam hari.

Dengan begitu, mereka tiba di Monumen Nasional di bagian sampingnya sebelum masuk lebih dalam.

Di sana ada banyak tempat makan dan kulineran. Makan siang sangat cocok makan di sini karena banyak sekali toko yang menjual banyak aneka ragam makanan Nusantara.

Mereka datang tidak untuk ke sini terlebih dahulu. Jadi, Ervin membawa keponakannya yang berwajah penasaran ke dalam kawasan Monas yang sesungguhnya.

Begitu mereka tiba di dalam kawasan Monas yang terdapat jalan yang besar dan luas dengan pepohonan asri dan lebat di kedua sisi jalan, keponakan Ervin berseru dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Di dalam kawasan Monas banyak orang yang lalu-lalang, ada yang berlari untuk olahraga, jalan santai bersama teman dan kerabat masing-masing, bahkan terlihat anak kecil yang bermain bersama di tepi trotoar yang sejuk karena ada pohon tinggi, juga orang tua yang berdiri tak jauh dari anak-anak mereka.

Udara pagi yang begitu segar sangat bisa mereka rasakan di pagi hari ini.

Cuaca yang cerah dengan suasana sekeliling yang tenang menandakan alam mendukung untuk mereka berkunjung ke Monas.

Sebelum langsung masuk ke tugunya, Ervin berniat untuk mengajak mereka ke berkeliling taman sekaligus olahraga jalan.

Jam masih menunjukkan pukul jam 8 pagi dan itu masih pagi untuk masuk ke dalam.

Memanfaatkan hari yang segar ini untuk berolahraga bersama.

Pemandangan mereka semua yang sedang berjalan bersama, membuat semua orang yang sempat berpapasan dan lewat menjadi salah fokus.

Dengan banyak sekali anak-anak kecil lucu berjalan bersama tiga orang dewasa cantik dan tampan, orang-orang tidak bisa mengabaikan pemandangan ini.

Selama mereka menelusuri taman Monas, keponakan-keponakan Ervin sibuk berbincang tidak jelas, terdengar mereka mengomentari tentang hal apa saja yang mereka lihat di dalam taman ini.

"Luna, lihat itu kamu saat besar nanti! Menjadi gemuk karena jarang berolahraga, hahaha!" Roni menunjuk ke seorang wanita yang sedikit berisi di kejauhan, puluhan meter dari mereka berjalan.

Luna menjadi marah, dan dia ingin mencubit pinggang Roni.

Sayangnya, Roni sempat menghindari serangan cubitan maut Luna.

Brak!

Tubuh Roni yang ingin menghindari cubitan Luna lagi, tiba-tiba terpentok tubuh Ervin di belakangnya.

"Roni, kamu berbicara apa tadi?"

Ervin mendengar semua apa yang keponakannya bicarakan, termasuk ucapan Roni.

Saat Ervin dalam mode serius, semua keponakan Ervin tak ada yang berani lagi sekarang karena takut dengan tubuhnya yang besar dan tinggi, ditambah berotot.

Berikutnya, Ervin menyeret Roni ke wanita yang menjadi objek tertawaan Roni untuk meminta maaf.

Setelah itu, peringatan Sistem berbunyi di telinganya.

[Memberikan moralitas tentang penghinaan kepada keponakan dan dapatkan Temperamen Berwibawa!]

[Temperamen Berwibawa: Membuat lawan bicara mengormati Anda di awal pertemuan.]

Kejadian ini membuat Kak Rasha dan Bang Eric tersenyum, Ervin melakukan sesuatu yang tepat.

Melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, mereka tidak sadar sudah 1 jam lebih mereka mengelilingi taman Monas.

Segera, Ervin mengarahkan ke tempat membeli tiket yang ada di bawah tanah. Tempatnya bukan di permukaan tanah, melainkan ada di bawah tanah.

Ini membuat keponakan Ervin menjadi heboh dan bersenang-senang dengan tangga yang menurun.

Tiket masuk untuk pergi ke puncak tugu masih tersedia, sebab masih sangat pagi, orang-orang belum banyak yang berdatangan ke dalam sini.

Untuk tiket ke puncak tugu dan ke museum yang ada di bawah itu memiliki perbedaan harga, tiket ke puncak harganya 15 ribu rupiah dan museum serta cawan 5 ribu rupiah untuk dewasa, anak kecil hanya cukup membayar 2 ribu rupiah agar bisa masuk ke museum dan 4 ribu rupiah sampai ke puncak tugu.

Sehabis membayar tiket menggunakan kartu atm Ervin, mereka diperiksa lebih dahulu barang-barang yang mereka bawa di tangan dan tubuh mereka, kemudian berjalan melewati lorong yang tidak gelap, terakhir diperiksa kembali oleh penjaga wanita.

Selama proses mereka semua menuju ke pelataran Tugu Monas, banyak sekali wanita muda dan ibu-ibu yang melirik Ervin karena paras wajahnya yang tampan. Ervin pura-pura tidak melihat.

Setibanya di atas permukaan pelataran halaman sekitar Tugu Monas, mereka dapat melihat tembok berjajar yang memiliki relief bergambar timbul.

Sebagai orang dewasa yang pernah belajar sejarah, Ervin dan kakak serta abangnya tahu tembok ini ada penggambaran sejarah pada masa penjajahan Belanda.

"Paman, siapa yang menggambar ini? Pasti bukan paman, ya? Paman tidak bisa menggambar setahuku, bahkan gambar kaki bebek saja masih jelek."

Terpopuler

Comments

Ven

Ven

butuh visual entah mc sama NPC or something

2023-08-18

5

the Amay one

the Amay one

👍🏿👍🏿👍🏿

2023-08-15

3

FANS NOVEL

FANS NOVEL

mantap

2023-08-11

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!