Bab 5: Masuk ke Mall

Di dalam mall mewah dekat Bundaran Hotel Indonesia.

Ervin dan keponakannya menjadi bahan perbincangan orang-orang di mall.

Semua orang membicarakan Ervin dan 10 keponakannya, mereka merasa heran juga terkejut.

Dalam pandangan Ervin, ia menemukan bahwa mereka semua memiliki ekspresi terkejut dan penasaran di wajah mereka.

Suara mereka yang berbisik dan membicarakan Ervin terdengar oleh kedua telinga Ervin.

Orang-orang yang melihat pemandangan Ervin dan keponakannya berjalan di mall tidak menahan untuk tersenyum dan berkata, "Apakah pria tampan ini adalah paman dari anak-anak lucu itu?"

"Satu ... dua ... tiga ... sepuluh keponakan dijaga oleh satu orang paman? Bukankah paman ini adalah paman paling bahagia di dunia?"

"Sepuluh keponakan kecil dan lucu mengerumuni setiap hari, impianku yang tak mungkin diwujudkan."

"Keponakan-keponakan yang lucu, wajar saja jika punya paman yang tampan!"

"Aku tak bisa menahan lagi, mereka semua sangat lucu, apalagi pamannya! Aku ingin mencium pipinya!"

"Mamah, aku ingin punya adik lagi! Minimal sepuluh adik!"

"..."

Mendengar ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut mereka, Ervin tersenyum lebar sambil mengarahkan semua keponakannya untuk pergi ke suatu tempat.

Kakak Narissa dan suaminya berjalan di belakang semua keponakannya, menjaga mereka agar tetap berjalan sesuai dengan arahan Ervin.

"Paman, aku mau digendong!"

Suara susu yang menggemaskan terdengar dari telinga Ervin, dan dia melihat salah satu keponakan perempuannya menarik-narik celana sambil memohon meminta untuk digendong.

Paman yang baik adalah paman yang menuruti permintaan keponakannya.

Kedua tangan Ervin mengangkat tubuh kecil keponakannya yang merengek itu dan menggendongnya dengan aman.

[Ding! Menggendong keponakan dengan memberikan kenyamanan dan dapatkan Kemampuan Pelukan Kenyamanan!]

"Hmm?" Tanda tanya muncul di wajah Ervin setelah mendengar apa yang dikatakan Sistem.

Layar melayang di sisi bidang penglihatan Ervin, memberikan sebuah keterangan tentang kemampuan baru.

[Kemampuan Pelukan Kenyamanan: Memeluk orang akan memberikan sebuah perasaan yang nyaman. Berguna untuk orang yang sedang sedih dan yang lainnya yang membutuhkan kenyamanan.]

Melihat informasi dari kemampuan barunya ini, kepala Ervin mengangguk kecil dan tersenyum.

Namun, gerakan Ervin dilihat oleh keponakannya yang ia gendong.

"Paman, kamu tersenyum kenapa?"

Kepala Ervin bergerak ke kiri dan ke kanan, menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Zara. Paman sedang melihat sesuatu yang lucu di depan sana."

"Lucu?" Zara yang digendong Ervin melirik ke depan untukmu mencari sesuatu yang lucu. "Apakah sesuatu yang lucu itu adalah gambar kartun berwarna kuning yang ada di baju kakak besar itu?"

Zara menunjuk ke wanita seksi yang mengenakan sebuah kaos dengan sablon bergambar karakter kartun terkenal yang lucu.

Ketika Ervin melihat ke arah yang ditunjuk oleh tangan Zara, wajahnya menjadi memerah.

Tepat ketika Ervin melihat dua bola besar yang menjadi pipi dari gambar pada kaos wanita itu, mata wanita itu ternyata melirik wajah Ervin dan dia mengetahui bahwa dirinya sedang ditatap oleh Ervin.

Pandangan mata mereka saling bertemu satu sama lain, dan wajah mereka berdua memerah karena sama-sama tersipu.

Untungnya, Kakak Narissa dan suaminya tidak melihat Ervin yang melirik sesuatu yang dilarang.

Tangan Zara memegang pipi Ervin dan menggigitnya. "Paman sangat lucu, Zara ingin gigit pipi paman."

"Sakit, Zara. Jangan pipi paman yang digigit, Zara gigit makanan saja." Ervin segera melarang Zara dan mengalihkan perhatian Zara ke restoran tak jauh dari mereka.

Sosok wanita itu melirik Ervin yang menjauh, terlihat dirinya ingin berkenalan dengan Ervin, tetapi melihat banyak sekali anak kecil di sekelilingnya, membuat wanita itu ragu.

Pada akhirnya, wanita itu pergi dengan hati yang bimbang.

"Paman! Kita ingin makan di sana?!" Roni bertanya dengan suara yang keras pada Ervin.

Ervin mengangguk sambil mengelus punggung Zara yang kelihatannya sedang asyik mengobrol dengan keponakannya yang lain di bawah.

"Paman, Lili juga mau digendong, apakah boleh?" tanya Lili dengan sikap yang pemalu, pipinya memerah sambil mendongak untuk melihat Ervin.

Suara Lili yang manis dan imut ini tidak bisa Ervin abaikan, dia memutuskan untuk menggendong Lili di tangan yang lainnya.

Dengan kekuatan fisik yang sekarang, Ervin mampu menggendong dan membawa dua keponakannya sekaligus tanpa lelah.

Melihat keduanya digendong oleh Ervin, keponakannya yang bernama Tiara berusia lebih muda dari Lili dan Zara juga meminta Pamannya menggendong dia.

"Tiara juga mau digendong, Paman!" pinta Tiara dengan mata yang besar.

Jelas, Ervin tidak bisa melakukannya karena tangannya hanya ada 2, dan dia tak mungkin menggendong Tiara dengan kakinya.

"Tiara, paman tidak bisa menggendong kamu karena tangan paman cuma ada dua. Dua-duanya dipakai untuk menggendong Zara dan Lili," kata Ervin yang berjalan sambil menggendong dua keponakannya yang kini sedang tenang mengobrol satu sama lain.

"Aku tidak mau tahu, pokoknya paman harus menggendongku!" Tiara marah, dia melototi Ervin dengan wajah yang bengis.

Wajah marahnya tampak lucu bagi orang yang melihatnya

Sementara itu, Ervin hanya bisa tersenyum pasrah mendengar Omelan Tiara.

"Luna," panggil Ervin kepada keponakan perempuan paling besar yang berjalan di samping kirinya.

"Iya, Paman?" Luna mengangguk dan melihat Ervin.

"Tolong bilang ke Kakak Narissa dan suaminya di belakang, Tiara ingin digendong," Ervin meminta Luna untuk memberikan pesan kepada Kakak Narissa dan Suaminya yang tertinggal cukup jauh karena sedang sibuk melihat barang-barang yang ada di toko.

Luna mengangguk mengerti. Namun, dia menatap Ervin dengan rona merah di wajahnya. "Paman, apa aku boleh digendong juga?"

"Um, ya. Tubuhmu masih belum besar, nanti paman gendong kalau ada kesempatan," kata Ervin dengan tersenyum.

Usia Luna menginjak umur 9 tahun, dia yang paling tua dari semua keponakannya. Tubuhnya masih kecil, tidak begitu besar, masih bisa Ervin gendong.

Mendengar jawaban Ervin, Luna menjadi senang, kemudian dia berjalan bersama Putri yang berwajah dingin.

Putri, keponakan perempuan Ervin yang punya sifat pendiam dan dingin, wajahnya tampak datar dan kepribadiannya yang membosankan.

Hanya Putri yang jarang berkomunikasi dengan Ervin dibanding keponakan-keponakan yang lain

Tepat ketika Luna dan Putri pergi ke belakang, Roni dan keponakan laki-laki yang lainnya bertindak nakal.

"Hei, lihat! Ada wanita cantik di sana!"

Suara Roni yang terdengar jelas muncul di telinga Ervin.

Ervin yang sedang mengobrol tidak jelas bersama Lili dan Zara, melihat bahwa semua keponakan laki-lakinya menghilang di depannya.

Mata Ervin menemukan mereka sedang berada di 3 wanita yang ada di depan restoran sedang berdiri dan mengobrol membahas sesuatu.

"Halo, Kakak cantik!" Roni dengan gaya orang dewasa, alis kanannya naik ke atas dengan wajah yang ditampan-tampankan.

Berikutnya, Farid, Deo, dan Vino mengikuti Roni untuk menyapa tiga wanita cantik itu.

Ervin tidak langsung berlari melarang mereka, Ervin berjalan santai dan melihat apa yang ingin dilakukan bocah-bocah kecil ini.

"Halo, Sayang!"

Ketiga wanita itu menyapa mereka berempat dengan senyum lebar di wajah mereka.

Roni dengan berani bertanya kepada salah satu wanita cantik itu, "Kakak, apakah kamu membutuhkan seorang pria? Pamanku terlalu lama sendiri, dia bilang padaku ingin punya wanita seksi."

Terpopuler

Comments

Youtan_polua

Youtan_polua

awoakwok

2024-11-05

0

Kang Comen

Kang Comen

definisi ponakan Laknat ckckkckk

2023-11-04

7

Choco

Choco

wae

2023-10-03

5

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!