Ujung bibir Ervin berkedut mendengar ucapan ucapan Roni yang menohok, itu terasa menusuk hingga ke hatinya.
Tidak ada yang salah dengan ucapan Roni, Ervin sendiri tak memiliki bakat untuk menggambar.
Saking tidak berbakatnya, gambar yang dibuat Ervin kalah dengan gambar yang dibuat oleh keponakannya sendiri.
Roni berbicara tentang fakta, tak ada yang salah.
Senyuman yang dipaksakan terlihat di wajah Ervin, dan dia mengangguk sebagai tanggapan dari ucapan Roni.
Mengabaikan celotehan Roni, sebuah penjelasan Ervin beri tahu kepada keponakan-keponakannya tentang gambar yang dibuat pada tembok-tembok ini
Semuanya merenung dan menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Ervin yang ternyata penjelasan yang keluar dari mulutnya berasal dari artikel internet.
“Jahat sekali mereka semua, seperti paman! Suka mengambil mainan kita tanpa izin terlebih dahulu!"
“Kasihan sekali orang-orang di zaman itu, pasti mereka sengsara ...."
"Aku ... aku ... aku sangat takut, Paman! Huaa!"
"Dasar Binatang! Aku akan melawan mereka kalau sudah besar! Indonesia tidak akan pernah dijajah lagi!!"
"Ayo kita pukul Paman!"
Sembilan keponakan Ervin segera berkomentar ketika mendengar cerita sejarah yang diterangkan secara padat dan jelas oleh Ervin.
“Oleh karena itu, kita harus bersyukur karena bisa hidup di zaman yang tenang ini, sekarang Indonesia sudah damai dan tidak ada penyiksaan dan pengorbanan darah layaknya zaman perang dahulu. Kalian harus ikuti perjuangan berat kakek moyang kita semua. Kalian semua harus semangat dan pantang menyerah dalam belajar demi menggapai cita-cita kalian, sama halnya pendahulu kita semua yang tak kenal lelah dan takut demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia," jelas Ervin memberikan pesan yang mendorong mental kepada semua keponakannya dengan suara yang dalam dan bersemangat.
Mendengar pernyataan Ervin, api semangat di dalam hati mereka semua mulai menyala.
“Siap, Paman!"
"Sejak kapan paman menjadi pintar? Bukankah kegiatan sehari-harinya hanya bermain gim?"
"Aku pasti mengikuti perjuangan para pahlawan! Aku akan menjadi seorang tentara yang menghabiskan semua penjajah!"
"Tidak tahu mengapa Paman terlihat keren saat berbicara seperti barusa."
"..."
Ervin mengangguk puas mendengar ucapan mereka semua meski ada beberapa yang membuat dahi Ervin berdenyut.
Mereka terus berjalan melewati tembok-tembok yang menerangkan banyak sejarah. Tidak lama kemudian mereka semuanya masuk ke dalam bangunan Monumen Nasional.
Di dala Monas, mereka semua diperlihatkan banyak sekali diorama yang menceritakan tentang sejarah-sejarah Indonesia di zaman dahulu, yaitu sejarah perjuangan rakyat Indonesia di zaman perang dan penjajahan yang ingin memerdekakan bangsa dan rakyatnya sendiri.
Anak-anak kecil ini sedikit mengerti dengan sejarah Indonesia. Pasalnya, mereka masih kecil dan perkembangan otaknya masih berkembang, dan harus diajarkan perlahan dan secara terus-menerus, juga konsisten supaya nantinya mereka mengerti dengan semua sejarah ini, betapa banyak sekali pengorbanan yang harus ditumpahkan.
Biasanya, di Sekolah Dasar sudah ada pelajaran tentang sejarah-sejarah masa lalu Negara Indonesia
Omong-omong, di sini banyak sekali orang, mungkin karena banyak yang sudah cuti kerja dan memanfaatkan cuti untuk jalan-jalan bersama keluarga.
Dengan begitu, di dalam Monas ini cukup terbilang ramai, bisa dianggap begitu banyak kalau dibandingkan dengan ramainya orang yang berkunjung ke Tugu Monas di hari biasa atau bukan libur.
“Paman, mereka sedang apa di sana? Mengapa mereka berkumpul di satu tempat itu?“ Luna bertanya sambil menunjuk ke salah satu diorama yang dikelilingi banyak orang di kejauhan.
Ervin mengalihkan matanya ke diorama yang ditunjuk oleh Luna.
Setelah itu, ia segera mengajak yang keponakannya yang lain mengikutinya ke diorama tersebut.
Di depan diorama tersebut Ervin menjelaskan kisah sesuai dengan keterangan yang tertempel di dekat diorama.
Diorama yang Ervin terangkan begitu sensitif, dia hanya membacakannya sampai beberapa kalimat. Bukan karena apa-apa, Ervin takut diculik oleh seseorang atau suatu kelompok rahasia.
Sebabnya, diorama masih tidak diketahui tentang kebenarannya, cerita sejarah yang terkandung di dalam diorama tersebut menuai banyak kontroversi dan perdebatan
Sebagian besar orang Indonesia tidak tahu isi surat yang asli dari sebuah surat super yang diberikan oleh ketiga jendral pada kisah di dalam diorama itu.
Lagi pula, anak-anak ini juga tak begitu memikirkan sejarah tersebut, mereka belum sepenuhnya mengerti dan memang ingin tahu saja karena banyak sekali orang-orang berkumpul saat mereka lihat.
Jadi, Ervin tidak perlu mendetail menjelaskan kisahnya kepada mereka.
Mereka semua bersama-sama melihat 51 diorama yang ada di dalam museum, satu per satu dilihat dan dipandang sambil Ervin jelaskan cerita yang dimaksudkan oleh suatu diorama.
Meskipun nakal dan brutal, keponakannya ternyata memiliki keingintahuan yang lumayan besar akan sejarah Indonesia.
Dengan begitu, Ervin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan segera memberikan pengetahuan sejarah kepada mereka semua secara bertahap, dimulai dari diorama yang menggambarkan sejarah pada kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, kehebatan dan keteguhan perjuangan kemerdekaan, dan pemerintahan masa orde baru, masih banyak lainnya.
Setelah mereka puas melihat-lihat diorama di dalam museum, mereka semua diarahkan ke Ruang Kemerdekaan untuk mendengarkan rekaman suara Bapak Presiden Pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno yang membacakan naskah atau teks proklamasi.
Segera mereka mengetahui bagaimana suara bapak presiden pertama yang sangat bersejarah.
Setelah mengagumi suara rekaman asli, Ervin membawa mereka pergi ke atas Tugu Monas yang terdapat pemandangan Kita Jakarta yang indah.
Setibanya di atas tugu Monas, mereka semua terpesona oleh pemandangan kota Jakarta dari atas tugu yang tinggi, mereka bergiliran menggunakan teleskop untuk melihat lebih jelas panorama gedung-gedung tinggi kota Jakarta.
"Luna! Aku dahulu yang memakai teleskop!"
"Apa, sih! Aku dahulu, Roni!"
Sebuah pertengkaran kecil muncul di antara keponakannya, dan Ervin segera memisahkan mereka dengan cara meminta orang yang menggunakan teleskop yang lain untuk bergantian.
Ervin mengangguk saat melihat semua keponakannya damai dan tentram tanpa ada kegaduhan.
Kakak Rasha dan Bang Eric juga tersenyum melihat semua keponakannya berseru dan berdiskusi sangat menyenangkan setelah melihat pemandangan menggunakan teleskop.
Pada saat Ervin sedang asyik memandang mereka semua, sebuah dorongan terasa oleh Ervin dari belakang, segera Ervin melihat ke belakang.
"Anu, maaf, aku tidak sengaja ...."
Sebuah suara wanita yang manis terdengar dari telinga Ervin, disusul oleh penampakan seorang wanita cantik tersenyum malu tertuju ke arahnya.
Marah yang timbul di dalam hati Ervin langsung teredam saat melihat senyuman yang indah satu ini, dan Ervin memaafkan tindakan tak sengaja wanita ini.
Ervin mengangguk sembari menggaruk pelipisnya dan berkata, "Tidak apa-apa, kok. Apakah kamu baik-baik saja, ada yang sakit?"
"It–itu, aku baik-baik saja. Sama sekali tidak terluka."
Wajah wanita yang cantik tersebut makin memerah karena malu, bahkan suaranya menjadi sedikit terbata-bata.
"Baguslah kalau memang tidak ada yang sakit."
Kedua mata mereka berdua saling memandang dengan suatu perasaan tumbuh di dalam pupil matanya.
"Paman!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
the Amay one
👍🏿👍🏿
2023-08-15
2
Anna
Next semangat thor dan up yg banyak oke thor pliss 😁😊
2023-08-12
5
NorseMolee
ditunggu crazy up nya thorrr 😀😀
2023-08-12
3