Bab 12: Sejarah Monas

Ujung bibir Ervin berkedut mendengar ucapan ucapan Roni yang menohok, itu terasa menusuk hingga ke hatinya.

Tidak ada yang salah dengan ucapan Roni, Ervin sendiri tak memiliki bakat untuk menggambar.

Saking tidak berbakatnya, gambar yang dibuat Ervin kalah dengan gambar yang dibuat oleh keponakannya sendiri.

Roni berbicara tentang fakta, tak ada yang salah.

Senyuman yang dipaksakan terlihat di wajah Ervin, dan dia mengangguk sebagai tanggapan dari ucapan Roni.

Mengabaikan celotehan Roni, sebuah penjelasan Ervin beri tahu kepada keponakan-keponakannya tentang gambar yang dibuat pada tembok-tembok ini

Semuanya merenung dan menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh Ervin yang ternyata penjelasan yang keluar dari mulutnya berasal dari artikel internet.

“Jahat sekali mereka semua, seperti paman! Suka mengambil mainan kita tanpa izin terlebih dahulu!"

“Kasihan sekali orang-orang di zaman itu, pasti mereka sengsara ...."

"Aku ... aku ... aku sangat takut, Paman! Huaa!"

"Dasar Binatang! Aku akan melawan mereka kalau sudah besar! Indonesia tidak akan pernah dijajah lagi!!"

"Ayo kita pukul Paman!"

Sembilan keponakan Ervin segera berkomentar ketika mendengar cerita sejarah yang diterangkan secara padat dan jelas oleh Ervin.

“Oleh karena itu, kita harus bersyukur karena bisa hidup di zaman yang tenang ini, sekarang Indonesia sudah damai dan tidak ada penyiksaan dan pengorbanan darah layaknya zaman perang dahulu. Kalian harus ikuti perjuangan berat kakek moyang kita semua. Kalian semua harus semangat dan pantang menyerah dalam belajar demi menggapai cita-cita kalian, sama halnya pendahulu kita semua yang tak kenal lelah dan takut demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia," jelas Ervin memberikan pesan yang mendorong mental kepada semua keponakannya dengan suara yang dalam dan bersemangat.

Mendengar pernyataan Ervin, api semangat di dalam hati mereka semua mulai menyala.

“Siap, Paman!"

"Sejak kapan paman menjadi pintar? Bukankah kegiatan sehari-harinya hanya bermain gim?"

"Aku pasti mengikuti perjuangan para pahlawan! Aku akan menjadi seorang tentara yang menghabiskan semua penjajah!"

"Tidak tahu mengapa Paman terlihat keren saat berbicara seperti barusa."

"..."

Ervin mengangguk puas mendengar ucapan mereka semua meski ada beberapa yang membuat dahi Ervin berdenyut.

Mereka terus berjalan melewati tembok-tembok yang menerangkan banyak sejarah. Tidak lama kemudian mereka semuanya masuk ke dalam bangunan Monumen Nasional.

Di dala Monas, mereka semua diperlihatkan banyak sekali diorama yang menceritakan tentang sejarah-sejarah Indonesia di zaman dahulu, yaitu sejarah perjuangan rakyat Indonesia di zaman perang dan penjajahan yang ingin memerdekakan bangsa dan rakyatnya sendiri.

Anak-anak kecil ini sedikit mengerti dengan sejarah Indonesia. Pasalnya, mereka masih kecil dan perkembangan otaknya masih berkembang, dan harus diajarkan perlahan dan secara terus-menerus, juga konsisten supaya nantinya mereka mengerti dengan semua sejarah ini, betapa banyak sekali pengorbanan yang harus ditumpahkan.

Biasanya, di Sekolah Dasar sudah ada pelajaran tentang sejarah-sejarah masa lalu Negara Indonesia

Omong-omong, di sini banyak sekali orang, mungkin karena banyak yang sudah cuti kerja dan memanfaatkan cuti untuk jalan-jalan bersama keluarga.

Dengan begitu, di dalam Monas ini cukup terbilang ramai, bisa dianggap begitu banyak kalau dibandingkan dengan ramainya orang yang berkunjung ke Tugu Monas di hari biasa atau bukan libur.

“Paman, mereka sedang apa di sana? Mengapa mereka berkumpul di satu tempat itu?“ Luna bertanya sambil menunjuk ke salah satu diorama yang dikelilingi banyak orang di kejauhan.

Ervin mengalihkan matanya ke diorama yang ditunjuk oleh Luna.

Setelah itu, ia segera mengajak yang keponakannya yang lain mengikutinya ke diorama tersebut.

Di depan diorama tersebut Ervin menjelaskan kisah sesuai dengan keterangan yang tertempel di dekat diorama.

Diorama yang Ervin terangkan begitu sensitif, dia hanya membacakannya sampai beberapa kalimat. Bukan karena apa-apa, Ervin takut diculik oleh seseorang atau suatu kelompok rahasia.

Sebabnya, diorama masih tidak diketahui tentang kebenarannya, cerita sejarah yang terkandung di dalam diorama tersebut menuai banyak kontroversi dan perdebatan

Sebagian besar orang Indonesia tidak tahu isi surat yang asli dari sebuah surat super yang diberikan oleh ketiga jendral pada kisah di dalam diorama itu.

Lagi pula, anak-anak ini juga tak begitu memikirkan sejarah tersebut, mereka belum sepenuhnya mengerti dan memang ingin tahu saja karena banyak sekali orang-orang berkumpul saat mereka lihat.

Jadi, Ervin tidak perlu mendetail menjelaskan kisahnya kepada mereka.

Mereka semua bersama-sama melihat 51 diorama yang ada di dalam museum, satu per satu dilihat dan dipandang sambil Ervin jelaskan cerita yang dimaksudkan oleh suatu diorama.

Meskipun nakal dan brutal, keponakannya ternyata memiliki keingintahuan yang lumayan besar akan sejarah Indonesia.

Dengan begitu, Ervin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan segera memberikan pengetahuan sejarah kepada mereka semua secara bertahap, dimulai dari diorama yang menggambarkan sejarah pada kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, kehebatan dan keteguhan perjuangan kemerdekaan, dan pemerintahan masa orde baru, masih banyak lainnya.

Setelah mereka puas melihat-lihat diorama di dalam museum, mereka semua diarahkan ke Ruang Kemerdekaan untuk mendengarkan rekaman suara Bapak Presiden Pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno yang membacakan naskah atau teks proklamasi.

Segera mereka mengetahui bagaimana suara bapak presiden pertama yang sangat bersejarah.

Setelah mengagumi suara rekaman asli, Ervin membawa mereka pergi ke atas Tugu Monas yang terdapat pemandangan Kita Jakarta yang indah.

Setibanya di atas tugu Monas, mereka semua terpesona oleh pemandangan kota Jakarta dari atas tugu yang tinggi, mereka bergiliran menggunakan teleskop untuk melihat lebih jelas panorama gedung-gedung tinggi kota Jakarta.

"Luna! Aku dahulu yang memakai teleskop!"

"Apa, sih! Aku dahulu, Roni!"

Sebuah pertengkaran kecil muncul di antara keponakannya, dan Ervin segera memisahkan mereka dengan cara meminta orang yang menggunakan teleskop yang lain untuk bergantian.

Ervin mengangguk saat melihat semua keponakannya damai dan tentram tanpa ada kegaduhan.

Kakak Rasha dan Bang Eric juga tersenyum melihat semua keponakannya berseru dan berdiskusi sangat menyenangkan setelah melihat pemandangan menggunakan teleskop.

Pada saat Ervin sedang asyik memandang mereka semua, sebuah dorongan terasa oleh Ervin dari belakang, segera Ervin melihat ke belakang.

"Anu, maaf, aku tidak sengaja ...."

Sebuah suara wanita yang manis terdengar dari telinga Ervin, disusul oleh penampakan seorang wanita cantik tersenyum malu tertuju ke arahnya.

Marah yang timbul di dalam hati Ervin langsung teredam saat melihat senyuman yang indah satu ini, dan Ervin memaafkan tindakan tak sengaja wanita ini.

Ervin mengangguk sembari menggaruk pelipisnya dan berkata, "Tidak apa-apa, kok. Apakah kamu baik-baik saja, ada yang sakit?"

"It–itu, aku baik-baik saja. Sama sekali tidak terluka."

Wajah wanita yang cantik tersebut makin memerah karena malu, bahkan suaranya menjadi sedikit terbata-bata.

"Baguslah kalau memang tidak ada yang sakit."

Kedua mata mereka berdua saling memandang dengan suatu perasaan tumbuh di dalam pupil matanya.

"Paman!!!"

Terpopuler

Comments

the Amay one

the Amay one

👍🏿👍🏿

2023-08-15

2

Anna

Anna

Next semangat thor dan up yg banyak oke thor pliss 😁😊

2023-08-12

5

NorseMolee

NorseMolee

ditunggu crazy up nya thorrr 😀😀

2023-08-12

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!