Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin

"Bukan, aku tidak akan berbuat seperti itu, Kak." Ervin menggelengkan kepalanya dengan menandakan tebakan Kakak Narissa adalah kesalahan berpikir.

Brian dan Narissa menyipitkan matanya dengan tajam ke Ervin di sebelahnya. Narissa bertanya sembari memasang wajah yang siap untuk marah, "Kalau bukan, uang berasal dari mana?"

"Sebenarnya, aku telah bermain saham dari awal lulus sekolah, aku sudah mengumpulkan banyak uang. Total uangnya lebih dari ratusan juta yang kamu lihat tadi," jawab Ervin dengan ekspresi yang serius. Satu tetes keringat muncul di dahinya.

Mendengar jawaban Ervin, mereka berdua tidak langsung percaya, dan menanyakan hal yang sama dengan raut wajah yang makin curiga.

Dengan tekanan yang berat ini, Ervin memutuskan untuk bertanya kepada Sistem untuk mencari alasan dia mendapatkan uang.

[Ding! Katakan saja bahwa Anda memiliki saham di Perusahaan Zel inc!]

'Oke, terima kasih, Sistem!' kata Ervin di dalam hati.

Meskipun dia tidak tahu perusahaan itu, tetapi Ervin percaya dengan cara Sistem.

"Ervin, aku tanyakan lagi kepadamu, dari mana asalnya uang itu?" Narissa bertanya dengan wajah yang tidak ramah.

Ervin tersenyum simpul dan menjawab dengan terus terang, "Aku punya saham di perusahaan Zel Inc. Uangnya dari sana."

"Hmm ...." Narissa memandang ekspresi Ervin untuk mencari jejak kebohongan yang terlihat.

Suaminya, Brian juga memicing curiga kepada Ervin. Mereka berdua tahu dengan perusahaan tersebut, dan memang ada kemungkinan Ervin mendapatkan saham Perusahaan Zel Inc.

"Coba aku lihat riwayat masuk saldo rekening kamu."

Sambil berjalan bersama anak-anak di sebelah mereka semua, Ervin menunggu Kakak Narissa dan Brian untuk memeriksa saldo rekeningnya.

Mereka berdua menemukan riwayat saldo yang diterima oleh akun bank Ervin, sebesar 50 juta tadi pagi, kemudian 2,25 miliar rupiah masuk.

Keduanya menggosok mata, menatap layar ponsel Ervin tidak percaya. Berikutnya, mereka berdua secara serempak melirik Ervin dengan wajah yang bingung.

"Begitulah, aku mendapatkan saham perusahaan itu. Hehe." Ervin tersenyum canggung.

Mengembalikan ponsel Ervin, pasangan ini tidak berbicara sampai mereka berdua tiba di rumah di sore hari.

Ketika mereka semua sampai di rumah dan memarkirkan mobil di halaman depan.

Orang tua dan abang serta kakak Ervin menyambut kedatangan Ervin dan yang lainnya.

Membawa banyak belanjaan di tangan anak-anak, keluarga Ervin terkejut dan segera membantu keponakan itu mengangkat barang belanjaan.

Di dalam rumah, mereka semua membongkar barang belanjaan yang mereka bawa.

Semua anggota keluarga terkejut ketika melihat bahwa barang-barang yang diangkut ini semuanya bermerek Luwak Veton, salah satu merek pakaian mahal dan mewah.

Kertas yang mencantumkan harga asli barang juga masih bisa mereka temukan dan lihat.

Harga pakaian yang mereka bawa dari mall rata-rata belasan juta dan jutaan, bahkan ada beberapa barang mahal dengan harga puluhan juta.

"Kakek, Nenek, semuanya dibelikan oleh Paman. Kata Paman, dia sekarang sudah menjadi orang terkaya di Bulan!" kata Roni kepada orang tua Ervin.

Mendengar ucapan Roni, orang tua Ervin tercengang dan mengarahkan pandangannya ke Ervin, meminta konfirmasi dari Ervin secara langsung.

"Ervin memiliki saham di perusahaan besar, Pa, Ma. Dia sudah kaya," beber Narissa kepada mereka berdua.

Dalam sekejap, semua tatapan mata terfokus ke Ervin yang berdiri di dekat sofa keluarga.

"Iy–iya, Kakak Narissa benar, aku punya saham di suatu perusahaan, Ma, Pa."

Berikutnya, mereka semua mendekati Ervin untuk bertanya berapa penghasilannya sekarang dan bagaimana caranya.

Ervin tidak menjawab mereka semua karena terlalu rusuh, bahkan keponakan Ervin ikut mendekati Ervin dan membuat onar.

"Roni, jangan buka ritsleting celana paman!"

"Luna, berhenti mencubit pinggang paman!"

"Kakak, Abang, aku tidak bisa menjawab sekarang, aku sedang sibuk!"

Keponakannya masih tidak berbeda, merasa sangat bahagia menyiksa pamannya.

Brak!

Bersandar di belakang pintu kamar, dada Ervin kembang-kempis, seperti balon yang ditiup.

Ervin sangat ketakutan melihat keluarganya melontarkan 1.001 pertanyaan yang tak mungkin ia jawab sekaligus, ditambah dengan kejahilan kecil keponakannya.

[Membelanjakan uang untuk membeli barang dan pakaian keponakan dan dapatkan saham 20% LVHM!]

Pemberitahuan muncul di kepala Ervin, membuat dirinya lupa bernapas selama 7 detik.

Setelah itu, Ervin mengambil ponselnya dan mencari informasi tentang perusahaan dari saham yang ia dapatkan.

"Sheesh! Ini perusahaan yang dimiliki orang terkaya di dunia!" kata Ervin dengan tatapan yang terkejut.

Tepat ketika Ervin mencari tahu tentang laba bersih di dalam internet, sebuah panggilan telepon muncul di ponselnya.

"Halo, siapa ini?" tanya Ervin menggunakan bahasa Indonesia yang formal.

"Halo, selamat sore, Pak Ervin. Saya adalah perwakilan dari perusahaan untuk memberi tahu mengenai dividen," jawab seseorang di dalam ponselnya.

Kepala Ervin mengangguk beberapa kali dalam panggilan telepon kali ini, wajahnya menjadi gembira dengan kulit yang memerah.

Usai menelepon, Ervin langsung melihat bahwa saldo rekeningnya terus bertambah, bahkan Ervin ditelepon langsung oleh pihak bank untuk mengonfirmasi tentang penerimaan saldo yang berjumlah sangat banyak ini.

Jelas, Ervin langsung memamerkan identitasnya sebagai pemegang saham 20% LVHM yang punya hak suara 30%.

Pihak bank langsung mengerti dan membantu mengamankan uang Ervin.

Ternyata pihak bank langsung percaya dengan ucapannya tanpa harus memeriksa dan bertanya-tanya lagi.

Saldo Ervin sekarang sudah ada 90 triliun rupiah karena menerima dividen sebanyak 30 tahun dari laba bersih perusahaan bertahun-tahun.

Pemandangan yang sulit Ervin terima secepat mungkin.

Lebih dari 30 menit dia memandang angka dengan nol yang banyak di kolom saldo terkini akun banknya.

"Aku tidak bermimpi, kan?" Ervin bertanya-tanya dengan keaslian peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sekarang.

Tok! Tok! Tok!

"Paman, ayo kita makan malam!!"

Suara keponakan Ervin meraung keras sampai ke dalam kamar, membuat Ervin yang bingung menjadi sadar dan bangun dari tempat tidur.

"Iya, tunggu sebentar!"

Setelah mengatakan kalimat itu, Ervin membenarkan pakaian dan menstabilkan mentalnya.

Pria dengan Sistem tidak boleh terkejut, harus bersikap santai dengan segala sesuatu.

TOK!

Pintu diketuk lagi, dan tubuh Ervin tersentak karena kaget. "Sebentar, paman ingin merapikan kamar dahulu selama tiga menit!"

Usai Ervin berkata dengan keras dan jelas, suara ketukan pintu menghilang, kelihatannya bocah-bocah itu tidak lagi di depan kamar.

Tok! Tok! Tok!

"Paman, cepat keluar! Semuanya sudah menunggu!!"

"Iya-iya, paman keluar."

Dengan panggilan keponakannya yang keras terdengar sekali lagi, Ervin keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan di bawah tatapan kekaguman keluarganya.

"Anak Papa sudah menjadi seorang miliarder. Sini, Nak, duduk di sebelah papa, ada yang ingin papa bicarakan mengenai bisnis ikan lele sukses," ujar Papa Ervin sambil menunjuk ke kursi kosong di sebelahnya.

"Oke, Pa."

Ervin tidak bisa menolak, ia segera duduk di kursi yang ditunjuk papanya.

"Jadi, begini ...."

Terpopuler

Comments

the Amay one

the Amay one

👍🏿👍🏿👍🏿

2023-08-15

2

the Amay one

the Amay one

Roni=joni

2023-08-15

4

Dragonoid

Dragonoid

next tor

2023-08-09

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Berita Mendadak
2 Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3 Bab 3: Perubahan Mendadak
4 Bab 4: Mobil Pertama
5 Bab 5: Masuk ke Mall
6 Bab 6: Bocah Lugu
7 Bab 7: Menonton Film
8 Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9 Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10 Bab 10: Impian Papa
11 Bab 11: Pergi Mendadak
12 Bab 12: Sejarah Monas
13 Bab 13: Roni Pengacau
14 Bab 14: Pertolongan Cepat
15 Bab 15: Roni Menangis
16 Bab 16: Burung Kecil
17 Bab 17: Pergi ke Pantai
18 Bab 18: Berteman
19 Bab 19: Sakit Hati
20 Bab 20: Keras Kepala
21 Bab 21: Bang Adam Selamat
22 Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23 Bab 23: Orang Bodoh
24 Bab 24: Wanita Ervin?
25 Bab 25: Undangan Nindya
26 Bab 26: Orang Tak Dikenal
27 Bab 27: Teman Lama
28 Bab 28: Pergi Reuni
29 Bab 29: Masuk ke Restoran
30 Bab 30: Fitri yang Aneh
31 Bab 31: Masalah Joni
32 Bab 32: Penipu Payah
33 Bab 33: Berbahagia Bersama
34 Bab 34: Ide Bisnis
35 Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36 Bab 36: Menceritakan Nindya
37 Bab 37: Ketegasan Niat
38 Bab 38: Kedatangan Nindya
39 Bab 39: Pria Culun
40 Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41 Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42 Bab 42: Kemajuan
43 Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44 Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45 Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46 Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47 Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48 Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49 Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50 Bab 50: Pergantian Tahun
51 Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52 Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53 Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54 Bab 54: Ditinggal Sendiri
55 Bab 55: Nasihat Roni
56 Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57 Bab 57: Nindya Selingkuh
58 Bab 58: Ajakan Antusias
59 Bab 59: Keponakan yang Rewel
60 Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61 Bab 61: Pindah ke Rumah Baru
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Berita Mendadak
2
Bab 2: Kejutan Luar Biasa
3
Bab 3: Perubahan Mendadak
4
Bab 4: Mobil Pertama
5
Bab 5: Masuk ke Mall
6
Bab 6: Bocah Lugu
7
Bab 7: Menonton Film
8
Bab 8: Aku Tidak Punya Musuh
9
Bab 9: Kejujuran Berbohong Ervin
10
Bab 10: Impian Papa
11
Bab 11: Pergi Mendadak
12
Bab 12: Sejarah Monas
13
Bab 13: Roni Pengacau
14
Bab 14: Pertolongan Cepat
15
Bab 15: Roni Menangis
16
Bab 16: Burung Kecil
17
Bab 17: Pergi ke Pantai
18
Bab 18: Berteman
19
Bab 19: Sakit Hati
20
Bab 20: Keras Kepala
21
Bab 21: Bang Adam Selamat
22
Bab 22: Sebuah Pengungkapan
23
Bab 23: Orang Bodoh
24
Bab 24: Wanita Ervin?
25
Bab 25: Undangan Nindya
26
Bab 26: Orang Tak Dikenal
27
Bab 27: Teman Lama
28
Bab 28: Pergi Reuni
29
Bab 29: Masuk ke Restoran
30
Bab 30: Fitri yang Aneh
31
Bab 31: Masalah Joni
32
Bab 32: Penipu Payah
33
Bab 33: Berbahagia Bersama
34
Bab 34: Ide Bisnis
35
Bab 35: Bingung Menghabiskan Uang
36
Bab 36: Menceritakan Nindya
37
Bab 37: Ketegasan Niat
38
Bab 38: Kedatangan Nindya
39
Bab 39: Pria Culun
40
Bab 40: Negosiasi Bibit Lele
41
Bab 41: Keributan Keluarga Orang
42
Bab 42: Kemajuan
43
Bab 43: Persiapan ke Rumah Nindya
44
Bab 44: Berangkat ke Rumah Nindya
45
Bab 45: Setetes Kebahagiaan
46
Bab 46: Kekhawatiran Ervin
47
Bab 47: Bertemu dengan Kakek
48
Bab 48: Bertarung dengan Pengawal
49
Bab 49: Pertanyaan Mengejutkan
50
Bab 50: Pergantian Tahun
51
Bab 51: Pergi ke Kebun Binatang
52
Bab 52: Keseruan Kebun Binatang
53
Bab 53: Keponakan Mulut Tajam
54
Bab 54: Ditinggal Sendiri
55
Bab 55: Nasihat Roni
56
Bab 56: Pulang dari Kebun Binatang
57
Bab 57: Nindya Selingkuh
58
Bab 58: Ajakan Antusias
59
Bab 59: Keponakan yang Rewel
60
Bab 60: Selesai berjalan-jalan
61
Bab 61: Pindah ke Rumah Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!