"Maafkan aku kak." lisan Rose menunduk karna tidak mau menatap mata Rayyan, selain karna malu, tatapan mata Rayyan selalu saja menampilkan kesan horor yang membuat Rose ketakutan saat menatapnya, seolah-olah mata tersebut memiliki kekuatan laser yang bisa membakarnya sampai hangus.
Sedangkan Rayyan sendiri tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi dikamar mandi, meskipun dia kesal sendiri sieh dengan dirinya sendiri karna barang berharganya selalu hidup saat bersentuhan dengan Rose.
Rayyan menatap penampilan Rose dari ujung rambut sampai ujung kaki dan berkomentar, "Kamu tidak memiliki pakaian yang lebih layak apa untuk dikenakan, haruskah kamu memakai pakain nenek-nenek seperti itu."
Mendengar komentar tersebut, mau tidak mau Rose memperhatikan penampilannya yang dibilang seperti nenek-nenek.
"Ehhh, emang penampilanku seperti nenek-nenek kak."
"Huhhh." Rayyan memandang sinis, "Laki-laki yang selama ini telah menikmati tubuhmu ternyata laki-laki pelit yang tidak pernah memberikan sepeser uangpun kepadamu untuk membeli pakaian yang layak." hina Rayyan, "Benar-benar murahan, semurah-murahnya pelacur, mereka itu dibayar, tidak seperti kamu yang memberikan tubuhmu cuma-cuma." mulut Rayyan benar-benar pedes banget, dia mengata-ngatai Rose tanpa mencaritahu kebenarannya terlebih dahulu, dia hanya mengambil kesimpulan dari apa yang didengarnya dari mulut Dio.
Rose tentu sangat sedih dan marah secara bersamaan mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Rayyan, dia ingin meluapkan amarahnya, namun dia masih bisa mengontrol dirinya karna dia masih sayang sama dirinya sendiri, entah apa yang akan Rayyan lakukan kepadanya kalau dia membalas hinaan Rayyan dengan amarah, yang bisa Rose lakukan disini adalah membela dirinya, dan membantah tuduhan-tuduhan yang diakibatkan olet bibir tidak berakhlak Dio saudara sepupunya, "Kak Rayyan salah paham, apa yang dikatakan oleh Dio itu gak bener, aku bukan ga...."
Namun sepertinya Rayyan tidak memberikan Rose kesempatan untuk berbicara karna dia memotong kata-kata Rose, "Setelah ini, aku tidak ingin melihat kamu memakai pakaian yang kamu pakai itu, bikin sakit mata saja."
Rose diam menahan kekesalannya karna kata-katanya dipotong, dia ingin menjelaskan yang sebenarnya supaya Rayyan tidak menganggapnya wanita murahan, namun laki-laki itu selalu saja memotong setiap kali dia akan membela diri.
Melihat Rose hanya diam bak patung dan tidak membalas ucapannya membuat Rayyan membentak Rose, "Kamu mengerti tidak, aku tidak ingin melihat kamu memakai pakaian kuno yang sudah ketinggalan zaman seperti itu."
"Baiklah kak." angguk Rose.
"Terus apa lagi yang kamu tunggu, cepat duduk."
"Iya kak." patuh Rose mengambil tempat duduk disalah satu kursi kosong.
Meja makan itu panjang dengan 5 kursi yang saling berhadapan, meja makan yang seharusnya untuk keluarga besar hanya ditempati oleh dua orang saja, benar-benar mubazir.
Dimeja makan terdapat berbagai macam lauk pauk yang enak-enak, "Banyak banget makanannya, emang habis dimakan oleh kita berdua." Rose membatin.
"Jadikan dirimu berguna." ketus Rayyan saat melihat mata Rose melihat banyaknya makanan yang terhidang dimeja.
"Ehh." Rose menatap Rayyan untuk pertamakalinya sejak insiden dikamar mandi, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rayyan, "Maksud kakak."
Rayyan mendengus dan menatap Rose dengan tatapan menyebalkan, "Kamu mau membiarkan aku untuk mengambil makananku sendiri hah, tidak adakah yang mengajarimu bagaimana menjadi seorang istri yang berbakti dan berguna."
"Ahh iya, maafkan aku kak." Rose kembali berdiri dan mendekati Rayyan, dia kemudian mengambil piring yang terdapat didepan Rayyan dan mulai mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk.
"Silahkan kak."
"Astagaaa."
"Kenapa kak."
"Kenapa-kenapa." ulang Rayyan, "Kamu fikir aku habis nguli sampai mengambilkan makanan sebanyak ini." protes Rayyan saat melihat piringnya penuh.
"Ya Tuhan, kenapa aku salah terus sieh." desah Rose dalam hati, "Kenapa harus merepotkan orang lain, kenapa tidak ambil sendiri." Rose hanya bisa protes dalam hati saja, dan bibirnya selalu saja melisankan kata maaf, "Maafkan aku kak."
"Aku tidak mau tahu, kamu makan ini makanan sampai habis."
"Mmm, baiklah." fikir Rose dia pasti bisa menghabiskan makanan tersebut, apalagi lauk pauknya enak-enak.
Dan setelah itu mereka menukar piring mereka, dan kini Rose sudah duduk kembali dan menyantap makanannya, begitu juga dengan Rayyan.
Rayyan yang biasanya tidak terlalu banyak bicara dan cool sepertinya memiliki hoby baru sekarang, yaitu mengomentari apapun yang dilakukan oleh Rose, "Kamu tidak pernah dikasih makan oleh keluarga wanita sialan itu sampai kamu makan seperti orang yang tidak pernah makan 3 hari." Rayyan malas menyebut nama Della sehingga dia memanggil Della dengan panggilan wanita sialan.
Mendengar hal tersebut, Rose langsung menghentikan suapannya, gadis itu menunduk, terbayang perlakuan tante Vivi dan kedua anaknya yang selalu memberikannya makanan sisa, dan sekarang saat dia bisa makan dengan layak, Rayyan malah mengata-ngatainya, itukan membuat Rose sedih.
"Jangan sok melow gitu, aku tidak akan ikut prihatin dengan apa yang telah menimpamu." kata Rayyan meskipun sebenarnya dia tidak pernah tahu apa yang menimpa Rose, hal yang dia tahu tentang Rose adalah kalau wanita yang saat ini telah berstatus sebagai istrinya itu adalah sepupu Della dan wanita itu adalah wanita murahan.
"Ahh iya kak, maafkan aku." Rose menahan air matanya, Rayyan selalu saja menghinanya sama seperti yang dilakukan oleh tante Vivi dan kedua anaknya, setiap kali dirinya dihina, disaat seperti itulah Rose selalu ingat sama keluarganya, mama papanya yang sudah meninggalkannya, Raka yang masih belum bangun dari komanya sampai sekarang, "Seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi, mungkin sekarang aku dan kak Raka sudah menikah dan berbahagia, atau mungkin sekarang kami juga sudah punya anak." jerit suara hatinya, dia menatap tangannya yang masih dihiasi oleh cincin yang disematkan oleh Raka dijari manisnya, dan itu membuat kristal bening dari sudut matanya lolos tanpa bisa ditahan, tidak mau Rayyan melihatnya menitikkan air mata karna pasti akan membuat Rayyan marah, Rose buru-buru menghapusnya.
*****
Besok hari senin, dan Rose harus masuk kerja, dan dia belum membicarakan akan hal ini kepada Rayyan, sehingga dia yang saat ini tengah berbaring dikasur empuknya sembari menatap langit-langit kamarnya setelah makan malam menyebalkan bersama Rayyan berencana untuk memberitahukan akan hal tersebut, meskipun sudah menikah dan menjadi istri dari seorang pengusaha muda kaya raya, tapi fikir Rose dia harus tetap bekerja mengingat dia harus tetap membiayai pengobatan Raka, dan Rose juga tidak mungkin akan memberitahukan tentang Raka kepada Rayyan, meskipun Rose memberitahu, Rose yakin kalau Rayyan tidak akan peduli.
Dan meskipun sebenarnya tidak ingin bertatap muka dengan Rayyan, selain karna Rose masih malu saat mengingat kejadian dikamar mandi, Rose juga sangat malas berhadapan dengan Rayyan mengingat laki-laki itu selalu menghinanya, tapi dia harus minta izin sama Rayyan, meskipun tidak dianggap dan hanya sebagai pengganti saja, biar bagaimanapun, Rayyan tetap suaminya, oleh karna itu, Rose mengangkat tubuhnya yang tengah terbaring dan melangkah menuju pintu.
Saat tiba didepan pintu kamar Rayyan, dengan ragu Rose mengepalkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar yang terlihat mengerikan bagi Rose, sama mengerikan seperti yang punya kamar.
Tok
Tok
Tidak ada sahutan, "Kak Rayyan, ini aku, aku ingin bicara dengan kakak."
Namun masih tidak sahutan dari dalam, Rose kembali mengetuk, "Kak Rayyan, apa kakak ada didalam." tetap tidak ada sahutan.
"Kak Rayyan mana ya." bertanya pada diri sendiri.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rita Riau
hati hati Rayyan dgn ucapan mu,,,
kelak wanita yang itu kamu hina pandang rendah,,,itu yg akan bikin gila 🙄🙄
2024-01-17
1