Rayyan berbalik, dan dengan cepat Rose merapatkan jari-jarinya, dia benar-benar tidak ingin melihat barang berharga milik Rayyan.
Rayyan mendengus kesal, "Dasar gadis munafik." imbuhnya sebelum masuk ke dalam bathub, "Sok-sok'an tutup mata padahal dia sudah dicicipi banyak laki-laki, dasar menjijikkan" saat mengatakan hal tersebut, Rayyan tidak bersusah-susah mengecilkan volume suaranya sehingga bisa didengar dengan jelas oleh Rose yang membuat gadis itu sedih.
"Apa kak Rayyan benar-benar berfikir kalau aku gadis murahan gara-gara ucapan Dio."
Rose merasakan kulit tangannya terasa dingin, "Apa hujan, apa kamar mandi kak Rayyan bocor." fikirnya saat merasakan kulit tangannya terasa basah.
Untuk mencari tahu, Rose menurunkan tangannya dan dia bisa melihat Rayyan memercikkan air ke arahnya, sedangkan laki-laki itu kini berendam didalam bathub.
"Kak Rayyan, iseng banget sieh, kan aku jadi basah." pakain Rose juga sedikit basah karna percikan air akibat ulah iseng Rayyan yang seperti bocah, sepertinya Rayyan mengalami masa kecil kurang bahagia.
"Siapa suruh kamu diam kayak patung begitu, dasar munafik, sok-sok'an nutup mata lagi."
"Aku...aku...."
"Cepat kemari." perintah Rayyan otoriter.
Dengan ragu Rose melangkah mendekati bathub, dia sangat berharap agar Rayyan tidak memintanya untuk mandi bersama.
"Pijitin kepalaku, pusing aku."
"Iya." jawab Rose patuh, dalam hati dia bersyukur karna Rayyan tidak memintanya untuk ikut mandi bersama.
Rose duduk disamping didekat kepala Rayyan, dia meletakkan tangannya dikepala suaminya tersebut dan mulai memijit.
Mata Rayyan terpejam saat merasakan pijitan tangan lembut Rose, saking enaknya pijitan tersebut bahkan membuatnya sampai terbuai dan tidur beneran.
Tangan Rose rasanya sudah pegal-pegal, sudah 20 menit dia memijit kepala Rayyan dan belum ada tanda-tandanya Rayyan memintanya untuk berhenti, "Duhh, tanganku." Rose mengeluh dalam hati, namun dia tidak berani untuk meminta untuk berhenti apalagi dilihatnya mata Rayyan terpejam.
10 menit kemudian, Rose sudah tidak tahan, meskipun dia yakin akan kena omel, toh dia memberanikan diri untuk mengguncang bahu Rayyan pelan, "Kak." namun tidak ada respon, sepertinya Rayyan benar-benar sudah terbang ke alam mimpi.
"Kak Rayyan." Rose kembali mengguncang bahu Rayyan dengan agak keras yang membuat laki-laki itu membuka matanya, mata hitam legam itu bertatapan dengan mata Rose yang tepat berada diatas wajah Rayyan, mata yang selalu menatap Rose dengan tajam, Rose langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Dan mau tidak mau, Rose merasa takut juga, dia jadi menyesal karna telah membangunkan Rayyan, dia sudah seperti membangunkan singa tidur saja, "Ya Tuhan, apa yang aku lakukan, kak Rayyan pasti marah."
"Apa." ketus Rayyan.
"Ehh itu, tanganku pe..." Rose akan mengatakan kalau tangannya sudah terasa pegal, namun karna yakin Rayyan sudah pasti marah, dia membelokkan kata-katanya, "Maksud aku, apa kak Rayyan masih lama gitu berendamnya."
"Kenapa, kamu tidak mau memijit kepalaku hah."
"Bukan begitu kak, aku...aku tidak capek kok." Rose mengusahan untuk tersenyum saat mengatakan hal tersebut supaya Rayyan tidak marah, dan tangannya kembali memijit kepala Rayyan.
"Bagus, kamu masih ingin hidup ternyata." Rayyan kembali mengatupkan kelopak matanya, tapi saat ini dia tidak bisa kembali ke alam mimpi, sebagai gantinya, ide iseng tercetus begitu saja dibenaknya.
"Sepertinya seru kali ya kalau aku ngerjain nieh cewek." Rayyan tersenyum evil.
"Mana tanganmu."
"Apa."
"Tanganmu, dasar budek."
"Maksud aku, tanganku untuk apa kak." bingung Rose karna tiba-tiba saja Rayyan menanyakan tangannya.
"Cerewet, aku tidak suka wanita banyak tanya." Rayyan marah, laki-laki itu memang tidak menyukai wanita yang banyak tanya.
Rose buru-buru menyodorkan telapak tangannya didepan wajah Rayyan, dan tanpa peringatan, Rayyan langsung menarik tangan Rose dengan cukup kuat yang membuat tubuh Rose terhuyung dan jatuh kedalam bathub, air didalam bathub bergolak saat tubuh Rose terjatuh dengan keras kedalamnya yang membuat air dalam bathub jatuh kelantai, posisi Rose kini persis berada diatas tubuh Rayyan.
"Hahaha." Rayyan tertawa puas karna berhasil mengerjai Rose yang kini semua tubuhnya basah sempurna.
"Akhhh." keluh Rose menyapu wajahnya yang terciprat air yang berbusa untuk menjernihkan pandangannya.
"Kak Rayyan, iseng banget sieh." Rose mencoba untuk keluar, namun Rayyan menarik pinggangnya dan kembali menjatuhkan gadis itu ke pangkuannya.
Rayyan kembali tertawa.
"Kak Rayyannnnn." Rose dibuat kesal oleh tingkah kekanak-kanakan laki-laki dewasa itu.
Rose merasakan sesuatu yang keras menyentuh pahanya yang masih terbungkus rok, dan Rose tahu apa itu sehingga membuat gadis itu menjerit, "Akhhhhh...." dia buru-buru keluar sebelum ditahan lagi oleh Rayyan, dan tanpa basa-basi, Rose langsung berlari keluar meninggalkan Rayyan yang masih belum bereaksi.
"Akhh sial, kenapa dia hidup lagi." rutuk Rayyan saat sik sik adek tiba-tiba hidup saat bersentuhan dengan Rose.
*****
Rose sudah berganti pakaian dengan baju yang dibawakan oleh om Doni, dia masih belum bisa membuang fikirannya tentang apa yang terjadi barusan dikamar mandi saat Rayyan mengisenginya.
"Ihhhh." Rose menutup wajahnya yang memanas saat mengingat apa yang terjadi barusan, dia rasanya tidak punya muka saat nanti berhadapan dengan Rayyan.
Saat Rose sibuk sendiri membayangkan adegan yang terjadi dikamar mandi, kamarnya diketuk dari luar dan itu berhasil membuatnya berjengit, "Siapa." tanyanya, Rose berharap itu bukanlah Rayyan.
"Saya pak Farhan nona."
Rose terlihat mendesah lega setelah mengetahui itu bukanlah Rayyan, dia berjalan mendekat ke arah pintu, "Ada apa ya pak."
"Nona diminta oleh tuan untuk turun makan malam."
Rose terlihat gelisah, pasalnya dia malu untuk bertemu dengan Rayyan setelah insiden dibathub barusan.
"Mmm, bilang sama kak Rayyan kalau aku tidak lapar." Rose mencoba untuk mencari alasan supaya tidak bertemu dengan Rayyan.
"Meskipun begitu nona, nona harus turun dan ikut makan malam, kalau nona tidak turun, tuan muda bisa marah." jelas pak Farhan.
"Haruskah aku ikut makan malam."
Pak Farhan mengangguk.
Rose terlihat mendesah berat sebelum mengiyakan, "Baiklah, saya akan menyusul sebentar lagi."
"Jangan lama-lama nona, tuan bisa marah."
"Dasar pemarah, dikit-dikit marah, mentang-mentang punya uang dan berkuasa." tentu saja kalimat tersebut hanya dikatakan oleh Rose dalam hati.
"Iya, saya akan segera turun." jawab Rose untuk menenangkan pak Farhan.
"Baiklah nona kalau begitu, dan saya peringatkan sekali lagi nona, jangan lama-lama." setelah mengingatkan untuk terakhir kalinya, pak Farhan berbalik pergi.
Setelah kepergian pak Parhan, Rose berbalik masuk untuk mengambil sweternya karna dia memakai pakaian lengan pendek, setelah itu barulah dia turun untuk makan malam, makan malam pertamanya dirumah sang suami.
Saat tiba diruang makan dan melihat wajah dingin Rayyan, Rose kembali teringat apa yang terjadi dikamar mandi dan itu membuat wajahnya memerah dan terasa panas.
Rayyan yang melihat kehadiran Rose melotot, dengan nada kesal dia berkata, "Kenapa lama sekali, kamu mau membuatku mati kelaparan."
"Apaan sieh kak Rayyan, lebay banget deh, padahal satu detik setelah pak Farhan turun aku juga turun, lagian kalau lapar kenapa gak makan aja dulu, kenapa harus nunggu aku segala." Rose masih sayang nyawa sehingga hal tersebut hanya diungkapkan dalam hati.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments