Tubuh Rose gemetaran, dia benar-benar sangat menyesal kenapa harus kepo dengan urusan Rayyan, kenapa coba dia tidak langsung pergi saja saat mendengar suara Rayyan marah-maraj, tapikan sekarang semuanya sudah terlambat, Rose harus menyiapkan mental untuk dimaki-maki oleh laki-laki yang telah sah berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Kamu." tunjuk Rayyan, "Kemari."
Suara itu terdengar dua kali lebih menakutkan daripada biasanya, dengan langkah berat Rose berjalan mendekat, intinya, Rose sudah menyiapkan kuping dan juga mentalnya.
Rose berhenti tepat didepan Rayyan, dia masih konsisten menunduk, takut banget dia menatap mata Rayyan secara langsung.
"Jadi." Rayyan membuka suara, "Ini yang diajarkan oleh keluarga ommu kepadamu, menguping pembicaraan orang, benar-benar tidak sopan."
"Tidak kak, sumpah aku tidak berniat nguping." Rose buru-buru membantah.
Rayyan meraih dagu Rose dan mencengkramnya sehingga mau tidak mau wajah yang sejak tadi dia tundukkkan mendongak paksa, "Kalau orang ngomong itu lihat orangnya, ternyata kamu benar-benar tidak pernah diajarkan sopan santun hah, sama seperti sepupu sialanmu itu yang tidak punya perasaan sama sekali."
Rose meringis kesakitan karna Rayyan mencengkram dagunya dengan kuat, "Lepasin kak, sakit." rengek Rose.
"Sekali-kali kamu memang harus diajarkan sopan santun dengan cara seperti ini supaya kamu lebih bisa menghargai lawan bicaramu." sinis Rayyan dan setelah itu barulah dia melepaskan cengkramannya didagu Rose dengan kasar sehingga membuat wajah Rose oleng ke samping.
Rose memegang dagunya yang terasa nyeri, sementara Rayyan masih menatapnya dengan tatapan bengis, tidak kuat rasanya Rose menatap mata itu, tapi kemudian dia ingat kata-kata Rayyan barusan sehingga dia mengurungkan niatnya untuk kembali menunduk.
"Aku...aku..tadi aku.." sulit rasanya bersuara dibawah tatapan yang penuh dengan horor tersebut, Rose sudah seperti anak SD yang tidak mengerjakan pr saja, "Tadi itu aku apa...itu anu..." Rose menelan ludahnya karna tiba-tiba saja dia merasa kesusahan untuk berbicara.
"Bicara yang benar, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, memangnya kamu anak umur 2 tahun yang baru belajar ngomong." bentak Rayyan.
Rose berjengit kaget mendengar bentakan tersebut, "Astagfirullah." Rose memegang area dimana jantungnya berada, jantungnya ternyata masih aman ditempatnya.
Rayyan yang memang sejak awal emosi dan bawaannya pengen marah melulu sejak menerima laporan dari salah satu pekerjanya yang mengelola perusahaan cabangnya reflek mengulas senyum tipis, sangat tipis sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang Rose, Rayyan kok rasanya geli melihat Rose, "Kalau sik brengsek itu tidak mengatakannya secara gamblang kalau nieh cewek gadis murahan, mungkin aku akan mengira kalau dia beneran gadis polos." Rayyan kembali memampangkan tampang galaknya.
"Tadi itu aku memang memang mencari kak Rayyan karna ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kakak." suara Rose bergetar dibawah tatapan mematikan suami galaknya tersebut.
Rayyan mendengus kasar, "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan." Rayyan sedikit melunak.
"Itu kak, mmm, aku itu...mmmm..." Rose berharap Rayyan tidak marah kalau mendengar apa yang akan dia katakan.
"Apa sieh sebenarnya yang ingin kamu katakan, sebaiknya kamu pergi sekarang dari ruang kerjaku mumpung saat ini aku berubah fikiran tidak menghukummu karna kelancanganmu menguping pembicaraanku, kamu benar-benar membuang waktu berhargaku."
"Apa aku boleh tetap bekerja." lisan Rose cepat, karna sudah kadung berada didepan Rayyan.
"Hmmm." gumam Rayyan acuh tak acuh, "Itu hal yang kamu bilang penting."
"Mmm, ya begitulah kak, jadi, kakak mengizinkan kalau aku tetap bekerjakan."
"Hmm."
Rose yang sejak tadi ketakutan kini berubah senang karna hmmnya Rayyan berarti iya, "Terimakasih kak Rayyan."
"Gadis ini, cepat sekali ekpresinya berubah, tadi dia mencicit ketakutan, dan sekarang dia sudah tersenyum kembali." Rayyan mengungkapkan keheranannya dalam hati.
"Siapa bilang aku mengatakan iya." imbuh Rayyan menyebalkan, sebenarnya sieh Rayyan tidak peduli dengan kehidupan Rose, toh juga dia menikahi Rose bukan karna cinta, tapi karna tidak ingin menanggung malu karna calon pengantinnya yang tiba-tiba kabur, tapi disini Rayyan ingin mengisengi Rose.
"Ehh." Rose sudah mulai was-was, kalau dia tidak diizinkan untuk bekerja, dari mana coba dia mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Raka, memang sieh Rayyan kaya raya, Rose yakin, mau seumur hidup Raka dirumah sakit sekalipun harta suaminya itu tidak akan habis untuk membiayai rumah sakit Raka, sayangnya disini, Rose yakin suaminya tidak akan mau membuang-buang uang untuk membayar biaya rumah sakit kakak angkatnya.
"Kamu boleh tetap bekerja dengan syarat."
"Syarat." ulang Rose, "Kenapa pakai syarat segala sieh." desahnya dalam hati, "Jangan sampai syaratnya tidur dengan dia, aku gak mau melakukannya dengan laki-laki pemarah dan galak seperti dia."
"Syaratnya apa kak." berusaha tetap tenang.
"Hmmmm." Rayyan terlihat berfikir sejenak, "Menyanyi dan menarilah didepanku."
"Hahh." dari semua hal yang Rose fikirkan, menyanyi dan menari tidak masuk dalam hal yang dia perhitungkan, "Ha ha ha." Rose tertawa garing karna berfikir kalau itu cuma bercanda, "Menyanyi dan menari, kak Rayyan ini ada-ada saja, emangnya aku anak TK apa dikasih syarat begituan."
Tapi sepertinya syarat itu memang serius deh, buktinya Rayyan tidak tampak bercanda, memang kapan sieh wajah Rayyan menampakkan wajah seperti orang bercanda, sejak lahir juga bentukannya memang sudah seperti itu, dingin dan datar kayak tembok.
"Kakak serius."
"Memangnya kapan aku pernah bercanda."
"Bisa yang lain tidak kak syaratnya, aku...."
"Aku ingin kamu menyanyi dan menari dihadapanku titik, tidak ada syarat lain."
"Tapi aku...."
"Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu untuk bekerja."
"Eh iya iya kak, aku akan menari dan menyanyi." pasrah Rose, suara Rose tidak bisa dibilang bagus, tapi ya gak bikin orang sakit kuping juga sieh kalau mendengar suaranya menyanyi, tapi disini hal yang paling tidak bisa dilakukan oleh Rose adalah menari.
"Apa yang kamu tunggu, cepatan." bentak Rayyan, laki-laki ini sebenarnya butuh hiburan, dan dia memanfaatkan Rose untuk menghiburnya.
"Iya kak Reyy tunggu bentar." Rose berfikir apa kira-kira yang akan dia nyanyikan.
"Ahh iya, lagu tiga beruang yang dinyanyikan oleh Song Hyo Kyo didrama full house saja." Rose memutuskan pada akhirnya menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh Song Hyo Kyo, full house merupakan drama korea paforitnya, dia sudah berulangkali menonton tuh drama sehingga Rose hafal diluar kepala lirik lagu 3 beruang.
Rose mulai mengambil tempat yang strategis dan menghadap ke arah Rayyan, sebenarnya Rose malu banget, tapi daripada Rayyan tidak membiarkannya kerja dia terpaksa menekan rasa malunya.
"Baiklah kak, aku akan membawakan lagu tiga beruang."
"Tiga beruang, yang benar saja, kamu fikir aku ini anak TK apa yang harus mendengarkan lagu tentang beruang." Rayyan protes.
"Aku bisanya cuma itu doank kak."
Rayyan bergumam tidak jelas sebelum berkata, "Baiklah, lagu TKpun tidak masalah."
Rose mengangguk senang dan mulai menyanyi dan menari, saat melakukannya dia berusaha ingat gerakan han Ji Eun yang diperankan oleh Song Hyo Kyo.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Rita Riau
di part ini bikin aku ketawa,,, ternyata tuan arogan bisa ngelawak juga,,,
dan rose polos banget tapi pecicilan 🤔🤭😁😁😁
2024-01-17
0