Sementara itu, didalam sebuah mobil mewah, seorang laki-laki tampan dengan mengenakan stelan jas formal tengah duduk dikursi penumpang, laki-laki gagah itu mungkin terlihat tenang diluar, tapi tidak dengan hatinya, hal ini dikarenakan karna kekasihnya yang marah karna dia terpaksa harus membatalkan janji kencan yang telah mereka sepakati karna dia harus menemui klien dari luar negeri malam ini, karna kliennya itu hanya ingin bertemu malam ini dan tidak bisa diwaktu lain.
Laki-laki itu adalah Rayyan Pratama, pengusaha muda yang tengah naik daun karna usaha yang dia jalankan berkembang dengan pesat, laki-laki muda yang menginspirasi sehingga membuat wajahnya menjadi langganan sampul-sampul majalah bisnis, dengan segala hal yang dia miliki, banyak gadis-gadis muda dari semua kalangan, baik dari kalangan anak pejabat, artis, model yang mendekatinya, dan pilihan Rayyan ternyata jatuh pada Della, dan Rayyan tidak berniat untuk pindah ke lain hati sedikitpun, disini, Della merupakan gadis yang beruntung karna berhasil mendapatkan Rayyan ditengah banyaknya wanita yang menginginkan Rayyan.
Rayyan kembali menghubungi nomer kekasih yang begitu sangat dia cintai, sayangnya, nomer Della tidak aktif, Rayyan menghembuskan nafas berat dan bersandar dikursi mobil yang dia duduki, "Della, Della." gumamnya mengingat tingkah kekasihnya yang cendrung kekanak-kanakan, gadisnya itu hobi sekali ngambek, dan kalau ngambek sudah pasti akan minta putus, tapi Rayyan yang begitu sangat mencintai Della dengan sabar menghadapi tingkah gadis itu.
"Kapan kamu akan berubah sieh sayang, kenapa kamu tidak bisa dewasa sedikit, padahal kita akan menikah sebentar lagi." keluhnya, keluhan ini sudah sangat sering keluar dari bibir Rayyan, namun meskipun begitu, rasa cintanya tidak berkurang sedikitpun untuk Della.
Dalam hati Rayyan berjanji akan langsung ke rumah Della begitu pertemuan bisnis yang dirangkaikan dengan acara malam berakhir, Rayyan paling tidak bisa melihat kekasihnya ngambek begini.
*****
Setelah keluarga omnya selesai makan malam, disaat semuanya duduk santai sambil nonton TV diruang keluarga, tidak begitu dengan Rose, dia harus mencuci piring bekas makan keluarga omnya itu, keluarga omnya tidak memiliki pembantu sehingga semuanya Rose yang harus mengerjakan pekerjaan rumah meskipun dia juga sebenarnya bekerja disebuah perusahaan, dia harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, pulang bekerja juga harus langsung pulang, intinya, Rose tidak punya waktu untuk bersenang-senang, tante Vivi benar-benar menganggapnya sebagai pembantu gratis dirumah tersebut.
Saat tengah mencuci piring-piring kotor, Rose dikaget dengan tepukan dibokongnya, hal tersebut reflek membuatnya menoleh, wajah mesum Dio menyambut indra penglihatan Rose dan itu membuatnya sangat murka.
"Jangan kurang ajar ya kamu Dio." berangnya menunjuk wajah Dio.
"Duhh galaknya, tapi gue suka, lo makin galak makin menggoda." Dio mengedipkan matanya genit.
Sumpah melihat wajah Dio tersebut membuat Rose jijik dan ingin melayangkan piring-piring yang saat ini tengah dicucinya ke wajah Dio, tapi dia masih bisa menahan diri, karna kalau hal itu dia lakukan, sudah pasti dia akan diusir dari rumah itu, sedangkan dia tidak tahu harus pergi kemana.
"Dasar laki-laki menjijikkan kamu Dio." desis Rose.
"Ayoklah, jangan sok munafik, gue tahu, lo senangkan kalau gue sentuh, apa lo mau yang lebih, lo mau dimana, dikamar gue atau dikamar lo."
Plakk
Saking marahnya, Rose tidak sadar tangannya lebih dulu melayang dipipi sepupunya yang mesum itu, saking kerasnya tamparan itu sampai membuat wajah Dio oleng ke samping, fikir Rose, Dio benar-benar kurang ajar kali ini, padahal mereka adalah saudara, belum lagi Rose lebih tua darinya, tapi saudara sepupunya itu sama sekali tidak pernah menghargainya.
"Dasar wanita sialan." Dio marah, laki-laki itu menekan bahu Rose dan mendorongnya hingga menempel dibak wastfel cuci piring, dan seketika Dio mendekatkan wajahnya untuk mencium Rose.
Rose yang tidak terima meronta dan memukul dada Dio, "Lepasin aku Dio, lepasin." Rose meronta, dia benar-benar terhina karna dilecehkan begini sampai membuat air matanya jatuh.
"Wanita sialan, rasakan akibat perbuatanmu."
"Lepaskan aku Dio."
Dan belum sempat Dio berhasil melaksanakan niatnya, mamanya tiba-tiba memasuki dapur, wanita itu terkejut melihat adegan yang tengah terjadi didapur.
"Dio, apa-apan ini." bentak mama Vivi menatap tajam anak laki-lakinya dan keponakannya.
Mendengar suara sang mama, Dio buru-buru menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Rose, "Ehh mama." lirih Dio santai seolah-olah dia tidak melakukan sesuatu yang salah.
Rose menghapus air matanya.
Mama Vivi menatap Dio dan Rose bergantian, dan kemudian tatapannya tajam ke arah Rose "Apa yang kamu lakukan pada putraku Rose."
Selalu seperti ini, meskipun bukan dia yang salah, tapi pasti dia yang akan disalahkan, tidak ada gunanya membela diri, sudah pasti tantenya akan tetap menyalahkannya, tapi meskipun begitu, Rose tetap membuka bibirnya berharap keberuntungan kali ini berpihak kepadanya, "Aku tidak...."
Sayangnya, kata-katanya dipotong oleh mama Vivi sebelum dia berhasil menuntaskan kata-katanya untuk membela diri, "Kamu menggoda putraku lagi hah." mata mama Vivi melotot, ini bukan untuk pertama kalinya memang mama Vivi memergoki putranya yang bersikap kurang ajar sama Rose, tapi selalu saja Rose yang dituduh menggoda Dio.
"Dasar wanita gatal, kasihan sekali tunanganmu itu, ternyata dia mencintai wanita ******." Rose dikata-katai sedemikian rupa dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.
Dio tersenyum puas, karna mamanya lagi-lagi menyalahkan Rose, "Rasain kamu, kalau kamu nurutkan gak jadi seperti ini jadinya." batin Dio.
"Bukan begitu tante, aku...." air mata Rose kembali mengalir yang membuat kata-katanya tidak bisa keluar, "Aku tidak...aku tidak menggoda Dio, Diolah yang selalu bersikap kurang ajar sama aku."
"Bohong ma, mana mungkin aku bersikap kurang ajar sama dia, dia tidak semenarik itu kali."
"Dasar wanita tidak tahu diri, sudah numpang hidup dirumah kami, kamu malah memfitnah Dio lagi, kalau bukan karna om kamu, tante sudah lama mendepak kamu dari sini."
Papa Doni yang akan meminta Rose membuatkannya kopi masuk ke dapur dan melihat ketegangan yang terjadi disana, "Ada apa ini, papa dengar ada suara teriak-teriak."
"Ini nieh pa keponakanmu itu." mama Vivi menunjuk Rose, "Dia lagi-lagi menggoda Dio dan memfitnah Dio kalau Diolah yang melecehkannya."
Papa Doni sangat yakin kalau Rose tidak pernah melakukan hal seperti yang dituduhkan oleh istrinya, dia yakin disini memang Diolah yang salah, putranya itu memang agak bandel, namun terang-terangan mengatakan apa yang difikirannya tentu saja membuat istrinya semakin marah, dan papa Doni tidak ingin memperpanjang masalah sehingga dia mengatakan, "Papa rasa ini hanya salah paham doank ma, sudahlah, hal ini sebaiknya tidak usah diperpanjang, ini sudah malam, kita sebaiknya istirahat saja." papa Doni memandang Rose dengan prihatin, dia kasihan dengan keponakannya yang hampir tiap hari dimarahi oleh istrinya, tapi toh dia tidak bisa berbuat apa-apa, karna kalau dia membela Rose, maka istrinya juga akan memarahinya juga.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Tarmi Widodo
keluarga gila
2023-11-05
0