Kami menyelesaikan permainan terakhir saat waktu hampir menunjukkan pukul lima pagi.
Mas Prasetyo benar benar menyalurkan semua energinya sedangkan aku, aku merasakan kepuasan berkali kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Pagi ini gak usah masak, kita sarapan di luar saja~" ucap mas Prasetyo berbisik padaku .
Saat ini kami saling membersihkan diri di dalam kamar mandi, menggunakan air hangat agar tidak kedinginan.
"Iya mas, habis ini aku siapin anak anak dulu." tubuh kami melekat tanpa jeda di bawah gitu shower air hangat.
Sesekali kami saling menggoda namun tidak sampai melakukan permainan tambahan karena sebentar lagi anak anak sudah pada bangun dan mas Prasetyo juga harus bersiap ke kantor .
Aku dan mas Prasetyo sama sama mengenakan pakaian kasual santai, kami layaknya pasangan bucin yang selalu nyaman saat berduaan hingga semua masalah kemarin seakan sirna begitu saja.
Pagi ini kami berempat pergi ke sebuah taman di dekat kawasan apartemen, anak anakku ingin makan bubur ayam.
Masih ada waktu sebelum mas Prasetyo berangkat kerja nanti pukul delapan.
Kami berjalan kaki sambil bergandengan, Rasya dan Arsya tampak begitu nyaman saat mas Prasetyo menggandeng tangan mereka.
Berjalan sekitar delapan menit akhir nya kami sampai di tempat yang kami tuju.
Aku memesan empat porsi bubur ayam, sedangkan mas Prasetyo mengajak anak anak membeli minuman.
Aku duduk menunggu pesanan siap sambil memindai sekitar, entah kemana mas Prasetyo dan anak anak membeli minuman. Mereka belum kembali dan pesanan bubur ayam juga masih antri dengan pembeli lain.
Huft~ ini bukan akhir pekan tapi penjaja sarapan selalu ramai dikerumuni pembeli.
"Kumala dewi.." tiba tiba seseorang duduk di dekat ku sambil memanggil namaku.
Aku menoleh karena merasa suara itu tidak asing, " Kamu ?? "
Netraku membelalak melihat kehadiran mas Heri yang tiba tiba.
"Sudah lama sekali , istriku~" ucap mas Heri sambil tersenyum.
Senyum yang dahulu mungkin tampak menawan namun kini senyum itu terlihat aneh bagiku.
"Apa yang kamu lakukan disini, mas ? Pergilah kita tidak ada urusan." aku bicara berbisik agar tidak menarik perhatian orang sekitar.
"Tentu saja kita masih punya urusan, kamu masih istriku dan aku masih berhak untuk itu" suara mas Heri begitu lekat di telinga ku.
Tubuhku mematung tak bisa bergerak, jantung ku berdebar debar lebih kencang . Aku tidak siap untuk pertemuan ini, aku tidak menginginkan mas Heri muncul di kehidupanku sekarang.
"Pergilah mas, aku tidak mau berhubungan lagi denganmu." aku membuang muka berharap mas Prasetyo dan anak anak masih lama kembali.
Aku tidak mau Rasya dan Arsya bertemu ayah mereka lagi, aku tidak mau !!
"Dimana anak kita sayang ?" tanya mas Heri masih dengan tetap mengintimidasi.
"Pergilah, atau aku teriak maling nih !" aku berucap tegas meski bernada pelan. Aku tidak mungkin memancing perhatikan publik.
"Mana ada istri meneriaki suaminya maling, kamu sudah berubah Dewi. Awas saja nanti akan aku pastikan kamu dan anak anak kembali padaku !" ucap mas Heri bernada ancaman setelah melihat ke sebuah arah entah apa .
Aku memejamkan mata menahan emosi sambil mengatur nafas , hingga sesaat kemudian Terdengar suara lain yang sangat familiar,
"Ibuk , ini minuman untuk ibu~" Rasya mengulurkan sebuah botol berisi minuman yang dibeli di sebuah minimarket.
"Ah iya nak, makasih ya. Yang lain mana nak ?" aku mengusap kepala putra sulung ku sambil mengamati sekitar.
Sangat berharap mas Heri tidak berkeliaran disekitar kami lagi.
"Adek masih jalan di belakang sama om Pras buk, nah itu mereka !" seru Rasya menunjuk ke arah Arsya dan mas Prasetyo yang berjalan mendekat.
"Apa pesanan kita sudah siap ? Yuk kita sarapan." senyum teduh mas Prasetyo kala mengajak kami semua memulai sesi sarapan bersama.
Bubur ayam hangat kami nikmati dengan suasana kekeluargaan, sungguh kami tampak layaknya keluarga bahagia.
Beberapa orang bahkan melontarkan pujian pada kami. Aku dan mas Prasetyo hanya membalas lewat senyum ramah.
Sementara itu dari kejauhan tampak Heri Santoso mengintai dari tempat yang sulit terlihat. Diam diam Heri memperhatikan setiap gerak gerik sang istri yang menampakkan ekspresi berbeda dibandingkan saat bersama nya tadi.
'Siapa pria itu, apa dia selingkuhan kamu Dewi ?' gumam Heri pelan .
Heri tidak melihat Adam Prasetyo dengan jelas karena posisinya membelakangi. Hanya wajah cantik Kumala dewi yang tampak bersinar meluluhkan hatinya.
'Aku harus mencari cara untuk mendapatkan kamu kembali, aku bersumpah kalian harus kembali padaku.' ucap Heri Santoso dengan tangan terkepal kemudian berlalu pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Sementara itu jauuh di tempat lain,
"Faster daddy ahh~" suara racauan Sari yang tengah menikmati pergumulan panas bersama sugar daddy nya di sebuah Villa di pulau Lombok.
Seorang sugar daddy baru yang Sari dapatkan berasal dari negara Australia. Seorang pengusaha yang diyakini jauh lebih sukses ketimbang Adam Prasetyo.
"You so tight baby ughh~" pinggul keras itu menghujam tanpa ampun.
Sari yang tengah di mabuk dalam Lautan asmara diatas ranjang tidak menyadari jika sedari tadi ponselnya terus berbunyi.
"Ahh Daddy deeper, kiss me dad~" Sari meraih tengkuk leher sang sugar daddy kemudian berciuman liar.
hhmmpphh~ hhmmpphh~
Sugar daddy bernama Alex itu begitu memuja tubuh Sari yang terasa legit seperti perawan, hingga sejak tiba di hotel Kemaren siang sampai pagi ini tidak mengijinkan Sari beristirahat.
Aktivitas mereka hanya di dalam kamar, makan, bercinta, makan , bercinta. Begitu seterusnya..
"I need shopping after this dad, ahh yeahh i like that~" tubuh seksi Sari terpental pental di tepi ranjang menikmati dengan pasrah milik Alex yang masih enggan lemas.
"Sure baby, after we finish this one ughh~" Alex sampai Memejamkan mata menengadah ke langit langit kamar kala merasakan miliknya terus terhisap di dalam liang berlendir.
Dering ponsel Sari terus berbunyi hingga hampir setengah jam sudah ada puluhan panggilan suara tak terjawab dan juga rentetan notifikasi pesa dari seseorang.
'Sial !! Kenapa Sari tidak merespon , Aargghh !!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments