Sementara itu di perusahaan,
Tampak Adam Prasetyo yang notabene adalah seorang CEO tampak memasang raut muka serius kala sang ibu tiba tiba mengunjungi dirinya.
"Seharusnya ibu menelpon saja biar aku yang ke rumah." ucap Adam Prasetyo usai mempersilakan sang ibu masuk.
"Aih, ibu tidak yakin kamu bakalan angkat telpon dari ibu. Makanya begitu ada waktu luang ibu memilih untuk menemui kamu langsung." nyonya Amalia tampak duduk dengan anggun di sebuah sofa.
Sorot netranya menatap bangga akan sosok sang putra yang sukses meniti karir ,namun beberapa saat kemudian raut muka nyonya Amalia berubah.
Wanita berusia hampir separuh abad itu tampak masam saat ingin memulai pembicaraan.
"Eghem Dam, ibu pingin ngomong tolong kamu denger baik baik ya. Jadi begini, "nyonya Amalia tampak menghela nafas.
"Katakan saja bu, aku mendengarkan." jawab Adam Prasetyo singkat sambil tetap fokus memeriksa berkas laporannya di hadapannya.
"Kemarin lusa ibu dapat kabar, dari istrimu Retno."
"Dia bukan istriku ibu, kami sudah bercerai."
"Tapi pengadilan belum mengeluarkan surat perceraian kalian secara resmi anakku."
"Tetap saja bagiku dia adalah mantan istri. Langsung saja bu,katakan apa poin utamanya ?"
Adam Prasetyo menaikkan satu alisnya kala menatap sang ibu.
Huft~
"Retno mengunjungi rumah ibu sambil menangis. Dia bilang tidak ingin bercerai sama kamu. Kasihan loh nak kondisi dia begitu memperihatinkan." ucap sang ibu yang masih enggan mengatakan maksud kalimatnya.
"Yang Retno alami adalah ulahnya sendiri bu, bagi Adam tidak ada kata maaf untuk pengkhianatan. Dia pasti terlalu mendramatisir keadaan sampai membuat ibu jadi kepikiran. " ucap Adam Prasetyo tegas.
"Bukan itu nak,masalahnya si Retno itu datang ke rumah dalam kondisi hamil. Setelah sekian tahun kalian menikah akhir nya dia hamil dan ibu ingin kamu membatalkan perceraian dan kembali menerima Retno sebagai istri sah kamu." mulut nyonya Amalia sedikit bergetar, dia tahu betul sang putra pasti tidak akan mau.
"Itu buka benihku. Apa ada hal lain yang penting dan ingin ibu sampaikan ? Pekerjaan ku masih banyak." ucapan Adam Prasetyo dengan ekspresi jengah.
"Apa tidak ada sedikit pun celah di hati kamu untuk menerima Retno ? Kamu tahu kan ibu sudah sangat lama menginginkan kehadiran cucu. Ibu mohon kamu pertimbangkan ya nak, demi ibumu ini." suara nyonya Amalia dibuat seolah olah rapuh.
Adam Prasetyo mengerti apa yang diinginkan sang ibu namun, dirinya juga enggan menceritakan hal yang sebenarnya yang menjadi sebab dirinya menggugat cerai sang istri, Retno.
"Aku sibuk , ibu bisa pergi jika sudah selesai." singkat jawaban sang putra membuat nyonya Amalia merasa kecewa.
"Baiklah, ibu akan pulang. Tapi ingat ya anakku, ibu sangat berharap kamu bisa kembali menerima Retno dan bertanggung jawab atas kehamilannya." nyonya Amalia segera bangkit dari duduk nya dan meraih tas branded yang tadi diletakkan diatas meja kemudian pamit meninggalkan ruang kerja Adam Prasetyo.
Adam Prasetyo menatap kepergian sang ibu lewat sudut matanya , setelah pintu kerja kembali tertutup Adam Prasetyo menghela nafas nya yang tiba tiba terasa sesak.
"Berani sekali wanita itu menemui ibu. Padahal hanya tinggal menunggu surat cerai diloloskan pengadilan, huft~"
Adam Prasetyo tampak melonggarkan dasi yang dipakai kemudian bersandar pada kursi sambil memejamkan mata.
Proses perceraiannya memang lancar awalnya, hakim juga tampak bersedia mengabulkan tuntutan cerai nya hingga , kala itu Retno begitu sulit diajak bekerja sama. Hingga surat perceraian yang seharusnya sudah jadi sampai sekarang masih tertahan di kantor pengadilan.
Memikirkan sang mantan istri sungguh membuat kepala Adam Prasetyo terasa pusing nyut nyutan.
Fokus pikirannya tidak bisa melanjutkan pekerjaan hingga akhirnya, dia menelpon sang asisten agar datang ke ruangannya.
Kurang dari dua menit sang asisten sudah berada di dalam ruangan dengan posisi berdiri hormat.
"Handle pekerjaan ku hari ini, aku pusing dan ingin istirahat di rumah." ucap langsung Adam Prasetyo.
"Baik tuan." jawaban singkat yang ingin di dengar bos.
"Aku tahu kamu paling bisa diandalkan, bye."
Adam Prasetyo tampak melangkah kan kakinya keluar dari ruangan dan langsung menuju lift di ujung lorong .
Tiba tiba saja hati Adam Prasetyo menjadi gundah, hingga memutuskan untuk segera pergi menemui sang pujaan hati yang saat ini pasti sudah berada di apartemen yang dia siapkan.
Setelah perjalanan yang kurang dari tiga puluh dua menit, Adam Prasetyo sudah tiba di gedung pencakar langit tempat apartemen yang dia beli berada.
Langkah kaki jenjangnya masuk ke dalam lift lalu menekan tombol untu lantai tempat unitnya berada.
Tingg~
Suara pintu lift terbuka, dengan langkah percaya diri Adam Prasetyo langsung masuk ke dalam apartemen menggunakan kartu akses yang dimiliki olehnya dan satu lagi dipegang Kumala Dewi.
Netra setajam elang itu tampak menyapu seluruh ruangan,mencari keberadaan sosok pujaan hati.
"Kemana dia ? " gumam Adam Prasetyo kala tidak menemukan keberadaan Kumala Dewi di ruangan .
Dengan langkah kaki panjangnya Adam Prasetyo naik ke lantai atas , tujuannya adalah mencari keberadaan sang pujaan hati.
Unit apartemen mewah ini memiliki satu kamar utama yang terletak di lantai atas, sedangkan beberapa kamar ada di lantai bawah.
Hunian mewah modern yang belum banyak dimiliki kalangan konglomerat membuat nilai kebanggaan tersendiri bagi yang menempati.
Ceklek~ kamar utama tampak kosong. Tidak menemukan sosok yang dicari Adam Prasetyo mencari ke sebuah ruangan lain yang juga berada di lantai atas.
Benar saja ternyata Kumala Dewi tidur lelap bersama dua putranya. Melihat Rasya dan Arsya tidur begitu lelap maka Adam Prasetyo mengendap endap mendekati ibu mereka lalu,
"Dewi, bangun sayang ~" Adam Prasetyo mengusap lembut wajah Kumala Dewi yang tampak tenang tak terusik.
"Astaga menggemaskan sekali sih, bisa bisanya dia tidak terbangun. Hhmm baiklah kalau begitu~" gumam Adam Prasetyo pelan saat memikirkan sebuah ide .
Dengan satu gerakan kuat , Adam Prasetyo merengkuh tubuh wanita nya itu dengan sangat hati hati.
Tujuannya adalah memindahkan Kumala Dewi ke kamar utama, tempat mereka berdua akan menghabiskan setiap malam bersama.
Sedangkan anak anak akan tidur di kamar mereka masing masing.
Ceklek~ suara pintu terbuka.
Adam Prasetyo yang menggendong tubuh Kumala Dewi layaknya pengantin mulai merebahkan pelan di atas ranjang.
Tampak pria berusia matang itu merapikan Surai rambut Kumala Dewi yang menutupi wajah cantiknya lalu sebuah kecupan singkat mendarat di kedua pelupuk mata wanita itu berharap jika di si empunya terbangun.
Eunghh~
Bukannya terbangun justru wanitanya itu hanya melenguh pelan , kemudian sepersekian detik kemudian mencari kenyamanan dalam posisi tidurnya.
Adam Prasetyo hanya menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum tampan, rasa penat yang melanda seolah sirna begitu saja kala menatap Kumala Dewi.
Gagal membangunkan pujaan hatinya Adam Prasetyo memilih untuk ikut berbaring tepat di samping Kumala Dewi .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments