Ceklek~
Aku mendengar suara sakelar lampu di nyalakan, otomatis aku membuka mata namun tetap menunduk sambil masih saja terisak.
Ternyata aku se pengecut ini, menjual diri sudah keputusan ku tapi kenyataannya aku masih ketakutan dan risih, hiks ~
"Angkat wajahmu dan bangunlah." ucap pria itu terdengar tegas melewati diriku lalu duduk di sebuah sofa panjang dekat ranjang.
"Ba.. Baik tuan " aku mengusap pipi kiriku yang basah, dan juga pipi kananku, kemudian dengan langkah kaki ragu dan gemetar aku duduk di tempat yang ditunjuk pria tersebut.
"Lihat aku, katakan siapa namamu heum ?" suara pria itu terdengar begitu dalam, aura tegas sangat kentara membuat aku memberanikan diri menatap wajahnya sambil menjawab ,"Lala tuan, nama saya Lala."
Degg~ Tatapan itu..
Kedua mata pria yang aku belum tahu siapa namanya itu tampak tidak asing. Seperti aku pernah melihat sebelum nya dan aneh nya adalah kenapa aku seperti mengenal pria itu, tapi kami baru bertemu sekali ini kan ? Lalu perasaan apa ini Gusti ?
"Tenanglah La, aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku malam ini. Kamu bisa panggil aku Tio." ucap pria yang mengaku bernama Tio itu.
Netra kami saling beradu, pandangan kami saling terkunci dan tidak bisa aku pungkiri, Tio sangat tampan dan gagah. Postur tubuhnya layak seperti model majalah dewasa yang seksi nan atletis.
Malam ini Tio mengajak aku bercerita ini itu sampai tidak terasa waktu mulai menjelang fajar yang artinya sebentar lagi aku harus segera pulang ke rumah dan kembali menjalani hari sebagai Kumala Dewi, ibu dua orang anak .
Mas Tio, begitu dia ingin dipanggil. Dia menawarkan diri untuk mengantar aku pulang namun aku menolak dengan alasan , "Jangan mas, tidak enak kalau ada yang lihat nanti."
Padahal itu hanya alasanku saja untuk menghindari terlalu dekat dengan pria yang baru pertama kali aku temui.
Akhirnya setelah sedikit drama, aku bisa pulang dengan selamat. Sebelum aku dan Mas Tio berpisah tadi, dia mengatakan ingin kembali bertemu dan aku sempat mengangguk meski ragu apakah aku akan menemui Mas Tio lagi apa tidak.
Aku memesan transportasi online untuk mengantarkan aku kembali ke rumah Sari, dalam waktu kurang dari satu jam aku sudah sampai. Saat ini matahari mulai menyingsing menghangatkan bumi.
Tubuhku menghangat kala sinar matahari menerpa mengiring i langkah kakiku memasuki pekarangan rumah.
Setibanya di rumah aku segera membersihkan diri, sebelum anak anakku bangun aku harus sudah rapih seperti biasanya.
Setelah membersihkan diri aku gegas menuju dapur, seperti biasa aku akan menyiapkan sarapannya sebelum kedua jagoanku terbangun.
Saat aku sedang menyeduh secangkir kopi, tiba tiba Sari menyeletuk santai dari arah pintu dapur, "Gimana semalam Dew ? Gak sulit kan ?"
"Ehmm Sari, sini deh aku mau cerita ke kamu. Sebenarnya.."
Aku menceritakan semua yang aku alami dari awal sampai akhir. Sari hanya menyimak dengan sesekali tersenyum lalu menghela nafas.
"Apa menurut mu pria itu akan benar benar mencari ku lagi ? Dia bilang padaku untuk tidak menerima ajakan pria lain selain dirinya. " aku mengatakan dengan ragu tapi kenyataannya mungkin aku memang senaif itu.
Terlalu mudah percaya omongan orang lain.
"Aku bakal bantu cari tahu siapa sebenarnya si Tio itu. Kalau dia big bos atau konglomerat tulen mungkin gak apa , tapi kalau dia cuma pengusaha biasa mending cuekin aja Dew, karena tujuan kita kerja kan biar dapet duit banyak. Kalau ketemunya pria kere ya jangan mau , minimal target kamu itu konglomerat setara pejabat DPR Dew, biar bisa menjamin kesejahteraan kamu sama anak anak kamu ya kan." Sari tersenyum sambil terkekeh pelan mengambil alih secangkir kopi yang barusan aku seduh .
Setelah itu, aku lanjut menyiapkan sarapan kemudian membangunkan Rasya dan Arsya. Setelah memandikan dua jagoanku, kami makan bersama.
Pagi ini Sari ada urusan keluar kota, katanya daddy nya menelpon menginginkan dirinya datang. Suasana rumah menjadi sepi , hanya ada aku menemani anak anak bermain di ruangan khusus bermain .
Aku memainkan ponselku sembari mengawasi anak anak , beberapa foto dan video saat dua jagoanku bermain aku abadikan lalu aku simpan di gallery.
Saat sedang merekam aktivitas Arsya dan Rasya tiba tiba ponselku berdering,
Ddrrttt~
Ddrrtt~
Aku melihat nomor yang masuk adalah tidak dikenal artinya ini orang asing tapi entah kenapa jari telunjuk ku refleks menggeser tombol warna hijau pada layar hingga tersambung dalam panggilan suara .
"Halo~" ucapku memberi salam, begitu juga suara diseberang sambungan yang membalas suaraku.
"Halo Lala, ini aku Mas Tio." suara merdu pria yang semalam hampir meniduriku ternyata.
Seketika aku menjauh dari ruang bermain dan membiarkan anak anakku melanjutkan main agar tidak harus mendengar pembicaraan dewasa antara aku sebagai Lala dengan klien ku.
Aku dan Mas Tio berbincang di teras rumah. Suara Mas Tio sangat ramah merasuk ke indera pendengaran ku. Kami berbincang dengan sedikit rasa canggung awalnya.
Namun setelah satu jam , aku mulai bisa mengakrabkan diri dan merespon setiap kalimat yang di lontarkan Mas Tio dengan baik.
Sesekali aku berbicara dengan nada manja, namun seketika bibirku berhenti berucap saat mendengar Mas Tio mengatakan ingin ketemuan.
"Kita ketemuan di restoran sekalian makan siang gimana, mau kan ?" ajak Mas Tio.
"Tapi, Hhmm baiklah kita ketemuan pukul setengah satu siang di restoran MM ya Mas Tio." aku tidak kuasa menolak ajakan Mas Tio entah kenapa.
Setelah itu kami lanjut ngobrol sampai panggilan selesai setengah jam kemudian.
Aku menyanggupi ketemuan dengan Mas Tio karena jam segitu anak anak sudah masuk jam tidur siang. Jadi aku pikir tidak masalah meninggalkan dua jagoanku di rumah sebentar.
"Rasya, ibuk mau pergi keluar sebentar. Jagain adek ya nak. Nanti ibuk pulang bawain McD buat kalian gimana, mau kan ?" ucapku kepada Rasya yang tentu saja mengangguk setuju.
"Tapi ibuk jangan lama lama ya buk, nanti kalau bangun bobok adek nyariin ibuk gimana." ucap Rasya .
Aku menulis nomor ponselku di secarik kertas kemudian meletakkan di dekat telpon rumah. "Kalau dek Asrya bangun tapi ibuk belum pulang, Rasya telpon ibuk ya. Ini nomor nya ibuk taruh di dekat telpon. Pintar ya nak." aku pun berpamitan.
Menggunakan motor matic milik Sari aku menuju ke alamat restoran MM, tepat di pukul dua belas lebih dua puluh menit aku sudah sampai dan duduk menunggu kedatangan Mas Tio.
Selang beberapa menit Mas Tio tampak melangkah kan kaki menghampiri aku dengan senyum tampannya,
Kami berdua memesan makanan, setelah itu lanjut mengobrol layaknya remaja ABG yang lagi pedekate. Setiap sikap dan perilaku Mas Tio manis sekali membuat jantung terus berdebar tak karuan.
Satu jam lebih aku dan Mas Tio akhirnya berpisah. Mas Tio dengan mobil mewahnya dan aku dengan motor matic . Sebelum berpisah Mas Tio mengatakan sesuatu padaku,
"Nanti malam kita telponan lagi ya La, " ucap Mas Tio ramah sambil mengedipkan satu kelopak matanya.
"Iya Mas , telpon setelah jam sepuluh malam saja ya." jawabku sopan sambil tersenyum semanis mungkin.
Tentu saja aku harus menunggu anak anakku tertidur dulu biar bisa leluasa mengobrol hal hal dewasa dengan Mas Tio .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments