Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam , berkali kali aku menatap jam di dinding bertanya tanya kenapa mas Prasetyo tak kunjung datang ?
Padahal aku sudah menyiapkan kejutan untuk menggodanya. Rasa lelah karena seharian bekerja di kantor akan aku luluhkan lewat pelayanan malam ini.
Huft~ lama sekali .
Tubuhku sudah semakin dingin lantaran pendingin ruangan yang menyala, aku menutup tubuhku menggunakan selimut tebal dengan sesekali menatap ke arah pintu siapa tahu mas Prasetyo pulang.
Anak anakku sudah pada tidur sejak pukul sembilan tadi. Sudah menjadi rutinitas sejak mereka kecil yakni tidur sendiri tanpa harus ditungguin ibunya, ya sesekali sih gak apa.
Beberapa saat kemudian,
Ceklek~ terdengar suara pintu kamar terbuka.
Mas Prasetyo melangkah masuk ke dalam sambil melonggarkan dasi dan melepas jas kerjanya. Dia meletakkan perlengkapan kerjanya lalu berjalan mendekati ke arahku yang pura pura tidur.
Cup~ satu kecupan singkat mendarat hangat di keningku.
Aroma kopi Hhmm~ seperti nya mas Prasetyo harus lembur menyelesaikan pekerjaan nya sampai meminum kopi.
"Mas sudah pulang ?" tanyaku dengan suara dibuat rendah seperti baru bangun tidur.
"Iya sayang, maaf ya mas pulang larut. Tidak usah bangun, mas mau bersihkan badan dulu." ucap mas Prasetyo sambil mengusap pucuk kepalaku.
"Hhmm iya mas~" aku masih berbaring, melihat gurat capeknya mas Prasetyo aku gak mungkin langsung memberikannya kejutan.
Aku menunggu mas Prasetyo membersihkan diri di kamar mandi. Suara gemerincing air terdengar dari luar, aku merasa berdebar kira kira seperti apa reaksinya mas Prasetyo kalau melihat penampilan ku malam ini ?
Selang sepuluh menit kemudian,
Lampu kamar sudah menyala terang setelah sebelumnya menyala redup temaram. Mas Prasetyo keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang kerasnya.
Sisa bulir air masih tampak menetes dari ujung rambut, aroma wangi sabun menyeruak berpadu dengan aroma maskulin tubuh mas prasetyo, sungguh perpaduan yang menggoyahkan iman.
"Berkedip Lah sayang , aku tahu kamu sedang mengagumi aku ya kan ?" ucap mas Prasetyo dengan senyum yang menawan.
"Sudah makan mas ?" aku bertanya tanpa turun dari ranjang. Dengan selimut yang menutupi sampai batas dada. Mana mungkin aku mengaku jika tebakan mas Prasetyo benar haha~
"Mas sudah makan tadi di kantor. Kamu sama anak anak juga sudah makan kan ?" tanya mas Prasetyo sembari dirinya duduk di depan meja menyisir rambutnya.
"Sudah mas~ Hhmm mas Prasetyo kelihatannya lelah sekali. Padahal~" kenapa tiba tiba aku merasa kasihan ya melihat mas Prasetyo yang tampak begitu capek.
"Capek mas hilang begitu melihat kamu sayang, " mas Prasetyo tersenyum lagi kali ini sambil menatap diriku penuh rasa.
"Kalau begitu biar aku bantu mas , aku akan pijit mas mau ?" aku mulai tersenyum genit sambil membuka selimut yang sedari tadi menutup tubuhku.
Glek~ pandangan mas Prasetyo tampak terkunci kala menatap tubuhku yang seksi berbalut lingerie warna merah menyala berkain tipis yang tidak mampu menutupi bagian tubuhku yang sensitif.
"Kamu sengaja mau menggoda aku sayang ?" ucap mas Prasetyo kemudian.
"Apalagi yang bisa Dewi lakukan selain membantu memuaskan mas di atas ranjang ? sini mas~" aku turun dari ranjang lalu meraih pergelangan tangan mas Prasetyo.
Belum juga aku melancarkan aksi kejutanku eh tiba tiba~
Ssyyuutt~ tubuhku terasa melayang kala tangan mas Prasetyo dengan kuat mengangkat dan membaringkan aku kembali di atas ranjang.
"Mas jadi pingin makan lagi sayang~" goda mas Prasetyo sambil mengusap pipiku lalu menjilati telingaku.
"Mas~ kenapa jadi mas Prasetyo yang memakan aku ? Hentikan dulu mas ahh~" sensasi geli itu terus menyerangku.
"Gantian sayang, mas dulu lalu kamu oke ?" kalimat singkat yang dilontarkan mas Prasetyo di sela aktifitas nya me ngu lum bibirku.
Aku mengangguk patuh, saat ini aku membiarkan mas Prasetyo bermain main diantara dua gundukan kenyalku yang bulat menantang .
"Apakah ini kejutan untuk mas , sayang ? Mas suka sekali tubuhmu wangi , seperti magnet yang terus menarik mas." kembali Mas Prasetyo menghisap salah satu bagian dan memilin bagian satunya.
Setiap di remas aku merasakan semakin gatal di bawah sana..Terlebih saat tubuh mas Prasetyo yang setengah menindih dan sesuatu yang keras itu menekan bagian bawa tubuhku.
Hhmmpphh~ hhmmpphh~
Mas Prasetyo kembali naik lalu kami berciuman, tangan mas Prasetyo begitu nakal meremas menyusuri tubuhku semakin kebawah.
Kain tipis ini justru membuat sensasi geli yang lebih dari biasanya, mas Prasetyo mengusap bagian bawah ku dari luar.
Setiap gesekan tangan yang terhalang kain membuat aku menggelinjang nikmat.
"Sshh ahh mas~" aku menatap sayu dan mas Prasetyo mengerti hal itu.
Perlahan mas Prasetyo menyingkap kain keatas hingga kini wajah tampannya tepat berada di hadapan milikku yang semakin basah pasti.
Netra kami saling beradu , pemandangan seksi kala aku menikmati setiap gerakan jemari dan mulut mas Prasetyo.
Shh ahh~
Aku merasa tubuhku semakin panas dan gatal. Mas Prasetyo lihai sekali memainkan lidahnya menyusuri belahan becek di bawah sana. Sengaja tadi aku mencukur habis bulu bulu halus sehingga kali ini setiap sentuhan terasa begitu candu.
Aku sengaja membuka kedua kakiku lebar sambil mengusap kepala mas Prasetyo yang lahap menikmati itu.
"Mas aku mau sampai ahh~" aku meracau tubuh bawahku menegang lalu,
Ahh💦💦
Nafasku masih tersengal kala mas Prasetyo bangun dan menatap tersenyum ke arahku.
"Mas masuk sekarang ya sayang ?"
"Nanti mas, nanti dulu~"
Aku bangun dan mendorong tubuh mas Prasetyo sampai terbaring, dengan gerakan seksi nan nakal aku gantian melahap mas Prasetyo.
"Nikmatin hidangan pembuka dulu mas~" aku mengerlingkan mataku genit.
"Ugh sayang silakan~" suara serak khas orang yang tersulut gairah.
Aku melakukan itu dengan lembut, jemariku bergerak naik turun dengan menyesap ujungnya.
Aku fokus memberikan pelayanan, hingga dalam beberapa saat benda itu semakin keras dan menantang.
"Ugh sayang enak sekali~" racauan mas Prasetyo kala aku men ji la ti ujung nya.
Mas Prasetyo mengumpulkan rambut panjangku lalu menekan lebih dalam, "Sayang sedikit lagi ugh~"
Aku berusaha memberikan yang terbaik sampai hampir tersedak saat mas Prasetyo ikut menggerakkan pinggulnya dan,
Akhh~
Usai hidangan pembuka yang sama sama nikmat, kami melanjutkan permainan ke adegan selanjutnya.
Setiap penyatuan dan gerakan kami seirama, tatapan netra kami kerap terkunci seakan menyalurkan rasa cinta yang melimpah ruah.
Sesekali kami meracau bersama kala dua bagian tubuh kami saling memberi dan menerima kenikmatan.
Beruntung kamar utama sudah di setel kedap suara sehingga meski kami bersuara keras tidak akan terdengar sampai keluar.
Tubuh kami sama sama menggeliat seperti cacing kepanasan, setiap hentakan membuat aku merasa melayang di awang awang.
Stamina mas Prasetyo memang tidak perlu diragukan, dia kuat bermain banyak ronde dalam semalam.
"Sedikit lagi sayang ahh~" suara serak di sela hentakan kerasnya.
"Mas , lebih dalam lagi ini terlalu nikmat ahh~"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments