Ddrrtt ddrrtt ddrrtt~
"Sebentar mas, ponselku bunyi." aku mengalihkan perhatian ke arah ponsel yang tergeletak disisi dekat aku duduk.
Sebuah panggilan dengan nomor tak di kenal membuat aku mendengus pelan, saat aku menggeser tombol hijau pada layar ponselku eh dimatikan begitu saja.
Bukan sekali atau dua kali kejadian begini, sudah berkali kali sejak aku menemani mas Prasetyo di Bali.
"Siapa sayang ? Kok diam aja ?" tanya mas Prasetyo.
"Gak tahu nih mas, tiap diangkat langsung mati. Ga jelas juga Nomor nya aku gak kenal." aku mengerutkan dahi sekilas menatap mas Prasetyo .
"Jangan Jangan itu fans kamu , aku bisa cemburu nih kalau kebanyakan saingan." kata mas Prasetyo dibuat buat.
"Mas ini ngaco deh. Mana ada saingan kalau aku cuma milik kamu heum ?" aku mengusap rahang seksi itu sambil terkekeh gemas.
"Lain kali tidak usah diangkat ya kalau nomor itu nelpon lagi cuekin aja atau di blokir kalau perlu." ucap mas Prasetyo mulai mendusel di ceruk leherku.
"Iya iya bayi besar ku, lain kali aku gak akan angkat. " aku menepuk nepuk pelan kepala mas Prasetyo yang tampan nyaman seperti kucing .
"Kapan bayi besar ini boleh menyusu induknya heum ?" lagi lagi suara serak mas Pras membuat aku gemas.
Bisa bisanya dia menanyakan hal seperti itu tanpa malu.
"Nanti malam saja ya, jangan sekarang banyak orang, malu."
"Kalau gak ada orang artinya mau dong ? Kalau begitu ayo kita cari tempat yang sepi."
Cup~ satu kecupan singkat di leherku saat Mas Prasetyo kemudian menarik tanganku untuk pergi menjauh dari lokasi pantai.
"Eh mas nanti anak anak nyariin gimana ?" aku protes tapi juga gak menolak saat mengikuti langkah kaki mas Prasetyo menuju sebuah tempat.
"Anak anak aman dalam pengawasan para pengawal, ayo kita berduaan sebentar. Bayi ini haus membutuhkan asupan air susu induknya." mas Prasetyo mengajak aku pergi meninggalkan kawasan bibir pantai.
Sementara itu ,
Di lokasi perkebunan kelapa sawit pulau Kalimantan, Heri Santoso sedang menemui juragan Endri di ruangannya.
"Tujuan saya menemui juragan adalah, saya ingin mengajukan cuti agar bisa kembali ke kampung halaman saya juragan ." ucap Heri sopan.
Juragan Endri memang terkenal sebagai pemilik kebun kelapa sawit yang sukses diusia muda. Selisih usia keduanya tidak ada lima tahun, penampilan juragan Endri selalu perlente , full style, dan sedikit nakal.
Kerap kali juragan Endri membawa wanita nya saat berkunjung di perkebunan. Terkenal kaya ,meski tidak terlalu tampan tapi banyak wanita yang rela menjadi kekasih ranjangnya.
Sudah bukan rahasia saat Juragan Endri bergonta-ganti ganti wanita saat berkunjung dan setiap malam di dalam penginapan juragan pasti akan terdengar suara suara e ro tis keduanya.
"Tumben ~ biasanya kamu lebih suka menghabiskan waktu di mess bersama para wanita itu kan haha~" suara tawa juragan Endri begitu renyah, membuat Heri santoso mengusap ceruk lehernya meski tidak gatal.
"Anu juragan, sudah lama saya nggak pulang. Anak dan istri sudah berkali kali menelpon maka dari itu , saya harap juragan mengijinkan." ucap Heri lirih sambil tetap menunduk hormat di ruangan juragan Endri.
"Tumben lho kamu ini ,gak biasanya ngomongin keluarga ehh tiba tiba minta cuti. Gini lho Heri, perkebunan kan lagi masa panen. Artinya kita bakal sibuk lima kali lipat dari biasanya, setiap pekerja itu sangat berpengaruh selama proses ini. Satu saja tidak hadir, artinya masa panen bakal lebih lama. Tahu sendiri perkebunan ku ini luasnya ber hektar hektar. Tapi, kalau kamu ngeyel ingin minta cuti ya saya gak akan melarang asalkan, kamu bantu selesai kan dulu panen sawitnya. Truk truk pengangkut bakal rame seminggu ini , setelah itu kamu boleh ambil cuti 10 hari.Gimana ?" ucapan juragan Endri memang masuk akal.
Jika Heri cuti sekarang artinya dia bakal diputus kontrak . Kudu bayar denda juga karena masa kerja belum selesai.
"Saya mengerti juragan. Baiklah, saya akan kembali buat mengajukan cuti seminggu lagi. Permisi juragan." Heri Santoso undur diri dari ruangan juragan Endri.
Setelah salah satu pegawainya itu pergi, tampak juragan Endri menyesap dalam dalam cerutunya kemudian tampak menghembuskan asap mengepul di sekitar wajahnya.
"Enak saja minta cuti semaunya sendiri. Apa dia pikir perkebunan ini milik kakeknya ?!! Dasar budak gak punya otak !!" geram juragan Endri lantaran dirinya tidak suka ada pekerja yang minta cuti di saat masa panen begini.
Kemudian,
Heri Santoso tampak melangkah kan kakinya lesu kembali menuju mess. Pikiran Heri tidak bisa fokus karena selalu terbayang wajah cantik sang istri.
'Kumala Dewi..' lirih Heri Santoso berucap .
Heri kembali ke mess para pekerja menggunakan motor butut keluaran tahun 2000. Begitu tiba di depan pintu kamar mess tiba tiba ,
Seorang wanita cantik nan muda tampak menyapa dan mendekati Heri Santoso "Mas Heri main yuk, mumpung sepi nih. Adek udah nungguin dari tadi, katanya mas Heri lagi libur kan ?"
Memang hari ini adalah jatah rollingan libur Heri Santoso. Biasanya memang Heri kerap menghabiskan hari libur dengan bersenang senang dengan wanita pekerja yang khusus disediakan juragan Endri untuk memenuhi kebutuhan birahi pekerja pria di perkebunan nya.
"Hhmm mas lagi gak mood dek. Lain kali deh ya." ucap Heri yang melangkahkan kakinya lesu melewati wanita nakal yang menunggu sejak tadi di depan kamarnya.
"Tumben loh mas Heri, biar adek bantu bikin mas Heri mood ya~" wanita berpakaian terbuka itu ikut masuk begitu saja ke dalam kamar.
Lalu dengan gerakan agresif wanita nakal bernama Watik itu mulai melancarkan rayuan mautnya yang pasti membuat laki laki khilaf.
"Mas Heri rebahan aja, biar Watik yang main main." ucap Watik yang langsung menaiki tubuh Heri.
Heri yang memiliki iman setipis tisu sejak bekerja di perkebunan kelapa sawit tampak awalnya menolak namun sentuhan Watik memang pro sehingga membuat pertahanan iman Heri runtuh juga .
Wanita pekerja seperti Watik akan mendapatkan upah dari para pekerja perkebunan yang memakai tubuhnya. Sekali main Watik bisa mendapatkan lembaran rupiah yang cukup buat biaya hidup sehari hari.
"Eunghh ahh~" Heri mulai meracau kalai Watik bermain diatas tubuhnya.
Sambil memejamkan mata Heri membayang wajah ayu sang istri Kumala Dewi. Seketika hasrat birahi Heri meningkat hingga dengan penuh tenaga menggempur wanita bernama Watik seharian.
Setiap sentuhan yang dilakukan Heri membuat Watik semakin ketagihan . Sedangkan suara lenguhan dan rintihan Watik di fantasikan oleh Heri sebagai sosok Kumala Dewi .
"Ahh mas Heri, lebih kuat mas~"
"Ahh enak mas terus Hmmpphh~"
Heri menghentakkan pinggulnya semakin kuat sambil meracau memejamkan mata menyebut nama sang istri, "Akhh Kumala dewi akhh~ !!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments