"Mas~" sapaku saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang tidak tertutup rapat.
"Eh sayang, ada apa ?" mas Prasetyo tampak buru buru menutup panggilan pada ponselnya.
Aku menatap sekilas bagaimana jemari tangan mas Prasetyo menekan tombol merah pada layar ponsel nya.
"Aku bawain kopi buat mas, eh hhmm apa aku ganggu ? Apa sebaiknya aku keluar aja ya mas, takut ganggu mas yang lagi ada kerjaan." ucapku sopan kala meletakkan secangkir kopi yang masih berasap panas ke atas meja.
"Mana ada mengganggu, duduk sini temani aku." mas Prasetyo membawa diriku untuk duduk di sebuah sofa panjang .
"Mas cuma ngecek laporan kantor hari ini, mas malah senang kalau kamu mau nemenin ." mas Prasetyo kembali memfokuskan diri pada layar laptop nya.
Sedangkan aku yang masih penasaran ingin bertanya tapi malu, tentang siapa yang diajak bicara lewat sambungan telpon tadi.
"Mas, yang nelpon barusan siapa ?" aku bertanya pelan hati hati.
"Ah itu rekan bisnis mas, kami cuma membicarakan rencana kerja lahan proyek selanjutnya. Kenapa heum ? Apa kamu berpikir kalau mas teleponan sama wanita lain sayang ?" ucapan mas Prasetyo membuat aku terkekeh manis.
"Enggak kok mas, aku cuma penasaran aja soalnya raut muka mas tadi kelihatan marah. " aku menjawab sekenanya agar tidak ketahuan kalau penasaran.
Mas Pras hanya tersenyum lalu menarik pinggang ku agar terduduk di pangkuan nya.
Aku bersandar pada dada bidang yang terasa nyaman itu, sedang kan mas Prasetyo kembali fokus memeriksa layar laptop.
Entah sudah berapa lama kami berada dalam posisi ini tapi secara perlahan aku mulai mengantuk dan tanpa sadar aku memejamkan mata sambil tetap bersandar pada tubuh mas Pras.
Keesokan harinya~
Aku dan dua anakku sudah siap untuk pergi ke sekolah yang baru. Rencana hari ini aku akan mendaftarkan mereka di salah satu sekolah taman kanak kanak yang bonafid.
Kata mas Prasetyo aku harus memilih instansi pendidikan terbaik untuk Rasya dan juga Arsya. Mas Prasetyo juga yang akan membiayai seluruh administrasi sekolah.
Mobilku dan mobil mas Prasetyo berpisah di persimpangan jalan, pagi ini ada meeting penting katanya.
Aku melajukan mobil dalam kecepatan sedang, situasi jalanan ibu kota sedang memasuki jam padat kantoran.
Aku dan anak anak tiba di sekolah sekitar empat puluh lima menit kemudian, sebenarnya jarak sekolah dengan apartemen terbilang dekat. Jika jalanan lancar pasti bisa ditempuh dalam sepuluh menit.
Saat mendaftar sekolah tidak ada kesulitan. Anak anakku suka suasana lingkungan sekolah baru mereka, sistem pendidikan juga berkelas internasional. Aku sangat yakin kedua putraku akan menjadi anak berpendidikan tinggi dan bisa sukses.
Usai melengkapi administrasi pendaftaran serta berkeliling singkat di lingkungan sekolah, aku dan dua anakku hendak pergi ke kedai es krim.
Saat sedang memesan es krim tiba tiba ponselku berdering.
Aku melihat siapa yang menelpon ternyata itu adalah Sari.
Aku mengangkat telpon sementara dua anakku menikmati es krim. Sari tidak bertanya banyak, dia hanya mengatakan ingin bertemu denganku. Dia sudah ke apartemen tapi tidak ada orang.
Aku mengirimkan lokasi tempat aku dan anak anak berada saat ini, setelah itu aku kembali menikmati es krim bersama Rasya dan juga Aarsya.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, Sari tak kunjung datang. Aku telpon juga gak diangkat, aku inisiatif untuk pulang saja kasihan Arsy sudah mengantuk.
Tepat saat aku hendak masuk ke dalam mobil tiba tiba terdengar suara tidak asing menyerukan namaku dari kejauhan
"Kumala Dewi !!!" suara keras nan tegas dari seberang jalan .
Aku mencari arah sumber suara dan ternyata itu adalah,
"Mas Heri ? Bagaimana bisa dia ada disini ? Apa yang dia inginkan ??"
Seketika aku merasa ketakutan, aku takut akan terjadi keributan hingga memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi .
Aku sama sekali tidak siap untuk momen seperti ini, aku gemetar kala menyalakan mesin mobil. Rasya dan Arsya tampak biasa, aku harap mereka tidak melihat apa yang tadi aku lihat.
Tampak mas Heri Berusaha mengejar mobilku yang berpas pasan dengan nya yang baru menyeberang jalan.
"Kumala Dewi, berhenti !! Kita harus bicara !!" seru bapak dari anak anakku.
Tapi aku hanya melihat dari kaca spion tanpa berniat menghentikan mobil.
"Ibuk tadi itu siapa ? Kenapa ngejar mobil kita bu ?" tanya Rasya yang duduk di kursi belakang.
"Bukan nak, bukan siapa siapa. Kita pulang ya nak, sudah siang adek Arsya juga sudah mengantuk." ucapku setenang mungkin.
Jantung ku berdebar tidak karuan selama perjalanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments