Tiba tiba mas Pras muncul lalu menghajar pria itu. Seandainya keamanan tidak melerai keduanya pasti saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
"Enyah kau dari hadapanku !! " bentak Mas Prasetyo saat dua orang keamanan menahan tubuhnya agar tidak terus menyerang lawan yang sudah babak belur parah.
"Selamatkan aku dari sini, selamatkan aku pria itu gila !!" ucap pria tua itu seakan dirinya adalah korban .
Padahal aku tahu mas Prasetyo hanya menolongku. Tapi reaksi pria tua itu sangat berlebihan seolah olah dia adalah korban.
"Mas sudah mas, jangan di ladenin. Kasihan anak anak pada takut !" aku menahan Mas Prasetyo yang tampak masih tidak terima .
"Aku gak suka ada orang yang berani gangguin kamu Dewi, kamu gak apa apa kan ?" mas Prasetyo akhirnya mau mengalihkan kembali perhatian nya padaku.
"Aku gak apa apa, sebaiknya kita pergi sekarang yuk mas. Keburu siang ."
Kemudian kami berempat masuk ke dalam mobil. Aku berusaha menutupi aura ketegangan pada diri mas Prasetyo dengan mengajak anak anak menikmati pemandangan lewat kaca jendela mobil.
"Lihat itu dek, ada patung raksasa !" seru Rasya kala menunjuk ke sebuah patung raksasa yang berdiri kokoh di persimpangan jalan.
"Serem ya kak iiih adek takut !" Arsya menutup wajah dengan telapak tangan namun celah celah jarinya mengintip patung tersebut.
"Adek takut tapi kok matanya ngintip terus ?" tanyaku sambil Tersenyum.
Aku mengerti betul sifat anak bungsuku yang memang selalu penasaran meski ketakutan.
Tampak mas Prasetyo mulai tenang dan sesekali ikut menimpali guyonan kami.
Perjalanan menuju ke sebuah gedung pertunjukan drama teater memakan waktu sekitar tiga puluh lima menit.
Saat kami tiba di gedung tersebut tampak beberapa orang menyambut kedatangan kami dengan mengalungkan roncean bunga . Kemudian kami diarahkan masuk ke dalam kursi khusus vvip di dalam sana.
Aku dan mas Prasetyo duduk di tepi sedangkan anak anak di tengah. Sesekali kami saling melemparkan senyum tapi tetap saling menjaga sikap di hadapan anak anak.
Saat Rasya dan Arsya tengah asik menonton pertunjukan tari kecak tiba tiba ponselku berdering.
Sebuah notifikasi pesan masuk, aku menggeser layar pada ponselku ternyata itu adalah Sari.
Dalam percakapan chat Sari mengatakan sedang butuh uang untuk perawatan.
^^^'Aku lagi mau treatmen di klinik . ada perawatan baru buat bikin kita kayak perawan Dew, aku pingin cobain dulu kalau beneran oke lain kali kita perawatan bareng. Kamu bisa kan transfer aku 20 juta sekarang ?'^^^
Kira kira seperti itu isi percakapan dari Sari. Dia lagi pingin coba perawatan biar bisa kembali ke rasa perawan. Duh ada ada aja sih ya , tapi aku gak bisa menolak keinginan Sari. Biar bagaimanapun berkat dia hidupku bisa di fase sekarang ini .
"Oke aku transfer sekarang, wait ya." balasku singkat.
Tanpa basa basi aku Langsung membuka aplikasi mobile banking lalu mentransfer sejumlah uang sesuai yang Sari inginkan.
Setelah itu aku kembali menyimpan ponselku,namun tak berselang lama ponsel kembali berdering. Ada pesan masuk dan kali ini dari mas Prasetyo.
Aku melirik mas Prasetyo yang juga melirik aku sambil mengulas senyum tampannya.
Sebuah pesan yang membuat wajahku merona, dan dengan sadarnya aku bilang iya.
Hhmm~
Pertunjukan selesai dalam waktu hampir dua jam. Dua jagoan ku sekarang lapar jadi kami putuskan untuk menikmati makan siang sambil berwisata ke pantai Kutha.
Mobil kembali melaju menuju arah pantai Kutha yang selalu ramai pengunjung meski panas terik begini.
Saat ini tepat pukul setengah dua siang waktu setempat. .Mas Prasetyo mengajak kami makan di resto lesehan yang langsung menghadap ke pantai.
Layaknya keluarga bahagia, Rasya dan Arsya sangat menyukai Mas Prasetyo.
Setelah makanan disajikan kami berempat makan dengan senang , aku membantu Arsya mengupas kepiting sedangkan Mas Prasetyo membantu Rasya yang kesulitan mengupas kulit lobster.
Jika orang lain melihat, sungguh mereka pasti merasa kami ini keluarga bahagia, padahal..
"Kita pulangnya nunggu matahari tenggelam ya bu , sama aku pingin main pasir. Boleh kan ?" ucap Rasya .
"Aduh kita gak bawa baju ganti nak, lain kali aja ya ?" ucapku menolak.
Ya, enggak enak aja rasanya kalau Mas Prasetyo harus menghabiskan waktu untuk anak anakku.
Tapi di saat yang sama Arsy ikut menimpali ide kakaknya, "Yaaah ibu , kapan lagi kita kesini ? Belum tentu Arsya sama kak Rasya bisa kesini lagi seumur hidup hiks~"
Melihat Arsya ikut merengek membuat aku semakin gak enak . Tapi Mas Prasetyo dengan penuh pengertian berkata, "Iya gak apa apa . Mumpung kita bisa kesini kalian main dulu sepuasnya gih. Baju ganti nanti kita beli yang baru. Yang penting kalian puas main di pantai."
"Tapi mas.." ucapku protes.
"Udah gak apa ,kalian main di temani pengawal om ya nak ? Buat jaga keselamatan kalian oke ?"
Ucapan Mas Prasetyo membuat senyum kedua jagoan ku merekah . Namun sesaat kemudian, "Ibu ijinin kami gak ? kalau ibu gak ngijinin yaudah gausah aja ." ucap Rasya bertanya padaku.
"oke oke boleh nak. Yang pintar ya kalian, hati hati !!" ucapku sedikit berseru seiring langkah kaki kecil mereka yang berlari menuju bibir pantai dengan pengamanan pengawal.
"Mereka tumbuh dengan sangat baik berkat ibunya yang cantik ini." Mas Prasetyo menoel daguku membuat aku terkekeh manis.
"Mas bisa aja sih ah." aku balas mencubit pelan lengan mas Prasetyo.
Aku dan mas Prasetyo sama sama tertawa renyah sambil duduk di sebuah gazebo yang berjarak cukup jauh dengan tempat anak anak ku bermain.
Kami mengawasi mereka dari kejauhan karena yakin jika pengawal pasti akan mengamankan situasi mereka .
Aku duduk bersebelahan dengan mas Prasetyo, tangan kekarnya melingkar di pinggang ku. Sesekali aku tersenyum saat mendengar untaian rayuan gombal dari mulut nya.
"Aku mau kita ke jenjang yang lebih serius, tapi ini bukan soal urusan ranjang Dewi. Aku ingin bener bener serius sama kamu." ucap Mas Prasetyo tiba tiba.
"Tapi mas, mas tahu sendiri statusku ini masih istri orang. Apa mas gak takut nantinya banyak relasi bisnis mas yang menghina kita ?" aku ingin menolak tapi aku sendiri juga sudah jatuh hati , bingung.
Mas Pras memang sudah mencicipi tubuhku seutuhnya, begitu juga aku yang dengan suka rela dan sadar mengijinkannya mas Prasetyo menjamah tubuhku .
Aku ini wanita kotor yang terlalu tidak tahu diri. Sudah enak dijadikan gundik eh malah ngelunjak pas ditawarin jadi calon istri.
"Aku gak peduli omongan orang diluar sana Dewi, bukankah yang paling penting adalah hatiku dan hatimu ? Kalau kita sama sama mau kenapa gak kita lakukan ? Kita bisa urus dokumen pernikahan secepatnya, serahkan semua sama aku. Kamu cukup bilang mau."
Tatapan Mas Prasetyo begitu lekat sampai aku merasa hatiku bergetar,
Otakku berpikir cepat memikirkan tawaran mas Prasetyo hingga beberapa saat kemudian kami..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments