BAB 2 COBAAN BERAT RUMAH TANGGA
Setahun berlalu begitu saja,
Aku sudah tidak pernah mencoba menghubungi Mas Heri duluan, begitu juga suamiku itu yang tidak pernah menelpon bahkan menanyakan kabar anak anak.
Aku dan anak anak mulai terbiasa meski beberapa kali Rasya dan Arsya masih menanyakan tentang ayahnya, "Buk, ayah kapan pulang ?"
"Ayah bekerja nak, nanti ayah akan pulang sambil bawa uang banyak buat kita, sama mainan juga. Rasya dan Arsya harus sabar ya nak." hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan untuk menenangkan kedua anakku.
Aku sendiri sudah tidak terlalu berharap banyak dari jatah bulanan yang di transfer Mas Heri.
Aku belajar untuk tidak banyak mengeluh, aku berusaha memutar otak bagaimanapun caranya supaya aku dan anak anak bisa bertahan hidup tanpa bergantung sepenuhnya dari uang yang diberikan Mas Heri setiap bulan.
Aku membuka usaha jasa laundry, ya aku mengerjakan semuanya sendiri sambil tetap mengasuh kedua anakku.
Selain menerima jasa laundry alias buruh cuci, aku juga menerima pekerjaan lain seperti membantu memasak di salah satu tetangga yang punya usaha katering.
Hari hariku sibuk sekali, dari pagi sebelum subuh aku harus sudah mencuci laundry an , sementara siang hari menunggu pakaian jemuran kering aku pergi ke tempat katering untuk membantu memasak sampai sore hari.
Sore sampai malam aku akan menyetrika tumpukan pakaian laundry agar bisa cepat aku antarkan ke tempat pelanggan.
Upah laundry an dihitung per kilo, dan per kilo hanya di hargai 8 ribu rupiah untuk laundry dan setrika. Jika hanya menyetrika saja per kilo di hargai 3 ribu rupiah.
Sangat tidak sebanding dengan tenaga yang aku keluarkan, tapi mau bagaimana lagi demi bisa makan terpaksa aku harus bertahan.
Anak anakku selalu ikut kemana pun aku beraktivitas, Rasya bisa menjaga adiknya Arsya sembari aku bekerja. Mereka tidak mengganggu dan selalu menuruti jika aku meminta mereka menunggu di luar saat sedang membantu memasak di tempat katering.
Sisa masakan katering menjadi makanan aku dan anak anak di rumah, tetanggaku cukup baik karena mengijinkan aku membawa sedikit bungkusan lauk untuk di makan bersama anak anakku.
Tubuhku semakin kurus, ya sebelumnya berat badanku ideal namun kini semua pakaianku terasa longgar.
Aku tidak mengeluh, aku benar benar berjuang untuk bertahan hidup bersama dua anakku.
Aku termasuk pribadi yang bisa menyimpan rahasia, setiap keluh kesah tidak satu orang pun tahu. Semua aku rasakan sendiri tidak pernah mengeluh pada tetangga karena mereka juga tidak bisa memberi solusi selain justru menghina di belakangku.
Sekarang adalah tahun kedua aku hidup bertiga dengan anak anakku, dan seperti nya tubuhku mulai ingin menyerah.
Aku bekerja siang malam nyatanya uang bayaranku tidak mencukupi . Uang yang aku hasilkan masih hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari hari. Tidak ada uang lebih untuk kebutuhan lain.
Aku frustrasi !! Aku sedang tidak menikmati kondisi hidup ku saat ini. Aku lelah secara lahir dan juga batin , aku ingin menyerah..
Tapi jika aku berhenti bekerja, lalu anak anakku bagaimana ?
Pikiranku bimbang, aku harus bisa mengubah situasi ini.
Tapi bagaimana caranya ? pekerjaan apa yang tidak banyak menyita waktu tapi menghasilkan upah yang mencukupi ??
Aku melangkahkan kaki sambil melamun kala mengantarkan pesanan laundry di salah satu tempat kost wanita yang berjarak setengah kilometer dari rumahku.
Tok..
Tok..
Tok..
Aku mengetuk pintu tiga kali, ini adalah pertama kali aku mengantar pesanan laundry sejauh ini. Bahkan aku sengaja meninggalkan kedua anakku yang sudah tertidur lelap.
Kasihan anak anakku, setiap hari mereka ikut merasakan lelahnya beraktivitas bersama ibunya.
Ceklek~ suara pintu terbuka dari dalam.
Seorang wanita berparas cantik, kulit putih langsat nan glowing. Tubuh ideal wanita dewasa yang sangat terawat membuat aku tertegun sampai tidak mengedipkan mata selama beberapa detik.
"Kumala Dewi ? Apakah ini beneran kamu ?!" ucap wanita cantik itu tampak antusias menatapku.
Aku mengangkat satu alis heran , bagaimana bisa dia tahu nama lengkapku ? Siapa ya ?
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? Maaf tapi.." ucapanku terjeda karena merasa sama sekali tidak mengenal wanita cantik yang tersenyum di hadapanku.
"Kita ngobrol di dalam yuk biar enak, sini sini masuk ." ajak wanita cantik itu meraih tanganku yang masih membawa bungkusan laundry.
Aku masuk lalu duduk di sebuah kursi di ruang tamu. Wanita cantik itu menerima bungkusan laundry sambil bercerita jika ternyata kami saling mengenal.
"Dewi Dewi.. Masa kamu lupa sama teman sendiri,ini aku Sari. Kita pernah duduk sebangku jaman masih sekolah SMA, inget gak ?" suaranya terdengar merdu dan ramah sekali.
Aku berusaha mengingat, dan seketika netraku membulat sempurna kala menyadari jika wanita cantik di hadapanku ini adalah benar temanku Sari.
"Sari ?? Astaga aku tidak mengenali kamu. Cantik banget kamu sekarang Sari." aku senang berjumpa dengan salah satu teman baikku ini.
Kami saling berpelukan layaknya dua sahabat yang lama yak bersua.
Tapi seketika raut senang di wajahku memudar kala menyadari posisiku saat ini yang berpenampilan dengan sangat , sangat , sangat lusuh.
Kemudian, kami saling bertukar kabar dan menceritakan kondisi satu sama lain.
Tidak bisa aku bohongi jika saat ini aku sampai menangis saat menceritakan kondisi rumah tanggaku yang tidak baik baik saja.
Sari dulunya adalah teman baikku, salah satu teman yang bisa aku jadikan tempat curhat.
"Lalu suami kamu bagaimana Dewi ? Sama sekali gak ada kabar begitu kah ? Dan dia lupa kalau ada istri dan dua anak yang butuh tanggung jawab ? Trus, bulan ini dia kirim uang berapa ?"
Banyak sekali yang Sari tanyakan padaku, dan aku menjawab apa adanya.
"Mas Heri melarang aku menelpon nya. Kalau ada hal penting dia yang akan kasih kabar duluan. Ini sudah berbulan bulan Mas Heri gak ada kabar, bulan ini bahkan dia gak transfer uang." mataku berair, dadaku sesak sekali.
Bukan maksud hati aku menceritakan aib suami, tapi apa yang aku rasakan ini benar benar tekanan batin yang semakin hari semakin berat .
Selama ini mati matian aku simpan sendiri semua rahasia rumah tanggaku, tapi saat bertemu teman baik sekaligus teman curhatku Sari seketika tumpah semua isi hatiku.
Aku menahan agar tidak sampai menangis sesegukan dan Sari berusaha menenangkan diriku.
"Apa kamu mau ikut kerja denganku Dewi ? Kerjaannya gampang, gak membutuhkan banyak tenaga tapi bayarannya lumayan. Aku jamin pasti akan sangat bisa mencukupi kebutuhan kamu dan anak anak." ucap Sari sambil merengkuh dua telapak tanganku dan menatapku dengan yakin.
"Pekerjaan macam apa itu Sari ? apa bisa dilakukan tanpa aku harus ninggalin anak anakku ?" aku bertanya ingin memastikan.
"Kerjanya malam hari kok Dewi, dan kamu bisa bawa anak anak nanti aku yang jagain mereka di tempatku. Kebetulan aku kerja shift siang, dan tempat aku bekerja butuh pegawai baru untuk shift malam. Gimana ?" bujuk Sari.
Sari mengatakan jika dirinya akan kembali ke kota besok lusa. Dan jika aku mau ikut dengannya maka aku harus segera bersiap dan berkemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments