Eunghh~
Aku menggeliat pelan kala merasakan aroma pria yang aku sukai menyeruak indera penciumanku. Benar saja saat aku membuka mata , aku melihat mas Prasetyo tampak mendekap tubuhku ke dalam pelukan nya.
Terasa erat nan intim. Suara nafas mas Prasetyo menerpa wajahku , membuat aku semakin nyaman.
Begitu nyaman dan hangat, entah apa yang membuat mas Prasetyo tiba tiba bersikap begini. Dia bahkan masih mengenakan setelan kerjanya.
"Mas~" suara serak khas bangun tidur , aku menepuk lembut lengan mas Prasetyo yang menindih perutku.
Dengan lembut dan pelan aku mengusap berniat membangunkan bayi besar ku yang tampan.
"Mas bangun, udah sore~" lagi lagi aku mengusap lengannya tapi pria tampan itu masih tampak terlelap dengan nafas teratur.
Aku menatap wajah mas Prasetyo yang tertidur tenang layaknya seorang bayi. Wajah yang terlihat begitu tenang dan tampan.
Diam diam aku kembali mengaguminya, sosok pria yang telah berhasil menggeser posisi mas Heri suamiku. Pria cinta pertama ku yang menawarkan kebahagiaan bersama tanpa mencela kekurangan ku.
Mas Prasetyo begitu tulus menerima kehadiran dua putraku, dia bahkan memperlakukan Rasya dan Arsya seperti putranya sendiri.
Semua sikap mas Prasetyo tampak begitu tulus , betapa beruntungnya aku bertemu dengannya di ujung persimpangan takdirku beberapa bulan yang lalu.
Entah seperti apa nasibku seandainya pria yang menjadi tamu pertamaku bukanlah dia. Takdir memang misteri dan kini aku berada dalam pusara takdir itu sendiri.
Dia pria yang berhasil menarik diriku dari jerat jurang kenistaan sebagai wanita pekerja se*ks komersil. Mas Prasetyo begitu mengangkat derajatku tanpa mengeluh sedikitpun tentang masa laluku.
Beruntung pria pertama itu adalah dia bukan yang lain. Beruntung takdir masih berempati padaku yang kala itu sudah putus asa ditelantarkan suami hingga harus banting tulang berusaha menghidupi dua anak .
Tuhan, seperti nya aku sudah benar benar jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Apakah aku berdosa karena menerima uluran tangan mas Prasetyo saat masih berstatus suami istri dengan mas Heri ?
Ah iya pria itu, bapak dari anak anakku. Bagaimana kabarnya sekarang ? apakah dia juga sudah menemukan kebahagiaan di perantauan sana ? Aku berharap kami tidak akan pernah bertemu lagi, lebih baik hubungan kami terputus seiring berjalannya waktu.
Sosok mas Heri sudah pudar , aku ingin sosok itu segera lenyap dari hidupku. Dia suami sekaligus penghancur hidupku. Dia pria yang seharusnya bertanggung jawab sampai akhir justru menghilang tanpa kata.
Ya, memang sebaiknya mas Heri lenyap saja dari hidupku. Aku tidak peduli seperti apa dia sekarang, aku hanya akan peduli pada orang orang yang menggandeng erat tanganku di masa depan.
Huft~ mengingat mas Heri hanya akan membuat suasana hatiku buruk.
Aku mengerjap beberapa kali , kembali menatap sosok mas Prasetyo. Jemari tanganku mengukir pelan setiap gurat wajah nya yang kharismatik.
Segala pada dirinya adalah keindahan dan itu akan menjadi milikku seorang.
Jemari tanganku mengukir bentuk bibir nya yang sensual dan penuh, membayangkan saat aku me lu mat menikmati bibir kenyal itu membuat aku terkekeh pelan tanpa suara.
Bulu bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang, begitu menambah poin kejantanan mas Prasetyo.
Aih~ kenapa aku bisa begitu mengagumi sosok makhluk ciptaan mu Tuhan ?
"Sudah puas mengagumi diriku heum ?" suara yang tiba tiba membuat aku menghentikan gerak jemariku yang saat ini masih berada di area bibir mas Prasetyo.
"Mas sudah bangun ya ? kenapa tadi tidak bangunin aku ? Malah mas ikut tidur . Aku siapin air mandi ya mas ? Sekalian aku mau siapin makan malam buat anak anak." aku berucap lembut dengan senyum semanis mungkin.
"Aku sengaja ingin pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Aku ingin memastikan kamu sama anak anak nyaman di tempat baru ini, begitu aku lihat kalian bertiga tertidur di kamar aku gak tega bangunin kamu sayang. Makanya aku pindahin kamu ke kamar biar aku bisa ikut tidur bareng hehee~" suara mas Prasetyo terdengar serak karena baru saja terbangun.
"Yaudah ayok ~" aku mengajak mas Prasetyo bangun , aku menarik pria besar ku masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa penolakan tentu saja mas Prasetyo menerima ajakanku untuk mandi bersama.
Satu persatu kain yang menempel pada tubuh Mas Prasetyo aku loloskan, aku masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.
Dengan telaten aku memandikan pria gulaku yang tampan, sedikit menggoda di beberapa bagian membuat sesi mandi bersama berlangsung lebih lama.
Tubuh kami berdua sudah sama sama polos di bawah pancuran shower air hangat yang menenangkan, seperti hal nya mas Prasetyo yang tidak menolak saat aku mandikan, kali ini aku juga menikmati setiap gosokan yang dilakukan mas Prasetyo pada tubuhku.
"Sshh ahh mas~" aku melenguh manja saat kedua tangan itu meremas dua gundukan kenyalku.
Mas Prasetyo hanya terkekeh pelan tanpa berniat menyudahi sesi memandikan diriku.
"Mas, jangan nakal ahh~ " tubuhku bersangkutan pada tubuh kokoh mas Prasetyo di belakangku.
"Mas gak nakal sayang, kan kamu yang duluan godain mas tadi heumm~" mas Prasetyo menarik lembut daguku hingga menoleh perlahan mendekat ke arah wajahnya lalu,
Kami menikmati ciuman yang terasa begitu basah sembari berdiri di bawah guyuran air shower yang hangat.
Sekitar dua setengah jam kemudian,
Aku masih berada di dapur sedangkan mas Prasetyo tampak menemani dua jagoanku bermain di ruang tivi.
Makan malam sederhana yang aku masak sendiri, ini pertama kalinya aku menyiapkan masakan untuk mas Prasetyo. Semoga dia menyukainya, seperti anak anakku yang paling suka masakan ibunya.
Tepat pada pukul tujuh lebih lima belas menit, kami ber empat sudah berada di ruang makan. Kami duduk menikmati makan malam dengan rasa kekeluargaan.
Saat makan tidak ada suara pembicaraan, semua orang tenang menikmati makanan di piring masing masing.
Selesai makan, aku membereskan peralatan kotor. Rasya dan Arsya lanjut menonton acara kartun sedangkan mas Prasetyo sudah berada di dalam ruang kerjanya.
"Ibuk mau bawakan kopi dulu untuk om Prasetyo. Kalian setengah jam lagi masuk ke kamar ya nak, tidur. Besok ibuk akan carikan sekolah untuk kalian oke ?" ucapanku membuat anak anakku bersorak .
"Rasya masuk TK ya bu, klo Asrya ? Kan adek masih kecil masa mau masuk TK juga ?" tanya Rasya .
"Dek Arsya nanti masuk PAUD, masih satu sekolah sama kamu. Ya udah, ibu antar kopi ke ruangan kerja om dulu ya nak." aku mengusap kepala dua jagoan ku penuh kasih sayang.
Setelah itu aku berniat membawakan secangkir kopi untuk mas Prasetyo di ruangan nya.
Aku melangkah dengan senyum antusias, berharap mas Prasetyo akan menyukai apa yang aku buat untuknya.
Baru saja aku ingin mengetuk pintu,namun samar terdengar suara pembicaraan dari dalam ruangan
Penasaran ? Tentu saja aku penasaran. Mas Prasetyo tampak sedang berbicara dalam sambungan telepon dengan nada bicara yang tinggi.
Seperti nya mas prasetyo sedang berdebat, entah berdebat dengan siapa Hhmm..
Aku penasaran ~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments