Hari demi hari aku lewati dan semakin waktu aku semakin menikmati situasiku saat ini dimana, aku tidak harus menjual diri pada pria lain dan hanya melayani satu klien yaitu Mas Tio.
Mas Tio kerap mentransfer sejumlah uang bernilai cukup fantastis. Bagiku yang berasal dari kampung menerima transferan 15 juta sebulan itu sudah sangat amazing.
Kehidupan ekonomi ku dan anak anak terangkat, aku bisa mengembalikan uang yang Sari pinjam kan padaku dulu. Berkat Sari pula lah aku bisa seperti sekarang ini, tubuh glowing terawat, body goal yang tampak seksi dan tampilan fisik yang jauh lebih muda sepuluh tahun dari usiaku yang sebenarnya.
Waktu sudah menunjuk pukul sebelas malam saat Mas Tio menelpon mengajak aku untuk ikut ke acara perusahaan nya yang di gelar di Pulau Bali.
"Ke Bali ya Mas, tapi nanti anak anakku gimana dong. Aku gak bisa ninggalin mereka lama lama. Orang kita ketemuan setengah jam aja mereka udah nelponin terus." ucapku berusaha menolak secara halus.
"Ajak aja anak anak kamu La, di sana nanti aku siapin kamar khusus sekalian pengawal ku buat jagain mereka selama kamu jalan sama aku. Jadi kalau anak anak pingin ketemu gampang, jadi gimana mau ya La ?" bujuk Mas Tio tak menyerah.
Aku masih berusaha mengelak dengan sopan, jujur saja meskipun hubunganku dengan Mas Tio sudah semakin dekat tapi aku masih menjaga batasan. Kami belum pernah melakukan hubungan diatas ranjang.
Paling sesekali aku dan Mas Tio melakukan permainan panas secara virtual ala orang orang dewasa di negara barat, semua mengalir begitu saja. Aku tidak merasa terpaksa dan Mas Tio juga have fun, kami sama sama menikmati setiap momen itu.
Dan yang paling penting adalah aku nyaman begitu juga Mas Tio, buktinya dia komunikasi terus sama aku. Transferan selalu lancar. Mas Tio gak pernah pelit meski tahu aku sudah punya anak dua dia tetap menginginkan aku jadi gundiknya.
Satu hal yang membuat diriku semakin merasa simpatik terhadap Mas Tio adalah, dia tidak memaksaku untuk tidur dengannya. Entahlah aku merasa Mas Tio sangat memahami latar belakang ku yang sebenarnya, meski aku sendiri masih enggan berkata jujur tentang jati diriku yang asli.
Jika kami sedang kencan, paling aku hanya bisa memberikan kepuasan lewat sentuhan o ral. Setidaknya hasrat Mas Tio bisa tersalurkan meski tidak maksimal.
By the way, anak anakku sudah tidak pernah menanyakan ayah mereka lagi. Semenjak Mas Tio mencukupi segala kebutuhan hidupku dan anak anak, mereka sangat menikmati segala fasilitas yang diberikan sampai sudah melupakan Mas Heri.
Aku sempat berpikir, seandainya Mas Heri tiba tiba kembali dari luar pulau aku akan mengajukan gugatan cerai. Sudah dua tahun kami berpisah dengan tidak ada sedikit pun komunikasi, ekonomi ku juga sudah mapan jadi tidak butuh Mas Heri lagi, aku tidak peduli.
Suami macam apa dia, tega sekali menelantarkan anak istrinya bertahun tahun, cih~
Singkat cerita, hari ini aku , Mas Tio dan dua anakku bertolak ke Pulau Dewata menggunakan pesawat kelas eksekutif.
"Buk ibuk, nanti Rasya mau ke pantai Kutha ya. Sama Adek juga katanya pingin lihat pertunjukan barong . Boleh ya buk ya ?" tanya Rasya bersemangat.
Aku ragu mau mengiyakan keinginan anak anakku, tapi aku sendiri ada terikat kerja sama Mas Tio. Aku cuma tersenyum menanggapi keinginan Rasya saat Mas Tio berkata,
"Nanti kalau pekerjaan om sudah beres, om bakal ajak kalian berdua kemanapun yang kalian mau. Tapi dengan syarat ya, kalian harus pintar. Saat ibuk kalian bekerja sama om , kalian nunggu di tempat yang sudah om siapkan. Nanti ada pengawal yang bakal jagain kalian, gimana ?" ucap Mas Tio terdengar begitu kebapakan, tapi tetap saja dia hanya pria gula manis ku.
"Oh jadi nanti aku sama adek main dulu sama pengawal om, sambil nunggu om sama ibuk selesai bekerja. Setelah itu kita pergi ya, janji ?" ucap Rasya menegaskan.
Mas Tio tersenyum sambil mengangguk, mengusap pucuk kepala Rasya sambil memuji, "Iya anak pintar."
Aku dan Mas Tio saling melempar pandang usai berhasil membujuk Rasya dan Arsya supaya tidak rewel apalagi mengganggu waktu kami berdua.
Total perjalanan dari ibu kota sampai ke salah satu hotel di kawasan pantai Kutha, Bali sekitar dua setengah jam.
Aku memastikan anak anakku mendapatkan kenyamanan di kamar yang khusus disediakan untuk mereka.
Pengawal yang Mas Tio utus untuk bertanggung jawab atas kedua jagoanku ternyata seorang wanita, ya wanita dengan penampilan layaknya bodyguard yang rapih dengan setelan jas hitam.
"Jadi kita punya banyak waktu buat berduaan La, sini deh sayang." ucap Mas Tio melambaikan tangan padaku yang baru saja kembali dari kamar anak anak.
Aku melangkah kan kaki mendekati Mas Tio yang berdiri di dekat jendela kamar kami dimana terdapat pemandangan langsung ke arah laut.
"Pemandangan nya bagus mas, " ucapku bernada manis sambil melingkar kan tangan di pinggang Mas Tio.
"Aku harap anak anak kamu betah dan gak rewel. Soalnya aku pingin lebih intim sama kamu La." ucap Mas Tio terdengar merdu sambil telapak tangannya mengusap surai rambutku.
"Mas Tio maaf, bukannya aku gak mau lebih intim tapi sebelum itu mungkin mas harus tahu kisah hidupku yang sebenarnya dulu. Karena Mas Tio sudah terlalu baik dan aku bakal merasa bersalah banget kalau kita sudah sampai tidur bareng tapi masih ada hal yang kita tutupi." aku menatap kedua netra Mas Tio sendu.
Ya, dua netra itu selalu mengingatkan aku pada seseorang dari masa lalu , dan sampai sekarang getaran dari masa lalu masih aku rasakan.
"Ngobrolnya sambil duduk yuk La, biar enak." Mas Tio menarik tubuhku pelan ke balkon .
Lalu Mas Tio mendudukkan aku di atas pangkuan nya sambil berucap, "Katakan apa yang ingin kamu sampaikan La, aku akan mendengar kan."
Aku mengangguk lalu menarik nafas pelan dan berucap,
"Jadi begini mas, sebenarnya namaku bukan Lala tapi Kumala Dewi dan ~" belum selesai aku mengucapkan kalimat ku, Mas Tio tampak seperti terkejut lalu menatap lekat ke dalam dua bola mataku.
"Kumala Dewi ?" ucap Mas Tio meyakinkan, dan aku mengangguk.
"Iya mas, dan aku berasal dari salah satu desa di daerah pelosok kabupaten, aku dan suami belum bercerai . Mas Tio pasti sudah tahu hal ini tapi jujur aku bakal merasa berdosa banget kalau Mas Tio tidak mendengar langsung dari mulut ku."
Aku terus menceritakan semua kisah hidupku, mulai dari awal pernikahan yang aku anggap sempurna, namun seiring berjalannya waktu ternyata aku justru menderita bersama anak anakku.
Mas Tio tampak menyimak secara serius seperti benar benar mencerna setiap ucapanku , sesekali tampak netra Mas Tio memicing seperti memastikan apakah yang aku katakan adalah benar atau kebohongan.
Selama hampir empat puluh lima menit aku bercerita, dan kini Mas Tio tampak menghela nafasnya panjang ingin menyampaikan sesuatu.
"Jadi ternyata benar, kamu adalah Dewi . Kumala Dewi yang dulu sekolah di SMA negeri 7 kabupaten Karangawang ?"
"Kok mas Tio tahu ?"
Netra kami berdua kembali beradu dan kali ini aku melihat binar di kedua mata Mas Tio, apa jangan jangan..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
qolifatul
lanjut.... makin asyik
2023-08-11
3