Acara gala dinner yang dihadiri pengusaha eksekutif dari seluruh wilayah Indonesia berjalan dengan lancar. Banyak yang mengagumi sosokku yang tampil anggun di sisi Mas Prasetyo. Mereka menganggap kami pasangan yang sangat serasi.
Aku baru tahu jika Mas Adam Prasetyo adalah satu pengusaha tersukses di Indonesia, nama nya masuk dalam jajaran tiga besar pengusaha tersukses tahun ini.
Banyak yang mendoakan supaya kami lekas menuju ke jenjang selanjutnya yakni pernikahan. Tentu saja mendengar kata pernikahan membuat aku terhenyak sadar akan statusku saat ini.
"Jangan terlalu diambil hati apa kata orang, mereka mengucapkan itu hanya untuk menjilat. " Mas Pras berbisik lalu mengusap punggung tanganku seolah menenangkan,
"Aku tiba tiba merasa tidak mood mas, balik sekarang yuk. Aku capek." aku mengatakan itu hanya karena tidak ingin para tamu terus memuji diriku.
Andai mereka tahu yang sebenarnya,aku tidak selayak itu pasti pujian itu akan berubah menjadi hinaan, huft~
Sebagian mereka adalah kaum pebisnis yang memanfaatkan kelihaian mulut mereka untuk menjilat pengusaha yang jauh lebih sukses dari mereka hanya untuk mendapatkan ikatan kerja sama, memuakkan.
Mas Prasetyo dan aku pergi meninggalkan acara, menggunakan mobil mewah dengan supir kami menuju kembali ke hotel.
Di dalam mobil aku terus melamun dan hanya diam menatap keluar jendela, mas Prasetyo tiba tiba menggeser duduknya agar lebih dekat denganku kemudian tangan kekarnya melingkar menarik pinggangku agar menempel padanya.
"Sudah kubilang jangan memikirkan hal hal yang aneh Dewi, itu hanya akan bikin mood kamu tidak baik. Aku punya cara supaya kamu tidak memikirkan hal hal buruk, mau tahu apa ?" ucap Mas Prasetyo dengan senyumnya yang rupawan.
"Aku hanya sedikit gak enak aja mas, sadar akan statusku saat ini. Bagaimana jika suatu saat mereka mengetahui yang sebenarnya ? Kamu pasti bakal malu. A aku mmpphh~" belum selesai aku mengucapkan kalimat ku tiba tiba saja mas Prasetyo menempelkan bibir hangatnya tepat di atas bibirku.
Secara lembut kami beradu ciuman, terasa kenyal dan hangat saat aku sedikit mengulum bibir mas Prasetyo.
Mmpphh~ mmpphh~ pertukaran Saliva semakin terasa basah .
Supir di depan pun seolah tuli dan tidak melihat apapun, dirinya hanya berfokus mengantar kami kembali ke hotel .
"Su sudah mas ahh~" aku mendorong pelan wajah mas Prasetyo yang mendusel diantara leherku.
"Kita lanjutkan nanti di kamar saja sayang, cup~" mas Prsaetyo menarik dirinya kembali ke posisi sebelumnya.
Jarak kembali ke hotel hanya delapan menit, akhirnya setelah mobil berhenti di depan loby mas Prasetyo melingkarkan tangannya di pinggangku lalu kami naik ke lantai tempat kamar kami berada.
Di dalam lift sesekali mas Pras menggodaku, ah seperti nya dia sedang ingin bercinta. Tangannya nakal sekali meraba raba tubuhku .
Aku hanya tersenyum, ya aku tidak akan bisa menolak setiap sentuhan mas Prasetyo yang begitu terasa lembut meski menuntut lebih dan lebih.
Sebelum kami masuk ke dalam kamar tak lupa aku memastikan dua jagoan ku apakah mereka baik baik saja, dan ternyata Rasya serta Arsya sudah tertidur usai menonton acara kartun sambil ditemani aneka camilan di dekat mereka .
"Anak anak anda sangat menurut nona, sama sekali tidak merepotkan." laporan sang pengawal yang ditugaskan khusus untuk menjaga kedua anakku .
"Mereka memang anak anak yang baik, titip jagain mereka ya kak ." aku mengacungkan ibu jari ku sebagai tanda kepuasan atas kerja pengawal tersebut.
Setelah itu aku dan mas Pras kembali ke kamar kami.
Baru saja pintu tertutup mas Prasetyo sudah langsung menarik tubuhku agar mendekat masuk dalam dekapannya.
Kami saling menatap dengan senyuman ringan yang menggoda, jemari mas Prasetyo mengusap lembut wajahku, memainkan surai rambutku dan berkata,
"Malam ini milik kita sayang~" senyumnya yang menawan sungguh membuat aku kehilangan akal sehat .
Aku mengangguk patuh saat Mas Prasetyo ingin menanggalkan gaun yang aku kenakan. Hal yang sama juga aku lakukan, aku membantu melepaskan setiap helai kain dari tubuh kekarnya.
Setelah tubuh kami sama sama polos, mas Prasetyo menuntun diriku ke tepi ranjang. Dengan sentuhan lembut nya mas Prasetyo membuai diriku menikmati setiap sentuhan.
"Sudah lama aku menahan diri , kali ini jangan menolak saat aku ingin memakanmu sayang~" ucapnya lirih .
Kata 'memakan' membuat imajinasi ku liar kemana mana.
Satu kecupan di keningku lalu mas Prasetyo merebahkan tubuhku diatas ranjang dengan kedua kakiku yang masih menggantung di tepi ranjang.
Mas Prasetyo membuka lebar kedua kakiku lalu tanpa ragu menenggelamkan wajahnya diantara pangkal pahaku.
Tiupan nafasnya terasa hangat memburu membuat tubuhku merinding, aku sampai harus memejamkan mata sesekali menggigit bibir bawahku .
Aku menahan diri untuk tidak mendesah namun rasa nikmat itu begitu menjalar seolah tubuhku tersengat aliran listrik.
Mmmppphh ahh~ aku meremas sprei saking gelinya.
Satu de sa han lolos begitu saja saat sesuatu menusuk ke dalam sana.
"Mas geli ahh aku gak tahan mas hentikan ahh~" kakiku terus menggesek mencoba menahan sensasi itu namun mas Prasetyo kembali menahan agar kedua kakiku tetap terbuka lebar .
Tubuhku semakin bergetar , otot otot di dalam rahimku terasa berkedut merespon setiap kali benda tak bertulang itu menusuk menekan titik nikmat ku, hingga akhirnya aku tidak bisa menahan lagi dan merasakan cairan itu keluar membasahi,
Akkhh~💦💦
Huhh huhh huhh~ nafasku tersengal pinggulku bergetar namun mas Prasetyo masih terus memberikan sensasi kenikmatan tiada tara.
Keesokan harinya
Usai sarapan bersama, sesuai yang di janjikan kemarin saat kami dalam perjalanan menuju Bali jika setelah pekerjaan selesai maka anak anak akan kami ajak berwisata.
"Kita berangkat sekarang buk ? " tanya Rasya antusias.
"Iya sayang, kita tunggu mobil di lobby yuk." Aku berjalan menggandeng kedua putraku duluan.
Mas Prasetyo masih di dalam kamar karena harus menerima sebuah panggilan di ponselnya.
Saat aku dan anak anakku sudah sampai di loby, ada seseorang yang menghampiri lalu menyapa,
"Bukankah kamu wanitanya pak Prasetyo yang semalam itu ? Mau kemana ?" tanya pria itu sopan .
"Aku sedang menunggu mobil buat jalan, maaf~" aku menggeser posisi berdiri ku lantaran merasa tidak nyaman di tatap pria itu.
Pria tua berusia separuh abad mungkin, dia tampak menatap tidak sopan pada diriku. Dari atas sampai bawah lalu naik lagi kemudian menatap nakal ke arahku sambil berucap,
"Berapa bayaran kamu per malam cantik ? " pria tua itu menjulur kan tangannya hendak mengusap wajahku lalu aku tepis dengan kasar.
"Jaga batasan anda tuan !!" aku menatap galak tapi pria itu justru semakin terkekeh nakal.
"Sudah aku duga Prasetyo hanya membawa seorang wanita malam untuk acara kali ini. Dia tidak mungkin membawa kekasihnya yang asli hahaha~" ucapan pria itu terdengar menghina dan aku tidak suka.
Saat aku hendak membawa Rasya dan Arsya ke tempat lain pria itu kembali menyeletuk, "Jadi kamu wanita malam yang sudah punya anak hahaha~. Selera seorang Adam Prasetyo ternyata adalah janda muda hahaha~ "
Plakk~
Bugh~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments