BAB 3 PEKERJAAN DI KOTA
Dua hari berlalu,
Saat ini aku dan dua anakku sudah berada di tempat kost yang di tinggali Sari selama beberapa hari terakhir.
Tidak banyak perlengkapan yang aku bawa, hanya pakaian dan beberapa barang penting lainnya dalam satu koper berukuran cukup besar.
Aku sudah memantapkan hati , aku harus bisa mengubah perekonomian keluarga kecilku. Dan Sari yang tiba tiba muncul seolah menjawab semua doaku.
"Kita berangkat sekarang yuk , " ajak Sari yang tampil dengan busana yang sangat modern dan trendi, meski agak terbuka namun busana itu sangat cocok melekat di tubuh seksinya.
Penampilan Sari mirip seorang wanita sukses di usia yang masih terbilang cukup matang . Belum terlalu tua, aku dan Sari saat ini sama sama berumur 30 tahun tapi nasib Sari tampak jauh lebih baik dariku.
Perjalanan menggunakan mobil pribadi yang di supiri langsung oleh Sari memakan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di kota tempat dirinya bekerja selama ini.
Pemandangan kota metropolitan yang sangat jauh berbeda dari kampung asalku, sembari menunggu kami tiba di tempat tujuan anak anakku tertidur pulas di kursi belakang.
Pintar sekali kedua anakku , mereka sama sekali tidak rewel sepanjang perjalanan.
Aku duduk di depan bersama Sari yang tampak keren saat sedang fokus mengemudi, dan kami banyak mengobrol di sepanjang perjalanan.
Tentu saja menceritakan kisah kisah semasa kami duduk dibangku sekolah. Karena setelah kelulusan kami berdua terpisah, Sari mengadu nasib ke kota sedangkan aku bekerja di sebuah pabrik lokal dekat kampung.
Aku dan suamiku dulu juga bertemu pertama kali saat aku berteduh karena hujan sepulang kerja dan aku gak bawa payung, Mas Heri yang juga baru saja selesai bekerja tampak ikut berteduh di emperan toko yang sama denganku. Penampilan Mas Heri khas dengan mengenakan seragam pekerja proyek pelebaran jalan tol yang sedang berlangsung di dekat pabrik tempat aku bekerja.
Dari satu pertemuan itulah aku dan Mas Heri menjadi lebih sering bertemu karena ternyata kami sama sama tinggal di kawasan kost dekat dengan pabrik tempat aku bekerja.
Di saat seharusnya wanita seusiaku bersenang senang menghabiskan gaji dan bekerja, aku justru menerima tawaran pernikahan Mas Heri.
Genap diusiaku yang ke 22 tahun , aku resmi menyandang gelar istri dari suamiku yang bernama Heri Santoso, dan anak pertama kami lahir satu setengah tahun setelah pernikahan.
Hidup ku terasa sempurna sekali kala itu, Yaa kala itu~
Setelah sekian waktu akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang bergaya modern minimalis di salah satu kawasan hunian mewah di tengah kota.
Alasan Sari memilih lokasi seperti ini karena lebih mudah menjangkau ke setiap lokasi yang sering dia kunjungi terutama tempat dia bekerja.
Sari hanya tinggal sendirian, dia mempersilahkan aku dan anak anakku menempati kamar di lantai satu. Sedangkan Sari akan menempati kamar di lantai dua.
Semua berjalan baik baik saja, selama sebulan Sari benar benar mempersiapkan diriku agar siap bekerja dengannya.
Seminggu sekali Sari rutin mengajak aku ke salon untuk merawat diri. Entah berapa uang yang dia keluarkan untuk perawatan ku sampai aku sendiri pangling pada diriku sendiri.
Penampilan ku tampak lebih segar , kulit ku semakin glowing berkat suntik vitamin. Dan berat badanku mulai kembali ideal .
Rasya dan Arsya juga tampak bahagia , mereka menikmati waktu selayaknya anak anak seusia mereka. Makan tercukupi, banyak mainan di rumah.
"Baru sebulan dan kamu udah keluar uang banyak banget buat bantu aku Sari, aku janji bakal ganti semuanya." ucapku penuh rasa terima kasih.
"Itu mah gampang Dewi, sekarang kamu udah bener bener siap kerja nih. Nanti malam ikut aku ya, aku akan antar kamu ke tempat kerja setelah itu anak anak biar sama aku aja." ucap Sari ramah.
Aku mengangguk setuju, sama sekali tidak merasa aneh atau perasaan yang terlalu bagaimana aku rasakan.
Malam harinya ,
Sari benar benar mengantarkan aku ke tempat dia bekerja selama ini ,setelah mengantarkan aku di sebuah lokasi Sari memberikan aku sebuah kartu akses untuk ditunjukkan kepada resepsionis yang ada di dalam.
"Pokoknya kamu tinggal nunjukin kartu ini aja , trus kamu ikuti petunjuk dari pegawai di dalam. Jangan grogi Dewi, semangat yak !!" Sari menyemangati diriku .
"Semoga aku bisa~" gumamku sendiri usai melambaikan tangan menatap mobil Sari yang menjauh.
Aku menghirup udara banyak banyak lalu melangkah kan kaki mantap masuk ke sebuah gedung bernuansa remang remang.
Aku menunjukkan kartu akses yang diberikan oleh Sari dan seorang pegawai lain tampak mengantarkan diriku ke sebuah ruangan.
"Langsung kerja ya malam ini, pakai seragam yang ada di gantungan baju trus temui aku lagi. Sepuluh menit oke." ucap seorang pegawai senior mengarahkan aku.
Aku mengangguk mengerti lalu saat membuka lemari yang dimaksud aku tercengang, lantaran seragam kerja yang di maksud terlalu seksi dan terbuka .
"Astaga, apa mereka benar benar bekerja dengan mengenakan seragam kurang bahan begini ?" aku bergumam sendiri.
Merasa ragu tapi tekadku juga sudah bulat, dengan cepat aku mengenakan seragam kerja yang sangat menonjolkan lekuk tubuhku.
Bayangkan saja , pakaian mirip pelayan namun rok mini diatas lutut, atasan ketat dengan belahan dada rendah sampai mengekspose sebagian payu dara ku yang sintal.
Aku melangkah keluar dengan perasaan gugup yang gagal ditutupi namun, pegawai senior tadi justru memuji penampilan ku yang katanya tampak sangat cantik dan seksi.
"Oke, kayaknya malam pertama kamu kerja bakal jadi rebutan nih. Ayo ikut aku." ucap pegawai senior yang berjalan duluan di depanku.
Beberapa saat kemudian ,
Aku dan beberapa pegawai lainnya yang mengenakan seragam yang sama sedang berada di dalam ruangan VIP dimana tugas kami adalah menuangkan minuman ke dalam gelas tamu yang kosong.
Suasana remang remang namun aku bisa melihat beberapa pria berpenampilan seperti pengusaha dengan setelan jas mewah serta penampilan yang sangat klimis.
Mereka seperti sekumpulan pengusaha yang baru selesai mengadakan rapat dan ingin menghabiskan sisa malam di dalam klub ini.
Aku hanya berdiri, diam dan merasa canggung. Aku melihat beberapa rekan kerjaku melangkahkan kaki keluar bersama pria berjas, aku tidak tahu pergi kemana mereka.
Entah karena aku melamun atau bagaimana sampai tidak sadar jika di dalam ruangan hanya sisa aku dan seorang pria yang seperti menatap intens ke arahku.
Glek~ aku kesulitan menelan ludah kala merasakan pergerakan pria itu mendekati aku yang berdiri di sisi meja dekat trolly berisi minuman.
"Ikut aku." ucap seorang pria yang wajahnya tampak samar.
Aku mengangguk pelan, aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini aku terus melangkah kan kaki mengikuti pria yang jalan duluan di depanku.
Kami melewati lorong panjang di lantai atas klub lalu,
Ceklek~ pintu terbuka dan pria itu mempersilahkan aku masuk duluan.
Ruangan yang gelap dan aku tidak tahu dimana letak sakelar lampu, saat aku berusaha menyesuaikan pandangan mataku tiba tiba
Greb~ sebuah tangan terasa kekar melingkar di perutku.
Tubuh yang wangi serta hangat menempel sempurna di belakang ku.
Aku mematung, apa yang akan terjadi selanjutnya aku sama sekali tidak tahu tapi,
Pria itu tampak mendorong tubuhku pelan sambil mengeratkan pelukan dan
Cup~ sebuah ciuman terasa mendarat di leher jenjangku.
Mulutku tergagap tidak tahu harus berkata apa tapi , akal sehatku berperang melawan perasaan ku dimana satu sisi aku berusaha meyakinkan diriku jika ini hanyalah pekerjaan.
Namum di sisi lain tubuhku gemetar tidak karuan karena merasakan sentuhan pria lain selain suamiku.
Awshh ahh~ aku tersentak dari lamunan saat merasakan telapak tangan pria dibelakang ku mulai meremas bagian tubuhku dan sentuhan itu semakin kemana mana membuat aku merasa panik tapi tidak bisa melawan.
Aku diam mematung, posisi kami masih sama sama berdiri tapi kali ini pria itu membawa tubuhku tepat di tepi sebuah ranjang.
Tidak ada pembicaraan, aku bahkan tidak tahu siapa nama pria yang menyentuhku.
Sentuhan nya membuai sampai aku harus memejamkan mata , namun saat tangan pria itu meraba wajahku dan menyentuh bibirku aku membuka mata seakan tersadar .
Bibir kami hampir saja bersentuhan saat tiba tiba aku tidak kuasa menopang bobot tubuhku sampai terjatuh bersimpuh di lantai.
"Maaf tuan maaf, hiks~"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments