Hujan deras mengguyur tanpa permisi tepat saat Faras menjemput Natali di apartemen nya. Begitu masuk ke dalam mobil, dia mengusap rambut dan bahu Natali yang sedikit basah karena terkena rintik air hujan.
Perlakuan kecil itu mengundang senyum di bibir Natali. Sebagai wanita tentu dia akan terkesima dengan perhatian yang diberikan Faras.
Mobil melaju melintasi jalanan yang lengang karena banyak pengendara yang memilih menepi. Melihat hujan deras disertai guntur, membuat Faras teringat pada Talita.
Apa gadis itu kehujanan? Dimana dia sekarang? Pikir Faras sambil mengendarai mobil.
Ada sedikit rasa sesal saat Faras membiarkan Talita keluar rumah sendirian. Dia baru tersadar jika Talita gadis kampung yang mungkin saja tak terlalu mengenal jalanan kota.
"Faras."
Panggilan lembut dari Natali mengejutkan Faras. Dia menoleh sekilas lalu menghadapkan wajahnya kembali ke depan untuk lebih fokus dalam menyetir.
"Kamu kenapa? Kok malah melamun sih?" Natali bertanya dengan suara merdunya yang lembut.
Dia mengusap lengan dan menyandarkan kepala di bahu Faras. Dia tersenyum ketika tak ada penolakan dari pria itu.
"Aku nggak melamun kok, Natali. Ini aku lagi fokus nyetir," jawab Faras berbohong.
"Tapi aku tanya kok kamu diam aja?" Bibir Natali sedikit mengerucut menampilkan wajah yang sedikit cemberut. "Jadi kita bakal dinner di mana? Nggak akan ada paparazi yang ikutin kita kan?"
Satu tangan Faras bergerak mengusap dagu Natali dengan lembut. Wanita itu masih menyandarkan kepala di bahunya dan itu yang Faras suka. Faras lebih menyukai wanita yang bermanja padanya.
"Nanti juga kamu bakal tahu kok kita dinner di mana. Kalau aku kasih tahu sekarang, nggak surprise dong."
Natali mendongak melihat wajah Faras dari jarak yang sangat dekat. "Dan urusan paparazi? Nggak akan orang yang tahu kalau kita makan malam kan? Aku males kalau harus ketemu sama wartawan atau paparazi, Far."
"Iya, tenang aja. Semuanya beres kok."
Setelah mengucapkan itu, Faras diam-diam mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada Priya sambil tetap mengendari mobil. Perasaan Faras tak enak, sehingga dia meminta Priya untuk menjemput Talita.
Untungnya, Priya memiliki aplikasi yang dapat melacak dimana ponsel Talita berada. Jadi, dia pasti bisa menemukan Talita saat ini ada di mana.
Perasaan Faras berangsur tenang setelah memberi tugas pada Priya. Dia pun kembali mempercepat laju kendaraan.
Tak lama, Faras menghentikan mobil di depan sebuah restoran. Natali langsung tersenyum lebar kala mendapati Faras membawanya ke restoran yang sudah terkenal akan kemewahan dan juga rasa makanannya.
Faras memang pandai dalam membahagiakan wanita. Bahkan dia tak segan-segan membukakan pintu untuk Natali.
Dan tak hanya itu saja, Faras juga telah memesan private room dimana mereka berdua akan makan malam bersama tanpa ada gangguan.
Ruang pribadi itu memiliki jendela yang menampilkan pandangan kota malam. Terasa redup dengan lampu-lampu yang menggantung.
Semua berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan Natali. Makan malam berdua bersama Faras dan di sudut ruangan ada beberapa pemain violin melantunkan musik bernuansa jazz.
Setelah selesai makan, Faras mengajak Natali untuk berdansa. Sungguh sebuah makan malam romantis impian kaum hawa.
"Thanks, Faras. Kamu sudah ngajak aku dinner di sini," ucap Natali saat mereka berdansa diiringi musik yang kini mengalun lembut.
Natali melingkarkan kedua lengannya di leher Faras dan merapatkan tubuhnya ke tubuh aktor tampan itu.
"Are you happy?"
Natali mengangguk. Senyuman bahagia tak bisa sirna dari bibirnya. Kemudian Natali berjinjit seraya memajukan wajah untuk mengecup Faras.
Dan Faras pun tak menolak untuk menyambut ciuman dari Natali akan tetapi dia merasakan sesuatu yang berbeda. Tak ada perasaan menggebu-gebu dengan ciuman itu. Berbeda dengan ciuman yang dia lakukan kepada Talita.
Natali semakin berjinjit agar bisa memperdalam ciumannya. Dia sedikit kesal karena Faras terkesan pasif ketika mereka berciuman.
Sementara itu Faras berusaha memejamkan mata. Namun, sosok yang terlintas di benaknya justru adalah Talita. Dia tidak merasakan apapun dari Natali. Ciuman bersamanya terasa hambar dan tidak ada getaran apapun.
Begitu ciuman itu terhenti, Faras menjadi tertegun dan bingung sendiri. Dia kembali mengecup bibir Natali secara singkat. Tapi lagi-lagi Faras tak merasakan apa-apa.
Faras dan Natali duduk kembali. Natali segera mengambil tisu untuk memperbaiki polesan lipstiknya.
Berbeda dengan Faras yang masih bimbang akan apa yang terjadi. Dia sudah lama menginginkan Natali tapi kenapa ketika mencium wanita itu, dia tidak merasakan kepuasan.
Tiba-tiba, ponsel Faras bergetar. Dia segera mengangkat telepon dari Priya dengan berat hati.
"Ada apa, Priyatno?"
"Mas Faras, gawat! Talita berkelahi di pusat perbelanjaan, Mas."
Brak.
Faras menggebrak meja sekaligus bangkit dari duduk begitu mendengar kabar Talita berkelahi. Sedangkan Natali terlonjak akibat gebrakan meja yang dilakukan Faras. Dia mengelus dada untuk menenangkan jantungnya yang hampir saja copot.
"Apa? Talita berkelahi?"
Faras memijat pangkal hidung dan berdecak frustasi. "Oke, aku akan ke sana sekarang."
Segera Faras mematikan telepon dan memasukan ponsel ke dalam saku jas. Dia menatap Natali yang terlihat kebingungan.
"Natali, sorry. Aku harus pergi sekarang. Aku sudah bayar bill restoran dan kamu..." Faras mendadak ragu untuk melanjutkan ucapannya. "Kamu nggak apa-apa kalau pulang naik taksi? Aku ada urusan penting. Maaf banget, Natali."
Raut wajah Natali mendadak berubah drastis. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya kini hilang seperti debu yang tertiup angin.
Baru pertama kali ini Natali diperlakukan seperti jelangkung oleh seorang laki-laki. Datang di jemput, pulang tak diantar.
Namun, Natali tak bisa memaksa. Takut malah Faras tidak akan mengajaknya malam malam lagi untuk selamanya. Maka dia pun mengangguk, mengizinkan Faras pulang terlebih dahulu meski hatinya kesal tercabik-cabik.
*
*
*
"Dia itu memang anak seorang penjilat, nggak tahu diri, nggak pantes jadi pacarnya Faras," teriak wanita gemuk pada seorang satpam yang sekuat tenaga menahannya.
"Kamu itu siapa? Kenal juga enggak. Ngata-ngatain orang seenaknya," balas Talita tak mau kalah. Dia juga sedang dicekal oleh Priya yang datang tepat waktu.
"Ta, sudah! Jaga sikap! Sebentar lagi Mas Faras datang."
Mereka berdua kini berada di ruang keamanan pusat perbelanjaan tempat dimana mana mereka berkelahi. Namun, meski sudah diamankan, Talita dan si wanita gemuk masih terus saja perang mulut.
Di sisi ruangan, si wanita gemuk bangkit berdiri, berhasil meloloskan diri dan langsung memukul sudut bibir Talita.
"Aku sebagai fansnya Faras nggak suka lihat kamu."
"Terus kalau kamu nggak suka tapi Mas Faras tetep pilih aku. Kenapa? Apa ruginya di kamu?"
Talita ikut berdiri hendak meninju si wanita gemuk tapi seketika itu tangannya yang mengepal ditahan oleh sebuah tangan kekar. Talita menoleh dan ternyata Faras sudah ada di sampingnya.
Faras menahan tangan Talita yang ingin memukul si wanita gemuk sambil melirik tajam, membuat Talita sedikit merasa takut. Takut jika Faras akan marah padanya karena telah mencari keributan dengan penggemar.
"Mas, Faras... A-aku... Ak..." Talita gelagapan tak tahu harus berkata apa terlebih dahulu.
Dia mengaku salah tapi si wanita gemuk itu juga salah karena telah menamparnya lebih dulu dan menghina sang ibu.
Nyali Talita menciut seiring dengan tatapan Faras yang seakan mengulitinya. Dia menggigit bibir bawah karena merasa takut luar biasa.
Dalam hati Talita menjerit kencang. Matilah kamu, Talita. Mas Faras pasti marah besar karena kamu cari gara-gara sama penggemar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments