Seorang pria dua puluh tiga tahun menatap deretan trofi penghargaan yang jumlahnya sudah hampir belasan. Pria dengan lesung pipi yang akan nampak ketika tersenyum itu terlihat puas kala melihat semua pencapaiannya di dunia hiburan.
Dialah Faras Alvaro. Seorang aktor pendatang baru. Namun namanya sudah sangat terkenal seantero negeri.
Faras sedang meneguk minuman ketika ponselnya menderingkan panggilan masuk dari seorang produser sekaligus sutradara film bernama Devon. Dia langsung menggeser ikon telepon berwarna hijau tanda menerima sebuah panggilan.
"Far, kamu sudah lihat berita gosip hari ini?"
"Belum. Kenapa memangnya?" Faras bertanya dengan nada santai lalu meneguk minuman lagi.
"Kamu digosipin homo, Far."
Uhuk. Faras tersedak minuman saat itu juga. Dia terbatuk sesaat dan mengernyit merasakan perih di bagian pangkal hidung.
"What? Kok bisa?"
"Kamu lihat saja deh di TV, di medsos, semuanya lagi bahas kamu yang diduga homo. Ini gawat, Far. Imbasnya bakal kena ke film yang lagi kita buat," terdengar Devon menghembuskan nafas berat. "Kalau gosip ini terus menyebar, terpaksa film akan ditunda atau pilihan kedua..."
"Pilihan kedua apa?" tanya Faras tak sabar menunggu kelanjutan ucapan Devon. Meski dia mengerti arah pembicaraan yang hendak dikatakan sang sutradara itu.
"Pilihan kedua, kita bakal ganti pemeran utama, Far. Jadi bukan kamu yang bintangin film 'Bad Guys', tapi aktor lain."
Saat itu juga, Faras naik darah. Tangan Faras sudah mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Seperti bensin yang disiram ke dalam kobaran api, amarah Faras memakin memuncak saat mendapat kabar dirinya akan tersisihkan sebagai pemeran utama.
"Nggak bisa gitu dong, Dev," ucap Faras tak terima. "Filmnya kan sudah mau selesai. Kita cuma tinggal syuting beberapa scene lagi."
"Mau gimana lagi, Far. Kalau gosip itu masih ada dan kamu tetap bintangin film 'Bad Guys', yang terjadi bakal sedikit orang minat sama film ini."
Faras memijat kening dengan satu tangan. Sementara tangan satu lagi masih menggenggam ponsel yang ditempelkan ke daun telinga. Dia berdecak kesal lalu menghela nafas panjang.
"Aku pastikan gosip itu nggak akan ngaruh ke film 'Bad Guys', Dev. Aku bakal urus semuanya. Kamu tenang aja," Faras langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Devon.
Kemudian Faras beralih ke aplikasi mesin pencari yang ada di ponselnya. Beberapa saat dia mengetik sesuatu dan akhirnya dia pun menemukan apa yang dicari.
Sebuah artikel baru saja diunggah dengan judul besar yang terpampang dilayar.
Aktor Tampan Faras Alvaro Diduga Homo. Ini Fakta-Fakta Yang Jarang Diketahui.
Faras hanya membaca sekilas artikel berita gosip itu. Namun dia bisa menyimpulkan jika gosip itu bermuara dari kenyataan dirinya yang selalu menolak setiap kali adegan ciuman dengan lawan main di film.
Ya, Faras memang selalu menolak dan meminta jasa pemain pengganti setiap dia dituntut untuk beradegan ciuman di sebuah film. Tapi bukan berarti netizen berasumsi seenaknya dengan mengecap dia pria homo, penyuka sesama jenis, atau semacamnya.
Faras menelan saliva karena menahan marah. Darahnya sudah mendidih di puncak ubun-ubun. Terlebih saat membaca kolom komentar di bagian bawah artikel.
'Idih. Adegan ciuman aja pakai stuntman. Lebay.' Tulis salah satu netizen yang namanya disamarkan.
Faras hanya menyeringai dan menggeser layar ponsel ke bawah membaca komentar yang lain.
Hampir semua komentar berisi hal yang serupa. Membuat Faras malas untuk melanjutkan dan dia pun membanting ponsel ke sofa.
Faras seketika berdiri. Berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Lalu dia pun berteriak memanggil managernya.
"Priyatno! Priyatno!"
Hanya dalam hitungan detik, seorang pria bertubuh gempal berlari tunggang langgang mendekat ke arah Faras.
"Iih, Mas Faras, jangan aku panggil Priyatno! Tapi cukup panggil Priya. P-R-I-Y-A," ucap Priya yang dengan sangat gemulai mengeja namanya.
Faras berdecak sambil memejamkan mata. Selain karena dia yang tidak mau beradegan ciuman, Priya juga menjadi alasan kenapa banyak orang mengira dirinya homo.
Bagaimana tidak? Priya memiliki pembawaan gaya yang gemulai kendati manager Faras itu adalah seorang laki-laki tulen. Setiap hari, Priya selalu pergi bersama Faras. Dimana ada Faras, di situ ada Priya. Sehingga kedekatan mereka mengundang pikiran negatif banyak orang.
"Aku mau panggil kamu siapa, terserah aku," Faras melototkan mata tak mampu lagi mengatur emosi yang bergejolak. "Dengar, Pri! Besok aku mau buat konferensi pers. Kamu atur jadwal, tempat, dan semuanya. Ngerti?"
Dengan gesit, Priya langsung membuat catatan di ponselnya. Lalu pria itu mengangguk mantap sambil berkata, "Oke. Bisa diatur. Sekalian aku ingatkan. Satu jam lagi Mas Faras ada pemotretan di hotel pelangi."
Faras menarik nafas untuk menstabilkan emosi. Meskipun sedang tidak karuan akibat berita gosip yang menimpa dirinya, Faras harus tetap profesional dengan terus bekerja sesuai jadwal yang sudah diatur Priya.
"Ya, sudah. Tunggu apa lagi," kata Faras masih dengan nada bicara kesal.
Dia dan Priya berjalan beriringan menuju teras rumah yang secara kebetulan datang Mbok Sumi dengan seorang wanita muda.
"Mas Faras," sapa Mbok Sumi berlari kecil mendekati Faras. "Ini Talita. Orang yang bakal gantiin saya jadi ART di sini. Kemarin Mbok sudah telepon ke Ibu, katanya langsung masuk kerja hari ini."
Faras yang hendak naik ke dalam mobil seketika menoleh ke arah wanita yang datang bersama Mbok Sumi. Dia hanya melihat penampilan Talita yang memakai jaket dan celana jeans usang dengan satu tangan menenteng tas ransel.
Faras mengangguk sekilas. Dia sedang tak punya banyak waktu. Terlebih saat ini pikirannya sedang sangat kacau akibat mendengar berita gosip.
Lagipula Faras sangat percaya pada Mbok Sumi yang tidak akan mungkin merekomendasikan sembarangan orang untuk bekerja pada keluarga Faras. Maka dia pun langsung mengizinkan Talita bekerja.
"Suruh langsung masuk aja, Mbok. Kasih tahu tugas dia di sini apa saja," kata Faras sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan sedikit bantingan.
Talita terperanjat kaget. Galak. Itulah kesan pertama yang Talita dapat dari seorang Faras.
Setelah mobil yang ditumpangi Faras melewati gerbang, sejenak Talita mengedarkan pandangan untuk menatap halaman depan rumah.
Talita terdiam terpukau melihat rumah besar dengan cat serba putih. Ada rasa bahagia menyadari dirinya akan tinggal di rumah itu, meski hanya sebagai pembantu.
Hari ini akan menjadi hari yang tak bisa Talita lupakan dalam hidupnya. Baru pagi hari tadi, dia pamit pada sang ibu untuk merantau ke kota, duduk di dalam bis selama empat jam, dan kini dia berada di dalam rumah mirip seperti istana negeri dongeng.
Setelah meletakan tas di kamar pembantu, Talita diajak keliling sambil Mbok Sumi menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan Talita.
"Mbok, yang tinggal di rumah ini ada berapa orang?" Talita bertanya setelah selesai mengelilingi rumah.
Talita heran, sebab sejak tadi dia tak melihat satu orang pun kecuali Faras yang sudah meninggalkan rumah.
"Ada empat orang, Ta. Bapak sama ibunya Mas Faras lagi di luar negeri. Lagi ada urusan bisnis Terus ada Melani adiknya Mas Faras. Dia jarang di rumah karena seringnya tinggal di apartemen," terang Mbok Sumi.
"Mas Faras itu kerjanya apa, Mbok?"
"Kamu nggak tahu? Mas Faras itu kan artis."
"Oh," Talita meringis setelah tertangkap basah jarang mengikuti perkembangan dunia hiburan. Dia selalu disibukan membantu Ibu sampai tak ada waktu menonton televisi.
"Ingat ya, Ta! Kalau pagi-pagi kamu harus langsung siapin makanan buat Mas Faras. Soalnya Mas Faras itu nggak pernah ninggalin sarapan," Mbok Sumi mengingatkan Talita agar gadis itu tak lupa hal yang paling penting dalam bekerja pada keluarga Alvaro.
Talita mengacungkan dua jempol seraya berkata, "Siap, Mbok."
Sore hari, Mbok Sumi pamit setelah selesai menjelaskan tugas-tugas pada Talita. Satpam yang berjaga di rumah Faras sedang izin sakit. Sehingga kini hanya ada Talita di rumah besar itu.
Faras pulang larut malam dan langsung masuk ke dalam kamar. Terlihat oleh Talita, pria itu memasang wajah kusut seperti sedang menanggung beban berat.
Keesokan harinya, Talita bangun pagi lalu menuju ke dapur untuk memasak sarapan. Untung saja Talita ingat apa saja menu sarapan Faras yang sudah dijelaskan Mbok Sumi.
Dia menata ke atas meja makan sebuah sandwich beserta segelas susu. Kemudian Talita menoleh ke arah jam dinding.
Sesuai cerita dari Mbok Sumi, seharusnya, Faras sudah bangun dan mulai sarapan. Tapi pria itu belum juga keluar dari kamar.
Talita menjadi bimbang, apakah dia harus membangunkan Faras atau membiarkan saja? Di saat Talita tengah berpikir, tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka disusul oleh suara derap langkah Faras yang berjalan.
"Mas Faras gak sarapan dulu?" Talita berteriak saat dilihatnya Faras berjalan tergesa-gesa menuju ke arah pintu utama.
Melihat sikap aneh pria itu, Talita tanpa sadar melangkahkan kaki. Mengikuti jejak Faras yang menghilang di telan pintu ruang tengah. Semakin mendekat ke arah teras, suara keributan semakin terdengar jelas. Talita mengernyitkan dahi, mengulang beberapa pertanyaan yang kemudian secara naluriah diolah menjadi skenario-skenario terburuk. Firasatnya mulai tidak enak.
Benar saja.
Baru saja Talita menginjakkan kaki di teras depan, Faras segera menarik tangan gadis itu dan merangkulnya tepat dipinggang.
"Kamu kenapa keluar, Sayang?" Tindakan pria itu membuat Talita menahan napas.
Kemudian, tanpa ragu Faras mengecup bibir Talita dengan ekspresi gemas. Suara jepretan kamera semakin menggila ketika bibir Faras resmi melepas kecupan singkatnya dari bibir Talita. Kemudian, masih sambil merangkul pinggang Talita, Faras berkata dengan suaranya yang serak.
"Kan sudah kubilang, tunggu saja di dalam". Faras menatap Talita dengan ekspresi lembut. Kemudian, ia berpaling dari wajah Talita yang sudah seperti kepiting rebus.
"Duh, maaf ya. Kenalkan, dia Talita. Kekasihku".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Chaa Ayu
bisa jadi Talita jadi tambatan hati beneran sama mas faras tuh🤭
2023-08-15
2