Malam hari, mobil yang dikendarai Faras menembus kegelapan jalan. Sorot lampu depan menyinari sepanjang jalan berkelok meninggalkan lokasi syuting.
Sambil menyetir, Faras sesekali meregangkan tangannya. Seluruh persendian di tubuh Faras seperti diremukan akibat adegan berkelahi yang dia jalani sepanjang hari ini.
Kemudian, diliriknya Talita yang duduk di samping dengan posisi kepala menempel pada jendela mobil. Gadis itu terlihat sangat nyenyak, membuat Faras sedikit iri sekaligus kesal.
Begitu mobil sampai di depan rumah, Faras menginjak rem secara mendadak menciptakan bunyi decit pelan. Talita yang tertidur juga ikut terpelanting dan tak dapat terelakan kepala Talita pun membentur dashboard.
"Aduh, Mas Faras, pelan-pelan dong kalau ngerem," protes Talita dengan mata setengah mengantuk. Dia mengucek mata, mengerjap sesaat dan dia pun tersadar jika mereka sudah sampai di depan gerbang rumah.
"Enak kamu ya tidur, sementara aku capek nyetir mobil," cibir Faras. Lalu dia menunjuk gerbang dengan lirikan mata. "Turun, terus buka gerbangnya sekarang!"
Talita hanya bisa menurut. Dia turun dari mobil dan mendorong gerbang tinggi itu. Satpam rumah memang belum datang sejak Talita bekerja.
Talita menutup kembali gerbang setelah mobil Faras masuk ke dalam halaman rumah. Kemudian dia berjalan dengan terseok-seok karena tak kuasa menahan rasa kantuk.
Faras sendiri sudah melesat menaiki tangga terlebih dahulu. Majikannya itu pasti masuk ke dalam kamar untuk mandi dan beristirahat. Itu pula yang hendak Talita lakukan tapi langkah kaki Talita terhenti saat dia mendengar Novi memanggilnya dari ruangan keluarga.
"Lho, Tante belum tidur?" Talita bertanya begitu melihat Novi masih terlihat segar bugar dan tak tampak tanda-tanda mengantuk.
Wanita itu hanya tersenyum dan menarik tangan dan menurunkan bahu Talita agar duduk di sampingnya. Lalu pandangan Talita tertuju pada tumpukan paperbag yang ada di atas meja.
"Tante sengaja nggak tidur. Mau kasih ini dan mau lihat reaksi kamu," Novi mendudukkan Talita di sofa lalu menyodorkan beberapa paperbag ke atas pangkuan Talita.
"Ini apa, Tante?" Talita bingung masih belum mengerti.
"Kamu buka aja."
Talita mengintip isi dari paperbag yang ada di depannya satu persatu. Seketika bola matanya membulat sempurna seakan tak percaya dengan apa yang telah diberikan Novi.
"Ini semua buat aku, Tante?" Kembali Talita bertanya untuk memastikan.
Novi hanya tertawa kecil sambil menepuk lengan Talita. "Iya, buat kamu lah. Memang buat siapa lagi. Kamu suka kan?"
Talita terdiam sejenak. Dia tak tahu harus berkata apa. Selama ini belum pernah ada orang baik yang membelikan dia baju mahal selain dari Faras dan Novi.
Tapi Talita juga sadar, kebaikan Novi itu karena dia telah tertipu oleh kebohongan yang dilakukannya bersama Faras. Tak terasa, satu bulir bening telah menetes dari pelupuk mata Talita.
Dia kasihan melihat Novi yang dibohongi oleh anaknya sendiri. Novi sudah sangat baik, tapi bagaimana jika ternyata majikannya itu tahu akan kebenaran yang sebenarnya? Apa reaksi Novi jika tahu Faras hanya pura-pura pacaran dengan seorang pembantu?
Melihat Talita yang menangis membuat Novi menjadi heran. Dia mengernyitkan wajah sambil menatap Talita dengan sorot mata yang sendu.
"Ta, kok kamu nangis?"
Talita berusaha untuk tersenyum dan buru-buru menyeka pipinya yang basah. "Aku cuma terharu, Tante. Makasih Tante sudah kasih aku baju sebanyak ini."
Novi ikut tersenyum seraya mengusap rambut Talita. Saat itu juga Novi menjadi teringat akan foto-foto Talita bersama seorang wanita. Dalam foto tampak pakaian Talita yang sangat sederhana. Sangat kontras sekali dengan penampilan Talita saat ini.
Benak Novi menjadi bertanya-tanya dalam hati. Dia berharap orang kepercayaannya mampu segera menemukan identitas Talita yang asli.
"Tante boleh tanya satu hal sama kamu nggak, Ta?"
Satu detik, raut wajah Talita berubah tegang. Dia menelan saliva merasakan firasat buruk akan terjadi dan kedua tangannya mengepal agar tak nampak sedang bergemetar.
"Tanya apa, Tante?"
"Tante..."
"Sayang, kok masih di sini?"
Sebuah suara membuat dua wanita berbeda generasi itu menoleh ke arah yang sama. Novi dan Talita menatap Faras yang kembali dari kamarnya untuk menemui Talita.
Terlihat Faras menghela nafas. Lalu segera dia menarik tangan Talita untuk berdiri. "Sorry, Mi. Talita sudah kecapaian. Biarin dia istirahat ya?"
Tanpa menunggu sahutan dari Novi, Faras langsung membawa Talita pergi dengan langkah terburu-buru. Dia tak mau sang ibu kembali bertanya hal yang aneh-aneh pada Talita.
Sementara itu, Novi memandang kepergian Faras dan Talita dengan rasa penasaran yang semakin memuncak. Dia mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu menghubungi nomor orang suruhannya.
"Halo, Adrian, kamu sudah menemukan siapa wanita yang ada di foto itu?"
"Belum, Bu Novi. Saya baru mendapatkan informasi yang sedikit sekali dan itupun belum jelas kebenarannya."
Novi mendesah frustasi, memijat keningnya yang terasa berdenyut. "Kamu itu bagaimana sih? Masak tugas seperti ini saja kamu nggak bisa."
"Maaf, Bu. Tapi saya sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan data yang lebih lengkap."
"Ya, sudah. Aku tunggu."
Selepas mematikan sambungan telepon, Novi berkacak pinggang dengan dada yang naik turun menahan rasa kesal. Beberapa kali dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut.
Kemudian Novi memutar badan hendak berjalan menuju kamar. Akan tetapi dia justru dikejutkan dengan sosok yang telah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
Novi sampai terperanjat dan hampir saja menjerit saking kagetnya. Dia langsung mengelus dada yang berdebar tiga kali lebih kencang.
"Faras, kamu ngagetin Mami aja. Bukannya kamu tadi nganter Talita ke kamar?"
Faras maju satu langkah mendekati Novi dengan pandangan tajam dan raut penuh kecewa. Bukannya menjawab pertanyaan sang ibu, Faras justru bertanya balik.
"Kenapa Mami suruh orang untuk mencari identitas Talita, Mi? Mami nggak percaya sama aku? Sama anak Mami sendiri?"
Novi berdecak. Ternyata Faras mendengar semua percakapannya dengan Andrian. "Bukan Mami nggak percaya, Far. Mami cuma pengin memastikan latar belakang keluarga Talita itu seperti apa?"
"Bukannya aku sudah minta ke Mami untuk menunggu. Kalau waktunya tepat, pasti Faras akan ceritakan semuanya, Mi," ucap Faras dengan nada bicara yang sedikit keras.
Novi memandang raut sang anak dengan tatapan bersalah. Ya, dia mengaku dia telah salah karena terlalu penasaran dengan Talita dan tidak mengindahkan permintaan Faras.
Diusapnya bahu Faras, agar perasaan sang anak jauh lebih tenang. Sedangkan kedua bola mata Novi mulai berkaca-kaca dengan hati yang berkecamuk.
"Mami minta maaf, Far. Habisnya Mami nggak tenang. Kamu dan adik kamu seperti lagi membohongi Mami. Perasan ibu itu terkadang nggak pernah meleset."
Melihat permintaan maaf Novi yang tampak tulus dari hati, membuat Faras terenyuh. Tentu saja dia tak bermaksud memarahi Novi tapi dia juga tak mau sang ibu tahu apa yang sedang dia lakukan bersama Talita.
Tak disangka oleh Novi, Faras melingkarkan lengan memeluk tubuhnya. Menciptakan rasa hangat juga tenang secara bersamaan.
Lalu dengan suara lembut, Faras berbisik, "Mi, aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan mana yang baik buat aku dan mana yang enggak. Jadi Mami nggak usah terlalu banyak pikiran. Lagipula, aku sama Talita cuma sekedar pacaran."
Novi melepas pelukan agar dapat menatap wajah Faras. "Jadi, kamu belum ada rencana yang lebih serius sama Talita, Far?"
Faras menarik nafas sebelum menjawab, "Aku sama Talita pengin saling mengenal dulu, Mi. Mami jangan dulu terlalu berharap Talita bakal jadi mantu Mami. Karena bisa jadi suatu saat nanti kita akan putus."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments