"Mel, pembantu baru yang gantiin Mbok Sumi mana? Kok nggak kelihatan?"
Pertanyaan yang membuat baik Melani dan Talita tegang seketika. Melani yang duduk di seberang Novi berusaha untuk tenang dan dia pun memalingkan muka berpura-pura menyalakan televisi. Namun sesekali dia melirik ke arah wajah Talita yang pucat pasi.
"Oh, pembantu baru? Dia bilang nggak betah, Mih. Makanya satu hari kerja, dia langsung pulang kampung."
"Kok nggak betah sih? Emang kurang enak apa kerja di rumah ini?" Danaldi ikut penasaran.
Melani mengangkat bahu. "Ya, mana Melani tahu, Pih. Pembantu baru itu takut sama Mas Faras kali."
Talita menghela nafas lega mendengar percakapan Melani dengan kedua orangtuanya. Dia pun melanjutkan langkah menuju ke dapur. Dia membuatkan tiga gelas orange juice.
Di sisi lain, Melani memutar otak agar ke dua orang tuanya tidak lagi mengungkit identitas Talita. Semakin orang tuanya bertanya, maka semakin dia harus pintar mengarang cerita.
Maka Melani pun memutar duduknya menghadap Novi dan Danaldi. Raut wajah Melani mendadak ragu, sebab selalu terjadi cekcok tiap kali dia membahas pacarnya. Namun, supaya orang tuanya berhenti bertanya tentang Talita, apa salahnya dicoba.
"Mami, Papi," ucap Melani bimbang.
"Apa, Sayang?" Novi bertanya menaikan alisnya menunggu Melani melanjutkan kata-katanya.
"Mami sama Papi izinin aku pacaran ya? Ke Kak Faras aja boleh, masak aku enggak," Melani merengek laksana anak kecil yang meminta dibelikan permen. Tak lupa Melani memanyunkan bibir dan sorot mata sendu agar kedua orang tuanya merasa iba.
"Enggak," jawab Danaldi tegas. "Papi nggak setuju kamu pacaran sama barong sei itu."
"Ck, namanya Baron, Pi. Bukan barong sei," kata Melani meralat nama pacarnya.
"Mami sama Papi ngizinin Faras pacaran karena usia kakak kamu memang sudah matang. Sementara kamu, kuliah aja belum kelar. Selesaikan kuliah kamu dulu, baru boleh pacaran," Novi menimpali. Dia setuju dengan keputusan suaminya yang tidak setuju Melani pacaran dengan Baron.
Melani semakin memajukan bibirnya hingga menyerupai paruh bebek. "Satu tahun lagi aku lulus kuliah kok. Kenapa sih Papi sama Mami nggak setuju aku sama Baron?"
Danaldi menarik nafas panjang. Dia menatap dalam pada putrinya yang sedang menjejakkan kaki dengan bibir mayun.
"Alasannya kan sudah jelas. Papi sudah bilang berkali-kali, Baron itu nggak sepadan dengan keluarga kita. Keluarga dia itu banyak masalah."
"Papi kamu bener. Pekerjaan Baron juga cuma seorang tukang cuci piring di hotel. Memangnya nanti dia bisa menafkahi kamu dengan baik?" ucap Novi yang mendukung penuh suaminya.
Detik berikutnya, terdengar bunyi dentingan gelas yang membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Ternyata Talita sudah ada di ambang pintu membawa nampan yang berisi tiga gelas orange juice.
Wajah Talita tampak gugup. Terlebih saat dirinya menjadi pusat perhatian. Lantas dia pun tersenyum untuk mengusir rasa kaku di hati.
"Maaf, tadi aku kurang hati-hati. Gelasnya hampir saja jatuh," Talita berbohong seraya meletakan nampan ke atas meja.
Sebenarnya Talita mendengar semua percakapan Melani dengan orang tuanya. Dapat Talita simpulkan jika Danaldi dan Novi merupakan tipe orang tua yang sangat menjunjung tinggi bobot, bibit, bebet dalam menentukan pasangan anak-anak mereka.
Talita menarik nafas panjang. Sambil berpikir apa jadinya jika Danaldi dan Novi tahu jika dia berbohong. Nasib Talita pun hampir serupa dengan Baron, pacar Melani. Dia hanya seorang pembantu dari keluarga miskin.
"Ya ampun, Talita. Kok repot-repot bawa minuman sih? Kamu di sini kan tamu," Novi menepuk bahu Talita dan menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya.
"Iya, Ta. Harusnya kami yang menyuguhkan kamu minuman. Tapi, makasih lho ya. Ini Om minum," Danaldi mengambil satu gelas orange juice lalu segera meneguknya.
Kebetulan sekali tenggorokan Danaldi terasa kering. Satu gelas orange juice itu langsung tandas habis.
Talita memang calon mantu yang baik, pikir Danaldi dan Novi dalam hati mereka masing-masing.
"Oh ya, Talita, kamu bakal lama menginap di sini kan? Orang tua kamu sudah tahu kamu menginap di sini? Eh, nama orang tua kamu siapa sih? Siapa tahu Tante kenal."
Sederet pertanyaan itu membuat Talita terdiam membisu tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Melani hanya berdecak santai.
"Mami ini sudah seperti wartawan aja. Sudah ah. Aku sama Talita mau pergi ke salon. Yuk, Ta, kita berangkat sekarang aja."
Melani bangkit berdiri dari duduknya lalu meraih tangan Talita. Talita tahu jika pergi ke salon hanya alibi Melani agar dirinya tak dicecar pertanyaan oleh Novi. Maka Talita pun hanya menurut saja.
Dia menunggu Melani mandi dan berganti pakaian. Tak sampai setengah jam, mereka berdua sudah berada di dalam mobil dengan Melani yang duduk di kursi pengemudi.
Sepanjang jalan mereka berdua hanya terdiam. Melani masih marah pada orang tuanya karena selalu mengungkit pekerjaan Baron yang hanya seorang tukang cuci piring di sebuah hotel bintang lima.
Sedangkan Talita diam karena masih canggung dengan Melani. Bagaimana pun juga Melani adalah anak majikannya. Namun, suasana hening di dalam mobil juga menambah rasa tak nyaman.
Maka Talita pun berinisiatif membuka obrolan. "Mbak Mel..."
"Ck, jangan panggil Mbak ah!" keluh Melani memotong ucapan Talita sambil tetap fokus melajukan mobil. "Aku berasa sudah tua banget. Padahal kita kan cuma selisih tiga tahun."
Talita tersenyum. "Tapi kan sapaan Mbak itu sebagai tanda kalau saya menghormati Mbak Melani."
"Panggil saja Melani! Oke?" Melani menoleh sekilas pada Talita sambil tersenyum. Lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Kamu tadi mau ngomong apa?"
Talita membalas senyuman itu lalu bertanya, "Mbak Mel... Eh, maksudnya, Melani, kamu bener punya pacar yang seorang tukang cuci piring?"
Melani tertawa tapi tak lama tawanya itu terdengar menggantung.
"Maaf, aku bukan bermaksud apa-apa," kata Talita cepat kala menyadari jika pertanyaannya mungkin menyakiti hati Melani. "Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa."
Melani menarik nafas panjang. Lantas dia pun mulai bercerita tentang Baron dan bagaimana mereka bisa bertemu hingga akhirnya menjalin hubungan backstreet.
Melani bercerita sampai tak terasa mereka telah sampai di depan salon yang mereka tuju. Sedangkan Talita menyimak sejak tadi. Dia merasa kasihan dengan Melani karena kisah asmaranya harus terhalang restu orang tua yang disebabkan status pekerjaan Baron.
"Ya, begitulah orang tuaku. Mereka malu aku pacaran sama Baron," ucap Melani ketika mengakhiri ceritanya. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah Talita. "Dan buat kamu, Ta. Jangan sampai kamu jatuh cinta beneran sama Kak Faras! Soalnya bakal sulit dapet restu Papi Mami, apalagi kalau sampai mereka tahu status kamu yang sebenarnya."
Talita hanya meringis. Mereka berdua kini sudah turun dari mobil dan masih berdiri di halaman salon. "Nggak mungkin lah, Mel. Mas Faras juga mana mungkin jatuh cinta sama aku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Bing Ruyue
ga ada yang ga mungkin di dunia novel Ta 🤭
2023-10-16
2