Talita menghembuskan nafas pelan, rona merah masih belum pudar dari kedua pipi. Rasa malu bercampur kesal menguasai diri Talita saat ini. Tak pernah terbayangkan jika dia akan dicium di depan banyak orang oleh majikannya sendiri.
Namun, Talita tak bisa berbuat apapun. Dia hanya seorang pembantu dan lagi pula saat ini dia sedang duduk di depan meja rias. Pergerakan Talita sangat terbatas.
Dia melirik wanita berambut pirang yang kini tengah memoleskan blush on pada pipinya. Wanita itu ialah Melani, adik perempuan Faras yang sengaja didatangkan untuk mendandani Talita.
"Rambut kamu aku potong sedikit, boleh ya, Ta?"
Talita mengangguk pasrah kala Melani bertanya. Pikiran Talita sedang melayang mengingat kejadian setelah Faras merebuat ciuman pertamanya.
Pria itu mengatakan pada semua awak media bahwa Talita adalah kekasihnya. Talita benar-benar kebingungan, tapi dia juga tak bisa membuka suara. Ciuman yang sangat mendadak dari Faras telah membuat Talita salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa.
"Nah, selesai, Ta." seru Melani dengan senyum lebar di bibir.
Melani memandang Talita bagaikan seorang pemahat patung yang baru saja menyelesaikan maha karyanya. Lalu dia menyambar tangan Talita dan menariknya keluar dari kamar untuk menunjukan pada sang kakak.
Ketika mereka menuruni tangga, Faras sedang sibuk berbicara dengan Priya. Begitu mendengar suara derap langkah kedua pria itu bersamaan menoleh ke arah tangga.
"Kakak Faras," panggil Melani dengan suara yang mendayu-dayu. "Nih, lihat hasil kerja aku. Keren kan?"
Talita menyadari sorot mata Faras yang menelitinya dari atas hingga ke bawah. Menjadikan Talita merasa tidak tak nyaman dan lagi-lagi dia salah tingkah.
Talita menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepatu hak setinggi sepeluh senti membuat kaki Talita terasa pegal. Secara reflek, dia menunduk untuk melihat apa yang salah penampilannya sampai-sampai Faras memandangnya dengan sangat tajam.
"Wow. Kamu cantik banget, Ta. Iya kan, Mas Faras?" Priya menoleh pada Faras yang menyilangkan tangan di depan dada.
"Biasa saja," komentar Faras singkat dan datar.
"Tapi lumayan lah segini juga," Melani berjalan mendekati Faras lalu mengadahkan tangan. "Terus Kak, mana bayaran aku?"
Faras mengeluarkan sebuah kartu hitam dari saku celana denim yang seketika itu membuat Melani menjerit gembira. Dia langsung menyambar kartu di tangan Faras, tak sabar untuk segera berbelanja.
"Thanks, Kak Faras," Melani memasukan blackcard ke dalam tas kecil. "Oh ya, jangan lupa Kakak juga harus beli pakaian untuk penyamaran Talita nanti! Biar dia kelihatan seperti anak sultan gitu."
Faras menghela nafas sekaligus melirik sinis adiknya. "Iya, sok tahu banget sih. Aku juga ngerti kali."
Melani berdecak dan memutar bola matanya. "Ya, sudah deh. Kalau begitu aku pergi dulu. Bye."
Selepas kepergian Melani, Faras melirik pada Talita. "Ayo, ikut!"
"Hah? Ikut kemana, Mas?"
Bukan Faras yang menjawab pertanyaan Talita. Melainkan Priya yang berkata dengan gaya genitnya "Kita shopping, Ta. Jalan-jalan ke Mall sambil cuci mata. Siapa tahu ketemu berondong."
Ehem.
Faras sengaja berdeham keras sebagai isyarat agar Priya berhenti bercanda dengan Talita. "Pri, siapkan mobil!"
"Iya, Mas."
Sesaat sebelum beranjak pergi, Faras kembali melirik tajam pada Talita. Membuat pikiran Talita buyar dalam sekejap dan lupa untuk meminta penjelasan.
Sepatu hak tinggi milik Melani membuat Talita kesusahan berjalan menuju halaman depan, menyusul Faras dan Priya yang sudah berlalu pergi. Begitu dia naik ke dalam mobil, Priya langsung melajukan kendaraan roda empat itu ke jalanan.
Talita duduk di kursi belakang tepat di samping Faras yang sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Priyatno, kamu sudah minta Kamila untuk membuat identitas palsu atas nama Talita kan?"
Priya yang sedang menyetir di depan hanya melirik sekilas melalui kaca spion. "Sudah beres, Mas. Aku bilang ke Kamila kalau Talita itu anak pengusaha kelapa sawit."
"Good," Faras melirik ke samping tepatnya pada sosok Talita. "Kamu punya handphone?"
Talita menggeleng sebagai jawaban. Menjadikan Faras berdecak lalu satu tangannya merogoh tas ransel. "Sudah aku duga, kamu pasti nggak punya. Nih, buat kamu."
Kedua bola mata Talita membulat sempurna kala melihat Faras yang menyodorkan ponsel berwarna ungu muda. Meski tidak mengerti harga pasti ponsel tersebut, tapi Talita bisa memperkirakan jika ponsel yang ada di tangan Faras saat ini adalah ponsel mahal.
Dengan perlahan, Talita menerima ponsel itu dari tangan Faras. Membolak-balikannya sejenak lalu mendongak untuk meminta penjelasan.
"Mas, aku belum mengerti maksud semua ini. Mas Faras ngakunya kita pacaran. Kenapa harus aku?"
Mendengar ucapan Talita, Faras pun berdecak sekaligus menghela nafas panjang. Dia menegakkan punggungnya agar dapat menatap Talita lebih dalam.
"Begini ya, Ta. Sekarang ini aku sedang difitnah. Supaya orang-orang nggak percaya sama fitnah itu, kita harus meyakinkan mereka kalau kita pacaran."
Talita menghirup udara panjang untuk menenangkan dirinya. Segenap kekuatan dia kerahkan untuk bisa membalas tatapan tajam dari Faras.
"Tapi, kenapa harus aku, Mas? Aku nggak mau."
"Ck, Talita, tenang saja aku bakal bayar kamu kok. Aku rasa satu milyar cukup. Bagaimana?"
Faras mengangkat alis menunggu jawaban dari Talita yang pasti tidak menolak jika ditawari uang sebanyak satu milyar. Namun, perkiraan Faras meleset jauh. Talita tetap menggelengkan kepala dengan mantap.
Seketika Faras tertegun, dahinya mengerut heran dengan pilihan yang diambil Talita. Sementara Priya yang menyetir mobil kini membelokan mobil masuk ke pintu masuk jalan tol.
"Kamu nggak mau? Kamu itu bodoh atau polos sih?" sindir Faras dengan seringai penuh kekesalan.
"A-aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau terlibat dalam masalah ini," sahut Talita gelagapan.
Rasa takut menyelimuti diri Talita begitu melihat aura kemarahan Faras yang berkobar. Kedua jemari Talita merapat kuat, untuk menenangkan tangannya yang bergemetar.
"Oke, kalau kamu nggak mau. Priyatno, stop!"
"Hah? Stop, Mas?" Seketika Priya kebingungan. Dia menoleh sebentar ke belakang untuk melihat raut wajah Faras. "Tapi kita lagi di jalan tol, Mas Faras."
"Kalau aku bilang stop, berarti stop. Berhenti!"
Nada bicara Faras yang ditinggikan membuat nyali Priya menciut. Dia tak punya pilihan lain selain menepikan mobil dan berhenti di tepi jalan. Dia sendiri tidak mengerti apa yang akan dilakukan Faras, tapi satu hal yang jelas situasi yang memanas itu akan membawa sesuatu yang buruk.
Setelah mobil berhenti sempurna di tepi jalan, Faras menggerakan tangan melintasi tubuh Talita. Ternyata pria itu membukakan pintu mobil yang berada di sisi kiri.
Sontak hal itu mengundang kebingungan dalam diri Talita. Dia menelan saliva kala Faras mencengkram bahunya.
"Sekarang kamu turun!"
"Aku turun di sini, Mas?"
"Ya, kamu dipecat sebagai ART di rumahku. Jadi, sekarang pulang saja ke kampung kamu sendiri. Kamu nggak dapat upah sepersenpun."
Raut pucat langsung menghiasi wajah Talita kendati dia memakai make up. Dia menatap Faras penuh keseriusan. Di dalam benaknya, sudah terbayang bagaimana perasaan ibu jika Talita pulang tanpa membawa hasil apapun. Tentu saja Talita akan malu, padahal dia sudah berjanji untuk membantu membiayai sekolah Ulfa.
"Mas, jangan buang aku seperti anak kucing dong! Aku ini manusia tahu. Kasihan sedikit sama aku," rengek Talita yang kini sangat ketakutan jika ancaman Faras benar adanya.
Ditinggalkan di tengah jalan tol ibukota yang sama sekali Talita tak tahu arah dan juga tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Sungguh membayangkan saja sudah membuat Talita takut setengah mati.
Tangan Faras terus mendorong bahu Talita agar keluar dari mobilnya. Namun, dengan cepat Talita menahan diri dengan mencengkram sandaran kursi mobil.
"Aku nggak butuh ART yang nggak mau nurut sama majikannya. Lebih baik kamu pulang kampung saja sana."
"Mas, jangan!"
Sayangnya, tenaga Faras jauh lebih besar dari Talita. Gadis itu menjerit pendek ketika terjatuh ke rerumputan yang tumbuh liar di tepi jalan. Detik berikutnya, pintu mobil pun tertutup rapat.
Priya yang kasihan melihat Talita diusir, hanya bisa menggenggam tangan dengan erat. Dia hafal betul jika Faras sedang dikuasi kemarahan, dia pasti tidak mau didebat.
"Aduh, Mas Faras, kasihan Talita. Jangan diusir di sini! Mana dia tuh nggak tahu jalanan kota," ucap Priya memutar kepalanya untuk melihat keadaan Talita.
"Biarkan saja. Cepat jalan!"
"Tapi, Mas."
"Jalan!" Faras meraung dengan mata yang melotot. Mau tak mau Priya segera menyalakan mobil dan langsung melaju sesuai perintah.
Dari bayangan kaca spion, Faras dapat melihat Talita yang bangkit berdiri dan mengejar mobilnya. Namun, tampak jika Talita kesulitan karena memakai high heels.
Seringai tipis tersungging di bibir Faras yang terus memperhatikan bayangan Talita.
"Hai, tunggu!" teriak Talita kencang sambil melambaikan tangan.
Nafas Talita tersengal serta kakinya juga dua kali lipat bertambah pegal. Dia berjongkok melepaskan sepatu yang kemudian dia tenteng sambil melanjutkan berlari.
Namun, sayangnya mobil Faras sudah terlalu jauh dan tidak mungkin Talita dapat mengejar. Dia berdecak, meraup wajah frustasi dan menghentakan kaki penuh kekesalan.
Dipandanginya jalanan yang mana banyak kendaraan roda empat melaju kencang. Talita menggigit bibir bawah karena takut, marah, dan yang paling mendominasi adalah bingung.
Dia tak tahu jalanan kota. Dia hanya gadis desa yang baru pertama kali menjejakan ibukota.
"Duh, sial. Aku harus bagaimana ini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments