Rasa pedas dari sambel yang disiapkan oleh Faras masih membekas di lidah Talita ketika Faras keluar dari tenda. Dia sudah minum setengah botol air mineral.
Hampir setengah jam Talita berdiam di tenda sambil berbalas pesan dengan Ulfa. Saat itu juga Talita tersadar jika dirinya belum mengirim uang untuk ibu.
Talita menepuk jidat sambil mengaduh. "Kakak macam apa aku ini. Kok aku bisa lupa transfer uang ke ibu."
Masalah baru dimana Talita harus menjadi pacar kontrak dari seorang Faras telah membuatnya lupa jika kini dia mengantongi uang lima puluh juta.
Hanya dalam satu hari Talita sudah bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau Talita kirim seluruhnya, pasti ibu akan curiga. Maka Talita pun mengirim balasan untuk Ulfa dengan dibumbui sedikit dusta.
'Nanti Mbak akan kirim tiga juta buat bayar sekolah kamu. Mbak akan coba pinjam uang ke majikan Mbak dulu, Fa.'
Pesan dari Talita langsung dibaca oleh Ulfa dan tak lama adik bungsunya itu membalas.
'Tapi Mbak Talita kan kerja belum satu bulan. Memangnya nanti bakal dikasih pinjaman, Mbak? Kalau Mbak Talita belum ada uang juga nggak apa-apa.'
Talita tersenyum singkat kala membaca pesan dari Ulfa. Adiknya itu pasti tidak enak hati menyadari sang kakak susah payah mendapatkan uang untuk biaya sekolah.
Setelah puas berbalas pesan dengan Ulfa untuk melepas rindu, akhirnya Talita berdiri meregangkan otot yang tegang. Dia mengintip dari pintu tenda melihat Faras yang sedang syuting adegan berkelahi.
Talita merasa penasaran. Dia ingin keluar dari tenda untuk melihat lebih dekat. Namun, tiba-tiba saja muncul Priya yang menahan bahu Talita.
Priya mendorong bahu Talita hingga dia mundur kembali masuk ke dalam tenda. Sontak Talita mengerutkan dahi kebingungan.
"Kamu mau kemana, Ta? Sudah deh. Mending diem aja. Jangan kemana-mana! Diluar banyak wartawan berita gosip."
Wajah Priya menunjukan jika dia sedang dalam keadaan tegang. Sekilas Priya melirik keluar. Untungnya dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk menjaga tenda agar para wartawan tidak bisa masuk secara sembarangan.
Tampaknya para wartawan itu memang sedang mengincar Talita. Mereka berlomba-lomba untuk bisa meliput berita tentang kekasih Faras yang selama ini jarang diketahui publik.
"Maaf, kalian nggak bisa masuk ke sini. Ini tempat khusus untuk Faras Alvaro beristirahat. Mohon dimengerti ya!" Kata salah seorang kru yang sudah ditugasi Priya menjaga tenda Faras.
"Tapi, Pak. Kita cuma mau minta waktunya sedikit aja. Sebentar aja. Nggak akan lama kok," salah seorang wartawan wanita terlihat memaksa. "Lagian kita cuma mau ketemu sama Talita. Bukan sama Faras."
Dia berada di barisan paling depan dari semua teman wartawannya. Memakai kemeja berwarna pink, rambut keriting yang dikuncir, dan sebuah kacamata kotak bertengger di hidungnya. Sedangkan di lehernya tergantung sebuah tanda pengenal dengan nama Feni.
"Tetap nggak bisa, Feni. Talita juga lagi nggak mau diganggu saat ini. Mohon dimaklumi!"
Feni berdecak kesal. Sepertinya percuma saja. Menunggu lama di lokasi syuting tidak akan membuahkan hasil. Dia tak bisa mendapatkan berita tentang kekasih Faras seperti yang diminta oleh bosnya.
Maka Feni pun berbalik untuk pulang. Dia menerobos kerumunan teman wartawan dari stasiun TV lain yang tetap tak menyerah.
Cut!"
Sebuah teriakan dari sang sutradara menggelegar di tengah panas teriknya matahari. Detik itu juga adegan berkelahi yang dimainkan Faras dan beberapa aktor lain berhenti seketika.
"Good job, Faras. Kita break dulu sebentar," teriak sang sutradara lagi.
Suara helaan nafas seakan terdengar serempak dari beberapa orang kru yang sudah kelelahan. Mereka bekerja dari pagi sampai siang hari dan akan terus berlanjut hingga sore nanti.
Namun, berbeda dengan Faras. Pria itu tampak masih bugar meski wajahnya telah dihiasi dengan luka-luka palsu. Dengan langkah cepat, dia meluncur ke dalam tenda miliknya.
Di sana sudah ada Talita dan Priya yang sedang melahap pizza. Faras langsung mencomot satu potong pizza tanpa perlu meminta izin. Lalu dia menggigitnya dan duduk di kursi.
Faras membuka ponselnya saat Priya pamit untuk keluar dari tenda. Sehingga tinggal tersisa Talita bersama Faras.
"Mas Faras, aku boleh keluar sebentar nggak? Aku ada urusan penting," Talita berkata dengan sedikit ragu-ragu.
Sejak tadi dia terus berada di dalam tenda dan dilarang oleh Priya untuk keluar. Sehingga Talita berpikir jika Priya dan Faras memang sangat menjaga Talita agar tidak bertemu dengan wartawan.
Faras tak menjawab. Dia fokus menunduk memainkan ponselnya. Membuat Talita sedikit geram, tapi dia berusaha setenang mungkin.
"Mas Faras," panggil Talita dengan menaikan nada bicaranya.
"Nggak usah teriak! Aku juga denger," Faras mendongak menatap Talita dengan sorot mata tajam mematikan. "Memang kamu ada urusan penting apa?"
Sejenak Talita menelan saliva begitu melihat lirikan mata Faras yang seperti mengulutinya.
"Aku ingin mencairkan cek yang Mas Faras kasih ke aku," jawab Talita dengan nafas tertahan
Faras menghembuskan nafas panjang dan berdecak. Kembali dia menunduk menatap layar ponsel dan menyahut tanpa memandang langsung pada Talita.
"Hmm, boleh. Tapi pastikan kamu nggak bertemu sama wartawan atau orang yang bertanya-tanya tentang kamu. Terus minta Priya buat temani kamu."
Perasaan lega menyelambut Talita dalam seketika. Tak bisa Talita menyembunyikan senyum yang perlahan merekah di bibirnya.
Syukurlah, Faras tidak terlalu menyulitkan Talita untuk membiarkannya pergi sendirian. Bahkan Faras menyuruh agar Priya menemani Talita.
Setelah mengucapkan terima kasih, Talita keluar untuk mencari Priya. Dia menoleh kanan kiri diantara orang-orang yang berseliweran. Tapi tak kunjung Talita menemukan pria bertubuh gempal dan bergaya gemulai itu.
Talita terus melangkah dengan pandangan mata yang terus menelisik ke sekeliling. Dia mengeluarkan masker agar tidak ada penggemar Faras yang mengenali dirinya.
Arensi Talita disibukan mencari Priya, hingga dia tidak begitu memperhatikan jalan. Lalu...
Dugh.
Talita tidak sengaja menubruk seseorang pria berseragam kurir pengantar makanan. Seketika Talita menunduk meminta maaf dan tak lupa membantu mengambil tas plastik yang terjatuh.
"Maaf, aku nggak sengaja."
"Iya, Mba. Saya juga minta maaf," sahut si kurir pengantar makanan yang mendongakan wajah untuk menatap Talita.
Namun, detik itu juga kedua bola mata Talita membulat sempurna begitu melihat si kurir tersebut tak lain adalah Sigit, kakak laki-lakinya sendiri.
"Mas Sigit?" Talita terlonjak dan tidak sadar menurunkan masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Talita?"
Sigit pula nampak tak kalah terkejut melihat penampilan Talita yang berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments