Sepanjang hari itu Melani dan Talita menghabiskan waktu di salon. Melani sengaja agar Talita tak dicecar banyak pertanyaan oleh Novi. Lagipula dia sedang butuh teman curhat dan Talita adalah orang yang tepat.
Talita tak banyak mengkritik curahan hati Melani. Dia hanya menanggapi seadanya. Berbeda jika Melani curhat dengan teman-temannya yang lain. Mereka biasanya akan langsung mengkritik Melani dengan ini dan itu. Melani hanya butuh tempat untuk menumpahkan keresahan hatinya saja, sedang tak ingin meminta saran.
Tak terasa hari telah berganti sore ketika mereka pulang ke rumah. Bangunan besar itu tampak sepi seakan tak ditempati oleh manusia.
Melihat kondisi yang sunyi, Talita menyimpulkan jika Faras belum pulang dari syutingnya. Dia mendengar jika jadwal hari ini sangat padat. Mungkin pria itu akan pulang larut malam. Sedangkan Danaldi dan Novi pasti sedang beristirahat di dalam kamar.
"Seharian di salon ternyata bikin ngantuk," Melani berusaha menutup mulutnya yang menguap lebar menggunakan tangan kanan. Sementara tangan kirinya dia pakai untuk menepuk bahu Talita. "Ta, aku ke kamar dulu ya. Nanti malam aku mau sambung lagi curhat ke kamu. Oke?"
Talita hanya mengangguk. Dia sendiri tidak pergi ke kamar. Melainkan berjalan menuju laundry room yang mana satu keranjang pakaian siap disetrika telah menunggunya.
Talita menyiapkan meja dan juga alat setrika. Tak lupa dia mengikat rambut agar tak merasa gerah. Talita mulai menyetrika hingga baju di dalam keranjang tinggal sisa beberapa lembar saja..
Tepat saat itu, Talita mendengar suara memekik yang membuatnya langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu. Dia melihat Novi yang sudah berdiri dengan memasang wajah terkejut. Satu tangan wanita itu memegang gelas kosong dan rambutnya acak-acakan ciri khas orang baru bangun tidur.
"Lho, Talita, kok kamu nyerika baju-bajunya Faras?" Novi bertanya heran sambil berjalan mendekati Talita.
"Memangnya kenapa, Tante?" Talita balik bertanya berusaha menampilkan wajah setenang mungkin. Dia mengambil satu lembar kaos yang dia hamparkan ke atas meja siap untuk di setrika.
Namun, segera Novi mencegah tangan Talita. "Kamu itu tamu di sini, Ta. Bukan pembantu."
Talita hanya menunduk. Ingin rasanya dia berkata pada Novi jika dirinya justru seorang pembantu, bukan tamu. Akan tetapi, sandiwara nya bersama Faras harus berjalan. Maka Talita pun mendongak dan tersenyum.
"Nggak apa-apa, Tante. Lagipula aku nggak ada kerjaan."
Kecurigaan Novi semakin menjadi. Terlebih gelagat Talita yang tampak gugup dan salah tingkah. Sejenak Novi terdiam memikirkan sesuatu yang sepertinya luput dari pengamatannya.
Sementara itu, untuk menghilangkan rasa canggung, Talita pun menarik ujung bibir membentuk senyum ramah. Dia melirik pada gelas kosong yang sedang digenggam Novi. Lalu bertanya tanpa menghentikan aktivitas menyetrika. "Tante sendiri kenapa kemari? Ada perlu sesuatu? Biar Talita yang siapin."
Novi terperanjat. Dia baru ingat jika tadinya dia berniat mengambil air minum. Namun, saat sudah ada di dapur, Novi mendengar suara dari arah laundry room yang letaknya memang bersebelahan dengan dapur.
Karena penasaran Novi pun mendekat dan dia dikejutkan dengan melihat pemandangan Talita yang sedang menyetrika pakaian.
"Ini. Tante tadinya mau ambil minum. Air di dispenser yang ada di kamar sudah habis. Jadi Tante ke dapur," jelas Novi sambil memandang gelas di tangannya.
"Kalau begitu, biar Talita yang ambilkan. Tante mau minum apa?"
Talita segera meletakan pakaian terakhir yang telah dia setrika. Lalu menghadap ke depan Novi untuk menerima perintah dari majikannya.
"Nggak usah. Tante bisa buat minuman sendiri kok. Kamu mending istirahat saja di kamar, Ta," ucap Novi sambil kembali berjalan ke dapur.
Dia sedang ingin membuat segelas susu hangat. Sementara itu Talita melirik ke jam dinding dan dia baru menyadari jika dia harus mulai menyiapkan hidangan makan malam.
Novi yang masih berada di dapur tampak mengernyitkan dahi, dia heran akan Talita yang seperti sudah menguasai letak segala perabotan di dapur. Bahkan gadis itu seperti ingin memasak.
Dilihatnya Talita mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Lalu mengiris bawang merah dengan gerakan cepat.
"Talita, kamu mau apa?"
Talita mendongakkan kepala. Dia tersadar jika Novi masih berada di dapur. Dia pun tampak salah tingkah lalu berkata, "Mau masak, Tante."
"Lho kok masak? Sudah deh mending kamu ke kamar. Istirahat. Kalau soal makan malam, nanti biar Tante pesan delivery aja."
"Nggak apa-apa, Tante. Aku lagi pengin masak buat Mas Faras," Talita kembali menunduk dan mengiris lagi bawah merah.
Novi menghela nafas panjang. Diletakkannya gelas ke atas meja lalu dia merangkul bahu Talita. Satu kesimpulan yang ditarik Novi ialah Talita tampaknya sungkan menumpang tinggal di rumah Faras.
"Ta, kamu jangan sungkan tinggal di sini! Tante nggak masalah kok kamu menginap di rumahnya Faras. Kamu nggak perlu melakukan seperti ini. Kamu itu tamu, bukan pembantu. Harusnya Tante yang masak buat kamu."
"Aku nggak apa-apa kok, Tante. Aku juga lakuin ini karena nggak ada kerjaan aja. Daripada diam, malah bikin jenuh."
Novi menatap tajam pada Talita yang menunduk menyiapkan bahan masakan. Benak Novi terus bekerja memikirkan hal yang paling buruk terjadi.
Mungkinkah Talita itu pembantu yang seharusnya bekerja di sini? Satu pertanyaan itu terbesit di pikiran Novi.
Pandangan mata Novi mengamati Talita dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ciri-ciri fisik yang dimiliki Talita sama persisi dengan ciri fisik yang jelaskan Mbok Sumi ketika mengabari ada seseorang membutuhkan pekerjaan.
"Mbok Sumi bilang ART yang bakal kerja di rumah ini masih muda, tubuhnya kecil, dan juga berkulit putih. Sama persis seperti Talita kalau begitu," Novi bergumam sangat pelan mengingat pembicaraannya dengan Mbok Sumi beberapa hari lalu.
Namun detik berikutnya, Novi menggelengkan kepala perlahan. Dia yakin Melani tidak mungkin berbohong. Mungkin Talita dengan sosok pembantu yang dibawa oleh Mbok Sumi hanya memiliki persamaan bentuk tubuh saja.
"Oh ya, Ta. Nama ayah kamu siapa sih? Siapa tahu Tante kenal," Novi bertanya sambil mengaduk susu hangat yang telah dibuatnya.
"Nama ayah saya Surya, Tante," kali ini Talita tak berbohong. Nama ayah Talita memang Surya.
Mendengar jawaban Talita, Novi seketika mengerutkan keningnya. Tampak berpikir dan mengingat-ingat nama Surya yang berprofesi sebagai seorang pengusaha kelapa sawit.
"Surya? Suryadi Kuswono, bukan?" Novi menerka.
Talita menggelengkan kepala. Dia tetap menunduk mengiris cabai agar Novi tak melihat wajahnya yang gugup.
"Terus siapa dong? Pengusaha kelapa sawit yang namanya Surya?"
Manik mata Novi menyipit curiga. Sedangkan Talita terdiam tak bisa berkata. Dia tak pandai berbohong ataupun merangkai cerita seperti uang dilakukan Melani dan Faras.
"Pengusaha kelapa sawit yang namanya Surya kan banyak, Mi. Bukan cuma Om Suryadi aja," ucap Faras yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur.
Baik Talita maupun Novi sama-sama tersentak kaget. Dua wanita berbeda generasi itu serempak menoleh ke arah Faras yang sedang berjalan mendekat.
Faras berdiri di samping Novi. Lalu menjulurkan lengannya untuk merangkul bahu wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mami, aku mau bicara berdua dulu sama Mami. Boleh nggak?" kata Faras pada Novi yang mengacungkan jari telunjuk ke dada, menunjuk dirinya sendiri.
"Sama Mami? Mau bicara apa?" Novi bertanya sambil sekilas melirik Talita yang kini sedang mengupas kentang.
"Ada perlu sebentar."
Faras menarik tangan Novi. Membawa wanita itu menuju ruang makan. Lantas dia menarik satu bangku untuk di duduki oleh Novi, barulah dia duduk di kursi sebelahnya.
"Ada apa sih, Far? Kok kamu seperti serius banget gitu?"
Faras berdeham sebelum berbicara. "Begini, Mi. Aku boleh nggak minta tolong ke Mami untuk jangan tanya-tanya tentang keluarga Talita."
Bola mata Novi menyipit dan wajahnya juga mengernyit bingung. "Memang kenapa?"
"Talita itu lagi ada masalah sama ayahnya, Mi. Kalau Mami tanya-tanya tentang orang tua Talita, aku khawatir dia jadi sedih dan keinget sama masalah keluarganya," Faras menggenggam tangan Novi dan menampilkan wajah memohon.
Dia kerahkan keahliannya dalam berakting. Dan rupanya, Novi mempercayai Faras tanpa ada keraguan. Wajah Novi mendadak berubah merasa bersalah. Sekilas dia melirik ke arah pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur.
"Oh, begitu. Itu sebabnya Talita pergi liburan ke Indonesia?"
"Liburan ke Indonesia?" celetuk Faras yang bingung akan maksud Novi. Dia langsung mengatupkan mulut menyadari kesalahannya.
"Iya, Talita itu tinggal di New York kan? Dan dia datang ke sini karena lagi liburan? Kata Melani begitu."
Faras mengangguk saja. Mengiyakan ucapan Novi. "Oh iya, Mi. Makanya Talita itu liburan ke sini karena pengin tenangin diri dulu. Jadi, Mami nggak akan lagi tanya-tanya soal orang tua Talita kan?"
Novi terdiam sejenak. Dia menarik nafas panjang dan akhirnya mengangguk. Meski begitu, hati Novi masih belum tenang sebelum dia memastikan segala sesuatu secara pasti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments