Fakta bahwa Faras mengajak makan malam Natali sudah terdengar di telinga Talita. Dia bersikap cuek dan memang itu yang harus dia lakukan. Dia tak punya hak untuk melarang Faras dekat dengan siapa.
Sementara itu, Faras sudah tak sabar menunggu minggu malam. Berkali-kali dia menjelajah di internet untuk mencari restoran yang tepat untuk dijadikan makan malam romantis.
Pada akhirnya hari yang ditunggu Faras pun tiba. Pria itu semakin besar rasa gembira. Bahkan dia selalu bersiul ceria dimana pun dia berada.
Hari minggu, biasanya Melani pergi bersama teman-temannya hingga malam. Kedua orang tua Faras pun tak terlihat di rumah sejak pagi. Mereka sedang banyak urusan yang mengharuskan kerja di hari libur. Jadi rumah itu hanya tersisa, Faras, Talita dan satpam rumah.
Pukul empat sore, setelah semua pekerjaan rumah tangga yang dapat Talita kerjakan selesai, dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan daripada harus menyaksikan Faras bersiap kencan dengan Natali.
Talita ingin mencari udara segar sekaligus mencari hiburan untuk hatinya yang sedang merana.
"Kamu mau kemana? Rapi banget."
Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Talita saat berjalan menuruni tangga. Dia mengusap dada lalu mendongak ke atas.
Ternyata Faras sedang berdiri berpegangan pada pagar tangga, mengamati penampilan Talita yang terlihat rapi meski hanya memakai jaket, celana denim panjang, dan sepatu kets.
Talita juga memperhatikan penampilan Faras saat itu juga. Pria itu sudah siap dengan setelan jas semi formalnya.
"Aku mau keluar dulu, Mas. Pengin beli sesuatu," sahut Talita dengan sedikit kebohongan. Padahal dia sendiri tak tahu akan pergi kemana.
"Ya, sudah bareng aja berangkatnya. Memang kamu mau beli apa?"
Talita meringis mendengar tawaran dari Faras. Tidak mungkin dia berangkat satu mobil bersama Faras. Dia sudah memutuskan untuk tidak mengharapkan cinta dan menutup segala celah agar tidak kembali menaruh perasaan kepada anak majikannya itu.
"Nggak usah, Mas. Aku pergi sendiri aja. Nanti Mas Faras malah jadi telat jemput Mbak Natali," Talita tersenyum menyembunyikan rasa perih di dalam dada yang tiba-tiba saja datang.
Dia berbalik dan melanjutkan menapaki anak tangga dengan perlahan. Namun, langkah kakinya kembali terhenti saat Faras berteriak memanggilnya.
"Talita, tunggu!"
Faras pun berjalan menuruni tangga untuk mendekat. Tanpa diduga, Faras merapatkan resleting jaket yang digenakan oleh Talita.
"Udara di luar lagi dingin banget. Hati-hati di jalannya!"
Talita tertegun, tak bisa bernafas mendengar sebuah kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Faras. Sorot matanya mendadak berubah berbinar.
Talita menggigit bibir bawah untuk meredakan perasaan yang menggebu-gebu di dada. Perasaan bahagia melihat perhatian Faras yang tulus padanya.
Namun, saat itu juga, Talita sadar akan sikap Faras yang sejatinya baik dan perhatian. Dan Talita menyakini bahwa bentuk perhatian Faras pada dirinya bukanlah perhatian seorang kekasih.
"Makasih, Mas. Aku pergi dulu," Talita memberikan senyuman singkat. "Semoga sukses kencannya sama Mbak Natali."
Faras mengangguk kecil sambil memandang kepergian Talita. Lalu dia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponsel.
Talita sendiri mempercepat langkah karena pengemudi ojek online yang dipesannya sudah menunggu di depan gerbang. Tak menunggu lama, dia bergegas duduk di jok belakang sepeda motor sambil memakai helm.
Sekitar setengah jam kemudian, Talita sudah sampai di sebuah deretan toko pusat perbelanjaan. Hujan deras langsung mengguyur kota begitu Talita turun dari ojek online.
Tak punya pilihan lain, Talita langsung menepi meneduh di pelataran salah satu toko buku. Talita mendongakkan kepala ke langit berwana kelabu.
Hujan sangat deras sore hari itu. Pikiran Talita kembali melayang pada acara makan malam Faras dan Natali yang pasti akan bertambah romantis dengan guyuran hujan ini.
Talita berdecak pelan dan menggelengkan kepala. Dia menampik pikirannya yang masih terpaut pada Faras. Maka dia pun masuk ke dalam toko buku untuk mengalihkan perhatian.
Ketika Talita sedang melihat-lihat deretan buku di rak, ada seorang perempuan muda datang mendekat dengan langkah malu-malu untuk berbicara.
"Permisi. Kamu benar Talita Angelina, kan?"
Talita langsung tertegun. Ternyata ada seseorang yang mengenalinya sebagai pacar Faras. Talita menebak perempuan yang masih sangat muda di hadapannya kini pastilah salah satu penggemar berat Faras.
Begitu Talita mengangguk mengiyakan, sontak perempuan muda itu pun memekik girang. Detik berikutnya, perempuan muda itu melempar pandangan ke salah satu sudut toko untuk memanggil temannya.
"Lea, bener tebakan aku. Dia itu Talita Angelina, pacarnya Faras Alvaro."
Seruan perempuan muda kepada temannya terdengar jelas di penjuru toko buku. Membuat beberapa pengunjung lain pun ikut menoleh karena penasaran. Ada diantara mereka yang sampai melongok dari balik rak buku.
Tak dapat dihindari kini Talita menjadi pusat perhatian beberapa orang yang mendekat. Ini pertama kalinya, Talita harus bersandiwara tanpa didampingi Faras ataupun bantuan Melani.
"Kenalin, aku Sara dan ini temen aku Lea. Kita boleh minta foto bareng, nggak?"
"Boleh," sahut Talita singkat dan dihiasi dengan senyuman manis.
Wanita yang bernama Sara mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya. Mereka bertiga mengambil beberapa pose foto dengan Talita yang berada di tengah.
Kemudian beberapa orang lain pun juga bergilir meminta foto bersama.
Talita sungkan untuk menolak. Toh, lagipula jumlah mereka tidak terlalu banyak. Dia berbasa-basi ala kadarnya dengan penggemar Faras supaya mereka tidak merasa kecewa.
Namun, tiba-tiba seorang wanita bertubuh gemuk muncul dari ujung rak buku. Dia berjalan mendekati dan langsung menampar kuat pipi Talita dengan keras.
Plak.
"Auh."
Satu ringisan kecil lolos dari bibir Talita. Seketika itu, Talita merasa pipinya panas dan berdenyut. Dia mengusap bekas tamparan wanita tadi yang sekarang pasti telah membekas memerah.
Semua orang yang melihat kejadian itu berteriak kaget, menghampiri dan mencecar Talita dengan pertanyaan penuh rasa iba.
"Aduh, Talita, kamu nggak apa?"
"Pasti sakit banget ya?"
Lea melotot pada wanita gemuk yang baru saja menampar Talita. "Hai, kamu ada masalah apa sama Talita, hah? Main tampar seenaknya aja."
"Aku nggak suka sama dia," tunjuk wanita gemuk ke arah Talita dengan nada bicara berapi-api. "Dia itu nggak pantes jadi pacarnya Faras. Pasti dia cuma memanfaatkan ketenaran Faras. Muka dia itu muka-muka penjilat."
Talita menahan lengan Lea yang hendak maju untuk melabrak. "Lea, jangan! Sudah nggak apa-apa. Jangan diterusin!"
"Tapi dia keterlaluan banget. Main pukul segala lagi," Sara ikut buka suara membela Lea.
Talita melirik pada wanita gemuk yang masih berdiri berkacak pinggang dua meter darinya. Dia sadar jika wanita itu pasti fans fanatik Faras. Saking fanatiknya, dia bisa berbuat apa saja semau dia.
Yang harus dilakukan Talita adalah menghindar. Dia menenangkan Lea dan Sara yang ingin mendebat wanita gemuk itu lalu dia berpamitan pada keduanya untuk segera pergi.
"Sudah. Aku nggak apa-apa. Aku pergi dulu, masih banyak keperluan yang lain."
Namun, saat Talita melangkah menuju pintu keluar, wanita gemuk itu kembali berteriak, "Pasti ibu kamu yang ngajarin kamu buat jadi penjilat ya? Makanya kamu deketin Faras supaya bisa ikut terkenal. Faras kena pelet apa ya? Kok bisa sampai mau sama kamu."
Detik itu juga, Talita menghentikan ayunan langkah kaki. Kedua tangannya mengepal kuat dengan dada yang naik turun karena nafas yang menggebu.
Dengan cepat Talita memutar badan, berjalan kembali ke arah si wanita gemuk.
"Maaf ya? Anda tahu saya siapa? Tanpa jadi pacarnya Faras pun saya bisa jadi orang terkenal. Saya nggak butuh ketenaran dan uang," seru Talita melototkan mata saking tak tahan mendengar si wanita gemuk mencaci ibunya. "Dan satu lagi. Jangan bawa-bawa nama ibu saya! Kamu tahu apa tentang saya."
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi wanita gemuk sebagai balasan atas penghinaan pada ibu Talita.
Mungkin Talita akan diam saja jika dia yang dihina tapi dia tidak terima wanita itu menuduh sang ibu tercinta dengan perkataan yang tidak benar.
"Puas kamu?" teriak Talita setelah berhasil menampar pipi si wanita gemuk.
Namun, tamparan Talita itu justru membuat kobaran kemarahan di dada wanita gemuk semakin bertambah besar. Detik berikutnya, wanita itu menyambar rambut Talita dengan sangat kuat.
Tak mau kalah, Talita juga menjambak rambut si wanita gemuk menggunakan kedua tangan.
*
*
*
Di tempat lain, Faras yang sedang duduk bersama Natali mendapati ponselnya bergetar. Dia segera mengangkat telepon dari Priya dengan berat hati.
"Ada apa, Priyatno?"
"Mas Faras, gawat! Talita berkelahi di pusat perbelanjaan, Mas."
Brak.
Faras menggebrak meja sekaligus bangkit berdiri menjadikan Natali tersentak karena terkejut.
"Apa? Talita berkelahi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments