Melani merebahkan diri di ranjang dengan kedua tangan yang menggenggam ponsel. Dia membuka pesan yang dia kirimkan kepada Baron satu jam yang lalu. Namun sama sekali belum ada balasan.
Lantas Melani pun berdecak dan menggulingkan diri di atas ranjangnya yang berukuran queen size itu.
"Membosankan," keluh Melani yang bangkit terduduk. "Mending aku ke kamar Talita aja deh."
Entah kenapa menemui Talita menjadi pilihan Melani. Secepat itu dia dapat akrab dengan Talita. Wanita yang lugu dan polos tapi nyaman untuk dijadikan teman curhat.
Melani berjalan ke kamar Talita yang hanya terpisah satu ruangan kecil. Dia langsung memutar gagang pintu tanpa mengetuk pintu karena di pikir Talita sedang sendirian.
Namun dugaan Melani salah. Talita justru sedang berada di dalam kamar bersama Faras. Dan yang lebih menghebohkan lagi, mereka berdua sedang berciuman.
Dia bola mata Melani membulatkan mata sambil menutut mulut. Faras mencium Talita dengan penuh khidmat sampai-sampai tak mendengar pintu terbuka.
Lantas Melani pun menutup kembali pintu dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Lalu Melani sengaja bernyanyi keras di depan kamar Talita.
Sudah dapat dia bayangkan wajah Faras yang pasti sudah semerah buah tomat kelewat matang. Dan benar saja, tak lama setelah itu, pintu kamar Talita terayun terbuka menampilkan Faras yang menatap tajam pada Melani.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Faras dingin.
"Oh, aku? Aku lagi jalan-jalan sambil nyanyi biar nggak sepi-sepi amat. Ini rumah suasananya sepi banget," ucap Melani beralasan. "Nah, Kak Faras sendiri lagi ngapain?"
"Urusan bisnis," Faras menutup pintu kamar dengan sedikit bantingan. Lalu dia menyipitkan mata untuk mengamati ekspresi wajah Melani. "Kamu tadi lihat aku dan Talita di dalam?"
Melani menggelengkan kepala. "Enggak. Aku nggak lihat apa-apa. Memang Kak Faras sama Talita habis ngapain?"
Kini giliran Faras yang menggelengkan kepala. Lalu berkata dengan sedikit rasa gugup, "Enggak ada apa-apa. Sudah lah. Kakak mau ke kamar."
Faras berjalan meninggalkan Melani yang masih berdiri di depan pintu kamar Talita. Namun baru beberapa langkah, Faras mendengar Melani berucap.
"Emang Kakak tadi habis ngapain sih? Ciuman ya?"
Sontak Faras memutar badan melotot mata Melani yang terkikik dan buru-buru masuk ke kamar Talita. Dia menghela nafas panjang. Sedang tak ada tenaga untuk berdebat dengan Melani, menjadikan Faras memilih meneruskan langkah menuju kamar.
Di dalam kamar, Faras langsung mencuci mukanya di kamar mandi. Lalu dia pandangi bayangan wajah basahnya di cermin.
Entah kenapa bayangan adegan ciuman tadi kembali merasuki pikiran Faras. Bagaikan sebuah potongan film yang sedang diputar.
Bayangan ketika dirinya menekan tengkuk Talita agar gadis itu tak dapat bergerak melepaskan diri. Ketika dia benar-benar melahap bibir Talita dengan rakus seperti sebuah makanan lezat.
Faras tak percaya dirinya akan bertindak seperti itu dan seagresif itu.
"Ck, aku ini kenapa sih?"
Di tempat kamar lain, Melani melengkung kan senyum begitu melihat Talita yang tampak masih gugup. Kedua pipi Talita tampak bersemu merah menahan malu.
Talita mengalihkan perhatian dengan mengetik sesuatu di ponsel miliknya. Dia mencari video yang serupa dengan yang tadi ditunjukan Faras.
Sedangkan Melani sudah terlentang di atas ranjang. Penasaran dengan video yang ditonton Talita, maka dia pun menoleh.
"Aku dikasih tugas sama Kakak kamu. Ngeselin banget," Talita mengeluh dengan kedua bola mata yang tetap menonton video.
Melani tertawa. Baru pertama kali ini dia melihat Talita menunjukan dirinya yang sebenarnya.
"Sudah resiko, Ta. Kalau kerja sama Kak Faras emang gitu. Harus totalitas." Melani seketika berdiri dan menarik tangan Talita. "Sini aku ajarin. Pertama, badan kamu harus tegap, Ta."
Melani menekan bahu Talita agar gadis itu membusungkan dada. Akan tetapi detik berikutnya, Talita kembali lagi membungkuk dengan tangan yang tersilang di depan dada.
"Ih, aku nggak mau ah. Nanti dada aku kelihatan gedhe," gerutu Talita yang seketika membuat Melani tertawa.
"Ya biarin, Ta. Semakin gedhe, semakin banyak yang suka," Melani menggoda dengan mencoleh dada Talita.
Membuat Talita menjerit dan semakin merapatkan tangan untuk membentengi aset berharga miliknya. Namun hal itu justru menjadi hiburan sendiri bagi Melani. Dia kembali hendak mencolek tubuh Talita di sisi lain, tapi Talita berusaha untuk menghindar.
Tindakan Melani dan Talita itu berujung dengan kejar-kejaran di dalam kamar. Mereka tertawa cekikikan sambil berlari bahkan sampai melompati tempat tidur.
Pergerakan Talita dan Melani berhenti ketika terdengar suara dering ponsel milik Talita. Segera Talita menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia menerima telepon dari Faras dengan perasaan yang tidak mengenakan.
"Halo, Mas Faras?"
"Siapa yang suruh kamu bercanda?" suara Faras dari seberang langsung menggelegar, membuat Talita mengerti dan langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aku perintahkan kamu supaya latihan jalan pakai sepatu high heels. Bukan bercanda!"
"I-iya, Mas. Ini juga lagi latihan."
"Kamu pikir aku tuli, suara ketawa kamu itu kedengaran sampai kamar aku," bentakan di setiap kata yang terucap dari mulut Faras membuat Talita tersentak.
Detik berikutnya, Faras langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak dan seketika itu juga Talita menjadi terdiam lesu. Sedangkan Melani menatap wajah Talita dengan rasa bersalah.
Dengan berat hati, Talita memakai sepatu hak tinggi dan berusaha berjalan dengan anggun. Melani merebahkan diri di kasur dan dalam hitungan detik dia sudah berada di alam yang lain.
Suara derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai terdengar sangat jelas di malam yang sunyi. Talita terus berjalan mondar-mandir dengan perlahan hingga kakinya mati rasa bagaikan telah diamputasi.
"Aduh," Talita meringis seraya menjatuhkan diri di atas kasur tepat di samping tubuh Melani. "Sakit banget."
Kedua mata Talita yang memang sudah berat sejak tadi tak kuasa menahan kantuk dan hanya dalam hitungan detik, dia pun terpejam menyambut indahnya mimpi. Dia terlelap dengan kaki yang masih memakai sepatu hak tinggi.
Tak berapa lama, Talita terbangun karena suara dering ponsel. Dia mengerjapkan mata untuk melihat dengan jelas jam berapa saat ini.
"Pukul empat pagi," gumam Talita yang kelopak matanya masih terasa berat. Namun, dia harus tetap menerima panggilan masuk dengan nama Faras tertera di layar.
"Kamu sudah bangun? Kita berangkat sekarang!"
Hanya sebaris kalimat itu saja yang terdengar di telinga Talita begitu menerima panggilan. Kemudian sambungan telepon langsung dimatikan begitu saja.
Talita menghela nafas. Bangun pagi sudah biasa baginya. Hanya saja kali ini terasa begitu berat karena dia hanya tidur beberapa jam saja.
Talita mandi terburu-buru. Dia tak tahu lokasi syuting Faras kali ini dimana dan dia pun lupa untuk bertanya. Maka dia pun asal mengambil saja gaun selutut berbahan lembut.
Suara ketukan pintu membuat Talita segera berlari membukanya. Ternyata Faras sudah berdiri di depan kamar dengan berkacak pinggang.
"Lama banget," protes Faras yang kemudian meneliti penampilan Talita dari bawah sampai atas. "Kita berangkat sekarang!"
Talita memberengutkan bibir begitu Faras memutar badannya. Di balik punggung Faras, Talita memayun-mayunkan bibir menirukan gaya bicara Faras tanpa suara.
Pada hari pertama menginjakan kaki di rumah keluarga Alvaro, Talita menghormati Faras sebagai seorang majikan. Akan tetapi lama-kelamaan Talita merasa sebal juga dengan sifat Faras yang terlalu banyak menuntut.
Lima belas menit kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil melewati jalanan pagi hari yang masih gelap dan lengang.
Terlalu pagi untuk pergi bekerja. Bahkan mereka belum sempat sarapan.
"Nanti kita sarapan di sana saja. Ingat apa saja yang harus kamu lakukan?" ucap Faras tanpa menoleh ke arah Talita yang duduk di sebelahnya.
Talita mengangguk sambil melirik sekilas pada Faras yang fokus menyetir. "Jaga ucapan, jaga sikap! Jangan terlalu banyak bicara dengan wartawan atau fans! Tolak jika ada yang meminta waktu untuk wawancara."
"Bagus," ucap Faras singkat yang kemudian tak ada obrolan lagi diantara mereka.
Merasa masih mengantuk dan juga perjalanan yang tak kunjung sampai, membuat Talita tertidur di kursi mobil. Lalu tiba-tiba...
Ccciitt.
Dug.
Faras menghentikan mobil secara mendadak menjadikan Talita terpelanting kedepan dan dahinya membentur dashboard. Talita menoleh ke samping berniat melayangkan protes pada Faras.
Akan tetapi, pria itu sudah lebih dulu keluar dari mobil. Dia berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu.
Talita tersadar jika mereka kini sudah berada di lokasi syuting. Dia mengedarkan pandangan ke luar. Lokasi syuting rupanya berada di sebuah gedung bertingkat yang baru dibangun setengah jadi.
"Ayo, cepat! Lama banget," keluh Faras yang sudah jenuh menunggu Talita keluar.
Talita tersadar dan seketika menerima uluran tangan Faras yang membantunya keluar dari mobil.
Kembali Talita mengedarkan pandangan. Banyak orang yang berseliweran kesana kemari seakan mereka sudah hafal tugas masing-masing.
Faras menggandeng tangan Talita menerobos kerumunan orang. Hingga mereka melewati beberapa orang yang sepertinya adalah penggemar Faras, karena mereka langsung berteriak memanggil Faras begitu sang idola mereka berjalan melewati mereka.
Secera tak sadar Talita mengeratkan tangan di lengan Faras. Seolah tak rela jika Faras membawanya menuju kerumunan para penggemar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ade Komala
bagus ceritanya
2023-10-28
1