Faras menjemput Talita tepat pukul delapan malam. Dia sendiri sudah memakai tuxedo dengan dasi kupu-kupu. Entah dimana pria itu memakai pakaiannya itu.
Beberapa kali Faras melirik alat penunjuk waktu yang melingkar indah di pergelangan tangan. Dia sudah tak sabar menunggu untuk pergi akan tetapi Talita sangat lama turun dari kamarnya.
Faras berdecak kesal dan menyandarkan diri sisi mobil Limousine hitam yang akan membawanya ke acara film premier. Hingga terdengar suara pintu terbuka, Faras pun dengan cepat menoleh.
Dilihatnya Talita yang berjalan dengan perlahan tapi sangat anggun mendekati Faras. Talita menampilkan senyumnya yang terindah dan berdiam sejenak di depan Faras menanti pujian dari pria itu.
"Jalan dari kamar ke halaman depan aja lama banget. Nggak bisa apa cepetan dikit?" keluh Faras begitu Talita berada di depannya.
Senyum manis di bibir Talita seketika hilang, berganti dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Baru juga tiga menit. Rumah Mas Faras aja tuh yang kegedean jadi perlu waktu lama buat jalan ke halaman," Talita mengerucutkan bibir kesal
Pupus sudah harapan untuk mendapatkan pujian dari Faras atas penampilannya malam ini. Justru Talita mendapatkan protes dari Faras karena jalannya yang lambat.
"Tiga menit itu juga waktu berharga bagi orang sibuk seperti aku, ngerti?" Faras membukakan pintu mobil agar Talita bisa masuk. "Cepetan masuk! Nanti kita bisa terlambat lagi."
Talita masuk ke dalam mobil panjang nan mewah itu dengan muka cemberut. Seorang sopir mulai melajukan mobil menuju jalanan padat malam hari di pusat kota.
Selama perjalanan, Talita dan Faras saling terdiam duduk dengan saling melemparkan pandangan ke jendela. Talita memandang keluar dari jendela kiri sedangkan Faras melalui jendala kanan.
Baru setelah mobil berhenti di sebuah gedung, Faras keluar lalu mengulurkan tangan untuk membantu Talita turun dari mobil. Talita menyambut uluran tangan, wajah cemberutnya kini kembali ke mode tersenyum manis.
Karpet merah membentang di hadapan mereka, beberapa wartawan sudah siap dengan kamera mereka menjepret momen Faras yang berjalan bersama Talita. Kilat cahaya dari kamera tampak menyilaukan mata. Sehingga Talita mengeratkan genggaman tangan pada Faras agar dia tak terjatuh.
Talita dan Faras berhenti di sebuah banner besar yang menggambarkan poster film 'Bad Guys'. Para wartawan semakin gencar mengabadikan momen Faras yang melingkarkan tangan di pinggang Talita lalu mereka masuk ke dalam gedung dimana hanya para aktor, pembuat film dan pers tertentu yang boleh masuk ke dalam.
"Faras," panggil sebuah suara wanita yang seketika membuat Faras menghentikan langkah kakinya.
Talita ikut menoleh dan ternyata orang yang baru saja menaggil Faras ialah seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang indah.
"Natali? Kamu di sini juga?" tanya Faras dengan senyum mengembang di bibir.
Dengan sorot mata yang masih lekat memandang kagum Natali, Faras melepaskan genggaman tangan Talita.
"Iya, dong. Kamu lupa ya? Aku kan yang nyanyi soundtrack film Bad Guys."
Faras tertawa renyah dan selanjutnya dia dan Natali terlibat dalam pembicaraan yang ringan namun sesekali dibumbui dengan canda tawa. Mereka berdua berjalan lebih dulu meninggalkan Talita yang berjalan seorang diri di belakang.
Talita menyipitkan mata memandang Faras dan Natali secara bergantian dengan bibir yang dimajukan. Dia tahu dirinya hanya kekasih bayaran bagi Faras tapi dia merasa sakit hati diabaikan oleh pria itu.
Terlebih saat Faras lebih memilih duduk di samping Natali. Tak mau kalah, Talita juga segera menjatuhkan diri di kursi samping Faras yang terlihat masih kosong. Kini Faras berada di tengah-tengah antara Natali dan Talita.
Namun keberadaan Talita bagaikan kaca transparan bagi Faras. Pria itu terus mengobrol dengan Natali. Maka dari itu, Talita berusaha untuk ikut dalam obrolan dua anak manusia yang sedang melakukan pendekatan.
"Kamu tahu nggak? Aku tuh suka banget akting kamu Faras. Tiap memainkan peran kamu benar-benar totalitas," kata Natali yang kebetulan saat itu sedang memuji bakat akting Faras.
Talita melihat kesempatan emas untuk masuk ke dalam percakapan. Dia segera berkata, "Iya, bener banget. Apalagi kalau harus akting nangis. Kedua mata kamu itu berkaca-kaca memerah gitu. Bikin semua orang yang nonton juga ikut hanyut dalam suasana."
Mendengar Talita berbicara, Faras hanya melirik sinis sekilas. Lalu dia tampak sengaja mengubah topik pembicaraan tanpa melibatkan Talita sama sekali.
"Natali, aku dengar sebentar lagi kamu bakal rilis singel baru?" Faras bertanya dengan terus memandang Natali.
"Oh iya, bener. Lagu yang aku tulis setelah putus dari Jackson."
Seketika kedua alis Faras terangkat kala mendengar jika Natali telah putus dari pacarnya. Sebuah seringai tipis tersungging tapi tak ada satu orang pun yang melihat karena lampu mulai meredup.
Film Bad Guys diputar pertama kali. Atensi semua orang terpusat pada film yang kini mulai menayangkan adegan pertama.
"Kamu putus dari Jackson?" ulang Faras.
Natali mengangguk dengan kepala menunduk. "Iya, satu bulan yang lalu. Aku merasa kami sudah nggak cocok lagi. Jadi, aku minta putus. Tapi setelah itu, aku jadi kepikiran untuk nulis lagu."
"Biasanya penyanyi-penyanyi besar nulis lagu dari pengalaman hidup mereka. Lagu yang dinyanyikan lewat hati biasanya akan terdengar semakin indah. Iya kan, Mas Faras?" Talita sekali lagi mencoba untuk masuk dalam obrolan tapi lagi-lagi Faras terlihat mengacuhkannya.
Bahkan kali ini Faras tidak melirik Talita sama sekali. Dia diam menonton film yang tengah diputar. Begitu pula dengan Talita yang kini melempar pandangan ke layar.
Namun melalui ekor mata, Talita melihat tangan Faras menggenggam tangan Natali. Hati Talita serasa diremas dari dalam kala tak ada penolakan dari Natali. Bahkan wanita itu tampak menikmati sentuhan tangan Faras.
Talita mengatupkan mulutnya dan tak disadari satu bulir bening telah melintas di pipinya. Pandangan mata Talita mulai kabur. Dia lagi bisa menonton film dengan jelas karena air matanya telah menggenang.
Habis manis sepah dibuang. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan nasib Talita saat ini. Faras tampaknya memang sudah tak membutuhkan Talita lagi dan kini dia diabaikan begitu saja.
Tak tahan untuk menumpahkan air mata, Talita segera bangkit dari duduk. Dia berjalan tergesa-gesa melewati deretan bangku penonton untuk menuju pintu keluar.
Bruk.
Talita tak bisa memperhatikan jalan dengan benar hingga dia merasa telah menabrak seseorang.
"Hai, Nona. Hati-hati!" seru seorang pria yang ditabrak Talita.
"Maaf," ucap Talita singkat sambil terus berjalan.
Talita lebih memilih pergi secepatnya dari tempat itu daripada dia ketangkap basah tengah menangis. Dia langkahkan kaki semau kaki itu berjalan.
Suara derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema di lorong yang sunyi. Talita tahu dimana dia berada sekarang. Yang dia tahu hanya terus melangkah mencari tempat yang aman untuk menumpahkan segala isi hatinya.
Di ujung lorong, Talita berbelok ke kanan dan menemukan sebuah taman kecil. Dia duduk di bangku taman itu, menangkupkan wajah dan menangis sejadi-jadinya.
"Talita."
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Talita. Seketika dia menegakkan punggung seraya menyeka pipinya yang basah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments