Talita menunduk lemas. Disingkirkannya daun-daun kecil yang menempel di gaun indah pinjaman dari Melani. Talita tidak enak hati jika gaun itu kotor karena dirinya. Meski Talita sendiri tidak yakin bisa bertemu lagi dengan wanita berambut pirang itu.
Sejenak Talita memilih berdiam diri untuk berpikir. Dia tidak tahu kemana harus pergi. Terlebih dia diusir dari mobil tanpa membawa apa-apa, kecuali ponsel.
"Aha, ponselnya," seru Talita begitu teringat akan ponsel yang diberikan Faras. Dia berlari kembali ke titik dimana tadi dia diturunkan secara paksa.
Talita menajamkan penglihatan diantara rumput-rumput liar yang tumbuh subur di pinggir jalan. Ponsel pemberian dari Faras pasti juga ikut terjatuh saat Talita keluar dari mobil.
"Aku yakin pasti ponselnya jatuh di sekitaran sini," Talita berbisik dengan bola mata yang terus menelisik.
Beberapa saat mencari, akhirnya Talita menemukan ponsel karena warnanya yang ungu muda terlihat mencolok diantara rerumputan. Talita berjongkok untuk memungut ponsel itu lalu mulai menyalakannya.
Meski baru pertama kali memiliki ponsel, tapi Talita cepat mengerti cara menggunakan alat pintar tersebut. Dia mencari nomor telepon Faras lalu menekan tombol hijau untuk memanggil.
Talita tak perlu menunggu lama, karena di ujung sana Faras memang sedang menunggu telepon darinya. Sambungan telepon terhubung dan langsung terdengar suara Faras.
"Halo, Talita. Bagaimana? Kamu masih tetep nolak penawaran aku?"
Dada Talita tersengal naik turun akibat sempat berlari. Maka Talita pun menghela nafas sejenak agar bisa berbicara dengan jelas. "Iya, Mas. Aku mau tapi jangan pecat dan jangan tinggalin aku di sini. Tolong Mas Faras balik lagi, aku nggak tahu jalan, Mas."
Di seberang sana, Faras tersenyum puas. Ternyata tidak sulit untuk membuat Talita menuruti kemauannya.
"Oke, kamu jalan saja terus ke depan."
"Kenapa nggak mobil Mas Faras saja yang mundur?" kata Talita yang sedikit geram karena harus berjalan menyusul Faras.
"Kamu mau jalan atau aku tinggalkan?" Faras balik bertanya juga dengan nada kesal.
"Iya, iya aku jalan."
Talita mematikan ponsel sambil memayunkan bibir hampir menyerupai paruh bebek. Menapaki jalan beraspal tanpa sepatu membuat kaki Talita terasa sakit, tapi akan lebih sakit lagi jika dia memakai sepatu hak tinggi.
Setelah melihat mobil Faras berhenti di ujung jalan, Talita semakin mempercepat langkah. Kakinya sudah tak kuat berada di jalan aspal yang panasnya luar biasa di siang bolong. Dia masuk ke dalam mobil dan menghela nafas lega.
Sementara Faras hanya mengamati Talita melalui sudut matanya. Wajah Talita tampak berkeringat tapi untung saja tidak sampai merusak penampilannya.
"Pakai lagi sepatu itu!" titah Faras begitu melihat kaki Talita yang tak lagi memakai sepatu.
"Memang harus pakai ya, Mas? Kaki aku sakit banget kalau pakai sepatu model begini."
Talita memasang wajah memelas berharap Faras akan mengasihaninya dan memberi toleransi agar tidak perlu memakai sepatu 'jahanam' yang kini sedang ditentengnya. Namun, Faras justru mengalihkan pandangan ke depan dengan mimik wajah yang seolah tidak peduli.
"Kamu turun lagi atau pakai sepatu itu!"
"Iya, iya, aku pakai."
Terdengar suara helaan nafas. Mau tak mau Talita menuruti kemauan Faras, memakai lagi sepatu high heels dengan berat hati.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan normal. Kini Faras mengambil benda seperti buku dari dalam tas ranselnya. Sekilas tampak Faras menuliskan sesuatu lalu menyobeknya dan menyodorkan pada Talita.
"Apa ini, Mas?" Talita bertanya sambil menerima kertas itu.
Tak menunggu jawaban dari Faras, Talita pun langsung mengerti jika kertas yang ada di tangannya adalah selembar cek dengan nominal sebesar lima puluh juta. Mulut Talita sedikit terbuka saking terkejut dan ketika itu pula badannya menjadi bergemetar.
"Li-lima puluh juta, Mas? Ini buat aku?"
Jantung Talita serasa melompat dari tempatnya ketika melihat Faras menganggukan kepalanya. Kedua manik mata hitam milik Talita semakin membulat, begitu juga dengan mulutnya yang melingkar membentuk huruf O.
Priya melirik wajah Talita lalu mengulum senyum. Kentara sekali jika gadis itu baru pertama kali mendapatkan uang sebanyak itu.
"Ini sebagai bukti kalau aku serius dengan ucapanku. Aku nggak main-main. Aku akan bayar satu milyar dan untuk uang mukanya aku beri lima puluh juta dulu."
Talita menelan saliva. Bingung langsung menyergap dirinya. Uang sebanyak lima puluh juta sudah ada ditangannya. Itu adalah uang yang lebih dari cukup untuk menyekolahkan Ulfa dan pengobatan ibu. Bahkan mungkin Talita mampu untuk melanjutkan kuliah. Seperti apa yang selama ini dia impikan.
"Tapi ingat ya, Ta! Kalau sampai rahasia kita ini bocor, kamu harus kembalikan uang yang sudah aku berikan ke kamu. Mengerti?"
Talita menelan saliva sesaat sebelum menganggukan kepala. Beberapa kali dia menarik sebanyak-banyaknya udara masuk ke dalam paru-paru untuk menetralkan perasaan. Ancaman yang keluar dari mulut Faras seolah menerjunkan Talita setelah sesaat tadi seperti hendak melayang.
Sisa perjalanan itu, baik Talita maupun Faras hanya diam dengan pikiran masing-masing. Talita memikirkan banyaknya uang yang baru saja dia dapatkan hanya dengan mengaku sebagai pacar majikannya. Belum lagi jika sandiwara mereka berhasil, dia akan mendapat uang lebih banyak lagi.
Bersamaan pula dengan Faras yang menyunggingkan senyum tipis seraya melepas pandang ke luar jendela. Dia yakin, dengan memperkenalkan Talita sebagai seorang kekasih, gosip miring yang menimpa dirinya itu akan sirna dan dia tidak akan kehilangan peran dalam film 'Bad Guys'.
Sedangkan Priya yang sudah lega karena Talita tidak jadi dibuang begitu saja, bersiul riang hingga akhirnya mereka sampai di depan gedung perbelanjaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments