Keesokan harinya, saat semua orang masih terlelap, Talita sudah siap dengan pakaian rapi dan juga riasan yang natural. Semalaman Talita tak bisa tidur, terus terbayang akan wajah Faras.
Menggelikan memang, tapi itulah yang terjadi. Talita menyadari jika dirinya telah jatuh hati pada majikannya sendiri. Tak pernah Talita mencintai seseorang hanya dalam waktu sesingkat ini.
Namun tampaknya bukan hal yang aneh, sebab pesona dari seorang Faras memang tidak bisa terelakan. Benar apa yang dikatakan banyak orang, jika cinta telah datang menyapa maka hati tak bisa menahan.
Beberapa kali Talita bercermin untuk melatih bibirnya tersenyum semanis mungkin. Lalu satu hal lagi yang pasti akan mencuri perhatian Faras, yaitu memasak makanan kesukaan majikannya itu.
Dari informasi yang didapat dari Mbok Sumi, makanan kesukaan Faras adalah nasi goreng pete. Awalnya, Talita sedikit tidak percaya.
Bagaimana mungkin Faras Alvaro, seorang aktor terkenal, bisa menyukai nasi goreng pete? Ini bisa menjadi rahasia sekaligus aib yang memalukan jika diketahui oleh banyak orang.
Talita menaruh menata piring tepat saat semua anggota keluarga Alvaro berhambur masuk ke ruang makan. Mereka berdecak kagum dengan sorot mata kagum menatap setiap hidangan yang ada di meja.
"Wah, ini kamu semua yang masak, Ta?" tanya Danaldi seraya menyeret kursi.
"Iya, Om. Silahkan dicoba."
Melihat anak sulungnya berdiri terdiam, Novi pun menepuk kursi di sebelahnya agar Faras duduk di sana. "Ayo, Far, duduk sini! Kamu kok diam aja."
"Iya, biasanya Kak Faras yang paling anti nggak sarapan," Melani ikut menimpali sambil mengambil selembar roti tawar.
Faras duduk tanpa menyahut ucapan Novi ataupun Melani. Seketika itu pula, Talita langsung menaruh sepiring nasi goreng pete yang masih mengepulkan asap tipis di hadapan Faras.
Detik itu juga, Faras mengerutkan dahi terheran akan tindakan Talita. Dia melempar pandang dengan penuh selidik tapi Talita hanya membalas dengan senyuman dan pipi yang merona.
"Kenapa kamu taruh nasi goreng ini di depan aku?" Faras bertanya dengan nada jengkel.
"Itu makanan kesukaan Mas Faras, kan?"
"Iya, tapi aku lagi nggak mau makan nasi goreng. Aku mau sarapan roti."
Danaldi melirik antara Talita dan Faras secara bergantian. Dia menyadari kekesalan Faras yang ditimbulkan dari masalah sepele, sehingga sebagai seorang ayah dia merasa perlu menjadi penengah.
"Faras, sudah. Talita kan cuma berniat baik menyiapkan sarapan buat kamu. Bicara baik-baik kalau kamu memang nggak mau makan nasi goreng buatan Talita."
Ucapan tegas dan juga tatapan tajam Danaldi pada Faras membuat suasana ruang makan menjadi tegang seketika. Semua orang bermuka tegang kecuali Novi yang terlihat santai.
"Sudah lah, Pi. Namanya juga orang pacaran pasti ada berantemnya sedikit. Itu buat bumbu percintaan mereka, Pi."
Faras menghela nafas untuk menetralkan emosinya. Lalu dia menoleh ke samping dan menarik tangan Talita untuk duduk di kursi sebelah kanan.
Faras mengerahkan kemampuannya dalam berakting. Dia mengusap lembut rambut Talita, tersenyum dan berkata, "Sorry ya Sayang. Aku lagi bad mood hari ini."
Mendengar sapaan sayang meluncur dari bibir Faras, menciptakan gelenyar aneh di tubuh Talita. Terlebih penampilan Faras pagi ini sunggh sangat menawan. Tak mampu dia menahan untuk tidak menerbitkan senyuman.
Kini Talita semakin yakin jika dirinya telah terpikat pada Faras. Meski dia sendiri tahu seharusnya rasa ini tidak ada. Namun, Talita juga tidak dapat menampik rasa yang datang menyapa dada.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Kalau begitu, aku siapkan roti buat Mas Faras ya?"
"Nah, gitu dong. Akur. Kan adem dilihatnya. Iya kan, Pi?" Novi melirik pada suaminya yang sedang melihat ke arah jam tangan.
"Eh, Mi. Sudah jam tujuh lewat ini. Kita langsung berangkat saja, yuk. Takut telat ke pertemuan sama Pak Kuncoro."
Novi mengangguk dan segera menghabiskan sarapan paginya yang masih tersisa sedikit. Setelah berpamitan singkat dengan anak-anak mereka, kedua pasangan suami istri itu pun bergegas pergi.
Sepeninggalan Novi dan Danaldi, seketika itu Faras menghembuskan nafas lega. Dia juga menghabiskan sarapannya dengan tergesa-gesa dan kemudian beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pada Talita.
Sikap dingin Faras itu membuat Talita menjadi sedikit terheran. Dengan cepat Talita menyusul Faras menuju halaman depan.
Talita berteriak memanggil Faras yang hendak masuk ke dalam mobil. Ketika itu, Faras menoleh pada Talita dengan sorot mata yang ganjil. Tidak seperti biasanya.
"Mas Faras, aku bakal ikut lagi ke lokasi syuting, kan?"
"Enggak," jawab Faras tegas dan wajah yang jengah.
Kening Talita mengerut hingga tiga lipatan. "Kenapa, Mas?"
"Buat apa aku bawa kamu? Lagipula hari ini Papi sama Mami nggak akan ada di rumah."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Faras membanting pintu mobil hingga tertutup rapat tepat di hadapan Talita. Kini Talita tidak melihat lagi wajah tampan Faras karena yang dia lihat adalah bayangannya sendiri yang sedang temangu memantul di kaca jendela mobil.
Dengan pandangan hampa, Talita menatap kepergian mobil hitam milik Faras dari halaman rumah. Usahanya untuk mendapatkan perhatian Faras ternyata tidak membuahkan hasil kali ini.
Namun, Talita tidak mau menyerah. Selama hati Faras belum terisi oleh wanita lain, dia yakin masih ada peluang untuk mendapatkan perhatian.
Hari berlalu dengan rutinitas yang itu itu saja bagi Talita. Terkadang, dia menemani Faras ke berbagai tempat untuk pemotretan, wawancara, dan sebagainya.
Akan tetapi lebih seringnya, Faras tidak mengajak Talita pergi. Di saat itulah, perasaan jenuh Talita semakin bertambah. Dia menyibukkan diri dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga tapi pikirannya selalu melayang memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh Faras, kenapa dia tak mengajaknya dan banyak pertanyaan lagi bermunculan di benak.
Hingga tiba saatnya acara menayangan perdana film Bad Guys diadakan, Talita bertambah gugup. Padahal dia tak pernah segundah ini sebelumnya.
Melani kembali mendapat tugas dari Faras untuk mendandani Talita pergi ke acara malam ini. Sedangkan untuk gaunnya sendiri sudah dipesan oleh Faras jauh-jauh hari.
Selama didandani, Talita beberapa kali mengecek layar ponsel. Berharap Faras yang masih berada di luar rumah menghubunginya dan menanyakan kabarnya.
Lalu dia mendesah frustasi kala tak ada satu pun notifikasi pesan dari Faras.
"Aku sudah seperti pacar sungguhan saja," gumam Talita tanpa sadar.
"Gimana, Ta?" tanya Melani yang sedang membuat kepang kecil di sisi rambut Talita.
"Oh, enggak apa-apa, Mel," ucap Talita gelagapan. "Hm, kira-kira Mas Faras masih lama nggak ya?"
"Nanti juga pulang buat jemput kamu kok. Kenapa? Kamu sudah kangen?" Melani meledek tertawa.
Talita ikut memaksakan diri untuk tertawa sekaligus untuk mengusir rasa canggung. "Bukan itu. Aku gugup banget soalnya aku belum pernah dateng ke acara-acara kayak gitu."
"Nggak usah gugup. Pede aja, Ta. Kamu itu cantik, pasti banyak pria yang kepincut sama pesona kamu di pesta nanti."
Melani mundur satu langkah untuk dapat memandang penampilan Talita secara keseluruhan. Gaun biru panjang berwarna biru safir sangat serasi dengan setelan tuxedo yang akan digunakan Faras.
Dan untuk riasan sendiri, Melani mengaplikasikan make up bold tapi juga tidak terlalu menor.
"Perfect. Kamu cantik banget, Ta."
"Kamu yang pinter dandanin aku, Mel," kata Talita membalas pujian Melani.
"Kak Faras pasti bakal kesengsem sama kamu deh, Ta. Eh, tapi kurang satu item. Tas. Sebentar, aku pinjemin tas aku yang cocok sama warna gaun kamu ya."
Melani langsung melesat keluar dari kamar Talita untuk mengambil tas miliknya. Sementara itu, Talita menyunggingkan senyum malu-malu menatap bayangannya sendiri di cermin.
Dia berkata pada cermin seakan cermin itu adalah Melani. "Aku berharapnya sih begitu, Mel. Seenggaknya Mas Faras memuji penampilan aku malam ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments