"Sari, sekarang beres-beres kamar tamu dulu. Itu biarin nanti saja," titah Novi pada wanita tiga puluh tahun yang sedang mengelap meja ruang makan.
Sari mengangguk sebagai jawaban. Lalu segera mengikuti Novi menuju kamar tamu dengan tangan yang telah siap menggenggam kemoceng.
Sari menaiki tangga tepat di belakang Novi. Sepanjang langkah, pandangannya tak lepas mengeliling dengan penuh takjub pada setiap dekor rumah besar tempatnya bekerja.
Hingga Novi berhenti di depan pintu kamar Talita. Dia memutar gagang pintu kamar dan melihat Melani yang masih meringkuk dibalik selimut.
"Astaga, Melani!" Novi memekik keras pagi itu hingga suaranya menggema ke penjuru rumah.
Sari pun tak bisa untuk tidak menutup telinga. Majikan barunya itu ternyata memiliki suara yang hampir menyerupai suara paus biru jika sedang mencari pasangan.
Suara itu juga membuat Melani yang tertidur di kamar Talita menggeliat dan mengerjapkan mata. Wajah Melani santai bagai tak memiliki dosa.
"Apa sih, Mi? Ganggu orang lagi tidur aja," gumam Melani yang kemudian memejamkan matanya lagi.
"Astaga, Melani. Ini sudah siang. Kamu nggak kuliah? Terus, kenapa kamu tidur di kamarnya Talita?" Novi menarik selimut yang membungkus badan Melani agar anak gadisnya itu bangun dari tidur.
"Aku lagi males kuliah, Mi," Melani menguap lebar dan satu tangannya mengucek mata kiri.
"Astaga, Melani. Pindah ke kamar kamu sekarang! Teh Sari mau beresin kamar Talita!"
Melani hanya bangun terduduk di atas ranjang. Tak kunjung pergi dari kamar Talita, Melani malah memperhatikan Novi yang sedang membuka lemari Talita.
Sementara ART baru yang bernama Sari terlihat membersihkan debu di atas nakas.
"Mami, kenapa buka-buka lemarinya Talita?" Melani bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Novi tak langsung menjawab, sebab perhatiannya sedang terpusat pada beberapa benda di dalam lemari. Novi menyadari jika semua baju milik Talita masih terpasang bandrol harga.
Semuanya tampak baru saja dibeli. Mulai dari tas, baju, dan juga sepatu.
"Aneh, kok baju Talita cuma segini? Mana baru semua lagi," Novi bergumam tapi masih bisa didengar oleh Melani yang kini bangun dari ranjang untuk menghampiri.
"Aneh apanya, Mi? Biasa aja kok. Talita itu habis kehilangan koper waktu dia di bandara. Jadi dia beli lagi baju-baju dan juga yang lainnya."
Novi menoleh cepat menatap Melani dengan mata yang menyipit. Dia meneliti raut wajah sang anak dengan teliti. Tahu jika Novi sedang berusaha mendeteksi kebohongan, segera Melani berpura-pura mengalihkan pandangan.
Alasan Melani memang masih masuk akal. Namun, entahlah. Novi merasa kurang yakin dengan jawaban anaknya sendiri. Dia melanjutkan membongkar isi tas Talita.
Sementara itu, Melani melompat turun dari ranjang untuk bergabung bersama Novi. Dengan gerakan secepat kilat, Melani segera merebut tas ransel yang hendak di buka oleh sang ibu.
Tindakan Melani itu tentu saja mengundang saja curiga pada diri Novi. Dia mengerutkan dahi dan merampas kembali tas ransel yang akan dibukanya.
"Mel, kamu kenapa sih? Mami mau buka tas itu. Kok malah direbut?" Novi memanyukan bibir dengan tangan yang sudah membuka resleting tas.
Bola mata Melani membelalak. Dia tahu persisi jika Talita menyimpan beberapa foto keluarganya di dalam tas yang kini berada di tangan Novi.
Tak mau pikir panjang, Melani pun menyambar tas begitu melihat satu tangan Novi merogoh ke dalam. "Aku mau pinjam tas ini, Mi. Kemarin aku sudah bilang ke Talita kalau akumau pinjam tas."
"Pinjam tas? Bukannya tas kamu sudah banyak. Sampai satu lemari saja nggak muat buat nyimpen tas kamu. Lagian tumben kamu pengin pakai tas ransel model cowok begitu?"
Mata Novi semakin menyipit. Keheranannya akan tingkah Melani sejak dia pulang, membuat Novi yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan.
Melani memutar bola matanya dengan malas. "Ya kali, Mi. Aku pengin pinjem tas ini bukan buat aku kok. Tapi ada temen aku yang lagi butuh tas ransel. Ya, aku pinjemin tasnya Talita lah."
Sekali lagi Melani melempar pandangan ke arah lain. Tak sanggup untuk menatap balik pandangan tajam dari Novi. Sementara itu, benak Melani berputar mencari cara agar Novi keluar dari kamar Talita.
Bibir Melani tersenyum kala sebuah ide muncul. Dia langsung memasang senyum lebar dan berjalan malu-malu ke samping Novi.
"Mi, mau nggak temeni aku ke Mall. Kita belanja baju-baju buat Talita, Mi. Kasihan dia nggak punya banyak baju."
Novi terdiam sejenak. Dia yakin jika ada maksud lain Melani mengajaknya berbelanja. Sebagai seorang ibu, insting Novi menyadari jika Melani sedang mencari cara agar dia berhenti menggeledah kamar Talita.
Maka Novi pun menarik nafas panjang. Pandangannya menerawang ke atas tampak sedang berpikir. Dia menyadari jika dirinya harus mencari strategi untuk mengecohkan Melani.
"Oke, Mami siap-siap dulu kalau begitu," Novi berjalan melintasi kamar dan melesat keluar, membuat Melani membelalak tak percaya.
Di balik punggung Novi, Melani mengepalkan tangan saking gembiranya. Tak disangka jika sang Mami akan menuruti kemauannya begitu saja.
Sepeninggalan Novi dari kamar Talita, Melani meletakan tas ransel kembali ke dalam lemari. Lalu dia sendiri pun keluar menuju kamarnya sendiri untuk bersiap.
Tanpa disadari, Novi yang kala itu berada di lorong segera berbalik arah setelah melihat Melani masuk ke dalam kamar. Dia kembali lagi ke kamar Talita.
"Sari, tas yang tadi mana? Tolong ambilkan!"
"Itu, Bu. Tadi ditaruh Mbak Melani ke lemari," Sari mengangguk. Dia yang sedang merapikan seprei, sejenak meninggalkan pekerjaannya dan melangkah menuju lemari pakaian milik Talita.
Sari mengambil lalu menyerahkan tas ransel yang tadi sempat diperebutkan oleh Novi dan Melani. Dengan jantung berdegup kencang, Novi merogoh isi dalam tas.
Namun, kening Novi mengerut kala tak menemukan benda yang menjadi petunjuk akan identitas Talita. Di dalam tas itu hanya tersimpan beberapa buku.
Novi memuntahkan semua isi tas ke atas tempat tidur. Lalu mengobrak-abrik untuk mencari kartu identitas seperti KTP atau paspor. Akan tetapi benda yang dicari Novi tidak ada sama sekali.
Menjadikan Novi menghembuskan nafas frustasi. Dengan tubuh yang lesu, dia kembalikan lagi setiap buku ke dalam tas. Hingga saat tangan Novi hendak memasukan sebuah buku novel, dia menyadari ada satu buku kecil iselipkan ke dalam buku novel itu yang kemudian jatuh ke lantai.
Novi membungkuk memungut buku kecil yang ternyata adalah sebuah album foto. Perlahan, jemari Novi membuka album foto dengan jantung yang semakin berdebar.
"Ini Talita sama siapa?" gumam Novi pada dirinya sendiri kala melihat sebuah foto di halaman pertama.
Foto ini menunjukan foto Talita bersama seorang wanita paruh baya dengan baju yang sangat sederhana. Jemari Novi kembali membuka halaman selanjutnya dan kurang lebih ada sepuluh foto memperlihatkan sosok yang sama.
Novi mengambil ponsel dari saku celana. Lalu dia memotret semua foto yang ada di album itu. "Aku harus cari tahu lebih jelas lagi. Siapa Talita sebenarnya."
Pukul tiga sore, Novi bersama Melani keluar dari sebuah butik dengan membawa banyak paperbag di tangan. Senyum gembira terlukis di bibir wanita itu saat melirik barang belanjaannya.
Beberapa menit yang lalu, dia sempat berpisah dengan sang ibu karena Novi berasalan ingin pergi ke membeli minuman. Melani mengedarkan pandangan ke sekeliling Mall sambil terus melangkah. Sehingga dia kurang memperhatikan jalan dan tiba-tiba saat dia berbelok...
Dugh.
Melani menabrak seorang wanita muda memakai kacamata. Seketika semua paperbag Melani terjatuh ke lantai. Begitu pula kacamata milik wanita itu.
"Aduh, maaf, Nona. Saya nggak sengaja," ucap wanita itu sambil memakai kacamatanya.
"Nggak apa-apa. Saya yang kurang hati-hati," sahut Melani mengambil semua tas belanjaan.
Wanita berkacamata membulatkan mata saat melihat wajah Melani. Sorot matanya berbinar bahagia lalu dia berkata, "Melani Alvaro?"
Melani mengernyitkan dahi merasa bingung kenapa wanita berkacamata bisa mengenali dirinya. Namun, setelah memperhatikan tanda pengenal yang tergantung di leher, Melani mengerti jika wanita yang barusan dia tabrak adalah seorang wartawan.
Secepat kilat wanita berkacamata mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Melani. "Perkenalkan, saya Feni. Saya seorang wartawan berita dari stasiun televisi swasta. Kamu adiknya Faras kan?"
"Iya betul. Ada apa ya?" Melani menerima jabatan tangan Feni dengan pandangan mata yang masih menyelidik raut wajah Feni.
"Saya minta waktu sebentar untuk wawancara boleh?" Feni mengalihkan pandangan ke sebuah restoran yang ada di seberang butik. Lalu dia menunjuk sekilas. "Bagaimana kalau kita sambil duduk di sana?"
Novi hanya melirik restoran yang tadi sempat ditunjuk oleh Feni. Lantas dia tersenyum.
"Maaf ya. Di sini saja. Soalnya saya nggak punya waktu banyak."
"Oh oke. Nggak masalah."
Dengan terburu-buru, Feni mengeluarkan sebuah alat perekam. Dia tampak tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek informasi tentang Talita lebih dalam melalui Melani.
Namun, sayangnya Feni harus sedikit menelan kekecewaan karena Melani pun tampak tidak terlalu mengenal Talita. Informasi yang didapat dari Melani sama persis dengan berita yang sudah beredar.
"Satu pertanyaan terakhir," ucap Feni pada akhirnya. "Sekarang ini ada juga gosip yang beredar kalau Faras dan Talita itu cuma settingan dalam menjalani hubungan. Apa Tante bisa mengkonfirmasi fakta yang sebenarnya, supaya nggak beredar lagi gosip-gosip miring?"
"Oke, saya tegaskan pada kesempatan kali ini, jika kakak saya itu memang benar-benar pacaran dengan Talita. Bahkan Talita menginap di rumah kami beberapa hari terakhir ini dan nggak ada tuh setting-settingan."
Feni tersenyum semringah setelah berpisah dengan Melani. Atasannya pasti akan memuji hasil kerjanya yang mampu mewawancarai adik dari Faras Alvaro.
Semangat Feni semakin menggebu untuk mencari bahan berita tentang pasangan Talita dan Faras. Tampaknya Feni bisa mengorek informasi secara rahasia melalui orang terdekat Faras.
Sedangkan masih di dalam Mall yang sama, tampak Novi yang sedang menerima telepon dari seseorang dengan memandang ke sekeliling. Sejak tadi dia berusah mencari alasan untuk menghindari dari Melani, kemudian dia pun menelepon seseorang kepercayaannya untuk menangani sesuatu.
"Tolong kamu cari tahu lebih detail tentang wanita yang fotonya sudah saya kirim ke kamu! Dan jangan sampai ada yang tahu tugas ini! Kamu mengerti?"
"Baik, Bu. Akan saya laksanakan."
Tut.
Panggilan telepon langsung Novi matikan begitu melihat di seberang sana, Melani berpisah dengan seorang wartawan berita dan kini melambaikan tangan padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments