"Mas Sigit?"
"Talita?" Sigit memperhatikan penampilan Talita dari bawah sampai ke atas kepala. Lalu disadarinya sang adik memakai baju dan juga sepatu mahal. "Kamu Talita, adik aku kan? Kerja di kota baru beberapa hari sudah langsung glowing gini, Ta?"
Talita tak langsung menjawab. Pertama kali yang dia lakukan yakni menarik lengan Sigit dan membawanya bersembunyi ke balik pohon mangga. Dia takut ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua, sekalipun pohon mangga itu letaknya agak jauh dari kerumunan orang.
"Mas Sigit kenapa ada di sini? Terus sejak kapan Mas Sigit jadi kurir makanan?" Talita sedikit melirik ke dalam rumah.
Dari tempatnya berdiri pun masih ada beberapa kru dan pemain film yang berjalan hilir mudik karena ada beberapa kepentingan. Talita mendadak merasa cemas serta takut jika ada salah seorang yang curiga karena melihatnya berbincang dengan Sigit.
Sigit juga ikut menoleh ke arah pandang Talita. Dengan cepat dia sudah dapat menyimpulkan jika tempat yang ada di depannya menjadi tempat lokasi syuting sebuah film.
"Memang kamu aja yang bisa kerja? Mas Sigit juga bisa lah. Meskipun cuma jadi tukar anter makanan. Nah kamu sendiri? Katanya kamu kerja jadi ART, Ta? Kok penampilan kamu seperti artis gini?"
Talita menekan jari telunjuk ke bibir Sigit. Meminta agar kakaknya itu tak berbicara terlalu keras.
"Aku memang kerja jadi ART, Mas. Majikan aku itu orang tuanya Mas Faras Alvaro," jawab Talita dengan suara berbisik.
Mendengar nama Faras disebut, Sigit sontak membulatkan matanya kembali. "Faras Alvaro yang aktor terkenal itu? Wih, beruntung banget kamu, Ta. Pasti gaji kamu gedhe ya?"
Talita tak punya banyak waktu untuk bercerita dengan Sigit. Dia tak mau Faras marah karena menunggunya terlalu lama.
"Mas Sigit, ceritanya nanti aja. Aku lagi buru-buru," Talita hendak melangkah meninggalkan Sigit dan kembali melanjutkan mencari Priya.
Akan tetapi gerakan tubuh Sigit lebih cepat menghalangi jalan Talita. Dia maju satu langkah mencoba untuk menyudutkan Talita.
"Sebentar, Ta. Jawab pertanyaan Mas Sigit dulu! Kalau Faras itu anak majikan kamu, berarti sosok Talita Angelina yang katanya pacaran sama Faras itu jangan-jangan kamu ya? Kamu ngaku-ngaku jadi orang kaya, Ta? Kamu malu punya keluarga miskin?"
Talita menarik nafas untuk dapat setenang mungkin. Dia tahu Sigit dapat berbuat impulsif dan tak dapat ditebak.
Dengan memasang wajah tenang, Talita menyodorkan satu tangannya. "Mas, aku lagi nggak ada waktu. Nanti pasti bakal aku jelasin semuanya!"
Sigit menggelengkan kepala mantap. "Nggak. Kamu jelasin sekarang atau Mas akan bilang ke semua orang siapa kamu sebenarnya."
"Mas Sigit!" Talita berseru dengan mata melotot. Kembali dia menarik udara sedalam mungkin untuk dapat berpikir tenang. "Mas, aku lakuin ini juga terpaksa."
"Terpaksa apanya, Ta? Lihat kamu sekarang! Kamu malah seneng jadi pacarnya Faras, kan?" Sigit memandang rumah mewah dan satu kakinya sudah siap melangkah. "Aku harus kasih tahu semua orang."
Untung saja, Talita dengan gesit menahan lengan Sigit untuk menghentikan aksi kakaknya itu. Dia tahu apa yang akan terjadi jika Sigit sampai masuk ke dalam rumah dan memberitahu semua orang siapa identitas Talita yang asli.
"Mas Sigit, tolong jangan!"
"Kenapa, Ta? Kamu takut atau malu kalau kamu itu ngaku-ngaku anak pengusaha?"
Talita berdecak lalu memijat pangkal hidungnya, tanda bahwa dia sedang sangat pusing dengan semua anggapan Sigit padanya. Lalu dia berkacak pinggang dan menatap Sigit dengan lekat.
"Bukan itu, Mas. Satu hal yang Mas Sigit harus tahu, aku sama Mas Faras itu cuma pura-pura pacaran dan aku harus mengaku sebagai anak orang kaya untuk menjaga image Mas Faras," pada akhirnya Talita tak punya pilihan lain selain mengakui kenyataan yang sebenarnya agar Sigit tak salah paham.
"Pura-pura pacaran?" ulang Sigit terheran. "Bagaimana bisa, Ta?"
"Ceritanya panjang. Aku nggak bisa kasih tahu Mas Sigit sekarang. Tapi Mas Sigit tolong rahasiakan ini dari siapapun. Oke?"
Seketika sebuah seringai tersungging di bibir Sigit. Sorot mata pria itu berubah penuh makna.
"Tapi kamu harus hati-hati, Ta. Jaga diri kamu dan jangan mau dipermainkan sama Faras! Orang kaya biasanya bertindak seenaknya."
Talita hanya mengangguk mengiyakan perkataan Sigit meski di dalam hatinya merasa curiga. Sebab tak biasanya sang kakak berubah menjadi dewasa dan bijaksana seperti ini.
Sigit memberikan kantong plastik berisi makanan pada Talita. Beberapa detik berlalu mereka terdiam tak bisa berkata. Lalu ketika Talita ingin melangkah pergi, Sigit tiba-tiba menahan lengan adiknya.
"Ta, Mas Sigit besok mau pulang. Ibu lagi sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Kamu ada uang nggak buat biaya berobat ibu?"
Manik mata Talita melirik tak percaya pada Sigit. Perubahan yang sangat kentara terlihat pada sang kakak. Bagi Talita, Sigit hanyalah kakak yang tidak pernah memperdulikan nasib keluarga.
Dari ekspresi wajahnya, Sigit terlihat sungguh-sungguh. Mungkinkah Sigit memang sudah berubah? Satu pertanyaan yang mengangguk benak Talita.
Namun, Talita tidak mau percaya begitu saja. Apalagi baru beberapa menit yang lalu dia bertukar kabar dengan Ulfa dan adik bungsunya itu tidak memberitahu jika ibu sakit.
Talita menyipitkan mata memandang Sigit penuh selidik. Dia tahu peringai sang kakak yang sering bermain judi dan dia curiga Sigit hanya sedang menipunya untuk memberikan sejumlah uang.
"Tapi Ulfa nggak ngomong kalau ibu sakit, Mas."
"Ulfa pasti nggak enak ngomong sama kamu. Ibu beneran sakit, Ta. Masa kamu nggak percaya sama kakak kamu sendiri?"
"Nanti aku transfer aja ke rekening ibu."
"Jangan, Ta! Ke Mas Sigit aja. Mas Sigit janji bakal gunain uang itu untuk berobat ibu bukan buat yang lain."
Mendadak Talita menjadi bimbang. Sudah menjadi kebiasaan Sigit merayu untuk mendapatkan uang.
Sebenarnya Talita enggan memberikan uang pada Sigit. Sang kakak laki-lakinya itu kurang amanah dalam menepati sebuah janji.
Namun, kalau Talita tak memberikan uang, dikhawatirkan Sigit akan mengancam untuk membocorkan rahasianya pada semua orang. Kini Sigit memiliki kartu as untuk memperdaya Talita. Sehingga kini Talita berada dalam ketakutan.
Takut jika Sigit akan merusak semua sandirawa dia dan Faras. Talita menggigit bibir bawah sedangkan benaknya berpikir keras.
Maka Talita lagi-lagi tak punya pilihan. Dia merogoh tas kecil dan memberikan kertas cek pada sang kakak.
Sontak Sigit terbelalak matanya begitu melihat nominal uang yang tertera di kertas cek tersebut. Dia mengalihkan pandangan tak percaya pada Talita.
"Faras kasih uang ke kamu lima puluh juta, Ta?" tanya Sigit terlihat takjub. "Wih, gila. Ketiban duren kamu, Ta. Mujur banget nasib kamu."
"Tapi Mas beneran kan, gunain uang itu untuk berobat ibu? Awas kalau Mas Sigit bohong," Talita memanyunkan bibir ketika memberi peringatan pada Sigit. "Mas Sigit mau pakai uang sisanya juga nggak apa-apa. Asal dipakai buat sesuatu yang bermanfaat. Bukan buat main judi."
Sigit melirik Talita dengan sorot mata yang tak mengenakan sambil dia memasukan kertas cek ke dalam saku jaket.
"Iya, kamu tenang aja. Mas Sigit mau anter makanan ini dulu. Kamu jaga diri baik-baik."
Talita mengangguk. "Jangan sampai ibu sama Ulfa tahu ya, Mas! Oh ya, satu lagi. Di sini kita pura-pura nggak kenal."
"Tenang aja, Ta. Rahasia kamu bakal aman kok," Sigit menyengir lalu berjalan meninggalkan Talita untuk menghambur ke dalam kerumunan kru film untuk menyerahkan makanan yang sejak tadi dibawanya.
Talita hanya bisa melihat kepergian Sigit dengan perasaan yang campur aduk. Tak dipungkiri, Talita kini mulai merasa lega karen sang kakak sepertinya telah berubah. Tak malas bekerja lagi seperti dulu.
Namun ada juga sedikit rasa takut dalam hati. Karena selama ini, Talita tak pernah mendapati Sigit selalu bertanggung jawab jika diberikan sebuah amanah.
Begitu tersadar dari lamunan, Talita kembali berjalan ke dalam. Dia melewati beberapa kru yang sedang memindahkan properti syuting dan dengan sedikit berlari dia pun sampai di dalam tenda.
Begitu masuk, tanpa disadari Talita langsung disambut dengan tatapan penuh curiga dari Faras. Talita menarik udara sebanyak-banyaknya untuk menenangkan nafas yang terengah dan menyeka peluh yang meluncur di kening. Gelagat Talita itu mirip seperti seseorang yang baru saja berhasil melakukan kejahatan tanpa diketahui orang lain.
"Kenapa kamu balik lagi? Katanya ada urusan penting," Faras bertanya masih dengan tatapan curiga.
"Nggak jadi, Mas. Kapan-kapan saja," jawab Talita mengambil tempat duduk di dekat jendela. Kembali melanjutkan membaca cerita di aplikasi novel online berwarna biru.
"Kamu mau nggak? Ada satu lagi tuh."
Talita mendongak memandang Faras. Pria itu menunjuk satu potong pizza yang tersisa di kotak makan.
"Itu buat aku, Mas?"
Faras hanya bergumam sebagai jawaban dengan kedua mata yang tekun membaca naskah film.
Maka Talita pun berpindah tempat duduk di samping Faras. Dia mengambil kotak makan lalu mulai melahap satu potong pizza dengan topping sosis dan keju.
Faras menoleh memperhatikan cara makan Talita. Sebuah senyum geli tak sadar Faras sunggingkan kala menyadari ada segumpal keju mozzarella menempel di sudut bibir gadis itu.
"Kamu nggak pernah makan beginian ya? Tuh ada keju nempel," Faras menggerakkan tangannya untuk mengambil tisu dan membersihkan bibir Talita.
Seketika itu, benak Faras kembali membayangkan saat terakhir kali mereka berciuman. Faras menelan saliva begitu dia ingat betul rasa dari bibir yang kini sedang dia sentuh.
Wajah mereka hanya terpisah sejengkal tangan. Talita merasa tak nyaman dengan wajah mereka yang sangat berdekatan. Dia memundurkan wajah akan tetapi tangan Faras dengan cepat menahan tengkuknya.
Faras memajukan wajah semakin dekat dengan Talita namun tepat saat itu juga pintu mengayun terbuka.
"Mas Faras, kita syuting..." Priya mendelik melirik Talita dan Faras secara bergantian. "Eh, maaf. Mau nyosor tapi malah diganggu. Priya cuma mau bilang kita akan syuting lima menit lagi."
Priya menundukkan kepala sambil mundur hendak menutup pintu. Dia menampilkan senyum penuh makna dan berkata, "Silahkan dilanjutkan ciumannya, Mas Faras."
Faras menoleh pada Talita dengan rasa canggung yang mendadak melanda dirinya. Dia segera bangkit berdiri dan merapikan pakaian.
Kendati proses syuting akan dimulai lima menit lagi tapi Faras memilih untuk keluar saat itu juga. Dia meninggalkan Talita tanpa sepatah kata apapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments