Kaivan memang tidak mau ikut campur, namun setelah beberapa jam berlalu, perilaku Dohyun makin aneh. Kemarin Dohyun sudah baik pada Kaivan, bagaimana mungkin Kaivan diam saja sekarang? Sungguh dia tidak mau ikut campur, tapi Dohyun orang baik.
"Sudah, kejar dia sekarang! Dia sudah jalan jauh itu! Ke tempat lesnya!" Ucap Rose, peri itu kesal melihat Kaivan yang hanya bimbang tidak mau bergerak.
Akhirnya Kaivan pun beranjak dari duduknya, untuk mengejar Dohyun. Kaivan ingat dulu banyak orang yang peduli dengannya. Saat ada sesuatu, mereka bertanya, Kaivan hanya bilang dia baik saja. Meski sebenarnya yang terjadi malah sebaliknya.
Mungkin Dohyun juga seperti itu, Kaivan terlalu cuek sepertinya. Padahal hanya Dohyun satu-satunya teman yang tulus dengannya, tidak takut dengan penampilan seram Kaivan, tanpa tahu siapa dan bagaimana Kaivan, dia masih baik juga. Orang naif seperti itu, mengingatkan Kaivan pada dirinya sendiri.
Menyedihkan.
Meski nasib keuangan keduanya jauh berbeda, meski Dohyun dalam keluarga yang jauh lebih baik.
"Kaivan, aku -"
Kaivan bertemu Vicky, tapi Kaivan tidak bisa berbicara dengan dia dulu. Kaivan sangat khawatir dengan Dohyun. Jadinya Kaivan memotong ucapan Vicky.
"Kita bicara nanti atau besok, ini permen penyemangat untuk mu!"
Vicky hanya diam menerima tiga bungkus permen lucu dengan warna merah, hijau dan jingga. Itu adalah rasa strawberry, apel, dan jeruk.
"Permen penyemangat?" Gumam Vicky sambil menatap kepergian Kaivan.
"Vicky, apa hubunganmu dengan dia?"
Tanpa Vicky sadari, kerumunan orang kepo sudah banyak saja. Vicky tersenyum manis seperti biasa, lalu menjawab apa adanya.
"Aku hanya punya urusan bisnis dengannya, sudah ya, aku pergi dulu!"
"Vicky, Kaivan mana?" Dania datang dengan langkah tergesa.
Vicky menggedikkan bahunya, "gak tahu, dia pergi gitu aja, kayaknya ada urusan. Dia kasih permen ini untuk menyemangati ku!"
Dania berdecih malas, "dia juga ngasih itu pagi tadi, ke semua orang rumah. Jika kau pikir kau akan bisa menyembuhkan traumanya dan membuatnya menyukaimu secara romantis, ku rasa kau satu langkah lebih lambat dariku, aku tinggal dengannya."
Vicky benci mengakuinya tapi Dania benar juga.
"Bukan berarti dia akan menyukaimu secara romantis juga!"
"Kita lihat saja nanti, lagian kamu baru kenal dia, udah yakin suka sama dia?"
Vicky mengangguk, "iya, kenapa?"
"Aku duluan yang suka."
Vicky terkekeh mendengarnya, "kita udah ngomongin ini kan kemarin-kemarin, duluan suka bukan berarti akan menang."
Dania diam saja karena ucapan Vicky itu benar juga.
"Sudahlah, kita sudah berjanji untuk bersaing secara adil, ayo pulang saja." Ucap Vicky.
Sementara itu, Kaivan sudah sampai di tempat Dohyun berada. Hal yang terjadi diluar dugaan Kaivan sendiri, karena dia hanya berpikir jika Dohyun butuh semangat atau apa, bukannya memiliki masalah dengan preman sekolah.
Tunggu! Bukannya itu orang yang kemarin dia temui di Un village, Hannam-dong kemarin? Yang adik tiri artis lalu Rose bilang pembully dan kakak kelas Kaivan?
Kok bisa mengepung Dohyun dan menghajarnya? Tidak mungkin Dohyun mencari gara-gara dengan orang macam itu kan?
Sebelum mendekat, Kaivan meminta Rose untuk merekam mereka, jelas Rose setuju sekali. Peri itu bersemangat untuk merekam kejadian itu.
Lelaki pembully itu trainee perusahaan besar dan akan segera debut, dan Rose tidak suka orang yang begitu jadi idola dan dipuja-puja.
"Lepaskan Dohyun!" Teriak Kaivan, dia mendekat dan menghampiri Dohyun. Untungnya Dohyun baru dipukuli tiga kali, dia kesakitan tapi kondisinya tidak parah.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian ini siapa?" Tanya Kaivan, dia marah.
Tatapan Kaivan saat dia menoleh biasa saja kadang membuat anak-anak di kelasnya merinding, apalagi saat marah. Beberapa dari gerombolan preman sekolah itu terlihat ketakutan.
"Bukan urusanmu ya, urusanku hanya dengan bocah itu, tapi kalau kau ingin menjadi samsak ku juga, dengan senang hati akan ku lakukan!" Kecuali lelaki trainee itu, dia terlihat tidak takut, dia menyeringai yang terlihat menyeramkan sekaligus menjengkelkan.
Untungnya Kaivan punya penguatan mental level tiga, tidak takut sama sekali dengan hal itu. Lelaki itu hanya terlihat seperti badut yang menyerupai Joker dimatanya.
"Katakan dulu apa urusanmu dengan temanku, kenapa kau memukulinya, main keroyokan juga, kalian ini jantan gak sih?" Ucap Kaivan, sekaligus memprovokasi.
"Cih, kau tahu jika sok ikut campur akan jadi bumerang bagimu juga? Kau tidak tahu siapa aku?" Kata lelaki itu, Kaivan melirik name tag di seragamnya.
Lee Yeol.
Nama yang simple.
"Dia orang yang menumpang di rumah mantanku kak, orang seperti dia tidak mungkin tahu apa-apa!" Ternyata Seon mantannya Dania juga komplotan Lee Yeol, kita panggil Yeol saja.
"Oh jadi ini ya yang dibicarakan orang-orang itu, gak ganteng ah, aku jauh lebih ganteng" ucap Yeol.
Iya iya, si paling ganteng, pikir Kaivan malas.
"Jelas kak Yeol jauh lebih tampan! Kakak hajar saja dia, mukanya nyebelin soalnya" ucap Seon.
"Tentu saja, mereka berdua akan ku hajar karena suasana hatiku sedang buruk. Oh iya, tadi nanya apa? Kenapa aku hajar bocah ini? Haha, tentu saja karena bocah ini menggoda pacarku! Dia pikir dia siapa?"
Dohyun yang kesal pun menyahuti, "kak Ahreum itu ingin bertemu ibuku, dokter gigi! Senior salah paham!"
Hah, jadi begitu. Dohyun memang ramah sekali, dia selalu tersenyum lembut pada siapa saja, entah dia miskin, kaya, jelek, cantik, nakal, atau apapun, Dohyun selalu tersenyum.
Mungkin Seon dan Yeol sama saja, dasar cowok tukang salah paham. Kaivan sekarang mengerti kenapa mereka satu komplotan.
"Jangan banyak alasan deh! Aku juga benci orang seperti kalian berdua, kalian tidak berusaha keras tapi bisa cepat populer! Kalian tidak tahu perjuanganku bisa menjadi seperti sekarang."
Kaivan menguap karena bosan, lagian si Yeol curhat segala, menyebalkan.
"Kau berani menguap saat kak Yeol bicara?" Ucap Seon, dia mendekat lalu ingin memukul Kaivan, tentu saja langsung Kaivan tarik tangannya, lalu menghempaskan tubuhnya, seolah Kaivan sedang menghempaskan karung kapas.
"Maaf, tanganku licin, gak sengaja." Ucap Kaivan.
"Sialan kau!"
Tidak butuh waktu lama, para lelaki yang mudah terpancing emosi itu menyerang Kaivan, tapi berakhir sama dengan Seon semua.
"Kau ingin maju juga, ayo!" Tantang Kaivan pada Yeol.
"Aku itu trainee, gak boleh babak belur, oke aku akan menyerah sekarang!"
Hah, Kaivan kecewa karena Yeol sangat pengecut.
Yeol dan teman-temannya pun kabur.
"Gak seru banget mereka, Dohyun, kau baik-baik saja?" Kaivan menghampiri Dohyun yang bersandar pada dinding, terlihat kesakitan.
Dohyun itu kecil, lemah juga fisiknya, seperti boneka kertas. Ditiup angin saja bisa terbang, ini serius. Jadi dipukuli beberapa orang pasti sakit lah.
"Berikan dia ramuan penyembuh! Tingkat rendah saja cukup," saran Rose.
"Kamu minum obat dulu ya, biar baikan." Kaivan mengeluarkan ramuan penyembuh dari tas ranselnya, yang sebenarnya dia ambil dari toko sistem, tidak - maksudnya beli.
"Ini obat apa?" Tanya Dohyun, dia jelas ragu dan hati-hati, dia anak dokter sih.
"Kamu percaya aja, itu ramuan tradisional gitu, dari negaraku."
Dohyun pun meminumnya, dia percaya pada Kaivan, meski ragu juga.
"Kamu beneran dari negara lain ya?"
"Iya, tapi hanya itu yang bisa ku katakan untuk saat ini."
"Terimakasih udah nolong ya, ternyata kamu kuat banget, maaf karena gak jujur pagi tadi. Aku gak mau kamu ikutan dipukuli mereka, mana aku tahu jika kamu jauh lebih kuat dari mereka."
Kaivan mengangguk kecil lalu tersenyum, "meski aku tidak bisa membantu, harusnya kamu ceritakan aja, kita teman kan?"
Dohyun tersenyum, perlahan Kaivan bisa melihat luka-lukanya mulai menghilang.
"Benar, kita teman!"
Kaivan membantu Dohyun berdiri, "udah bisa jalan kan?" Tanya Kaivan.
"Bisa kok, kayaknya aku harus bolos les hari ini, aku akan kabari guru les ku."
"Kamu les apa emangnya?"
"Aku? Les dance, di akademi dance yang besar. Kamu tahu, dulu aku gendut banget soalnya banyak makan, kakakku yang baru pulang dari studi banding waktu itu kaget banget lihat aku gendut. Terus orangtuaku ngasih pilihan, mau ikut sepakbola atau dance, karena aku males main bola, jadinya aku iseng ikut dance."
Kaivan melongo melihat foto Dohyun saat SMP, dia gendut dan pipinya chubby. Tidak bisa dipercaya sekarang bisa berubah jadi boneka kertas.
"Selama di akademi dance, kamu diet juga gak?" Tanya Kaivan.
"Enggak, aku tetep makan banyak, sampai sekarang, hehe."
Kok bisa? Pejuang diet pasti iri dengan Dohyun.
"Karena kamu gak les, mau makan bareng?" Kaivan menunjuk restoran yang menjual berbagai ramen Jepang. Kaivan penasaran dengan restoran itu, tidak jauh dari sekolah dan selalu ramai.
"Kebetulan Aku juga mau nyoba, ayo!"
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Akagami
makin ke sini kok mcnya makin nyebelin yak? gimana ya udah naif , terpaut dengan trauma , sama gak ada badasnya
2023-10-06
0
Benny
lanjut
2023-09-12
0
☠zephir atrophos☠
se7
2023-08-24
0