Kaivan sudah mengetahui jika sistem pendidikan di Indonesia dan Korea Selatan pasti berbeda, tapi dia tidak tahu jika akan sangat kewalahan. Dia merasa sangat bodoh disana, untungnya guru yang mengajar sangat baik. Yang pasti semuanya berbeda dari yang Kaivan rasakan saat belajar di sekolah. Dia bukan anak yang mudah menyerah, jadi dia akan melakukan apapun untuk mengejar ketertinggalannya.
Pertama, saat ada waktu jeda istirahat 10 menit selama ganti pelajaran, Kaivan membeli salah satu skill yang dia yakin akan membantunya. Yaitu skill belajar cepat dan tepat, tidak ada level disana dan harganya pas sekali 800.000 poin.
Habislah poin Kaivan.
Rose sempat muncul dan memarahinya, karena dia tahu Kaivan itu sudah bisa cepat belajar, jika membeli skill itu bisa jenius dobel dobel. Tapi karena terlanjur jadi Rose biarkan saja.
Setelah membeli, dia gunakan sisa waktunya untuk bermain game, hitung-hitung menambah poin karena poinnya habis.
Game yang dia minati adalah tap and be rich, hadiahnya naik level ke level tiga. Itu game yang membutuhkan ketukan jempol saja. Sekali mengetuk akan dapat uang, uang yang terkumpul bisa membeli toko dan tanah, dengan begitu uang akan semakin banyak tapi tetap harus rajin tap tap.
Saat pertama masuk game, Kaivan ditanyai ingin menggunakan latar negara mana. Latar negara pilihan adalah negara-negara di bumi ini. Berhubung Kaivan ada di Korea, jadi dia pilih Korea Selatan. Dia pikir itu tidak berpengaruh.
Pertama bermain, Kaivan menggunakan uang atau poin untuk membeli supermarket. Bocah itu tidak curiga saat poinnya habis untuk membeli supermarketnya, sampai poinnya tinggal sedikit, dia belum sadar juga. Lagipula ada Rose dia malah diam saja menonton Kaivan main game.
Lima menit bermain uangnya terkumpul lima juta, dia akan membeli toko selanjutnya seharga lima juta, namun pergantian pelajaran telah selesai, guru baru datang lagi.
Rencananya istirahat Kaivan akan bermain game lagi, tapi Dania datang dan mengajaknya makan di kantin. Kaivan tidak mau meninggalkan tabletnya, jadi dia bawa tasnya sekalian.
"Kamu gak perlu bawa tas, tapi kalau kamu takut hilang, ya bawa saja sih, tidak masalah kok. Oh iya, menu makanan kali ini sangat enak! Kantin bekerja sama dengan restoran yang bagus dan juga supermarket terkenal - ah, itu tidak penting, bagaimana dengan belajarmu? Apa kamu merasa tertinggal?" Dania begitu semangat mengobrol dengan Kaivan selama perjalanan ke kantin. Gadis itu tidak peduli dengan tatapan orang di sekitarnya, yang terus-menerus memandangi mereka hingga Kaivan merasa tidak nyaman.
Dania juga banyak disapa oleh orang, sepertinya gadis itu terkenal di sekolah itu.
"Iya, aku merasa tertinggal, ada banyak perbedaan antara yang dipelajari di sekolahku dulu dan disini, banyak hal yang belum ku pelajari."
"Tidak masalah, Kaivan kan sangat cerdas, aku akan pinjami semua buku untukmu, meski sekarang belum mengerti, tapi sebaiknya kamu memperhatikan guru saat menjelaskan."
Kaivan mengangguk mengerti, dia juga sudah merencanakan itu tapi Dania mengatakannya duluan.
Kantin cukup ramai, tapi mereka mengantri dengan tertib, lagi-lagi Kaivan merasa perbedaan mencolok antara murid di negaranya dulu dengan disini. Kaivan tidak mau membandingkan tapi perbandingannya sangat jauh. Mungkin anak-anak disini dididik dengan baik. Jika di sekolahnya dulu, pasti berdesakan, tidak mau mengalah dan suka menyerobot.
Untuk makanan disiapkan kantin, kata Dania menunya akan berganti tiap hari. Kali ini ada nasi, ayam goreng, sayuran tumis, susu dan puding. Mereka sangat memperhatikan gizi muridnya.
Rasanya membayar uang sekolah sangat mahal itu sesuai. Yang Kaivan dengar, sekolah sebagus ini di Indonesia pun ada, harganya mahal juga, seperti sekolah internasional. Kaivan yang terima sekolah gratis mana bisa memilih, dia tentu mendapat sekolah biasa di pinggiran kota. Tapi itu saja harus disyukuri.
Pokoknya Kaivan akan banyak makan, belajar dan olahraga. Dia harus mengubah hidupnya sendiri. Bantuan orang lain saat ini harus dia manfaatkan sepenuhnya. Nanti jika sudah sukses, dia bisa membalas Budi.
Selesai makan, Dania mengajak Kaivan ke perpustakaan, lumayan disana sepi.
Saat Dania sibuk memilih buku, Kaivan malah mengeluarkan tabletnya dan ingin meneruskan bermain. Tapi dia sangat terkejut karena poinnya terkumpul enam juta, setelah dia pikirkan , itu adalah uang yang terkumpul di game. Pantas saja tidak ada hadiah tiap naik level, ternyata uang yang didapat di gamenya adalah poin. Jadi jika dia membeli toko akan lenyap?
Ah, tidak masalah karena akan dapat lagi.
Kaivan pun membeli sebuah tanah beserta tokonya, yaitu toko brand pakaian terkenal. Kaivan pernah melihat logo serupa dipakai Dasha. Logonya berupa dua huruf C yang satu terbalik.
"Kamu malah main game?" Protes Dania, gadis itu menatap Kaivan sambil menggembungkan pipinya lucu, membuat Kaivan hanya terkekeh canggung.
"Tidak apa tapi lain kali harus belajar yang serius ya? Karena sekarang banyak yang belum mengerti. Besok kamu gak boleh bawa benda itu ke sekolah! Aku akan minta paman Hanbin membelikan mu ponsel saja, tapi itu juga gak boleh buat main game!"
Dania sangat cerewet, tapi Kaivan suka karena itu bentuk perhatiannya.
"Baiklah, biarkan aku main kali ini saja, aku tidak akan berisik, aku janji."
"Oke!"
Kaivan pun lanjut bermain, saat bel masuk kelas, uangnya sudah sepuluh juta, itu artinya poinnya juga segitu. Dengan begitu dia bisa membeli banyak hal di toko sistem.
***
"Bagaimana sekolahnya, Kai?" Tanya ibunya Dania.
Saat itu sudah pulang sekolah, pulangnya sore sekali, saat matahari sudah tenggelam. Itupun sebagian murid ada yang belum pulang, mereka lanjut belajar sampai malam. Mereka hebat sekali, mungkin tidak bisa belajar di rumah.
Karena itu pulang langsung makan malam, tapi yang ada disana hanya Kaivan, Dania dan ibunya Dania saja. Yang lain belum pulang.
"Sangat menyenangkan" jawab Kaivan.
"Oh ya? Kamu memiliki semangat belajar yang bagus, Dania bantu dia belajar ya? Pasti dia banyak tidak mengerti, Kai juga tidak boleh malu untuk bertanya" ucap ibunya Dania lagi.
Kaivan mengangguk pelan lalu melanjutkan makannya.
"Habis ini mandilah dulu dan ke kamarku untuk belajar ya, bukunya akan ku berikan juga, agar kamu bisa belajar sendiri" ucap Dania.
"Putriku ini sangat perhatian!"
Melihat keluarga harmonis membuat perasaan Kaivan campur aduk, ada rasa senang, ada juga rasa iri, ada pula rasa sesak. Sebagai anak remaja yang belum dewasa, Kaivan juga ingin keluarga bahagia seperti itu. Tapi, dia tidak mungkin mendapatkannya.
Kamar Dania sangat bagus dan cerah, ada banyak boneka lucu, perabotan lucu, khas anak gadis yang ceria dan rapi.
Kamar itu juga luas, ada tempat belajarnya, ada meja rias, ada sofa dan televisi. Bahkan ada ruangan khusus untuk menempatkan pakaian, sepatu dan aksesoris lainnya. Jauh lebih luas dari kamar yang diberikan untuk Kaivan, tapi itu sih sudah pasti ya, untuk apa juga memberikan kamar bagus untuk Kaivan yang bukan siapa-siapa.
"Kamu duduk disini ya, itu buku-buku yang aku maksudkan, beberapa untuk kelas tiga SMP, ada juga untuk satu SMA, jika masih kurang aku akan membantu."
Kaivan mengangguk lalu duduk di sofa, buku-buku ada di meja depan sofa, lengkap dengan minuman dingin dan camilan.
Kemudian Dania duduk di sebelah Kaivan, "aku ada PR untuk hari ini, aku biasa mengerjakan PR segera setelah diberikan, agar tidak kewalahan nanti, aku sendiri pelupa soalnya" ucap Dania, dia menunjukkan buku PR matematika pada Kaivan.
"Aku tidak ada PR hari ini, jadi aku hanya akan membaca materi yang tertinggal, aku akan kembali -"
Dania menghentikan Kaivan yang ingin beranjak kembali ke kamarnya dengan memegang lengan Kaivan. Padahal masih beberapa hari lalu Kaivan itu kurus kering, sekarang bahkan lengannya sudah memiliki otot. Dania selalu terkejut dengan perubahan Kaivan, itu terlalu cepat.
"Bisakah kau tetap disini denganku? Aku ingin lebih akrab denganmu" ucap Dania. Kaivan pun kembali duduk dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, asalkan aku tidak merepotkan mu, lagipula kita kan sudah akrab."
"Kamu sungguh menganggap kita akrab?"
Kaivan mengangguk sambil tersenyum. Dania senang melihat senyuman itu, karena Kaivan jarang sekali tersenyum, padahal senyumannya manis.
"Aku senang jika kamu berpikir seperti itu."
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Benny
next
2023-09-11
0
Nurul
Apakah supermarket di game jadi real?
2023-09-08
1
Nurul
jenius++
2023-09-08
0